Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Bathinul Itsmi

MASALAH KITA ADA PADA AKHLAK DAN BUKAN PEMIKIRAN

SEMUA YANG TELAH kami jelaskan sebelum ini menunjukkan bahwa semua masalah yang kita hadapi saat ini adalah masalah yang bermuara kepada akhlak dan keadaan batin kita, sama sekali tidak ada kaitannya dengan pemikiran. Dan yang mengherankan adalah adanya sekelompok orang yang menyebarluaskan mengenai permasalahan ini dan menyadari bahaya besar yang mengintai kehidupan kita. Namun, alih-alih mengobatinya dengan solusi dan jalan keluar yang kami sebutkan, mereka justru mengobatinya dengan menambah penelitian-penelitian dan ide-ide serta teori-teori yang bermuatan filsafat untuk dilemparkan ke medan perdebatan dan sekadar dipelajari, seakan masalah yang sedang dihadapi adalah kebodohan yang menguasai akal dan bukannya penyakit berbahaya yang diderita jiwa. Kalau begitu, apa gunanya kita berpanjang lebar menjelaskan definisi masyarakat, menguak dengan detail rencana-rencana jahat yang dirancang oleh musuh-musuh Islam dan kelompok yang menggalakkan perang pemikiran, atau kita sibuk menawarkan metode-motede baru dalam hal pemikiran Islam dan dakwah, sedangkan musibah yang menimpa kaum Muslimin bukanlah ketidaktahuan mengenai hal-hal ini, akan tetapi penyakit mematikan yang menguasai jiwa-jiwa mereka.

Kaum Muslimin saat ini tidak lagi membutuhkan tambahan diskursus pemikiran semacam ini. Kaum Muslimin -dengan segala tingkatan pemahamannyatelah memiliki pengetahuan terkait hal ini yang memberikan perlindungan yang cukup kepada mereka jika memang perkara ini dapat diselesaikan dengan pemikiran semata. Akan tetapi setelah hari ini, mereka membutuhkan kekuatan luar biasa yang mendorong mereka untuk mengaplikasikan pengetahuan mereka, dan mustahil jika dorongan untuk melaksanakan apa yang sudah mereka ketahui ini hanya diserahkan kepada pemikiran atau akal semata. Kekuatan luar biasa yang mereka butuhkan saat ini tidak lain adalah kekuatan akhlak.

Mereka yang tidak percaya kepada Tuhan dan menjalankan kehidupan tanpa agama dan tanpa Tuhan di hadapanmu itu sampai kepada pemahaman semacam itu bukanlah semata-mata atas dasar pemikiran seperti yang mungkin engkau duga. Mereka menjalani kehidupan semacam ini sebab terjerat hawa nafsu yang mendominasi jiwa mereka. Begitu juga seorang ilmuwan barat yang menyelam di kubangan materi dan lumpur kehinaan tidaklah ia mengalami kemerosotan seperti itu dengan sebab pandangan filsafat atau teori tertentu Namun, kenyataannya ia menderita penyakit moral dan akhlak yang coba ia sembunyikan sepanjang hidupnya. Aku mengenal seorang pemuda yang Allahu subhanahu wa ta’ala beri petunjuk setelah sebelumnya ja sempat menyimpang dan menjadi seorang ateis, suatu hari teman-teman dan kerabatnya berkumpul di sekelilingnya dan mengajaknya berdiskusi dengan tujuan menariknya kembali ke kehidupan lamanya. Setelah mereka merasa gagal mempengaruhi pemuda ini melalui jalur debat dan adu pemikiran, berkata salah seorang teman perempuannya dulu, “Tapi engkau adalah anak muda, kehidupanmu baru saja dimulai, nikmatilah. Kelak akan ada waktu untuk para syaikh itu!”

Aku juga mengenal seorang dari Pakistan yang tinggal di salah satu daerah di Eropa dalam rangka berdakwah. Suatu hari ia ditanya mengenai kesuksesan dakwahnya di sana dan ia berkata, “Orang-orang Eropa tidak butuh banyak dalil untuk mengimani kebenaran. Mereka sangat mudah beriman dengan kebenaran yang lahir dari pemikiran dengan iman yang sungguh-sungguh. Namun, hal yang selalu menarik mereka ke belakang adalah gaya hidup bebas yang diinginkan hawa nafsunya dan menjadi cara ia hidup selama ini. Ia tidak menemukan dari pemikiran yang ia yakini cara untuk membebaskannya dari cengkraman hawa nafsunya.” Orang-orang seperti ini tidak akan selamat dari permasalahan mereka dengan mengisi otak mereka dengan perpustakaan yang penuh dengan teori-teori dan penelitian-penelitian mengenai pemikiran Islam. Hanya ada satu hal yang bermanfaat bagi mereka, yaitu engkau pantik perasaan terdalam mereka dengan cinta yang membara dalam hatimu.

Cinta yang membara dalam hati adalah obat yang tidak mungkin tergantikan bahkan oleh ribuan buku yang dipenuhi dengan pemikiran yang mendalam dan uraian-uraian mengagumkan. Cinta dalam hati yang membara adalah rahasia yang menakjubkan yang mampu mengubah jalan hidup manusia, mendekatkan yang jauh, melunakkan kerasnya besi, menghimpun hawa nafsu yang tercerai-berai, dan membuatmu lupa dengan kelezatan dunia dan hawa nafsu yang semu sebab ia membuatmu merasakan manisnya dekat dengan Allahu ta’ala dan menyaksikan keagungan-Nya. Cinta yang membara dalam hati ini tidak didapat dengan memeras pikiran untuk melahirkan tambahan teori dan penelitian, namun ia datang melalui lelahnya diri dan jiwa dengan ibadah, berdiri dengan penuh ketundukan di depan pintu Allahu ta’ala di waktu malam. Cinta yang membara inilah yang dicari oleh Muhammad Igbal di antara kaum Muslimin dengan pencarian yang panjang di tengah maraknya perdebatan-perdebatan mereka, mengesankannya penelitian-penelitian mereka, dan besarnya perpustakaan-perpustakaan mereka. Adapun pemikiran, penelitian, pengkajian, itu semua tetap merupakan hal yang penting dan harus dilakukan, hanya saja itu semua tidak lebih dari sekadar fase dari perjalanan panjang ini.’ Pemikiran dan penelitian bersifat terbatas seluas apapun cakupannya, dan merupakan hal yang sia-sia jika kita mempelajari semua pemikiran ini dari awal setiap kali kita selesai mengkaji dan menelitinya sampai akhir. Kita tidak melampaui fase ini dan tidak pula mengaitkannya dengan usaha selainnya dan disaat yang sama kita tidak menggerakkan jiwa kita sejengkalpun dari tanah dan udara tempat ia hidup dan berpijak.

Namun, apa yang kami jelaskan ini termasuk salah satu pembahasan pemikiran yang terkait dengan Islam jika tanpa memperhatikan sisi perenungan di dalamnya. Pada akhirnya, ini adalah rangkaian lanjutan dari akhir fase kajian dan teori, dan awal dari fase pengaplikasian teori-teori ini. Dan hendaknya fase pemikiran ini mendapatkan porsinya yang sesuai dalam kajian dan penelitian-penelitian Islam sehingga kita tidak bergerak berputar-putar di tempat yang sama dan agar musuh tidak menjerat kita dengan masalah-masalah baru yang mereka ciptakan setiap hari sampai menghasilkan rentetan kajian, saling jawab, dan perdebatan yang tiada akhirnya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker