Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Bathinul Itsmi

MUQADDIMAH

WAHAI ALLAH bagi-Mu segala puji dengan pujian yang pantas bagi kemuliaan-Mu dan keagungan kekuasaan-Mu. Maha Suci Engkau, aku tidak mampu menghitung pujian atas-Mu, Engkau sebagaimana pujian yang Kau tujukan pada Dzat-Mu.

Wahai Allah, limpahkan selawat-Mu yang terbaik kepada hamba dan Nabi-Mu Muhammad shallallahu “alaihi wa sallam, juga atas keluarga beliau, istri-istri dan sahabat-sahabat beliau sebagaimana Engkau limpahkan selawat kepada Ibrahim dan keluarganya, di seluruh alam, hanya Engkaulah yang Maha Terpuji lagi Mahamulia.

Wahai saudara Muslimku, engkau bertanya kepadaku dengan penuh kedukaan dan rasa sakit: “Jumlah kaum Muslimin saat ini jauh lebih banyak dibanding masa-masa dahulu dan perbuatan-perbuatan mereka yang bersifat Islami jauh lebih menonjol dibanding abad-abad sebelumnya, perpustakaan-perpustakaan penuh dengan bermacam-macam buku-buku keislaman kontemporer yang belum terlihat pada masa sebelum ini, dan banyak orang berbondong-bondong mempelajarinya dengan penuh antusias yang belum pernah terlihat sebelumnya. Meski demikian, usaha mereka terkait pembentukan masyarakat dan hukum yang Islami justru tampak mengalami kemunduran dan berjalan semakin jauh kebelakang. Apa sebab dan rahasia dari keadaan yang sangat bertolak belakang ini dan bagaimana mungkin logika mendasar seperti ini tidak membuahkan kesimpulan yang semestinya?!”

Sungguh aku telah memberikan jawaban kepadamu ketika aku berkata bahwa kaum Muslimin saat ini terkotak-kotakkan dan saling tercerai-berai serta bermusuhan. Padahal perpecahan adalah musibah yang menghancurkan semua usaha-usaha yang baik dan menjadikannya tidak membuahkan hasil. Maka bagaimana menurutmu jika perpecahan sudah menjadi permusuhan?!

Engkau juga berkata kepadaku: “Maka apa yang menjadi titik temu bagi kelompok-kelompok yang memperjuangkan kebatilan hingga kemudian mereka bisa berjalan beriringan dan saling membantu satu sama lain, sedangkan kelompok-kelompok yang membawa kebenaran justru terus-menerus saling menjauh dan bermusuhan?!”

Jawabanku kepadamu adalah bahwa kelompokkelompok yang jelek itu murni hanya menginginkan keburukan dan mereka sadar betul bahwa tujuan mereka tidak akan tercapai kecuali dengan persatuan dan saling tolong-menolong, dan setiap dari mereka tidak memiliki maksud dan tujuan lain yang bertentangan dengan keburukan yang mereka bawa. Maka, mereka disatukan oleh usaha yang mereka lakukan dijalan keburukan, direkatkan oleh kesadaran akan pentingnya saling tolong-menolong, dan yang mencegah mereka dari saling bermusuhan adalah mereka semua sangat bersungguh-sungguh dalam mengusahakan kebatilan yang mereka usung bersama meskipun mereka berbeda-beda dalam tujuan yang lain selain itu.

Adapun kelompok kebaikan, usaha yang mereka lakukan untuk mewujudkan kebenaran yang mereka bawa tidak semurni kelompok yang memperjuangkan kebatilan, yang berujung pada kesempitan dan berpusat pada keinginan-keinginan hawa nafsu. Sedangkan, pada kelompok kebaikan ada yang berhias dengan kebenaran dan mengajak kepadanya secara lahiriah, namun di balik itu dia hanya menginginkan pemuasan terhadap hawa nafsunya. Ada pula di antara mereka yang menjadikan kebenaran sebagai sekadar ucapan yang ia ulang-ulang dalam majelis atau pidatonya dan ia jadikan sebagai sekutu dalam mencari kepentingan, namun jika kebenaran itu membebankan sesuatu yang lain kepadanya seperti merelakan sebagian hak yang seharusnya ia terima atau menanggung sebagian kesulitan hidup, ia lepaskan kebenaran itu dan ia jauhi.

Sejak hal ini yang terjadi di antara mereka, maka kepercayaan antara mereka pun sirna atau paling tidak, berkurang. Hal itu menyebabkan kerjasama mereka dalam mengajak kepada kebenaran terbatas hanya pada sekadar hal yang cetek dan sempit. Tidaklah mer, eka melewati hal ini kecuali telah sering nampak benih. benih perpecahan dan permusuhan di antara mereka.

Aku ingat, wahai saudara Muslimku, keadaanmu yang terhanyut dalam jawabanku ini, engkau tenggelam dalam diam yang menyakitkan, hingga engkau kemudian bangkit, memohon izin, dan berlalu sambil terus memikirkan hal ini.

Sedangkan aku, apa yang aku katakan kepadamu ini membuatku tertegun dan menyadari bahwa aku tidak melakukan apapun terhadap hal ini kecuali membuatmu terombang-ambing dalam kegelisahan tanpa ujung. Aku bagaikan orang yang memperingatkan seorang yang sakit akan penyakit-penyakit mematikan yang menimpanya tanpa mengucapkan sepatah katapun yang mengarahkannya kepada obat yang mungkin meringankan atau menyembuhkan rasa sakitnya. Aku berlindung kepada Allahu subhanahu wa ta’ala agar perkataanku ini tidak mengendurkan semangat atau mematikan harapan siapa pun, karena jika demikian maka aku telah menambah penyakit yang jauh lebih berbahaya ke atas penyakit yang sudah ada.

Perasaan ini begitu menyiksaku sebagaimana perasaan seorang yang tahu bahwa ia telah memperparah bencana yang tengah terjadi dan berlalu begitu saja. Orang seperti ini lebih tepat baginya tidak mendekati bencana itu sejak awal dan tidak mengobatinya, sebagaimana yang banyak dilakukan orang-orang selainku saat ini.

Aku menyadari bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkanku dari perasaan ini kecuali aku menyempurnakan penjelasan yang aku sampaikan kepadamu dengan menuliskan obatnya. Meskipun mungkin aku tidak bisa menyampaikannya langsung kepadamu di majelis yang ketika itu engkau keluar darinya dalam keadaan risau dan gelisah, maka aku susulkan jawabanku ini kepadamu di mana saja engkau berada melalui buku kecil ini. Semoga buku ini sampai ke hadapanmu dan mengubah kegelisahanmu menjadi gerakan dan usaha positif dalam mengenali obat ini dan cara menggunakannya, meskipun ia adalah obat yang pahit rasanya, namun manisnya imanlah yang akan mengurangi kepahitannya.

Aku meyakini bahwa kita semua adalah orangorang yang beriman kepada Allahu ta’ala Yang Maha Esa tanpa sekutu dan dalam genggaman-Nya semua kebaikan dan kekuasaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan obat yang aku ingin agar engkau memperhatikannya itu ada pada kitabullah, al-Ouran, dan telah dijelaskan melalui petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu menyucikan diri dari dosa-dosa batin, dosa-dosa yang tersembunyi.

Boleh jadi engkau bertanya: “Lalu dosa lahiriah yang tampak nyata? Bukankah menyucikan diri darinya juga merupakan bagian dari obat?” Jawabannya adalah bahwa ia memang bagian tak terpisahkan dari obat ini, namun semua manusia mengetahui akan hal itu, walaupun di saat yang sama banyak yang tetap mengerjakannya. Maka peringatan akan hal itu bukan hal yang baru lagi dan tidak begitu membuahkan hasil. Namun yang kebanyakan manusia lalai darinya adalah bagian lain dari obat ini yang jika ditinggalkan oleh kaum Muslimin maka hilang sudah semua perjuangan dan pekerjaan mereka untuk agama Islam, mereka kehilangan arah dan terjebak dalam belantara kerusakan.

Bagian paling mengkhawatirkan dari obat yang ini adalah karena sifatnya yang samar maka kaum Muslimin tidak memiliki metode untuk mengetahui dan mengawasi dosa-dosa yang batin ini. Jika tidak demikian adanya, maka sangat memungkinkan untuk dilakukan pengawasan-pengawasan terhadap dosa batin ini sebagaimana mereka saling mengawasi satu sama lain pada permasalahan puasa, salat, dan hukum-hukum lahiriah lainnya.

Hal lain yang juga mengkhawatirkan adalah bahwa kebanyakan kaum Muslimin tidak mengindahkan nasihat dan peringatan mengenai hal ini. Mereka juga tidak mengambil berat perkara ini dengan mencari tahu bagaimana mengobatinya, juga tidak memperhitungkannya saat berusaha membangun masyarakat Islami yang selama ini digadang-gadang.

Oleh sebab itu, aku merasa bahwa jawabanku harusnya menyambung kembali apa yang belum sempat terselesaikan dari penjelasan terkait obat luar biasa ini yang selama ini diabaikan, ditinggalkan, dilupakan, bahkan dibiarkan hilang begitu saja oleh kaum Muslimin, meski mereka berkali-kali membacanya tanpa pernah membicarakannyadalam al-Ouran dan Sunah Baginda Nabi ‘alayhish-shalatu was-salam.

Aku “resepkan” obat ini untukku terlebih dahulu sebab aku yakin bahwa aku sangat memerlukannya. Aku “resepkan” pula kepada saudara-saudara pembaca sekalian, sebab aku mengetahui -sebagaimana aku katakan kepada kalianbahwa ini adalah obat yang harus kita gunakan, yang tidak akan menjadi baik urusan kaum Muslimin kecuali dengan perantara obat ini.

Hanya kepada Allah aku bergantung, dari-Nyalah semua taufik, dan kepada-Nya semua urusan kembali.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker