Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Ta’lim Muta’allim

Fasal Tentang Permulaan belajar, ukuran, urutannya

فصل فى بداية السبق وقدره وترتيبه

          كان أستاذنا شيخ الإسلام برهان الدين رحمه الله يوقف بداية السبق على يوم الأربعاء، وكان يروى فى ذلك حديثا ويستدل به ويقول: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ما من شيئ بدئ  يوم الأربعاء إلا وقد تم

Guru kami, syekh burhanuddin menetapkan suatu ketentuan mengenai permulaan belajar, yaitu pada hari rabu. Syekh Burhanuddin mengatakan demikian itu dengan dalil (bukti) hadis dari Rasulullah saw, yang mengatakan : ”Apa saja yang dimulai pada hari rabu itu dapat sempurna .”

  وهكذا كان يفعل ابو حنيفة وكان  يروى هذا الحديث عن أستاذه الشيخ الإمام الأجل قوام الدين أحمد بن عبد الرشيد رحمه الله  وسمعت ممن أثق به، أن الشيخ يوسف الهمذانى رحمه الله، كان يوقف كل عمل من الخير على يوم الأربعاء. وهذا لأن يوم الأربعاء يوم خلق فيه النور، وهو يوم نحس فى حق الكفار فيكون مباركا للمؤمنين

Demikian itu, juga dilakukan oleh Imam Abu Hanifah dengan menceritakan sebuah hadis dari seorang gurunya, Syekh Qawwamuddin Ahmad bin Abdul Rasyid. Disamping itu , beliau berkata:” Saya  juga pernah mendengar dari orang dapat dipercaya. Sesungguhnya beliau, Syekh Abu Yusuf Hamdany menentukan hari untuk memulai pekerjaan yang baik, dilakukan pada hari rabu.”

Adapun mengenai (alasan) hari rabu dijadikan pedoman permulaan untuk melakukan sesuatu , karena pada hari rabu itu merupakan hari dijadikanya nur dan hari nas, yaitu hari yang tidak memberi ( membawa) berkah bagi orang kafir, tetapi bagi orang mukmin, hari rabu  tersebut adalah hari yang penuh berkah.

          وأما قدر السبق فى الإبتداء: كان أبو حنيفة رحمه الله يحكى عن الشيخ القاضى الإمام عمر بن أبى بكر الزرنجرى رحمه الله أنه قال: قال مشايخنا رحمهم الله: ينبغى أن يكون قدر السبق للمبتدئ  قدر ما يمكن ضبطه بالإعادة مرتين بالرفق ويزيد كل يوم كلمة حتى أنه وإن طال وكثر يمكن ضبطه بالإعادة مرتين، ويزيد بالرفق والتدريج، وأما إذا طال السبق فى الإبتداء واحتاج المتعلم إلى الإعادة عشر مرات فهو فى الإنتهاء أيضا يكون كذلك، لأنه يعتاد ذلك، ولا يترك تلك الإعادة إلا بجهد كثير وقد قيل: السبق حرف، والتكرار ألف.  وينبغى أن يبتدئ بشيئ  يكون أقرب إلى فهمه 

Adapun ukuran permulaan bagi orang yang memulai belajar, menurut keterangan Imam Abu Hanifah dari Syekh Imam Umar bin Abu Bakar Az-Zaranji, beliau mengatakan : Guruku telah berkata : sebaiknya ukuran prakiraan pelajaran yang diberikan pada pelajar yang baru memulai belajar, adalah agar diberi batas yang kira-kira mampu untuk diulang dua kali. selanjutnya, setiap hari ditambah satu kslimst umpamanya, sehingga pelajaan tersebut semakin banyak dan panjang , serta mampu mengulang sampai dua kali. Demikian seterusnya, kemudian menambah pelajaran tersebut sedikit demi sedikit , secara pelan-pelan.  Jika pemberian pelajaran tersebut sangat panjang pada permulaanya, sedangkan orang yang belajar menghendaki untuk mengulang pelajarannya sampai sepuluh kali, maka orang yang belajar itu pada akhirnya sudah terbiasa mengulang . karenanya, dia tetap akan mampu mengulang sampai sepuluh kali. Jika yang demikian itu sudah menjadi kebiasaanya, tentu dia tidak mau meninggalkan kebiasaan tersebut , kecuali karena kesibukan yang melelahkan(uzur). Dikatakan oleh sebagian ulama :” pengajian satu kalimat, hendaknya diulang sampai seribu kali . sedang  bagi orang yang baru memulai belajar, sebaiknya dapat memilih kitab yang mudah untuk dipahami.”    

وكان الشيخ الإمام الأستاذ شرف الدين العقيلى رحمه الله يقول: الصواب عندى فى هذا ما فعله مشايخنا رحمهم الله، فإنهم كانوا يختارون للمبتدئ صغارات المبسوط لأنه أقرب إلى الفهم والضبط، وأبعد من الملالة، وأكثر وقوعا بين الناس.

Syekh Imam Syarafuddin  Al- Uqaily mengatakan : Menurutku, cara-cara yang benar bagi orang yang memulai belajar (mengaji) adalah sbagaimana yang digunakan oleh guru-guruku. Beliau memilih kitab kepada orang yang memulai belajar, agar mengaji (belajar) kitab kecil-kecil terlebih dahulu. Karena yang demikian itu, disamping mempercepat kefahaman, juga lebih mudah tertanam dalam hati dan tidak menimbulkan kebosanan serta lebih mudah untuk diterima diantara manusia.  

          وينبغى أن يعلق السبق بعد الضبط والإعادة كثيرا، فإنه نافع جدا.

          ولا يكتب المتعلم شيئا لا يفهمه، فإنه يورث كلالة الطبع ويذهب الفطنة ويضيع أوقاته.

          وينبغى أن يجتهد فى الفهم عن الأستاذ بالتأمل وبالتفكر وكثرة التكرار، فإنه إذا قل السبق وكثرة التكرار والتأمل يدرك ويفهم.

          قيل: حفظ حرفين، خير من سماع وقرين، وفهم حرفين خير من حفظ سطرين.

          وإذا تهاون فى الفهم ولم يجتهد مرة أو مرتين يعتاد ذلك فلا يفهم الكلام اليسير، فينبغى أن لا يتهاون فى الفهم بل يجتهد ويدعو الله ويتضرع إليه فإنه يجيب من دعاه، ولا يخيب من رجاه.

          وأنشدنا الشيخ الأجل قوام الدين حماد بن إبراهيم بن إسماعيل الصفار الأنصارى إملاء للقاضى الخليل بن أحمد الشجرى فى ذلك شعرا:

Kami pernah dibacakan syair oleh Syekh Muhammad bin Ibrahim bin Ismail syair kepunyaan Syekh Kholil Ahmad Sarakhsih demikian

أخدم العلم خدمـــــــة المستفيد  وأدم درسه بفعل حـــــــميد

jadikanlah dirimu menjadi pelayan ilmu sebagaimana melayani orang yang mencari faedah ilmu dan biasakanlah rajin belajar dengan baik menghafal memahami dan mengulang karena yang demikian itu merupakan pekerjaan yang terpuji

وإذا مـــــــا حفظت شيئا أعده  ثم أكده غاية التأكــــــــــــيد

jika engkau telah hafal satu ilmu maka ulangi lah sehingga tidak akan lupa kemudian kukuhkanlah dengan sekuat-kuatnya

كى لا يزول ثم علقه كى تعود  إليه وإلى درسه على التأبيد

selanjutnya catatlah ilmu tersebut akan engkau dapat mengulang dan mempelajari selama-lamanya

فإذا ما أمنت مــــــــــــنه فواتا  فانتدب بعده لشيئ جــــــديد

setelah engkau merasa aman atau hafal sekiranya tidak lupa terhadap pelajaran yang telah dipelajari maka cepat cepatlah menambah pelajaran yang baru

مع تكرار ما تقدم مــــــــــــنه  واقتناء لشأن هـــــذا المـزيد

serta mengulang-ulang pelajaran yang telah dihafal disertai mencari hasil tambahan pelajaran yang baru telah engkau memperoleh ilmu sebarkanlah kepada orang banyak Agar engkau dapat hidup abadi dan

ذاكــــــــر الناس بالعلوم لتحيا  لا تكن من أولى النهى ببعيد

setelah engkau memperoleh ilmu sebarkanlah kepada orang banyak Agar engkau dapat hidup abadi dan janganlah engkau menjauhi dari para alim ulama

إذا كتمت العلوم أنسيت حــتى  لا ترى غير جـــــاهل وبليد

janganlah engkau menyembunyikan ilmu jika engkau sembunyikan tidak menyebarkan ilmu Maka engkau akan dilupakan sehingga tidak tampak kecuali sebagaimana orang yang bodoh dan tumpul

ثم ألجمت فـــــــى القيامة نارا  وتلهبت بالعـــــــذاب الشديد

selanjutnya pada hari kiamat engkau akan dikendalikan api neraka dan disiksa dengan amat Pedihnya dalam neraka yang penuh dengan api

bagi orang yang mencari ilmu pelajar atau santri wajib harus adu penalaran saling tukar pemikiran dan berdiskusi dengan teman-temannya tetapi Sebaiknya dalam perdebatan tersebut harus dengan dasar hati insaf pikiran yang jernih tenang pelan-pelan dan penuh angan-angan semuanya harus dapat menjaga diri dari perkara yang tidak baik karena bertukar pikiran dan perdebatan yang disertai hati dingin itu maksudnya adalah musyawarah (berembung) dengan musyawarah akan dapat melahirkan kebenaran demikian itu harus didasari hati yang jernih dan angan angan serta insaf melahirkan kebenaran itu tidak akan berhasil apabila disertai marah dan jengkel serta menimbulkan perkara yang tutup kalau dalam perdebatan atau atau pikiran diskusi tersebut mempunyai maksud untuk mengalahkan musuh-musuhnya maka tidak diperbolehkan akan tetapi yang diperbolehkan berdebat atau adu pikiran itu kalau niatnya untuk melahirkan kebenaran perbuatan memulas berbelit-belit mereka-reka dalam perdebatan atau munadzarah tidak diperbolehkan kecuali si musuh hanya bertujuan untuk menjegal tidak mau mencari kebenaran maka diperbolehkan Syekh Muhammad bin Yahya Apabila mendapat pertanyaan yang sukar sedangkan beliau belum dapat menjawabnya maka Beliau berkata kepada orang-orang yang mengajukan pertanyaan tersebut pertanyaan anda itu aku terima tapi akan aku pikirkan dahulu Bila perlu aku musyawarah kan kepada yang lainnya karena setiap orang yang mengerti tentu ada lagi yang lebih mengerti manfaat dari perdebatan dan aduh penalaran diskusi adalah lebih kuat daripada faedah mengulang karena percepatan itu disamping mengulangi ilmu yang telah ada juga dapat memperoleh ilmu yang belum diketahui dikatakan bahwa bantah bantahan 1 jam itu lebih baik daripada mengulang pelajaran 1 bulan tetapi selama mengadakan percepatan tersebut dengan orang yang hatinya Insaf serta selamat wataknya Karena itu jagalah dirimu jangan sampai berdebat dengan orang yang suka menjegal dan tidak lurus watak kepribadiannya sebab watak itu sering mencuri dan budi pekerti sering menular apalagi bertetangga
Justru dapat melekat dan Membekas dalam sebuah syair yang mengandung beberapa faedah Syekh Kholil bin Ahmad menyebutkan syarat-syarat dari ilmu yaitu hendaknya seluruh manusia melayani atau membantu melayani ilmu dan sebaiknya bagi orang yang mencari ilmu hendaknya seluruh waktu nya dapat digunakan untuk perawatan dan memikirkan kehalusan ilmu karena untuk mendapatkan hasil ilmu yang lembut itu harus dengan jalan berpikir dan berangan-angan secara sungguh-sungguh karena itu dikatakan berpikirlah tentu kamu akan menemukannya demikian juga hendaknya selalu menggunakan ta ammul berangan-angan Janganlah sekali-kali Bekerjalah sebelum di angan-angan terlebih dahulu agar buah panah maka dari itu harus meluruskan kata-katanya Dengan berpikir terlebih dahulu agar pembicaraannya menjadi benar dalam ilmu usul Fiqih dikatakan bahwa angan-angan adalah menjadi dasar pokok yang penting bagi orang yang mengerti ketika dalam munadzarah aduh Nalar hendaklah selalu menggunakan angan-angan dikatakan bahwa rokok akan adalah apabila pembicaraan itu disertai pelan-pelan tidak asing dalam berbicara dan berpikir terlebih dahulu dikatakan dalam sebuah syair aku berwasiat kepadamu Jika kamu menerima atas orang yang memberikan wasiat , berdasarkan belas kasihan, yaitu agar kamu dalam berbicara bisa teratur baik maka jangan lupa terhadap 5 berkah dibawah ini 1 sebab-sebab pembicaraan, 2.waktu berbicara 3. Cara berbicara empat bilangan (panjang pendek) pembicaraan. 5. Tempat berbicara. orang yang mencari ilmu itu seharusnya dalam segala waktu dan keadaannya dapat memperoleh hasil faedah dari setiap orang. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:“ hikmah adalah hilangnya benda orang mukmin. ketemu di mana saja, tentu akan diambil.“ dan dikatakan:“ ambillah sesuatu yang jernih dan Tinggalkanlah sesuatu yang keruh.“ aku pernah mendengar ustadz Fakhruddin Al kasyani berkata: pada suatu saat Jariyah Abu Yusuf rohimahullah berada di tempat Syekh Muhammad sebagai amanat Pada suatu hari Syekh Muhammad bertanya kepada Jariyah tersebut. tua Apakah saat ini engkau ada yang hafal dari perkataan Syekh Abu Yusuf yang berhubungan dengan masalah fiqih ? cari yang menjawab tidak hanya saja Syekh Abu Yusuf mengulangi dengan kata demikian : bagian yang berputar dan membingungkan adalah gugur. Lantaran dari perkataan jariyah tersebut Syekh Muhammad hujan apa terhadap masalah Sahmuddauri ( bagian yang berputar atau membingungkan) yang sedang dirasakan sulit oleh Syekh Muhammad titik karena ceria tersebut, kesengsaraan yang dialami oleh Syekh Muhammad menjadi hilang, sehingga tarantan jelas kalau mencari faedah itu bisa diperoleh dari setiap orang . Syekh Abu Yusuf berkata ketika ditanya: dengan Apa kamu bisa memperoleh ilmu? Syekh Abu Yusuf menjawab: karena aku tidak merasa malu bertanya dalam mencari beberapa faedah. Aku pun tidak keberatan memberikan faedah yang lain. Sahabat Abdullah bin Abbas juga pernah ditanya: dengan apa engkau dapat menemukan ilmu? Beliau menjawab: dengan cara tanya bertanya dan berpikir yang disertai hati (berangan-angan) titik sesungguhnya belajar (santri) pada zaman kuno disebut”maa taqulu ” yaitu ringan bertanya pada saat mendapat kesulitan. Biasanya, yang ditanyakan dengan menggunakan kata-kata : dalam masalah ini, bagaimana pendapatmu? Sesungguhnya Imam Abu Hanifah menjadi orang yang ahli dalam bidang ilmu fiqih, hal itu karena seringnya berbantah-bantahan dan berembug masalah sembari berjualan di tokohnya, ketika berjualan kain. Maka, jelaslah salah cara Imam Abu Hanifah memperoleh ilmu itu dilakukan sambil bekerja demikian pula Syekh Abu Hafash yang bekerja sambil mempelajari lagi ilmu yang telah diperoleh. maka dari itu Tapi orang yang mencari ilmu hendaknya bekerja untuk memberi nafkah keluarga dan lainnya. Bekerjalah sambil mengulang-ulangi ilmunya, Jangan malas. walhasil : orang yang sehat akal pikiran dan tubuhnya, tidak ada alasan untuk meninggalkan belajar dan memahami ilmu. sebab Mama tidak ada yang fakir melebihi ke parkiran Syekh Abu Yusuf. Kendati demikian, tidak menjadi halangan baginya dalam mencari ilmu. Maka barangsiapa yang kebetulan mempunyai rezeki banyak maka harta tersebut sebaiknya terdapat pada orang-orang yang soleh, sehingga dapat digunakan ke arah yang baik pula misalnya untuk mencari ilmu. Atasan atau orang yang meminta keterangan kepada orang alim: dengan apa engkau dapat memperoleh ilmu ? Jawabnya: karena seorang ayah yang kaya. seorang ayah yang kaya rumah dengan kekayaannya tersebut selalu dipergunakan untuk kebaikan, terhadap ahli ilmu dan keutamaan titik berbuat kebaikan yang demikian itu dapat menjadi sebab tambahnya ilmu karena sebagian rasa syukurnya mendapat nikmat akal dan ilmu. syukur dapat juga menjadi sebab bertambah (ilmu). Dikatakan: bahwa Imam Abu berkata:” sesungguhnya keberhasilanku dalam memperoleh ilmu itu, karena memuji kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. dan bersyukur kepadanya. Sewaktu-waktu aku mengerti dan paham mendapat pertolongan ilmu dan hikmah aku bersyukur kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan mengucapkan:” Alhamdulillah” , maka bertambahlah ilmuku. Demikian ulah koma, syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala disertai ucapan dan hati dibuktikan dengan anggota badan serta harta bendanya. Para belajar hendaknya mengetahui dan merasa, bahwa ketahanan serta pertolongan adalah semata-mata atas pembelian dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Di samping itu, rajin berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala. tetap akan memberi petunjuk terhadap orang yang memerlukan petunjuk darinya. Adapun maksu “dari hak” adalah Ahlussunnah Wal Jamaah . golongan inilah yang mencari kebenaran dari Allah Saw. Yang hak, pemberi petunjuk pada jalan kebenaran dan menhaga dari kesesatan . Sedang “Ahlu dhahlaala”adala orang-orang yang memberanikan atau mengunggulkan pendapat akalnya, dan mencari kebenaran dari makhluk yang lemah adalah akal. Karena akal itu tidak dapat menemukan sesuatu secara keseluruhan. Karenanya, ia tertutup dari Kebenaran yang sejati, justru ia lemah, sesat dan semakin menyesatkan. Rasulullah SAW, bersabda:” Barang siapa yang mengetahui kelemahan dirinya, maka dia akan mengetahui kekuasaan Allah SWT. ( kekuasaan Tuhannya ). Walau dia telah mengerti kelemahan dirinya, maka yang kuasa adalah hanya Allah SWT semata.” Oleh karenanya , sebagai seorang pelajar hendaknya jangan terlalu memberanikan diri serta akalnya. Tetapi Carilah kebenaran itu dengan mohon serta tawakal kepada Allah SWT. Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah SWT, Kentung Om notanya akan memberikan petunjuk nya ke jalan yang benar titik dan barangsiapa yang telah tercukupi harta bendanya, Janganlah kikir .Sebagai pelajar , hendaknya memohon kepada Allah Swt, agar terjaga dari sifat kikir. Rasulullah SAW, bersabda: ” tidak ada penyakit yang lebih parah, kecuali penyakit kikir (bakhil).” Abu Syekh Imam Syamsul Aimmah Al Halwani adalah salah seorang fakir yang biasa berjualan hanwha’. Beliau senang sekali memberikan halwa kepada para fuqaha sambil berkata:” semoga engkau berkenan mendoakan anakku.” Maka, berkat kemurahan hati iktikad serta belas kasihan dan sikap tadharru’nya, anak Syamsul Aimmah tercapai menjadi orang yang termasyur. Sebagai pelajar (santri) dalm memberi buku atau kitab-kitabnya, hendaknya, menggunakan harta bendanya sendiri. Jika tidak mempunyai harta bendanya sendiri, hendaknya berusaha dengan jalan sebagai menulis, agar dengan hasil menulis tersebut dapat memberi pertolongan untuk belajar dalam memperoleh pengetahuan. Ustaz Muhammad Bin Hasan adalah salah seorang yang kaya raya, sehingga yang mengurusi harta Bendanya berjumlah 300 orang. harta benda yang banyak itu oleh Muhammad Bin Hasan dipergunakan untuk memperoleh hasil ilmu dan fiqih. Sampai beliau sendiri kita mempunyai pakaian yang pantas dan baik. Hal tersebut diketahui oleh Abu Yusuf, sehingga atuh Yusuf mengutus seseorang untuk mengantarkan pakaian yang pantas dipakai. Kendati demikian, Ustadz Muhammad Bin Hasan tidak bersedia menerimanya, justru dia berkata:” engkau tidak perlu repot memikirkan diriku yang demikian ini. Karena niat dan tujuan Ku hanya ingin memperoleh pahala akhirat.” Adanya Syekh Muhammad Bin Hasan tidak berkenan menerima hadiah tersebut, Walaupun dia tahu bahwa menerima hadiah adalah boleh, bahkan sunnah titik tapi tidak demikian yang dimaksud oleh Muhammad Bin Hasan. Beliau hanya merasa kalau menerima hadiah tersebut, istrinya menjadi rendah. yang demikian itu Rasulullah SAW. telah bersabda:” tidak diperkenankan sebagai orang mukmin merendahkan dirinya ( membuat dirinya menjadi hina, sebagaimana tersebut di atas, yaitu menerima pemberian orang lain).” pernah diceritakan: sesungguhnya Syekh Fakhrul islam Al-Arsabandi mengumpulkan kulit kerahi yang terbuang di tempat yang sedih, kemudian dimakan. tiba-tiba ada semua orang Jariyah yang mengetahui nya . kemudian Jariyah tersebut melaporkan kepada juragannya, bahwa Syekh Fakhrul Islam mengambil kulit-kulit kerahi yang terbuang di jalan, kemudian dimakan. Setelah sang juragan mengetahui kalau Syekh Fakhrul Islam Al-Arsabandi demikian, agar beliau memerintahkan agar memasak, dan juragan memerintahkan untuk memanggil fahrul Islam. Akan tetapi Fakhrul Islam Ita bersedia datang. Demikian juga bagi para pelajar, sebaiknya mempunyai maksud dan tujuan yang luhur dan jangan tamak (serakah) terhadap milik orang lain. Rasulullah SAW bersabda:” Jagalah dirimu jangan sampai mempunyai sifat tamak, karena sifat serakah mendatangkan kefakiran. Janganlah mempunyai sifat kikir, tetapi gunakanlah harta bendamu itu untuk keperluan dirimu jika orang lain.” Rasulullah Saw, bersabda lagi:” Semua manusia adalah dalam kefakiran dan takut akan fakir.” pada zaman dahulu, yang diperlukan adalah belajar tentang pekerjaan terlebih dahulu titik kalau sudah pandai dan berhasil memperoleh pekerjaan, sarung lagunya belajar mencari ilmu. demikian itu dimaksudkan agar tidak serakah terhadap harta benda orang lain. disebutkan dalam kata-kata hikmaBarang siapa yang merasa cukup dengan mengharapkan harta orang lain maka orangtersebut tetap dikatakan fakir tap dikatakan fakir. Dan apabila ada orang alim yang serahkan, maka kita akan mendapat Kehormatan dan atas ilmunya dan tidak berani mengutarakan kata-kata yang sebenarnya.” maka dari itu, beliau saw. Yang mempunyai tatanan dan aturan agama selalu memohon perlindungan dengan doanya:” Aku berlindung diri kepada Allah SWT. dari sifat serakah yang selalu mengakibatkan watak menjadi buruk.” sebaiknya setiap pelajar (santri) jangan sampai mempunyai harapan, kecuali kepada Allah SWT demikian itu dapat diketahui dari sikap perilaku dan perbuatannya dalam melanggar batas-batas norma Agama, apakah tidak? Barangsiapa yang melakukan maksiat kepada Allah SWT. dan takut akan manusia . Jika timnya tidak berani melakukan maksiat kepada Allah SWT. dengan dasar takut pada manusia, Maka dia dikhawatirkan kalau perbuatannya melanggar batas norma agama. Maka, yang demikian itu berarti dia tidak takut terhadap selain Allah SWT, melainkan hanya takut kepada Allah SWT titik demikian pula dalam hal pengharapan, tentunya hanya kepada Allah SWT. Sebagai seorang pelajar hendaknya juga dapat membuat ketentuan daftar yang pasti dalam belajar, umpamanya harus belajar beberapa kali dalam setiap harinya. Karena , untuk memperoleh keberhasilan belajar sehingga dapat menetap dalam hati dan tercapai dengan sukses harus diulang dengan sungguh-sungguh. Sebaiknya dalam satu minggu karena pelajaran yang telah diterima dipelajari atau diulang sampai 5 kali. umpamanya, pelajaran yang kenalin dipelajari sampai 5 kali. Hari yang kemarin nya lagi dipelajari sampai 4 kali. Hari sebelumnya itu dipelajari sampai tiga kali, hari sebelumnya lagi dipelajari 2 kali. Dan hari sebelumnya lagi dipelajari 1 kali. Belajar dan mengalami seperti itu dapat menarik pada pelajaran yang dimaksud, yaitu cepat untuk dihafal setidak-tidaknya cepat dipahami. Oleh karena itu, sebaiknya jangan membiasakan menganggap remeh dan enteng terhadap belajar dan mengulangi pelajaran. Karena sesungguhnya belajar itu harus didSebaiknya dalam belajar jangan terlalu diforsir atau dipaksakan hingga kaya, supaya terhindar dari kebosanan. supaya terhindar dari kebosanan. Sebaik-baik sesuatu adalah yang tengah-tengah saja (sedang). Diceritakan: Pada suatu hari Abu Yusuf berembug tentang ilmu fiqih dengan para ahli fikih dalam keadaan kuat dan giat, sampai menantunya merasa heran melihat keadaan mertuanya yang demikian itu sambil berkata: “aku tahu persis, bahwa Mertuaku itu (Abu Yusuf) sudah 5 hari sampai sekarang tidak makan, sudah tentu perutnya lapar. Akan tetapi aku lihat beliau dalam bertukar pikiran dengan para ahli fiqih keadaan kuat dan Gigih.” sebaiknya nya, seorang pelajar hendaknya jangan sampai mempunyai sifat yang mengendur dan bingungan. Karena kedua sifat tersebut adalah suatu halangan yang dapat mencelakakan. Guru kami, Syekh Burhanuddin telah berkata:” Sesungguhnya aku dapat mengalahkan rekan-rekanku itu, karena aku tidak pernah mengendur dan merasa bingung serta tabah dalam mencari keberhasilan ilmu .” Diceritakan dari Syekhul islam Asbijab, beliau dalam mencari ilmu , pernah terserang rasa kendor (tidak giat) hatinya selama 12 tahun, sebab terbawa oleh arus perubahan pemerintah . Beliau Syekh Asbijab bersama temman-temanya mendatangi tempat munzharah. Keduanya setiap hari melakukan secara tetap dan tidak pernah absen tali majelis munazharah tersebut selama 12 tahun lantaran Syekh Al-Asbijabi terserang penyakit “( hati yang keruh mengendur ), akhirnya kalah unggul dengan temannya, sehingga temannya dapat menduduki sebagai Mufti Mazhab Syafi’i, karena temannya itu bermazhab Syafi’i. Guru kami, Syekh Al-Qadhi Imam Fakhrul islam berkata:” Sebaiknya orang yang ingin memperoleh hasil ilmu Fiqih, Hendaknya hafal satu kitab dari kitab-kitab salah satu golongan fiqih secara tetap tidak berpindah-pindah. karena yang demikian itu akan memudahkan dalam menghafal sesuatu yang didengarkan karena yang demikian itu akan memudahkan dalam menghafal sesuatu yang didengarnya mengenai (yang berhubungan dengan) ilmu fiqih.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker