Ulumul Hadits

Terjemahan Al Luma’ Fi Asbab Wurud Hadits Karya Imam Sayuthi

93.Hadis ….

Penyebab Hadis

Imam Thabrani telah mengetengahkan melalui Wahsyi ibnu Harb, bahwa Nabi Saw. keluar untuk suatu keperluan di malam hari dan membiarkan pintu rumahnya terbuka. Ketika beliau Saw. pulang, beliau menjumpai iblis sedang berdiri di tengah rumah. Maka Nabi Saw. bersabda:

Enyahlah, hai si jahat, dari rumahku ini. Kemudian Rasulullah Saw. bersabda:

Apabila kalian keluar dari rumah di malam hari, maka tutuplah pintu rumahmu.

94.Hadis Ummu Zarin…..

Penyebab Hadis

Imam Thabrani telah mengetengahkan melalui Aisyah yang menceritakan bahwa ia membanggakan harta ayahnya di masa Jahiliah yang jumlahnya kurang lebih sejuta augiyah emas. Maka Nabi Saw. bersabda kepadanya:

Diamlah engkau, hai Aisyah, sesungguhnya aku bagimu sama dengan Abu Zar’in bagi Ummu Zar’in.

Kemudian Rasulullah Saw. menceritakan bahwa dahulu di masa Jahiliah ada sebelas orang wanita berkumpul, lalu mereka berjanji bahwa masing-masing dari mereka harus menceritakan keadaan suaminya dan tidak boleh dusta melainkan apa adanya. Nabi Saw. mengetengahkan kisah tersebut secara panjang lebar hingga selesai:

95.Hadis diketengahkan oleh Imam Malik, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Turmudzi dan Imam Nasai Imam Bukhari mengetengahkannya di dalam Kitabul Managib, Bab “Maa Jaa-a fi Asmaa-i Rasulullah”: Imam Muslim menyebutkannya di dalam Kitabul Fadhaa-il, Bab “Asmaaun Nabiy”: dan Imam Turmudzi menyebutkannya di dalam AlAdab, Bab “Maa Jaa-a fi Asmaa-in Nabiy Saw.”) melalui Jubair ibnu Muth’im, bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:

Sesungguhnya aku mempunyai banyak nama. Aku Muhammad, aku Ahmad, aku Al-Mahi yang sesudahku kekafiran dihapuskan, dan aku adalah Al-Hasyir karena Semua manusia dihimpunkan di bawah telapak kakiku.

Penyebab Hadis

Imam Thabrani telah mengetengahkan melalui Jubair ibnu Muth’im yang mengatakan bahwa Abu Jahal ibnu Hisyam ketika tiba di Mekah —sekembalinya dari Hamzahmengatakan sebagai berikut:

“Hai orang-orang Ouraisy, sesungguhnya Muhammad telah sampai di Yatsrib dan mengirimkan pengintainya (yakni Hamzah). Dan sesungguhnya dia tiada lain bermaksud untuk mendapatkan sesuatu dari kamu. Maka hati-hatilah kamu, jangan sampai kamu melalui jalannya dan janganlah kamu mendekatinya, karena sesungguhnya dia bagaikan singa yang ganas. Dan jika dia mengganggu kamu, maka kamu harus mengenyahkannya sebagaimana kera dienyahkan dari jarahannya. Demi Tuhan, sesungguhnya dia mempunyai banyak tukang sihir yang belum pernah kulihat dia dan juga seseorang dari sahabatnya, melainkan kulihat bersama mereka ada setannya. Dan sesungguhnya kalian telah mengetahui bahwa kedua anak Oailah adalah musuh yang meminta bantuan kepada musuh.”

Maka Muthim ibnu Addiy menjawab, “Hai Abul Hakam, demi Allah, aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih jujur perkataannya dan lebih benar kepada janjinya selain dari putra saudaramu yang telah kamu usir itu. Maka apabila kamu hendak berbuat, makajadilah kamu orang yang paling menahan diri terhadapnya.”

Abu Sufyan ibnul Harits mengatakan, “Jadilah kamu orang yang paling keras dalam melaksanakan apa yang telah kalian rencanakan itu, karena sesungguhnya kedua putra Oailah jika berhasil memperoleh kemenangan atas kalian, maka mereka tidak akan memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak pula mengindahkan perjanjian. Dan jika kamu menaati mereka, maka timpakanlah kepada mereka berita Kinanah atau usahakanlah agar mereka mengusir Muhammad di antara mereka agar dia menjadi sendirian tanpa teman. Adapun mengenai kedua anak Oailah, demi Allah, keduanya tidak usah kalian pikirkan: baik dia dianggayy sebagai keluarga atau binasa dalam kehinaan, sama saja, Akulah yang akan menangani kakeknya.”

