Fiqh

Terjemahan Kitab Risalatul Mahid Lengkap

MASALAH ISTIHADLAT

Definisi Istihadlat

Istihadlat, menurut bahasa artinya mengalir. Adapun menurut istilah Syara’, Istihadlat ialah darah yang keluar dari kemaluan seorang wanita pada waktu selain waktunya haid dan nifas, dan bukan atas ja-lan sehat (Fathul Qarib pada Hamisy Al-Bajuri: 1/109).

Seorang  wanita  yang  mengeluarkan  darah  istihadlat  dinamakan

Mustahadlat..

Dasar Hukum Istihadlat

Masalah  istihadlat  ini  adalah  berdasarkan  Hadits  Nabi  Muhammad

Sallahu ‘Alaihi wa Sallam dari Ummu Salamah, yaitu:

“Bahwa ia pernah meminta fatwa kepada Rasulullah Salla-llahu Alaihi wa Sallam mengenai seorang wanita yang selalu menge-luarkandarah. Maka Rasulullah bersabda: Hitunglah berdasarkan bilangan hari dan malam dari masa haid pada setiap bulan berlangsungnya, sebelum ia terkena serangan darah penyakit yang menimpanya itu. Maka tinggalkanlah shalat sebanyak bilangan haid yang biasa dijalani setiap bulan. Apabila ternyata melewati dari batas yang berlaku, maka hendaklah ia mandi, lalu memakai cawat (pembalut) dan mengerjakan shalat.” (HR.Abu Dawud dan An-Nasai dengan isnad hasan).

Mustahadlat Ada Tujuh Macam

Menurut Syaikh Ibrahim Al Bajuri dalam kitab karangannya, Al Bajuri menerangkan, bahwa mustahadlat, yakni orang yang menge-luarkan darah istihadlat terdapat tujuh macam ialah:

1. Mubtadi’at Mumayyizat

Pertama, Mubtadi’at Mumayyizat: yaitu seorang wanita yang baru saja mengeluarkan darah haid pertama dan ia mampu membeda-beda kan darah yang dikeluarkan diantara darah kuat (tua) dengan darah le-mah(muda). Adapun  darah  yang  lemah  dinamakan  istihadlat  dan  darah  yang  kuat dinamakan haid. Apakah darah yang kuat itu keluar lebih dulu, atau terakhir atau di tengah, selama tidak silih berganti.

Mubtadi’at  Mumayyizat  dapat  dihukumi  seperti  di  atas,  apabila menepati syarat-syarat empat perkara sebagai berikut:

1.  Darah kuat tidak lebih dari masa sehari semalam.

2.  Darah kuat tidak lebih dari 15 hari dan 15 malam.

3.  Darah yang lemah tidak kurang dari 15 hari dan 15 malam.

4.  Antara darah kuat dengan darah lemah harus tidak silih berganti.

Apabila syarat empat perkara tersebut tidak cukup, maka ia terma suk golongan Mubtadi’at Ghairu Mumayizat, sebagaimana yang akan diterangkan.

Bagi Mubtadi’at Mumayyizat pada bulan pertama dalam melaksa-nakan mandi harus menunggu penuhnya 15 hari dan 15 malam. Dan ia kewajiban mengqadla shalat yang ditinggalkan, selama mengeluarkan darah lemah. Pada bulan kedua dan seterusnya, ia dalam melaksanakan mandi sewaktu-waktu darah kuat yang keluar sudah berganti dengan darah lemah. Pada bulan itu ia tidak mempunyai hutang shalat.

Contoh-Contoh

1.    Seorang   wanita   mengeluarkan   darah   kuat   selama   tiga   hari,   lalu mengeluarkan darah lemah 27 hari, maka yang tiga hari pertama dihukumi darah haid, dan yang 27 hari terakhir dihukumi darah istihadlat.

2.  Seorang wanita mengeluarkan darah kuat tujuh hari, lalu menge-luarkan darah lemah sembilan hari, maka tujuh hari yang pertama dihukumi darah haid dan yang sembilan hari dihukumi darah istihadlat.

3.    Seorang   wanita   mengeluarkan  darah  lemah   selama   11   hari,   lalu mengeluarkan darah kuat 12 hari,maka 11 hari yang pertama di-hukumi darah istihadlat, sedangkan 12 hari yang akhir dihukumi darah haid.

4.    Seorang  wanita  mengeluarkan  darah  lemah  selama  lima  hari,  lalu mengeluarkan darah kuat selama enam hari, kemudian keluar lagi darah lemah selama 19 hari, maka darah lima hari yang pertama dihukumi darah istihadlat, enam hari yang di tengah-tengah di hukumi darah haid dan 19 hari yang terakhir dihukumi darah istihadlat lagi (Syarah al-Tahrir dengan Hasyiyah al-Syarqawi: 1/153, Hasyiyah Syarwani ala al-Tuhfah: 1/402).

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker