- Hadis diketengahkan oleh Imam Turmudzi (di dalam Kitabul Managib, Bab “Managib Sa’d ibnu Abu Waggash”) melalui jalur Oais ibnu Abu Hazm dari Sa’d, bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:
Ya Allah, kabulkanlah bagi Sa’d apabila dia berdoa kepada Engkau.
Penyebab Hadis
Imam Thabrani telah mengetengahkan melalui Amir (yakni Asy-Syabi) yang menceritakan bahwa pernah ditanyakan kepada Sa’d, “Bilakah engkau dikabulkan setiap doamu?” Sad menjawab, bahwa dalam peperangan Badar aku berada dalam barisan pemanah di hadapan Nabi Saw. dan aku pasang anak panahku di busurku, kemudian aku berdoa:
Ya Allah, goyahkanlah telapak kaki mereka, buatlah hati mereka gentar, dan timpakanlah kepada mereka kehancuran dan kekalahan. Lalu Nabi Saw. berdoa:
Ya Allah, berikanlah perkenaan doa bagi Sa’d.
- Hadis diketengahkan oleh Imam Ahmad dan Imam Turmudzi yang dinilainya hasan, dan Imam Hakim melalui Ubay ibnu Kab, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda:
Seandainya tidak ada hijrah, tentulah aku menjadi seseorang dari kalangan Anshar. Dan seandainya manusia menempuh suatu lembah atau lereng, tentulah aku bersama orang-orang Anshar.
Penyebab Hadis
Ibnu Abu Syaibah, Al-Manawi, dan Imam Muslim telah mengetengahkan melalui Abdullah ibnu Yazid ibnu Ashim yang mengatakan bahwa ketika Allah memberikan harta fai’ kepada Rasul-Nya dalam Perang Hunain sebagaimana yang telah terjadi, lalu Rasulullah Saw. membagi-bagikan hasilnya kepada orang-orang yang hatinya masih dijinakkan untuk memeluk Islam. Rasulullah Saw. tidak memberi bagian apa pun kepada orang-orang Anshar. Maka hati mereka seakanakan menjadi tidak enak, sebab mereka tidak mendapatkan bagian sebagaimana yang telah didapat oleh orang-orang lain.
Lalu Rasulullah Saw. berkhotbah kepada mereka seraya bersabda:
Hai golongan orang-orang Anshar, bukankah aku jumpai kalian dalam keadaan sesat, lalu Allah memberi petunjuk kepada kalian melaluiku? Dan kalian dapat keadaan terpecah belah, lalu Allah mempersatukan kalian melaluiku. Dan (aku jumpai kalian dalam keadaan miskin), lalu Allah membuat kalian menjadi kaya dengan melaluiku?
Setiap kali Rasulullah Saw. mengucapkan sesuatu, orang-orang Anshar menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tepercaya.” Rasulullah Saw. bersabda, “Apakah yang menghalangi kalian untuk tidak menjawab?” Mereka mengatakan, “Allah dan Rasul-Nya lebih tepercaya.” Rasulullah Saw. bersabda:
Seandainya kamu menghendaki, bisa saja kamu katakan (kepadaku) “Engkau datang kepada kami dalam keadaan anu dan anu.” Tidakkah kamu puas bila orang-orang pergi dengan membawa kambing dan unta, sedangkan kamu pergi dengan membawa Rasulullah Saw. bersama iringan unta kendaraan kamu? Seandainya tidak ada hyrah, tentulah aku termasuk salah seorang dari Anshar. Dan seandainya manusia menempuh suatu lembah atau lereng, tentulah aku akan menempuh lembah orang-orang Anshar dan lereng yang ditempuh mereka. Kaum Anshar adalah perlambang yang tetap jaya, sedangkan orang-orang lain lenyap ditelan masa. Dan sesungguhnya kamu akan menjumpai sesudahku atsarah (egoisme), maka bersabarlah hingga kamu bersua denganku di tepi telaga (ku).
- Hadis diketengahkan oleh Imam Ahmad dan Imam Muslim (Imam Muslim mengetengahkannya di dalam kitab Fadhaa’ilush Shaahabah, Bab “ Tahrimu Sabbish Shahaabal””) melalui Abu Sa’id yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
kekuasaan-Nya, seandainya seseorang di antara kamu menginfakkan emas sebesar gunung, hal itu masih belum menyamai mud seseorang di antara mereka dan tidak pula separonya.
Al-Bargani meriwayatkannya di dalam kitab Mustakhraj-nya yang menganalisis hadis-hadis sahih, dan dia menyebutkan di dalamnya:
Sesungguhnya seseorang di antara kamu seandainya menginfakkan setiap harinya emas sebesar Bukit Uhud
Penyebab Hadis
Imam Ahmad telah mengetengahkan melalui Anas yang menceritakan bahwa dahulu antara Khalid ibnul Walid dan Abdur Rahman ibnu Auf pernah terjadi perang mulut. Khalid mengatakan kepada Abdur Rahman ibnu Auf, “Kamu merasa – lebih tua beberapa hari dari kami karena kamu lebih dahulu dari kami (dalam Islam).” Menurut berita yang sampai kepada kami, peristiwa tersebut sampai kepada Nabi Saw. Maka beliau Saw. bersabda:
Biarkanlah —demi akusahabat-sahabatku. Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, seandainya kamu menginfakkan emas sebesar Bukit Uhud atau sebesar gunung, kamu masih belum mencapai amal yang telah dilakukan oleh mereka.
Ibnu Asakir telah mengetengahkan melalui Abu Said Al-Khudri yang mengatakan bahwa dahulu antara Abdur Rahman ibnu Auf dan Khalid ibnul Walid pernah terjadi pertengkaran mulut, lalu Khalid mencacinya. Maka Rasulullah Saw. bersabda:
Janganlah kamu mencaci seseorang dari sahabatsahabatku, karena sesungguhnya seandainya seseorang di antara kamu menginfakkan emas sebesar Bukit Uhud, hal itu masih belum mencapai mud seseorang di antara mereka dan tidak pula separonya.
Ibnu Asakir telah mengetengahkan melalui Abu Hurairah r.a. yang menceritakan bahwa pernah terjadi pertengkaran —sebagaimana yang biasa terjadi di kalangan orang-orangantara Abdur Rahman ibnu Auf dan Khalid ibnul Walid. Maka Rasulullah Saw. bersabda:
Biarkanlah —demi aku sahabat-sahabatku. Karena sesungguhnya seseorang di antara kamu seandainya menginfakkan emas sebesar Uhud, ia masih belum dapat menyamai mud seseorang di antara mereka dan tidak pula separonya.
Ibnu Asakir telah mengetengahkan di dalam riwayat hidup Khalid ibnul Walid melalui Al-Hasan yang menceritakan bahwa dahulu pernah terjadi perselisihan antara Az-Zubair dan Khalid ibnul Walid. Maka Rasulullah Saw. bersabda:
Apakah gerangan yang menimpa kamu dan para sahabatku? Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, seandainya seseorang di antara kamu menginfakkan emas sebesar Bukit Uhud, niscaya hal itu belum menyamai amal sehari dari seseorang di antara mereka.
Ibnu Asakir mengatakan bahwa menurut yang dihafal, orang yang berselisih dengan Khalid itu adalah Abdur Rahman ibnu Auf dan Ammar.
Ibnu Asakir mengetengahkan di dalam riwayat hidup Ibnu Auf melalui Al-Hasan yang telah menceritakan bahwa dahulu antara Abdur Rahman ibnu Auf dan Khalid ibnul Walid pernah terjadi perang mulut.
Maka Khalid mengatakan, “Janganlah kamu merasa besar diri terhadapku, hai Ibnu Auf, hanya karena engkau telah mendahuluiku masuk Islam barang sehari atau dua hari.” Ketika hal itu sampai kepada Nabi Saw., maka beliau Saw. bersabda: :
Biarkanlah sahabat-sahabatku demi aku. Karena —demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nyaseandainya seseorang di antara kamu menginfakkan emas sebesar Bukit Uhud, niscaya hal itu masih belum menyamai separo dari mereka.
Al-Hasan melanjutkan kisahnya, bahwa sesudah peristiwa itu terjadi lagi perang mulut antara Abdur Rahman dan AzZubair. Lalu Khalid berkata, “Wahai Nabi Allah, engkau telah melarangku terhadap Abdur Rahman, dan sekarang Az-Zubair ternyata mencacinya.” Maka Rasulullah Saw. bersabda:
Sesungguhnya mereka adalah Ahli Badar, sebagian dari mereka lebih berhak atas sebagian yang lain.
90.Hadis diketengahkan oleh Imam Turmudzi melalui Buraidah yang telah menceritakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:
Tiada seorang pun dari kalangan sahabatku yang meninggal dunia di suatu negeri, melainkan ia dibangkitkan sebagai pemimpin atau cahaya bagi mereka (para penghuni negeri itu ) kelak di hari kiamat.
Penyebab Hadis
Ibnu Asakir telah mengetengahkan melalui Abdullah ibnul Hasan yang mengatakan bahwa Amir ibnul Akwa meninggal dunia di Wadil Oura, maka Rasulullah Saw. bersabda:
Sesungguhnya tidaklah mati seseorang dari sahabatku di suatu negeri, melainkan Allah akan membangkitkannya di hari kiamat nanti sebagai pemimpin dari penghuni negeri itu.
91.Hadis diketengahkan oleh Imam Turmudzi (di dalam Al-Managib, Bab “Managib Abdur Rahman ibnu Auf”) melalui Sajd ibnu Zaid ibnu Amr ibnu Nufail, dari Nabi Saw. yang telah bersabda:
Sepuluh orang di dalam surga, Abu Bakar di dalam surga, Umar di dalam surga, dan juga Utsman, Ali, Az-Zubair, Thalhah, Abdur Rahman, Ubaidah, dan Sa’d ibnu Abu Waggas.
Perawi hanya menyebutkan sembilan orang. Dia diam, tidak menyebut orang yang kesepuluh. Maka kaum yang hadir bertanya, “Kami memohon kepadamu atas nama Allah, hai Abul A’war, siapakah orang yang kesepuluh itu? Abul Awar menjawab, “Kalian telah meminta kepadaku dengan nama Allah, orang yang kesepuluh adalah Abul Awar. Dia di dalam Surga pula.” Yang dimaksud dengan Abul A’war adalah Sa’id lbnu Zaid ibnu Amr ibnu Nufail.
Penyebab Hadis
Ibnu Asakir mengetengahkan melalui Safid ibnu Zaid yang telah menceritakan bahwa ia pernah mendengar Abu Bakar AshShiddig berkata kepada Rasulullah Saw., “Aduhai, sekiranya aku dapat melihat seseorang yang masih hidup yang menjadi Calon penghuni surga.” Maka Rasulullah Saw. menjawab:
Akulah orangnya yang termasuk ahli surga.
Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak meragukan engkau,” lalu Rasulullah Saw. menyebut sejumlah orang kepadanya dan bersabda:
Hai Abu Bakar, aku termasuk ahli surga, engkau termasuk ahli surga, Umar termasuk ahli surga, Utsman termasuk ahli surga, Ali termasuk ahli surga, Thalhah termasuk ahli surga, Az-Zubair termasuk ahli Surga, Abdur Rahman ibnu Auf termasuk ahli surga, dan Sa’d ibnu Malik termasuk ahli surga.
Perawi mengatakan bahwa aku tidak mau menyebutkan nama orang kesepuluh. Maka mereka meminta kepadanya dengan menyebut nama Allah, bahwa siapakah orang yang kesepuluh itu. Akhirnya Sa’id ibnu Zaid menjawab:
Akulah orang yang kesepuluh.
92.Hadis diketengahkan oleh Imam Muslim (di dalam Kitabul Iman, Bab “Wujubul Iman Birisalati Nabiyyinaa Muhammad Saw.”) melalui Abu Hurairah r.a., dari Rasulullah Saw. yang telah bersabda:
Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, tidak sekali-kali seseorang dari kalangan umat ini mendengar tentang aku, baik dia seorang Yahudi atau seorang Nasrani, kemudian dia mati dalam keadaan tidak beriman kepada risalah yang diutuskan kepadaku, melainkan dia termasuk ahli neraka.
Penyebab Hadis
Ad-Daruguthni telah mengetengahkan di dalam kitab Al-lfrad melalui Abdullah ibnu Mas’ud yang menceritakan bahwa pernah datang kepada Rasulullah Saw. seorang lelaki, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah melihat seorang lelaki dari kaum Nasrani yang berpegang teguh kepada kitab Injil dan seorang lelaki lainnya yang berpegang teguh kepada kitab Taurat: dan dia beriman kepada Allah dan utusan-Nya, kemudian dia tidak mau mengikuti engkau.” Maka Rasulullah Saw. bersabda:
Barangsiapa yang pernah mendengar tentang aku dari kalangan orang Yahudi atau orang Nasrani, kemudian dia tidak mau mengikutiku, maka dia menjadi penghuni neraka.




One Comment