Abu Sufyan mengatakan bait-bait syair berikut:

Aku akan bersikap keras terhadap siapa pun, baik yang dekat maupun yang jauh. Orang-orang Khazraj itu memang layak mendapat kehinaan karena lemah sesudah kuat. Ketika hal tersebut terdengar oleh Rasulullah Saw., maka beliau Saw. bersabda:

Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, aku benar-benar akan membunuh mereka, menyalib mereka, dan memberi petunjuk (sebagian) mereka. Mereka benci karena aku sebagai rahmat yang diturunkan oleh Allah Swt. dan Dia tidak akan mewafatkanku sebelum memenangkan agama-Nya.

Aku mempunyai lima nama, akulah Muhammad, akulah Ahmad, akulah Al-Maahi karena Allah menghapus kekafiran dengannya, dan akulah Al-Haasyir karena semua manusia dihimpunkan nanti di hadapannya, dan akulah Al-Aagib.

Ahmad ibnu Shaleh mengatakan, “Aku berharap semoga hadis ini sahih.”

 96.Hadis diketengahkan oleh Imam Hamik (di dalam kitab Ma’rifatush Shahabah) melalui Ibnu Masud r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:

Aku merasa puas buat umatku sebagaimana merasa puas Ibnu Ummi Abd buatnya.

Penyebab Hadis

Ibnu Asakir mengatakan bahwa hadis ini telah diriwayatkan melalui jalur lain berikut penyebabnya. Kemudian Imam Hakim mengetengahkan pula melalui Arnr ibnu Hurayyits yang telah menceritakan bahwa Nabi Saw. bersabda kepada Ibnu Mas’ud:

Bacalah  Al-Qur’an! Ibnu Mas’ud menjawab, “Apakah aku yang membaca AlQur’an, padahal  Al-Qur’an diturunkan kepada engkau?” Nabi Saw. bersabda: :

Sesungguhnya aku suka bila mendengarnya dari orang lain. Maka Abdullah ibnu Mas’ud membaca surat An-Nisaa. Ketika bacaannya sampai kepada firman-Nya:

Maka bagaimanakah (keadaan orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu). (AnNisaa: 41)

Maka Rasulullah Saw. mencucurkan air matanya dan Abdullah menghentikan bacaannya. Rasulullah Saw. bersabda kepadanya: Berbicaralah kamu! Maka Abdullah dalam permulaan bicaranya mengucapkan Puji dan sanjungan kepada Allah, lalu mengucapkan salawat buat Nabi Saw. dan mengucapkan kalimah syahadat. Sesudah Itu dia berkata:

Kami rida Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan aku rida bagi kalian sebagaimana apa yang diridai oleh Allah dan Rasul-Nya.

Maka Rasulullah Saw. bersabda: .

Aku rela bagi kamu sebagaimana apa yang direlakan oleh Ibnu Ummi Abd buat kamu.

97.Hadis diketengahkan oleh Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, dan Imam Turmudzi (Imam Ahmad dan Imam Bukhari mengetengahkannya di dalam Kitabul Jihad, Bab “Al-Harbu Khid’ah”, dan Imam Muslim mengetengahkannya di dalam Bab “Jawazul Khud’ah fil Harb”) melalui Jabir r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:

Perang itu adalah tipuan.

Penyebab Hadis

Ibnu Abu Syaibah telah mengetengahkan melalui Urwah yang menceritakan bahwa pada hari peperangan dengan Bani Ouraizhah, Rasulullah Saw. bersabda:

Perang itu tipu muslihat. Urwah melanjutkan kisahnya, bahwa di kalangan pasukan kaum muslim —yakni sahabat-sahabat Rasulullah Saw.terdapat seorang lelaki yang dikenal dengan nama Mas’ud, dia adalah seorang tukang adu domba. Ketika Perang Khandag akan terjadi, orang-orang Yahudi Bani Ouraizhah mengirimkan utusan kepada Abu Sufyan dengan membawa pesan, “Kirimkanlah kepada kami sejumlah pasukan untuk mendukung kami dalam memerangi Muhammad guna memerangi pendukungnya yang ada di sekitar  Madinah, dan engkau beserta pasukanmu memerangi bagian yang ada di Khandag.”

Mendengar berita itu Nabi Saw. merasa berat bila diperangi dari dua arah. Maka Beliau Saw. bersabda kepada Masud:

Hai Mas’ud, sesungguhnya kami telah mengirim pesan kepada Bani Guraizhah agar mereka mengirimkan utusan guna meminta bantuan kepada Abu Sufyan (di Mekah), maka Abu Sufyan pasti akan mengirimkan sejumlah pasukan kepada mereka (Bani Ouraizhah). Dan apabila mereka (pasukan Abu Sufyan) datang, maka perangilah mereka oleh kamu (hai Bani Ouraizhah). Urwah melanjutkan, bahwa begitu Mas’ud mendengar berita itu dari Nabi Saw., maka Masud tidak kuasamenahan dirinya, lalu dia berangkat (ke Mekah) menemui Abu Sufyan dan menceritakan berita rahasia itu kepadanya. Maka Abu Sufyan berkata, “Muhammad, demi Tuhan dia pasti benar dan dia tidak pernah dusta sama sekali.” Dan memang benar, Abu Sufyan tidak mengirimkan seorang tentara pun kepada mereka (Bani Ouraizhah).

Ibnu Jarir di dalam kitab Tahdzibul Atsar telah mengetengahkan melalui Ibnu Syihab yang menceritakan bahwa orang-orang Bani Ouraizhah mengirimkan utusan kepada Abu Sufyan dari orang-orang yang bersamanya dari golongan yang bersekutu dalam Perang Khandag, “Bertahanlah kamu, karena sesungguhnya kami akan menyerang sarang kaum muslim dari belakang.”

Maka hal itu terdengar oleh Na’im ibnu Mas’ud Al-Asyja’i yang saat itu sedang berada di tempat Uyaynah ibnu Hishn ketika Bani Ouraizhah mengirimkan pesan tersebut kepada golongan yang bersekutu. Maka Rasulullah Saw. bersabda:

Maka barangkali kitalah yang menganjurkan mereka berbuat demikian.

Lalu Naim menyadap kata-kata Rasulullah Saw. itu dan membawanya untuk disampaikan kepada Bani Ghathafan. Naim itu adalah seorang yang tidak dapat menyimpan rahasia. Setelah Na’im pergi ke tempat Bani Ghathafan, Umar ibnul Khaththab berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang tadi engkau katakan? Apakah berasal dari sisi Allah, maka aku akan memeliharanya, dan apakah hanya merupakan suatu taktik . yang engkau pandang baik? Karena sesungguhnya keadaan Bani Ouraizhah tidaklah sesulit apa yang digambarkan hingga memerlukan sesuatu instruksi yang khusus dari engkau.” Maka Rasulullah Saw. menjawab:

Tidak, sebenarnya hal itu hanyalah suatu taktik dariku.

Sesungguhnya peperangan itu tipu muslihat. Kemudian Rasulullah Saw. mengirimkan kurir untuk menyusul Naim seraya membawa pesan:

Kulihat engkau telah mendengar apa yang tadi saya tuturkan, engkau harus merahasiakannya dan janganlah engkau katakan kepada siapa pun.

Maka Naim pun pergi hingga sampai ke tempat Uyaynah ibnu Hishn dan teman-temannya, lalu Naim berkata kepada mereka, “Tahukah kalian, bahwa Muhammad telah merencanakan sesuatu, dan apa yang dikatakannya tiada lain pasti benar?” Mereka menjawab, “Tidak.”

Naim mengatakan, “Sesungguhnya Muhammad telah mengatakan kepadaku ketika Bani Ouraizhah mengirimkan utusannya kepadamu, bahwa barangkali kitalah yang merencanakan hal itu kepada mereka. Kemudian dia melarangku menceritakan rahasia ini kepadamu.”

Begitu mendengar berita itu Uyaynah langsung pergi menemui Abu Sufyan dan menceritakan rencana Nabi Saw. kepadanya dengan mengatakan, “Sesungguhnya kalian ini sedang dijebak oleh orang-orang Bani Ouraizhah, sebaiknya kalian pulang saja.” Hal ini merupakan penyebab kekalahan orang-orang Bani Ouraizhah. Dengan demikian, orang-orang membolehkan bersiasat tipu muslihat dalam peperangan.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa sabda Nabi Saw. yang mengatakan:

Maka barangkali kitalah yang memerintahkan kepada mereka untuk melakukan hal tersebut. Merupakan perkataan yang mengandung dua pengertian, yaitu adakalanya memang berdasarkan perintah beliau atau bukan karena perintah beliau. Dan apa yang dikatakan oleh Nabi Saw. Ini adalah benar belaka dan tidak diragukan lagi kebenarannya, karena sesungguhnya beliau Saw. sama sekali jauh dari dusta.

