Amalan Yang Diminta Di Bulan Sya’ban Yang Diagungkan
Ketahuilah, bahwa Sya’ban adalan bulan yang diagungkan dan ia adalah bulan yang terkenal barokahnya dan banyak kebaikannya. Taubat di bulan Sya’ban termasuk keberuntungan terbesar dan ketaatan di dalamnya merupakan perdagangan yang beruntung.
Allah Ta’ala menjadikannya sebagai masa pelatihan diri dan menjamin keamanan dalam bulan itu bagi orang-orang yang bertaubat.
Barangsiapa membiasakan dirinya berijtihad di bulan itu, ia pun beruntung di bulan Ramadan dengan kebiasaan yang baik.
Sya’ban adalah bulan Nabi sebagaimana kami sebutkan dalam hadis yang lalu dengan perkataannya: “Sya’ban adalah bulanku.” Di bulan itu bulan terbelah sebagai mukjizat Rasulullah .
Sya’ban adalah bulan solawat untuk Nabi sebagaimana disebutkan dalam Tuhfatul ikhwan. Maka perbanyaklah untuk Nabi di sepanjang masa, khususnya di bulan Nabimu Sya’ban.
Pada malam nisfu ajal-ajal manusia dibagikan, diputuskan di waktu itu mana yang dekat dan jauh.
Disebutkan dalam Tuhatul ikhwan:
Diriwayatkan dari Atha bin Yasar , ia berkata: Pada malam nisfu Sya’ban malaikat maut mencatat setiap orang yang mati dari bulan Sya’ban hingga bulan Sya’ban berikutnya.
Ada orang yang berbuat zalim dan durjana dan menikahi wanita-wanita dan menanam pohgr-pohon, sedangkan namanya telah diubah di daftar orang hidup menjadi orang mati.
Tiada malam setelah malam Qadar yang lebih utama daripada malam nisfu Sya’ban.
Kemudian, ketahuilah bahwa keputusan Allah Ta’ala tidak bisa diganti dan tidak bisa diubah setelah menampakkannya kepada para malaikat. Lain halnya sebelum menampakkannya ketika masih berada di Al-Lauhil mahfudh. Allah Ta’ala menghapus darinya mana yang Dia kehendaki dan menetapkan mana yang Dia kehendaki.
Telah diriwayatkan atsar-atsar dan hadis-hadis ahad yang menyebutkan bahwa Allah Ta’ala memutuskan di malam yang penuh berkah itu setiap ajal dan amal dan rezeki hingga Sya’ban berikutnya.
Dalam banyak khabar hanya disebutkan ajalnya.
Hikmah pengkhususan malam ini dengan pencatatan itu ialah anjuran untuk berbuat kebaikan dan peringatan untuk tidak berbuat dosa sehingga mukallaf suka berbuat kebaikan sebelum kedatangan bulan Sya’ban dan takut berbuat dosa serta berijtihad dengan melakukan ketaatan. Mudahmudahan Allah Ta’ala menetapkan kebahagiaannya di malam itu.
Begitu pula keadaannya setelah lewatnya malam itu, karena khawatir ia ditulis dalam daftar orang-orang yang mati dalam tahun itu sehingga ia siap berjumpa Allah Ta’ala. Inilah keadaan orang-orang yang mendapat taufik.
Disebutkan dalam Tuhfatul ikhwan: Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya Allah mengampuni semua kaum muslimin di malam itu, kecuali dukun atau tukang sihir atau orang yang bermusuhan atau pecandu khamar atau orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya.”
Setelah mengemukakan hadis-hadis semacam ini penulis kitab Tuhfatul ikhwan berkata: Telah terkumpul dari riwayat-riwayat itu bahwa orang-orang yang tidak mendapat ampunan dan rahmat ialah musyrik, orang yang bermusuhan, pemungut pajak yang zalim, pembunuh diri, pemutus hubungan kekeluargaan, orang yang menjulurkan sarungnya dengan sombong ketika berjalan, pelaku zina, pecandu khamar, pelaku namimah, pembuat patung atau lukisan, orang yang durhaka kepada kedua orangtua, penipu dalam perdagangan, ahli bid’ah dan Rafidhi yang dalam hatinya terdapat kebencian terhadap para sahabat .
Maka siapa yang memiliki sifat dari dosa-dosa ini, ia pun gagal mendapatkan ampunan pada malam nisfu Sya’ban, kecuali ia terbebas dari dosanya dan bertaubat kepada Tuhannya, memurnikan taubatnya dan membasuh dosanya dengan air penyesalan.
Ketika itu Allah membimbingnya dengan menempuh jalan yang paling lurus dan memasukkannya dalam golongan sebaik-baik teman di surga. “Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya ……. ” (An-Nisa: 69)
Ia berkata: Termasuk kebiasaan Allah Ta’ala di malam ini ialah menambah air zamzam dengan tambahan yang nyata.
Disunnahkan menghidupkan malam ini. Diriwayatkan oleh AlAshfahani dalam At-Targhib dari Mw’adz bin Jabal, ia berkata: Rasulullah bersabda:
“Barangsiapa menghidupkan malam-malam yang lima, wajiblah surga baginya: yaitu malam Tarwiyah, malam Arafah, malam hari raya Adha, malam hari raya Fitri dan malam nisfu Sya’ban.”
Salah seorang ulama berkata: Keutamaan bulan Rajab dalam sepuluh hari pertama adalah karena keutamaan malam pertama darinya. Keutamaan bulan Sya’ban dalam sepuluh hari pertengahan karena ada malam nisfu di dalamnya. Dan keutamaan Ramadan dalam sepuluh malam terakhir adalah disebabkan Lailatul Qadar.
Kemudian, sesungguhnya malam nisfu mempunyai banyak nama dan banyak nama menunjukkan kemuliaan pemilik nama.
Al-Fasyani menyebutkan sebagian besarnya dalam At-Tuhfah dan menyebutkan hikmah penamaannya dengan setiap nama itu dan meneruskannya dengan hadis atau atsar atau semacamnya.
Di antara nama-nama yang disebutkannya adalah: Al-Lailatul mubarokah (malam yang penuh berkah), lailatul baro’ah (malam kebebasan dari dosa), lailatul gasmah wal qadar (malam pembagian dan takdir) dan lailatul ijabah (malam terkabulnya doa).
Ia berkata: Diriwayatkan dari ibnu Umar , ia berkata: Lima malam di mana doa tidak ditolak: yaitu malam Jumat, malam pertama dari bulan Rajab, malam nisfu Sya’ban, malam Qadar dan malam hari raya Fitri dan malam hari raya Adha.
Riwayat ini dikuatkan oleh hadis yang diriwayatkan oleh As-Suyuthi yang tersebut sebelum ini mengenai amalan yang diminta di bulan Rajab. Maka dianjurkan berdoa pada malamnya dengan memohon perkaraperkara yang penting di dunia dan akhirat.
Al-Allamah As-Sayyid Al-Wina’iy berkata mengenai amalan yang berkaitan dengan malam nisfu Sya’ban dan lainnya seperti Ramadan: Termasuk doa yang paling utama dibaca pada malam ini:
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Pemurah dan menyukai maaf, maka maafkanlah aku. Ya Allah, aku mohon kepada-Mu maaf dan keselamatan dan penyelamatan yang kekal dalam agama, dunia dan akhirat.”
Doa ini dibaca pada malam Qadar, sedangkan ini adalah malam yang paling utama sesudahnya.
Saya katakan: Telah dikumpulkan doa masyhur yang diriwayatkan dan sesuai dengan keadaannya khusus mengenai malam nisfu Sya’ban. Kaum muslimin membacanya pada malam yang penuh berkah itu sendiri sendiri maupun dalam kelompok di masjid-masjid mereka dan tempat lainnya.
Salah seorang dari mereka membaca doa dan ditirukan oleh hadirin atau ia membaca doa dan mereka mengamini sebagaimana diketahui.
Caranya: Engkau mambaca sebelum doa itu surah Yaasin (tiga kali). Yang pertama dengan niat panjang umur, yang kedua dengan niat menolak bencana dan yang ketiga dengan niat dicukupi rezekinya tanpa membutuhkan bantuan orang lain.
Setiap selesai membaca surah Yaasin sekali, disusul dengan membaca doa sekali.
Inilah dia doa yang penuh berkah ini:
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah selalu melimpahkan solawat dan salam kepada Sayyidina Muhammad dan keluarga serta para sahabatnya.
Wahai Tuhan yang memberi karunia dan tidak menerima pemberian. Wahai Tuhan yang memiliki keagungan dan kemuliaan, wahai Tuhan yang memiliki kekuasaan dan memberi kenikmatan.
Tiada Tuhan selain Engkau, penolong orang-orang yang berlindung, pelindung orang-orang yang meminta perlindungan dan pengaman orangorang yang takut.
Ya Allah, jika Engkau menulis aku di sisi-Mu di Ummil kitab (AlLauhil mahfudh) sengsara atau miskin atau terusir atau disempitkan rezekiku, maka hapuslah ya Allah dengan karunia-Mu, kesengsaraanku, kemiskinanku, pengusiranku dan kesempitan rezekiku dan tetapkan aku di sisi-Mu di Ummil kitab, bahagia, mendapat rezeki dan mendapat taufik untuk melakukan berbagai kebaikan.
Sesungguhnya Engkau telah mengatakan dan perkataan-Mu benar dalam kitab-Mu yang diturunkan melalui lisan Nabi-Mu yang diutus: “Allah menghapus dan menetapkan apa yang Dia kehendaki. Dan di sisi-Nya terdapat Ummil kitab (Al-Lauhil mahfudh).” (Ar-Ra’ad: 39).
Wahai Tuhanku, demi penampakan yang maha agung di malam nisfu Sya’ban yang dimuliakan dan di malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah dan diputuskan, aku mohon kepada-Mu agar Engkau singkirkan dari kami bencana yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui dan yang Engkau lebih mengetahuinya. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mulia lagi Maha Pemurah.
Wa shallallahu ta’ala “alaa Sayyidina Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.”
Al-Allamah Asy-Syarji menyebutkan doa ini dalam Fawaaid-nya dan ia menjadikannya dua doa.
Malam nisfu Sya’ban menurut jumlah nilai huruf-hurufnya adalah 2375. Maka pembacaan ini di malam ini dengan jumlah tersebut menjadi pelindung dalam tahun itu dari bencana dan cobaan.
Saya katakan: Bagaimana tidak menimbulkan keamanan, karena telah diriwayatkan oleh ibnu Abbas dari Nabi bersabda: “Doa saudaraku Yunus sungguh ajaib. Pertamanya adalah tahlil, tengahnya tasbih dan akhirnya pengakuan dosa, yaitu: (Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berbuat aniaya).
Tidaklah seorang yang susah dan seorang yang sedih, dan seorang yang terkena musibah maupun seorang yang berhutang berdoa dengannya dalam sehari tiga kali, melainkan doanya dikabulkan.”
Hal ini bisa ditemukan pula dalam hadis-hadis lain yang dikumpulkan dalam Khazinatul asraar dan lainnya.
Faedah lain: Asy-Syarji berkata dalam Fawaaid-nya: Barangsiapa membaca awal surah Ad-Dukhan hingga perkataan-Nya: di malam pertama dari bulan Sya’ban lima belas kali hingga malam ke lima belas dan membacanya tiga puluh kali, kemudian menyebut nama Allah Ta’ala dan membaca solawat untuk Nabi , lalu berdoa dengan apa yang disukainya, maka doanya akan dikabulkan dengan segera, insya Allah Ta’ala.
Peringatan: Menghidupkan malam nisfu dan solat yang disebutkan dalam hadis-hadis dilakukan dalam sebagian besar malam. Ada yang mengatakan: Sesaat.
Diriwayatkan dari ibnu Abbas : Bisa dilakukan dengan solat Isya berjamaah dan keinginan untuk mengerjakan solat Subuh berjamaah sebagaimana mereka katakan mengenai malam dua hari raya.
Adapun yang dilakukan sebagian orang dengan mengerjakan solat 100 rakaat di malam ini, maka itu adalah bid’ah.
Yang lebih utama bagi manusia adalah mengerjakan solat tasbih yang diajarkan Nabi kepada pamannya Al-Abbas dan para kerabatnya yang lain. Caranya bisa diketahui dalam kitab-kitab figh. Wa billahi attaufiq.









One Comment