Peringatan!
Pertama, Apabila ada seorang wanita mengeluarkan darah yang sifatnya tidak sama (sebagaian berupa darah kuat dan sebagian lagi darah lemah), tetapi lamanya tidak lebih dari 15 hari dan malam, maka semuanya itu dihukumi darah haid dan tidak boleh digolongkan dengan masalah istihadlat (yang baru saja dijelaskan), karena hukum perinci yang disampaikan dalam masalah istihadlat, hanya bagi wanita yang ketika mengeluarkan darah, lamanya lebih dari 15 hari dan malam (Ha-syiyah al Jamal ala Syarhi al Minhaj: 1/235).Kedua, Manakala seorang wanita mengeluarkan darah yang sudah memenuhi syarat-syaratnya haid, kemudian ia suci yang lamanya tidak sampai cukup 15 hari dan malamnya, lalu ia mengeluarkan darah lagi, maka darah yang pertama dihukumi darah haid dan darah kedua yang menjadi cukup 15 hari dan malam, dihukumi darah istihadlat, kemudi-an sisanya bila memenuhi syarat-syarat haid, maka dihukumi darah haid juga (Bughiyatul Mustarsyidin:
21).
Contohnya: Seorang wanita mengeluarkan darah lamanya tujuh hari, kemudian suci lamanya 13 hari dan malam, lalu mengeluarkan darah lagi lamanya enam hari dan malam, maka darah yang pertama lamanya tujuh hari, semuanya dihukumi darah haid. Permulaan darah yang kedua, yang lamanya dua hari dua malam, dihukumi darah istihadlat. Sebagai pelengkap, paling sedikitnya suci dan sisa yang la-manya empat hari empat malam, dihukumi darah haid juga.
Ketiga, Apabila di dalam kitab fiqih dikatakan bahasa bulan secara mutlak, maka yang dikehendaki adalah penanggalan bulan (Qamariyah). Terkadang penuh 30 hari dan kadang hanya 29 hari, kecuali ada ditiga masalah, yaitu:
1. Masalah Mubtadi’at Ghairu Mumayyizat
2. Masalah Mutahayyirat
3. Masalah paling sedikitnya kandungan yang lamanya hanya enam bulan, maka semua yang dikehendaki bulan yang cukup 30 hari (Hasyiyah al- Syarqawi: 1/154).Keempat, Apabila seorang wanita mengeluarkan darah nifas sela-ma lebih dari 6o hari dan malam, adalah sama denga seorang wanita yang mengeluarkan darah haid selama lebih dari 15 hari dan malamnya. Jadi perlu dirinci lebih dahulu, Apakah ia termasuk mubtadi’at fi al-Nifas (wanita yang baru pertama nifas) atau tergolong Mu’tadat (sudah pernah nifas). Apakah ia tergolong Mumayyizat (bisa membeda-bedakan darah kuat dengan darah lemah), apakah termasuk Ghairu Mumayyizat (tidak bisa membeda- bedakannya).
Apabila ia tergolong Mubtadi’at Mumayyizat, atau Mu’tadat Muma- yizat, maka yang dihukumi nifas adalah darah yang kuat dengan syarat darah yang kuat tidak lebih dari 60 hari (Tuhfatul Muhtaj: 1/414).
Contohnya: Seorang wanita setelah selesai melahirkan kemudian mengeluarkan darah selama 65 hari. Yang 50 hari berupa darah kuat dan yang 10 hari berupa darah lemah, maka darah yang lamanya 55 ha-ri pertama dihukumi darah nifas, dan yang 10 hari terakhir dihukumi darah istihadlat.
Apabila ia tergolong Ghairu Mumayyizat, maka hukumnya perlu di perinci lagi, seperti di bawah ini ialah:
Bila seorang wanita sudah pernah nifas serta sudah pernah haid, maka lamanya darah yang dihukumi nifas adalah disamakan dengan kebiasaannya nifas yang pernah dialami. Kemudian darah yang sesudah nya, lamanya sama dengan kebiasaan suci dari haid, maka dihukumi istihadlat, kemudian darah yang sesudahnya, yang lamanya sama deng-an kebiasaan haid, maka dihukumi haid. Demikian seterusnya saling berganti antara istihadlat lamanya sama dengan kebiasaan suci dan haid lamanya sama dengan kebiasaan haid.
Contohnya: Seorang wanita yang kebiasannya nifas selama 20 hari, kebiasaan haid tujuh hari, dan sucinya 23 hari, kemudian ia setelah melahirkan anak, mengeluarkan darah selama 80 hari, semua sifatnya, kuat dan lemah sama, maka darah yang selama 20 hari permulaan dihukumi darah nifas. Lalu yang 23 hari seterusnya dihukumi darah istihadlat. Lalu tujuh hari
seterusnya dihukumi darah haid. Yang 23 hari kemudian dihukumi darah istihadlat lagi, dan kemudian tujuh hari seterusnya dihukumi darah haid lagi.
Dan apabila ia sudah pernah nifas, tetapi belum pernah haid, maka lamanya darah yang dihukumi nifas, disamakan dengan kebiasa-annya nifas yang sudah dialami. Lalu darah yang setelah lamanya 29 hari dan malam, dihukumi darah istihadlat. Lalu darah yang setelah lamanya sehari semalam, dihukumi darah haid, begitu seterusnya saling bergantian antara istihadlat lamanya 29 hari dan malamnya, dan haid yang lamanya sehari semalam (Hasyiyah Al Syibramulisi ala al Nihayah: 1/358).









One Comment