1. PASAL TENTANG TERMASUK TANDA IMAN ADALAH YAKIN DAN PERCAYA.
Dalam hadits disebutkan, bahwa Nabi saw. bersabda:
“Jika Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka Allah memasukkan yakin dan percaya pada hatinya. Jika Allah menghendaki buruk padanya, maka Allah memasukkan kebimbangan dalam hatinya.”
Allah berfirman:
“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit.” (QS. Al An’am: 125)
Menurut Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, bahwa orang yang dianggap mukmin dan tak kekal di dalam neraka, hanyalah Orang yang memeluk agama Islam secara mantap tanpa keraguan dan mau mengucapkan dua kalimat syahadat.
Bersumber dari Amirul Mukminin Umar bin Khathab ra., ia berkata: “Pada suatu hari ketika kami duduk dekat Rasulullah saw. maka sekonyong-konyong nampaklah kepada kami seorang laki-laki yang memakai pakaian yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tak terlihat padanya bekas (tanda-tanda) perjalanan dan tak ada seorangpun di antara kami yang mengenalnya, maka duduklah ia di hadapan Nabi, lalu disandarkanlah lututnya pada lutut Nabi dan meletakkan tangannya di atas paha Nabi, kemudian berkata: “Wahai Muhammad, terangkanlah padaku tentang Islam!” Maka Rasulullah saw. menjawab: “Islam yaitu hendaklah engkau menyaksikan bahwasanya tiada Tuhan selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah. Hendaklah engkau mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, dan hendaklah engkau berpuasa dalam bulan Ramadlan dan hendaklah engkau mengerjakan Hajji ke Baitullah (Makkah), jika engkau kuasa menjalaninya.”
Orang itu berkata: “Benar” Maka kami heran, ia bertanya dan ia pula membenarkannya. Maka orang itu bertanya lagi: “Maka terangkanlah padaku tentang Iman.” Nabi menjawab: “Hendaklah engkau beriman kepada Allah, kepada Malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada utusan-utusan-Nya, kepada hari Qiamat dan hendaklah engkau beriman kepada Qadar yang baik dan yang buruk” Orang tadi berkata: “Benar.” Orang itu bertanya lagi: “Maka beritahulah padaku tentang Ihsan.” Nabi saw. menjawab: “Hendaklah engkau beribadat (mengabdi) kepada Allah seakan-akan engkau melihat kepada-Nya, sekalipun engkau. tak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Ia melihat engkau.” Orang itu bertanya lagi: “Beritahukanlah kepadaku tentang Qiamat.” Nabi menjawab: “Orang yang ditanya tentang itu tidak lebih mengetahui dari sipenanya sendiri.”
Orang itu bertanya lagi: “Beritahukanlah aku terntang tanda-tandanya.” Nabi menjawab: “Diantaranya jika seorang hamba (Sahaya) telah melahirkan tuannya (majikannya), dan jika engkau melihat orang yang tadinya miskin papa, berbaju cumpang-camping, sebagai penggembala kambing: sudah menjadi mampu hingga berlomba-lomba dalam kemegahan bangunan.” Kemudian pergilah orang tadi. Aku diam tenang sejenak, kemudian Nabi berkata kepadaku: “Wahai Umar, tahukah engkau siapkah yang bertanya tadi?” Aku menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Nabi berkata: “Dia itu adalah Jibril, datang kepadamu untuk mengajar tentang agamamu.” (HR. Muslim)
Para ulama yang merupakan pewaris para nabi berkata:
“Barangsiapa beriman dan Islam, maka ia mukmin yang sempurna. Barangsiapa tidak beriman dan tidak Islam, maka ia kafir yang sempurna. Barangsiapa tidak Islam namun beriman, maka ia mukmin yang kurang. Barangsiapa tidak beriman namun Islam, maka ia munafik.”
Makna beriman kepada Allah adalah yakin, bahwa Allah Esa, tiada duanya pada zat-Nya, sifat-Nya dan perbuatan-Nya dan tiada sekutu bagi-Nya sebagai tuhan.
Makna beriman kepada para malaikat adalah meyakini bahwa malaikat adalah makhluk yang mulia. Mereka tak pernah mendurhakai perintah Allah dan selalu melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka. Mereka selalu jujur mengenat apa yang mereka beritakan.
Makna beriman kepada kitab-kitab suci adalah meyakini bahwa kitab-kitab itu firman Allah yang ada pada Zat Allah, tak berhuruf dan tak bersuara, bahwa seluruh isinya benar, bahwa Allah menurunkannya kepada sebagian rasul dengan kalimat yang baru,
Makna beriman kepada para rasul adalah meyakini bahwa Allah mengutus mereka kepada makhluk, mensucikan mereka dari segala aib dan cela. Mereka ma’shum (terjaga dari berbuat maksiat) sebelum diangkat menjadi nabi dan sesudahnya.