Ibnu Jarir telah mengetengahkan melalui Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. mengirimkan seorang lelaki dari kalangan sahabatnya kepada seorang lelaki Yahudi, lalu beliau memerintahkannya untuk membunuhnya. Tetapi sahabat itu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak mampu melakukan hal itu kecuali bila engkau memberi izin kepadaku.”

Maka Rasulullah Saw. bersabda:

Sesungguhnya peperangan itu tiada lain tipu muslihat, maka lakukanlah apa yang menurutmu baik.

98.Hadis diketengahkan oleh Ibnu Jarir di dalam Tahdzib-nya dan Al-Kharaithi di dalam Masawil Akhlag, serta Imam Baihaai di dalam Syu’abul Iman melalui jalur Syahr ibnu Hausyab, dari Az-Zabargan dan An-Nuwwas ibnu Sam’an yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:

Mengapa kulihat kalian beramai-ramai melakukan kedustaan sebagaimana laron berhamburan menuju nyala api. Ingatlah, sesungguhnya setiap perbuatan dusta itu dicatat dalam buku amal Bani Adam yang bersangkutan, terkecuali dalam tiga hal, yaitu dusta seorang suami kepada istrinya agar istrinya puas, dusta seorang lelaki dalam peperangan, karena sesungguhnya perang itu tipu muslihat, dan dusta seorang lelaki dalam rangka mendamaikan di antara dua orang lelaki yang bertengkar. Karena sesungguhnya Allah Swt. telah berfirman, “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. (An-Nisaa: 114)

Imam Ahmad dan Ibnu Jarir, juga Ath-Thabrani dan Imam Baihagi, telah mengetengahkan melalui Syahr ibnu Hausyab yang menceritakan bahwa Asma binti Yazid pernah menceritakan kepadanya bahwa Nabi Saw. pernah bersabda:

Hai manusia, apakah gerangan yang mendorong kamu menggemari kedustaan, sebagaimana laron suka mengejar nyala api. Dan setiap dusta yang dilakukan oleh Bani Adam itu dicatatkan dalam buku amalnya kecuali dalam tiga perkara, yaitu dusta seorang lelaki kepada istrinya untuk membuatnya puas, atau seorang lelaki yang berdusta di antara dua orang lelaki muslim guna mendamaikan permusuhan di antara keduanya, dan seorang lelaki yang berdusta dalam rangka siasat dalam peperangan.

Penyebab Hadis

Ibnu Jarir telah mengetengahkan melalui Syahr ibnu Hausyab, bahwa Rasulullah Saw. mengirimkan suatu pasukan khusus, lalu mereka beristirahat di tempat seorang lelaki, kemudian lelaki itu menyuguhkan kepada mereka seekor kambing. Maka mereka mengatakan bahwa kambing ini kurus, dan mereka tidak mau menyembelihnya. Sedangkan lelaki itu mempunyai kemah besar yang di dalamnya terdapat ternak kambingnya.

Maka mereka mengatakan kepada lelaki itu, “Keluarkanlah ternak kambingmu itu agar kami dapat menempati kemah besarmu.” Lelaki itu menjawab, “Aku khawatir akan keselamatan ternakku, karena di tanahku banyak hewan yang berbisa. Bila ternakku dikeluarkan darinya akan terkena racun.”

Mereka berkata, “Kami lebih mencintai diri kami daripada ternak kambingmu.” Akhirnya mereka mengeluarkan ternak kambingnya dengan paksa, lalu menempati kemah besar itu.

Kemudian lelaki itu pergi untuk menemui Nabi Saw. dan menceritakan apa yang telah dilakukan oleh mereka. Ketika mereka kembali, Nabi Saw. menceritakan kepada mereka apa yang telah dikatakan oleh lelaki itu. Maka mereka mengatakan, “Dusta, demi Allah, apa yang dikatakannya itu tidak benar sama sekali.”

Lalu Nabi Saw. bersabda:

Jika ada kebaikan dalam diri seseorang di antara temantemanmu ini, niscaya engkau akan membenarkanku. Lalu ada seorang lelaki yang menceritakan apa adanya sesuai dengan apa yang telah diceritakan oleh lelaki itu. Maka

Rasulullah Saw. bersabda kepada mereka:

Kalian ini gemar sekali berdusta, sebagaimana laron suka mengejar nyala api. Kemudian Nabi Saw. bersabda:

Sesungguhnya dusta itu pasti dicatat sebagai dusta, kecuali bila seorang lelaki berdusta dalam peperangan, karena sesungguhnya peperangan itu mengandung tipu muslihat: dan bila seorang lelaki berdusta untuk mendamaikan permusuhan di antara dua orang lelaki, dan bila seorang lelaki berdusta kepada istrinya (untuk membuatnya rida).

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker