Dan Nabi mengawini Ummi Salamah di bulan Syawwal pula.
Termasuk hal itu ialah anggapan sial terhadap saat yang sial dengan pertimbangan planet-planet dan hari-hari sial.
Maka mereka meninggalkan usaha untuk mengerjakan urusan-urusan mereka di saat itu. Itu adalah anggapan yang batil dari para tukang ramal.
Termasuk hal itu ialah anggapan sial terhadap perjalanan di waktu kurang sehari atau dua hari dari sebulan atau apabila bulan turun pada planet Scorpion (kalajengking).
Anggapan itu termasuk thiyarah yang dilarang, karena memelihara kepercayaan itu adalah makruh atau diharamkan sebagaimana kami akan menukilnya dari Ibnu Hajar.
Termasuk hal itu: Anggapan sial terhadap hari Rabu dan lainnya. Semua itu termasuk thiyarah yang dilarang.
Berkata Ibnu Hajar dalam kitab Al-Minah setelah menetapkan anjuran bepergian pada hari Kamis dan Senin atau Sabtu:
Kemudian penetapan mereka atas anjuran bepergian dalam hari-hari ini adalah jelas, karena tidak menganjurkannya dalam hari-hari yang lain. Akan tetapi hal itu bukan karena mencari petunjuk dari perkataan paranormal (ahli nujum) atau semacamnya, karena mengandalkan perkataan itu adalah makruh atau haram.
Ibnu Jama’ah berkata: Tidak dihukum makruh bepergian pada salah satu hari disebabkan bulan berada dalam planet Scorpion atau lainnya. Ketika dikatakan kepada Ali : Apakah engkau akan menghadapi Khawarij di saat bulan berada di planet kalajengking (Scorpion)?
Ali menjawab: Di mana bulan mereka?
Seorang ahli nujum berkata kepadanya: Pergilah pada saat begini, maka engkau akan menang:
Ali , menjawab: Muhammad tidak mempunyai ahli nujum dan juga orang-orang sesudahnya.
Ali berhujjah dengan ayat-ayat, kemudian berkata: Barangsiapa mempercayaimu dalam perkataan ini, aku khawatir ia seperti orang yang menyembah Tuhan selain Allah.
Ya Allah, tidak ada pertanda buruk, kecuali yang Engkau takdirkan dan tiada kebaikan, kecuali kebaikan yang Engkau berikan.
Kami tidak mempercayaimu dan menyalahimu dan berangkat pada saat di mana engkau larang kami berangkat.
Kemudian Ali , berkata kepada orang-orang: Janganlah kalian . mempelajari ilmu nujum, kecuali untuk menuntun kalian dalam kegelapan di darat dan laut. Sesungguhnya peramal (ahli nujum) itu seperti orang kafir.
Kemudian Ali , mengancam peramal bahwa jika ia tidak bertaubat, maka ia akan dikekalkan dalam penjara dan tidak diberi tunjangan. Kemudian Ali , memerangi Khawarij pada saat yang dia dilarang berperang. Ternyata dia berhasil mengalahkan mereka, yaitu dalam perang Nahrawan kedua.
Ibnu Rusyd menukil bahwa Malik tidak pernah menghindari suatu hari apapun, bahkan dia mengutamakan hari Rabu dan Sabtu sebagai penolakan atas orang yang menganggap sial kedua hari itu.
Seorang raja? hendak berperang dalam suatu waktu, namun para ahli nujum melarangnya. Kemudian dilagukan syi’ir baginya:
Tinggalkan bintang-bintang itu bagi peramal yang hidup dengannya dan bangkitlah dengan tekad yang kuat wahai raja
Sesungguhnya nabi dan para sahabat nabi melarang mempercayai bintang-bintang dan anda telah melihat apa yang mereka kuasai
Maka raja tidak menuruti mereka dan berhasil menang.
Banyak orang yang menganggap sial hari Rabu terakhir dan meninggalkan usaha untuk mengerjakan urusan-urusan mereka di hari itu.
Mereka berkata mengenainya: “Hari Rabu tidak berputar” dengan berdalil hadis: “Akhir Rabu dalam sebulan adalah hari sial yang terus menerus.”
Berkata As-Sakhawi: Jalan-jalan hadis ini buruk. Dengan menganggapnya sahih, maknanya: Kesialan yang terus-menerus atas siapa yang menganggapnya sial atau meyakini kesialannya secara khusus dan takut kepadanya dengan meyakini pendapat ahli nujum.
Adapun siapa yang meyakini bahwa tidak ada yang bisa memberi manfaat dan menimbulkan bahaya kecuali Allah, maka tidak ada kesialan menimpanya.
Disebutkan dalam khabar (hadis) keterangan yang menunjukkan pujian terhadap hari Rabu.
Disebutkan dalam Syu’abul iman oleh Al-Baihaqi bahwa doa dikabulkan pada hari Rabu setelah matahari tergelincir.
Dalam hadis Jabir , disebutkan bahwa Nabi mendatangi masjid AlAhzab pada hari Senin dan hari Selasa dan hari Rabu antara Zuhur dan Asar, lalu meletakkan selendangnya.
Kemudian beliau berdiri dan mengangkat kedua tangannya mendoakan kekalahan atas orang-orang kafir. Maka kami lihat kegembiraan di wajahnya, sebagaimana tercantum dalam kitab siirah (sejarah).
Disebutkan dari pengarang Al-Hidayah: bahwa tidaklah suatu pekerjaan dimulai pada hari Rabu, melainkan pekerjaan itu selesai dan hari Rabu adalah hari di mana Allah Ta’ala menciptakan cahaya.
Diriwayatkan oleh Ad-Dailami dari Jabir secara marfu: “Barangsiapa menanam pohon-pohon pada hari Rabu dan mengucapkan: , maka pohon-pohon itu akan menghasilkan buah.”
Diriwayatkan dari Al-Hulaimi bahwa ia berkata: Kami ketahui dengan penjelasan syari’at bahwa di antara hari-hari ada yang sial dan kebalikannya adalah keberuntungan. Apabila yang pertama benar adanya, maka yang kedua benar pula.
Hari-hari ada yang sial dan ada yang beruntung. Seperti manusia, ada yang sengsara dan ada yang bahagia.
Akan tetapi, anggapan bahwa hari-hari dan bintang-bintang yang menyebabkan kesialan dan keberuntungan dengan memilihnya mengenai waktu-waktu atau orang-orang adalah batil.
Pendapat bahwa bintang-bintang bisa menjadi sebab bagi sesuatu yang baik dan yang buruk, kebaikan dan kejelekan, sedangkan semua itu adalah perbuatan Allah Tg’ala semata-mata, adalah tidak berdosa.
Walhasil, sebagaimana dikatakan oleh Al-Munawi: Menghindari hari Rabu dan lainnya dengan sebab thiyarah dan mengikuti keyakinan para ahli nujum adalah sangat diharamkan karena hari-hari itu semuanya milik Allah Ta’ala, tidak bisa memberi manfaat dan menimbulkan bahaya dengan sendirinya dan tanpa itu tidak ada bahaya dan tidak ada gangguan di dalamnya.
Barangsiapa percaya pertanda buruk, ia pun dikelilingi kesialannya. Dan siapa yang meyakini bahwa tidak ada yang bisa menimbulkan bahaya dan memberi manfaat kecuali Allah , maka tidak ada sesuatu apa pun dari itu yang bisa berpengaruh padanya. Sebagaimana dikatakan:
Ketahuilah, bahwa tidak ada pertanda buruk kecuali atas orang yang berprasangka buruk yaitu kebinasaan
Ringkasnya, semua hari itu sama, tidak ada kekhususan untuk itu bagi hari Rabu dan lainnya. Setiap saat membawa keberuntungan bagi seseorang dan kesialan bagi orang yang lain dengan pertimbangan bahwa Allah Ta’ala mengadakan dalam hari-hari itu berbagai peristiwa yang menyenangkan dan menyusahkan, kebaikan dan kejahatan.
Maka setiap hari memiliki sifat dua hal yang berbeda. Tidaklah Allah memasukkan malam dalam siang dan siang dalam malam, melainkan untuk mengadakan berbagai peristiwa.
Ada yang mengatakan: Ketahuilah, sesungguhnya hari-hari itu adalah hasil penciptaan yang sama dan malam-malam ini semuanya adalah sama
Disebutkan dalam kitab Ruhul bayan dalam menafsirkan firman Allah Ta’ala:
“Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasinya” (QS. Az-Zumar: 52).
Yakni Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki, meskipun orang itu tidak mempunyai daya dan kekuatan sebagai ujian baginya.
Dan Allah menyempitkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki, meskipun orang itu kuat dan mempunyai daya yang besar sebagai cobaan baginya.
Maka tidak ada yang menyempitkan rezeki dan tidak ada yang melapangkannya, kecuali Allah Ta’ala.
Bukti atas hal itu ialah kita lihat orang-orang berbeda-beda dalam kelapangan rezeki dan kesempitannya. Hal itu pasti ada hikmah dan sebabnya. Sebab itu bukan karena akal manusia dan kebodohannya.
Kita lihat orang berakal yang mampu dalam kesempitan yang sangat dan terkadang kita lihat orang yang bodoh dan lemah dalam keadaan sangat lapang rezekinya.
Hal itu juga bukan karena tabiat dan falak, karena saat di mana raja dan sultan yang berkuasa dilahirkan, telah dilahirkan pula alam manusia dan alam binatang serta dilahirkan pula dalam saat itu alam tumbuhtumbuhan.
Ketika kita menyaksikan terjadinya hal-hal yang banyak ini dalam saat yang sama meskipun berbeda-beda dalam kebahagiaan dan kesengsaraan maka kita ketahui bahwa pelakunya adalah Allah Ta’ala. Dengan bukti logika yang meyakinkan ini, benarlah firman Allah Ta’ala:
“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkan rezeki (bagi siapa yang Dia kehendaki).
Penyair berkata:
Tidaklah keberuntungan itu diputuskan bintang Jupiter dan tidaklah kesialan itu diterapkan atas kita oleh bintang Saturnus akan tetapi itu adalah keputusan Tuhan pencipta langit dan hakim segala hakim yang Maha Tinggi dan Maha Agung
Penyair lain berkata:
Janganlah engkau andalkan bintang dalam urusan yang engkau usahakan adalah Allah yang melakukan bukan bintang Capricornus maupun Aries dalam kebahagiaan bukanlah bintang yang berpengaruh dan tidaklah membahayakanmu bintang Mars maupun Saturnus
Al-Allamah Asy-Syaikh Manshur At-Tamimi Asy-Syafi’i berkata:
Barangsiapa takut bintang Zuhal atau mengharapkan Musytari maka aku berlepas diri darinya, meskipun dia ayahku yang terdekat
Dia berkata pula:
Jika engkau menganggap bintang-bintang membahayakan dan memberi manfaat siapa yang ada di bawahnya maka jangan menyangkal siapa yang mengatakan bahwa engkau telah menyekutukannya dengan Allah
Dia berkata pula:
Bintang tidak mempunyai jalan untuk menimbulkan bahaya dan memberi manfaat tetapi bintang adalah penunjuk waktu dan jalan
Al-Hafni berkata: Seorang yang berpegang pada tauhid bertemu dengan seorang ahli nujum.
Ahli nujum berkata: Bagaimana keadaanmu di pagi ini?
Orang yang berpegang pada tauhid itu menjawab: Aku takut Allah Ta’ala dan mengharapkan-Nya, sedangkan engkau mengharapkan bintang Zuhal (Saturnus) dan Musytari (Jupiter) dan takut kepada keduanya.
Demikianlah, saya sudah berbicara panjang lebar sehingga hampir keluar dari tujuan. Akan tetapi tidak ada masalah dengan panjangnya, karena harapan saya adalah kumpulan tulisan ini diterima dan terpuji dan tidak kosong insya Allah dari faedah dan hasil yang baik.
Maka engkau harus menyingkirkan darimu prasangka buruk dan meneguhkan tekadmu, lalu tetap melakukan suatu urusan tanpa bingung, terutama di bulan Safar bulan kebaikan dan keberhasilan.
Doakan saya agar menempuh jalan yang benar, karena engkau tidak akan menemukan kumpulan pembahasan dengan tertib ini dalam sebuah kitab.
Semoga Allah Ta’ala memberi kita taufik untuk mendapatkan ridho-Nya dan menjauhkan dari kita bencana dan sebab-sebabnya. Aamiin.









One Comment