Hari akhir adalah mulai mati sampai terjadinya hari kiamat. Makna beriman kepada hari akhir adalah meyakini bahwa hari kiamat akan terjadi. Dan beriman terhadap pertanyaan dua malaikat, nikmat kubur, siksa kubur, kebangkitan setelah kematian, balasan amal perbuatan, perhitungan amal perbuatan, timbangan, jembatan akhirat, dan surga neraka.
Makna iman terhadap takdir adalah meyakini bahwa apa yang ditakdirkan oleh Allah pasti terjadi. Sedangkan apa yang tak ditakdirkan Allah tak akan terjadi. Dan meyakini bahwa Allah telah menakdirkan kebaikan dan keburukan sebelum menciptakan makhluk. Dan bahwa segala yang terjadi adalah takdir dan kehendak Allah.
2. PASAL TENTANG SIFAT WAJIB, MUSTAHIL DAN JAIZ BAGI ALLAH
Menurut hukum Islam, seluruh mukallaf (orang yang baligh dan normal akalnya) harus tahu sifat wajib, sifat mustahil dan sifat jaiz Allah. Jumlah keseluruhan sifat Allah adalah empat puluh satu.
Sifat wajib Allah ada dua puluh, sifat mustahil Allah ada dua puluh dan sifat jaiz Allah ada satu.
- Sifat wajib Allah adalah wajud (ada) dan sifat mustahilnya adam (tiada).
- Sifat wajib Allah adalah qidam (Dahulu) Artinya tiada permulaan bagi adanya Allah. Sifat mustahilnya adalah hudus (ada permulaan bagi adanya Allah).
- Sifat wajib Allah adalah baga (Kekal). Yakni tiada akhir bagi adanya Allah. Sifat mustahilnya adalah fana (tidak kekal).
4 Sifat wajib Allah mukhalafah lil hawadits (Berbeda dengan makhluk), baik zat-Nya, sifat-Nya maupun perbuatan-Nya. Sifat mustahiInya mumatsalah (sama dengan makhluk).
5, Sifat wajib Allah adalah qiyamuhu binafsihi (Berdiri sendiri).
Artinya Allah tak membutuhkan benda untuk ditempati dan pencipta yang menciptakan-Nya. Sifat mustahilnya adalah Allah tak berdiri sendiri.
- Sifat wajib Allah adalah wahdaniyah (Esa). Yakni Allah Esa dalam zat-Nya, sifat-Nya dan perbuatan-Nya. Sifat mustahilnya fa’addud (berbilang, tidak esa).
- Sifat wajib Allah adalah qudrah (Kuasa) dan sifat mustahilnya ajz (lemah).
- Sifat wajib Allah adalah iradah (Berkehendak) dan sifat mustahilnya karahah (terpaksa).
- Sifat wajib Allah adalah ilmu (Mengetahui) dan sifat mustahilnya Jahlu (bodoh).
- Sifat wajib Allah adalah hayat (Hidup) dan sifat mustahilnya maut (mati).
- Sifat wajib Allah adalah sama’ (Mendengar) dan sifat mustahilnya shamam (tuli).
- Sifat wajib Allah adalah bashar (Melihat) dan sifat mustahilnya ‘ama (buta):
- Sifat wajib Allah adalah kalam (Berfirman) dan sifat mustahilnya bakam (bisu).
- Sifat wajib Allah adalah kaunuhu gadiran (Dzat Yang Maha Kuasa) dan sifat mustahilnya kaunuhu ajizan (yang lemah).
- Sifat wajib Allah adalah kaunuhu muridan (Dzat Yang Maha Berkehendak) dan sifat mustahilnya kaunuhu mukrahan (yang terpaksa).
- Sifat wajib Allah adalah kaunuhu aliman (Dzat Yang Maha Mengetahui) dan sifat mustahilnya kaunuhu jahilan (yang bodoh)
- Sifat wajib Allah adalah kaunuhu hayyan (Dzat Yang Maha Hidup) dan sifat mustahilnya kaunuhu mayyitan (yang mati).
- Sifat wajib Allah adalah kaunuhu sami’an (Dzat Yang Maha Mendengar) dan sifat mustahilnya kaunuhu ashamma (yang tuli)
19, Sifat wajib Allah adalah kaunuhu bashiran (Dzat Yang Maha Melihat) dan sifat mustahilnya kaunuhu a’ma (yang buta).
- Sifat wajib Allah adalah kaunuhu mutakalliman (Dzat Yang Maha Berfirman) dan sifat mustahilnya kaunuhu abkama (yang bisu),
Sifat Allah tersebut di atas berjumlah empat puluh. Yang dua puluh wajib (pasti terjadi) dan yang dua puluh mustahil (tidak mungkin terjadi).
Sifat Allah keempat puluh satu adalah sifat jaiz bagi Allah, yaitu berbuat hal yang mungkin dan tak berbuat.
Mukallaf juga harus tahu dalil empat puluh satu sifat Allah di atas Allah, meskipun secara global, Dalil global untuk seluruh sifat Allah di atas adalah adanya semua makhluk, seperti langit dan bumi. .
Mukallaf juga harus tahu sifat para rasuLatau utusan Allah, baik sifat wajib, sifat mustahil maupun jaiz.
Jumlah sifat para rasul adalah sembilan. Sifat wajib para rasul adalah sebagai berikut:
- Sidiq (Jujur dalam segala yang disampaikan).
- Amanah (Dapat dipercaya).
- Tabligh (Menyampaikan ajaran/wahyu).
- Fathanah (Pandai/cerdas).
Sedangkan sifat mustahil mereka adalah sebagai berikut:
- Kidzib (Bohong).
- Khiyanah (Berkhiana).
- Kitman (Menyimpan ajaran).
- Baladah (Bodoh).
Sifat jaiz mereka adalah hal-hal manusiawi yang tak menQurangi keluhuran derajat mereka. Misalnya makan, minum, senggama dan sakit yang ringan. Mereka merupakan orang yang paling sempurna akal dan ilmunya. Allah mengutus mereka dan menguatkan kebenaran mereka dengan mukjizat. Mereka menyampaikan perintah dan larangan-Nya, janji-Nya dan ancaman-Nya.
Mukallaf juga harus mengenal para rasul yang dituturkan di dalam Al Our’an secara rinci. Mereka berjumlah dua puluh lima. Kalau selain mereka, ia hanya harus mengenalnya secara global. :
Mukallaf juga harus berkeyakinan, bahwa Allah mengutus Nabi Muhammad saw. yang umi, berkebangsaan Arab, dari suku Ouraisy dan cucu Hasyim. Allah mengutus beliau kepada seluruh makhluk, baik Arab maupun Ajam (non Arab), malaikat, manusia, jin dan benda tak hidup. Dan bahwa syariat Nabi Muhammad saw. menyalin seluruh syariat sebelumnya. Dan bahwa Allah menjadikan Nabi Muhammad saw. lebih utama daripada seluruh makhluk.
Tidak sah tauhid seseorang hanya dengan mengucapkan “Laa ilaaha illalah.” Ia harus menambahnya dengan “Muhammadur Rasulullah.” Allah mengharuskan umat manusia untuk mempercayai segala berita yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw., baik urusan dunia maupun urusan akhirat.
Mukallaf juga harus tahu, bahwa Nabi Muhammad saw. dilahirkan di Makah, diutus di Makah, hijrah ke Madinah, wafat di Madinah dan dimakamkan di Madinah. Dan bahwa kulit Nabi Muhammad saw. adalah putih agak kemerahan. Dan bahwa Nabi Muhammad saw. adalah manusia yang paling sempurna, baik budi pekertinya maupun perawakannya.
Mukallaf juga harus mengenal atau tahu nasab Nabi Muhammad saw., baik dari ayah maupun ibu. Nasab beliau dari ayah adalah: Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushaiy bin Kilab bin Murrah bin . Ka’ab bin Luaiy bin Ghalib bin Fihr (Quraisy) bin Malik bin An Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan. Nasab Nabi Muhammad saw. dari ibu adalah Muhammad bin Aminah binti Wahb bin Abdi Manaf (lain dengan Abdi Manaf dari Abdullah) bin Zuhrah bin Kilab.
Di samping itu, setiap mukallaf juga harus mengenali para putra Nabi saw. yang berjumlah tujuh orang. Tiga orang lelaki dan empat orang wanita. Sesuai dengan urutan kelahirannya, mereka adalah sebagai berikut:
- Qasim, putra paling besar.
- Zainab.
- Ruqayyah.
4, Fathimah.
5, Umi Kultsum.
- Abdullah. Yang digelari Thayib dan Thahir.
Keenam anak tersebut dari istri Khadijah ra.
- Ibrahim. Dari istri Mariyah yang berasal dari suku Kibti, . Mesir.
Istri-istri Nabi Muhammad saw. yang beliau tinggalkan saat wafat ada sembilan:
- Aisyah binti Abu Bakar ra.
- Hafshah binti Umar ra. .
- Shaudah ra.
4.Shafiyyah ra.
- Maimunah ra.
- Ramlah ra.
- Hindun ra.
8.Zainab ra.
9.Juwairiyah ra.
Mereka adalah ibu kaum muslimin. Semoga Allah ridla kepada . mereka semua. Amin.









Ust bisa minta pdf terjemahan kitab durorulbahiyah ini???
Bismillah
ustadz boleh minta soft copy file Nya
sukron