Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Kanzun Najah Was Surur

Amalan Yang Diminta Pada Hari Raya Fitri

Ketahuilah, bahwa Allah  mengkhususkan kita di antara umatumat yang lain dengan bulan puasa dan kesabaran dan mencuci dengannya dosa-dosa dari orang-orang yang berpuasa seperti membasuh baju dengan air hujan. :

Dengan menyelesaikannya Allah memberi kita pikiran yang jernih dan mengaruniai kita Idul Fitri yang harinya adalah hari bahagia.

Ada orang-orang yang bahagia dan ada yang sengsara. Orang yang diterima amalnya diberi ucapan selamat, sedangkan yang tertolak diucapkan takziyah kepadanya Celakalah siapa yang amalnya tertolak dan beruntunglah hamba yang amal-amalnya diterima serta dipuji perilaku dan perbuatannya.

Telah dikatakan: “Hari raya itu bukan untuk orang yang memakai baju baru, tetapi untuk orang yang ketaatannya bertambah.”

Setiap hari di mana hamba tidak mendurhakai Allah adalah hari raya.

Orang yang bahagia di hari raya adalah orang yang ingat janji dan ancaman dan meminta tambahan dari pahala Allah .

Di hari itu Raja yang Maha Mulia menampakkan kemurahan-Nya dan membebaskan hamba-hamba-Nya yang perempuan dan laki-laki.

Allah Ta’ala berkata ketika orang-orang mukmin berkumpul untuk mengerjakan solat Idul Fitri: “Hai para malaikat-Ku,. apa balasan orang yang sudah menyelesaikan pekerjaannya?

Mereka menjawab: Wahai Tuhan kami, diberikan upahnya.

Allah berkata: Aku jadikan kalian sebagai saksi wahai para malaikat-Ku, bahwa Aku telah mengampuni mereka.

Disebutkan dalam Al-Ithaaf: Adapun hari raya setelah Ramadan merupakan hari raya bagi seluruh umat ini adalah sebagai isyarat bagi banyaknya pembebasan dari api neraka sebelumnya, sebagaimana hari raya Adha adalah hari raya terbesar bagi banyaknya pembebasan dari api neraka di Arafah sebelumnya, karena tidak terdapat hari yang lebih banyak pembebasannya daripada hari itu.

Maka siapa yang dibebaskan dari api neraka sebelumnya, hari itu merupakan hari raya baginya.

Sedangkan orang yang tidak dibebaskan, maka ia sangat jauh dari pembebasan dan terkena ancaman yang sangat keras.

Hendaklah diketahui bahwa kata “Al-led (hari raya)” berasal dari kata “Al-“Aud (kembali)”. Maka dinamakan Ied, karena hari itu terulang setiap tahun.

Ada yang mengatakan: Hal itu disebabkan banyaknya awaaid (pemberian) Allah Ta’ala di hari itu kepada para hamba-Nya dengan sebab kemurahanNya yang banyak atau karena Allah   memberikan kegembiraan kepada para makhluk-Nya di hari itu.

Ada yang mengatakan: Karena hari itu orang-orang saling memberi dan saling menyantuni. Diriwayatkan dari Abu Hurairah   dari Nabi   , beliau bersabda: “Hiasilah hari-hari rayamu dengan takbir.”

Diriwayatkan dari Abi Umamah  , ia berkata: Rasulullah bersabda: Barangsiapa menghidupkan dua malam hari raya, maka Allah menghidupkan hatinya pada hari di mana hati manusia mati.”

Ini adalah kinayah tentang keselamatannya pada hari kiamat ketika ada banyak hati yang mati — yakni binasa dan tidak selamat — dan perlindungannya dari penghabisan yang buruk.

Nabi    bersabda:

“Barangsiapa menghidupkan malam-malam yang empat, wajiblah surga baginya: yaitu malam Tarwiyah, malam Arafah, malam hari raya Adha dan malam hari raya Fitri.” Hadis ini disebutkan dalam Al-Jaami’ ash-shaghir.

Di sebutkan dalam hadis lain: Permintaan menghidupkan malam pertama dari bulan Rajab dan malam nisfu Sya’ban.

Al-Hafni berkata: Sedikit-dikitnya menghidupkan malam itu bisa dilakukan dengan solat Isya berjamaah dan keinginan kuat untuk mengerjakan solat Subuh di malam itu.

Akan tetapi yang dimaksud di sini adalah menghidupkan sebagian besar malamnya dengan ibadah berupa solat dan zikir misalnya supaya tercapai karunia yang besar ini, yaitu kepastian masuk surga.

Telah disebutkan sebelumnya, hadis: “Lima malam di mana doa tidak ditolak: yaitu malam pertama dari bulan Rajab, malam nisfu Sya’ban, malam Jumat dan dua malam hari raya.”

Nabi   bersabda:

“Bulan Ramadan tergantung di antara langit dan bumi, maka ia tidak dinaikkan kepada Allah Ta’ala, kecuali dengan menunaikan zakat fitrah.”

Diriwayatkan oleh Abu Ayyub Al-Anshori   :

“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadan dan menambahinya dengan enam hari dari bulan Syawwal, maka ia seperti berpuasa setahun.”

Di antara amalan-amalan yang diminta pada dua hari raya ialah yang dikatakan oleh Al-Wina’iy dalam Risalah-nya: Barangsiapa memohon ampun kepada Allah pada hari raya setelah solat Subuh seratus kali, tidaklah tersisa dosa sedikit pun dalam daftar amalnya, melainkan dihapus darinya dan pada hari kiamat dia aman dari siksa Allah.

Dan siapa yang mengucapkan: Subhanallaahi wa bihamdihi seratus kali pada hari raya dan berkata: Wahai Tuhanku, aku berikan pahalanya kepada para penghuni kubur, tidaklah tersisa dari orang-orang mati itu, melainkan ia berkata: Ya Rahiim, rahmatilah hamba-Mu ini dan berilah pahalanya berupa surga.

Al-Fasyani berkata dalam Tuhfatul ikhwan dari Anas , dari Nabi & bahwa beliau bersabda:

“Hiasilah dua hari raya dengan tahlil, menyucikan Allah dan mengagungkan-Nya serta bertakbir.”

Faedah Mengenai Hukum Mengucapkan Selamat Hari Raya

Al-Qamuliy    berkata: Saya tidak melihat seseorang dari sahabat kami yang berbicara tentang mengucapkan selamat hari raya pada hari raya dan tahun-tahun dan bulan-bulan sebagaimana yang dilakukan sebagian orang.

Akan tetapi Al-Hafidh Al-Mundziri menukil dari Al-Hafidh Al-Maqdisi bahwa ia menjawab tentang hal itu bahwa orang-orang masih berselisih pendapat mengenainya.

Menurut pendapat saya hukumnya mubah, bukan sunnah maupun bid’ah.

Al-Hafidh ibnu Hajar    menjawab setelah mempelajarinya bahwa ucapan selamat itu disyariatkan. Ia berhujjah bahwa Al-Baihaqi mengadakan sebuah bab untuk itu.

Ia berkata: Bab riwayat tentang perkataan yang diucapkan sebagian orang

kepada sebagian yang lain :

Ia mengemukakan khabar-khabar dan atsar-atsar yang dlo’if (lemah), tetapi keseluruhannya bisa dijadikan hujjah mengenai perkara seperti itu.

Kemudian ia berkata: Yang dijadikan hujjah bagi keumuman ucapan selamat atas nikmat yang diperoleh atau bencana yang tertolak adalah disyariatkannya sujud syukur.

Dan yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Ka’ab bin Malik , mengenai kisah taubatnya karena tidak ikut dalam perang Tabuk. Ketika diberitahu bahwa taubatnya diterima dan pergi kepada Nabi , Ihalhah bin Ubaidillah   menyambutnya dan mengucapkan selamat kepadanya.

Berdasarkan itu, maka ucapan selamat itu diminta dan disyariatkan.

Dalam ucapan itu diminta untuk mendoakan tetapnya nikmat dan kegembiraan atas orang yang diberi ucapan selamat dan terulangnya semua itu padanya.

Tidaklah tersembunyi bahwa surat-surat ucapan selamat termasuk perkara-perkara sosial yang mendirikan kaidah-kaidah keikhlasan dan menguatkan ikatan pertemuan (dan cinta menyebabkan pengkhususan) dan menanamkan benih-benih persatuan dan kesetiaan serta mempererat tali cinta kasih dan persaudaraan.

Saya telah menyusun dua bait mengenai ucapan selamat hari raya dan mencetaknya dalam selembar kartu untuk ditinggalkan di tempat yang didatangi dan tidak ada orangnya.

Maka kartu itu menggantikan pemiliknya ketika berkunjung dalam keadaan yang dikunjungi tidak ada di tempat dan ia pun tidak perlu kembali lagi ke situ.

Semoga menyenangkanmu hari raya yang penuh berkah dan kegembiraan selalu terulang bagimu dan mendatangkan kegembiraan inilah, karena aku tidak melihat cahaya bentuk rupamu aku jadikan tulisan ini menunaikan sebagian kewajiban

Semoga Allah Ta’ala menjadikan hari-hari kita sebaik-baik hari raya dalam menaati Tuhan para hamba dengan diberi nikmat kesehatan dan keselamatan demi kedudukan manusia yang dinaungi awan, Muhammad , semoga Allah selalu memuliakan dan mengagungkannya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker