BERBEDA ISTILAH BUKAN MASALAH
LALU, ISTILAH APA yang kita gunakan untuk penggunaan obat ini? Apakah tasawuf? Atau suluk? Atau tarbiah? Bisa jadi penggunaan ketiga istilah ini benar, dan bisa jadi juga kita menemukan istilah dan namanama lain, dan itu semua tidak masalah. Mayoritas kaum Muslimin yang sangat memperhatikan hal ini menggunakan istilah tasawuf, sebagian yang lain —seperti Imam Ibnu Taimiyah rabimahullahmenamakannya dengan suluk, dan itu semua hanya sekadar istilah yang sah-sah saja jika terdapat perbedaan. Namun, jika masalahnya adalah mana istilah yang paling utama, maka tidak diragukan lagi bahwa nama terbaik dan paling erat kaitannya dengan makna yang dituju dari penggunaan istilah ini adalah Islam. Sebab Islamlah, dengan dua sumber utamanya: al-Ouran dan Sunah, yang menyadarkan kita tentang bahaya penyakitpenyakit tersembunyi yang berada jauh di dalam hawa nafsu kita. Islam-lah yang menunjukkan kita kepada obat-obat ini dan mengajarkan kita cara menggunakannya. Perilaku dan jalan hidup Rasulullah spballallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mengikuti beliau shallallahu “alaihi wa sallam sudah cukup bagi kita sebagai contoh pengaplikasian hal ini. Bukankah Ini sesuatu yang memang menjadi intisari Islam?!
Hal lain yang juga penting adalah bahwa kata “Islam” merupakan satu-satunya kalimat yang memiliki ikatan yang sangat erat dengan kandungan al-Guran dan Sunah Nabi “alayhish-shalatu was-salam. Bahkan, Islam adalah nama yang menunjukkan langsung kepada kandungan keduanya. Maka, penggunaan istilah Islam merupakan perwujudan dari pengawasan yang harus terpenuhi untuk mempergunakan obat-obat ini, sekaligus sebagai peringatan agar tidak ada hal-hal di luar Islam yang menyusup masuk ke dalam kandungan agama ini.
Sebaliknya, penggunaan nama dan istilah-istilah lain selain Islam justru menjadikan obat dan solusi ini menjadi jauh dari ruang lingkup keislaman meskipun hanya dalam bentuk dan susunannya. Bahkan, dimungkinkan akan masuk ke dalamnya hal-hal yang bukan merupakan bagian dari Islam dengan memanfaatkan nama dan istilah-istilah ini. Dan telah kita saksikan bagaimana bid’ah dan kemungkaran begitu mudah masuk ke dalam elemen inti dari agama Islam setelah nama yang sebenarnya dan nama yang paling tepat untuk ajaran Islam ini diganti dengan slogan dan nama yang lain.
Hal yang ketiga adalah bahwa ada di antara manusia yang beranggapan bahwa istilah tasawuf menunjukkan kepada satu dari sekian mazhab dalam Islam dan para pelaku tasawuf tidak lain adalah satu dari sekian banyak kelompok yang ada dalam tubuh umat Islam. Banyak dari para orientalis yang dengan cepat memanfaatkan salah paham ini dan fokus mempelajari tasawuf, menjelaskan falsafahnya, dan menjadikan citra tasawuf sebagai ajaran yang berdiri sendiri agar kesalahpahaman ini semakin dalam, dan juga bertujuan mengelabui orang-orang Islam bahwa kelompok ini adalah pelaku bid’ah yang membuat-buat metode khusus bagi mereka di samping metode lain milik kaum Muslimin yang berbeda dengan mereka.
Tidak diragukan lagi bahwa salah paham ini terkadang tampak sebagai kebenaran sebab apa yang masuk pada pondasi tasawuf, dari hal-hal baru yang mungkar dan sama sekali bukan berasal dari ajaran Islam. Inilah yang menjadikan kami tidak menggantikan istilah Islam dengan istilah-istilah lain untuk menunjukkan -walau hanya sebagiankandungan dan hakikat ajaran Islam itu sendiri. Aku juga sama sekali tidak mengerti mengapa harus fanatik terhadap istilah tasawuf jika kita semua sepakat akan pentingnya berhias dengan kandungan agama Islam yang agung ini?
Akan tetapi, sikap netral menjadikan kami harus mengatakan bahwa memang kebanyakan orang mengaitkan istilah tasawuf ini dengan pengikutnya yang menganggap enteng perkara memperbaiki keadaan batin dan menempuh jalan yang disyariatkan untuk itu. Hal ini menjadikan mereka mengambil posisi sebagai orang yang menentang apa yang dinamakan dengan tasawuf secara umum. Hasilnya, mereka tidak dapat menemukan istilah lain bagi orang-orang yang senantiasa melazimkan zikir dan wirid dan menempuh jalan yang dibenarkan syariat untuk melawan keburukan hawa nafsu selain istilah tasawuf.
Mereka juga enggan berjalan di atas jalan orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allahu subhanahu wa ta’ala ini sebab anggapannya bahwa ini semua adalah sesuatu yang ditambahkan kelompok ini ke dalam ajaran Islam. Mereka kemudian memberikan nama lain bagi obat dan solusi-solusi yang kami jelaskan dan penyakit-penyakit tersembunyi yang kami kupas sebagai ganti bagi nama yang sebenarnya. Akhirnya mereka menghalangi kehidupan keislaman mereka dari satu porsi besar dan sangat penting dari kandungan ajaran Islam sebab anggapan mereka yang salah dan mengherankan itu. Jika saja mereka mau memikirkan dan menyadari bahwa memperbaiki jiwa dan menempuh jalan yang disyariatkan untuk itu adalah inti dan ruh ajaran Islam, dan jika saja kelompok yang lain juga mau berpikir dan menyadari bahwa metode-metode yang mereka tempuh dalam penyucian jiwa ini adalah Islam itu sendiri yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu “alaihi wa sallam, maka mereka tidak akan menggunakan istilah lain untuk itu selain namanya yang hakiki. Sebab, jika dalam penggunaan istilah tasawuf ada satu bentuk ajaran yang berdiri sendiri dalam anggapan sebagian peneliti, maka kaum Muslimin akan mendapati bahwa dalam penggunaan nama Islam terdapat ruang yang besar yang mampu mengungkapkan dengan benar setiap sisi dan cabang dari ajaran ini.









One Comment