TASAWUF AKHLAK DAN TASAWUF RASA
SEMUA YANG KAMI sebutkan ini masuk ke dalam apa yang dinamakan dengan tasawuf akhlak. Tasawuf akblak pada hakikatnya adalah perilaku yang Islami yang dibawa oleh ajaran Islam dan sudah disiapkan sarana yang kokoh untuk mendidik diri agar memiliki perilaku Islami tersebut. Adapun perkara-perkara lain yang masuk ke dalam apa yang dinamakan sebagai ahwal (keadaan spiritual), syubud (penyaksian spiritual), fana dan baga (lebur dalam kecintaan kepada Allahu ta’ala), itu adalah sifat bagi keadaan-keadaan spiritual yang ditempuh oleh mereka yang menggembleng hati mereka dengan senantiasa merasa diawasi oleh Allahu subhanahu wa ta’ala dan tidak disibukkan oleh kesibukan-kesibukan duniawi dari mengingat-Nya. Jika salah seorang dari mereka terus berada dalam keadaan semacam ini selama beberapa waktu, maka perkara dunia akan tampak remeh di hadapannya dan mulai tampak keagungan Allahu ta’ala dalam semua sifat kesempurnaan-Nya. Bahkan, jika terus bertambah kuat dampak kesadaran ini dalam dirinya maka ia akan lupa pada alam semesta dan fokus kepada sang Pencipta, hilang dari semua yang wujud karena memandang Yang Maha Mewujudkan, inilah yang oleh para ahli tasawuf dinamakan dengan al-Fana.
Jika ia mampu menjaga perilaku ini dan terus mengawasi hati dan keadaan batinnya sesuai dengan tuntunan dan hukum al-Guran dan Sunah, ia akan kembali sadar dan awas dengan keadaan dunia disekelilingnya tetapi tetap dengan keterikatan yang kuat dengan Allahu subhanahu wa ta’ala. Ia berinteraksi dengan dunia namun itu tidak memberi efek apapun pada dirinya. Ia bersosialisasi dan bergaul dengan manusia tanpa menjadikannya sibuk dari Allahu ta’ala. Inilah yang oleh para ahli tasawuf dinamakan dengan al-Baga yang merupakan sebuah kedudukan yang hanya dicapai oleh para Nabi dan ash-Shiddigin, dan sifat inilah yang ada pada diri sahabat-sahabat Nabi Muhammad shallallahu “alaihi wa sallam sebab merekalah pemilik hati yang sempurna dan yang paling kuat untuk menampung keadaan spritual semacam ini.
Imam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala dalam kitabnya “al-“Ubudiyyah” menyinggung perihal alFana dan maknanya dan mengatakan berikut:
“Inilah al-Fana, yaitu tidak menyaksikan selain Allah, dan ini terjadi pada banyak pejalan spiritual. Sebab, kuatnya tarikan hati mereka kepada zikrullah, ibadah, dan cinta kepada-Nya serta karena lemahnya hati mereka dari menyaksikan selain siapa yang mereka sembah dan mereka tuju, sehingga tidak terbersit dalam hati mereka sesuatu selain Allah. Bahkan, mereka tidak menyadari adanya sesuatu selain Allah. Jika keadaan ini semakin kuat, orang tersebut akan melupakan segala yang wujud karena perhatiannya tertuju pada Yang Mewujudkan, dari penyaksian kepada Yang Disaksikan, dari mengingat kepada Yang Diingat, dan dari pengenalan kepada Yang Dikenali.”
Beliau kemudian melanjutkan:
“Keadaan al-Fana semacam ini masih memeliki kekurangan, dan para pembesar wali-wali Allah seperti Abu Bakar, Umar, dan para sahabat yang pertama-tama memeluk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar tidak pernah mengalami hal ini, terlebih lagi para Nabi. Keadaan al-Fana ini baru terjadi setelah masa para sahabat.”
Jika engkau sudah memahami hal ini maka kami katakan bahwa tidak boleh bagi seorang Muslim yang menyadari kekurangannya dalam menunaikan hak-hak Allahu ta’ala dan menyadari penyakit-penyakit hati yang menjauhkan dirinya dari Allahu subhanahu wa tadld untuk menyibukkan diri dengan pembahasanpembahasan tasawuf yang bersifat filosofis dan abstrak seperti ini dan sibuk mempelajari kondisi spiritual para wali dan menjelaskan kedudukan mereka yang berbeda-beda seperti yang sudah kami singgung secara ringkas. Sebab ini semua adalah cita rasa yang tidak mungkin dipahami kecuali melalui perjuangan keras dan penderitaan untuk mencapainya, dan pembahasan mengenai ini tidak akan memberi kita pengetahuan yang dapat dibaca atau dihafal. Faidah yang kita dapat dari hal ini hanyalah cerita nyata mengenai kehidupan Islami yang dijalani oleh seseorang.
Andaikan engkau habiskan seluruh usiamu untuk membicarakan kondisi orang-orang yang memiliki keadaan spiritual semacam ini, menguraikan kata-kata mereka, atau “mengambil berkah” dari ucapan-ucapan spontan mereka yang terkesan melampui batas. itu semua tidak akan mendekatkanmu kepada Allahu ta’ala sejengkal pun selama engkau tidak memperhatikan apa yang diderita oleh jiwamu dari penvakir kesombongan, dengki, cinta dunia, bangga diri, riya’, kebencian, dan lain sebagainya. Tidak pernah aku melihat hal yang lebih mengherankan dari sekelompok orang yang meninggalkan bagian terpenting dari tasawuf yang mempresentasikan intisari ajaran Islam yang kita bahas pada halaman-halaman sebelumnya dan justru mempelajari perkara-perkara filosofis yang tidak ia pahami, tenggelam dalam pembahasan mengenai keadaan spiritual yang ia sendiri tidak pernah mencapainya, atau mengulang-ulang ucapan “nyeleneh” para kekasih Allahu subhanahu wa ta’ala yang telah mencecap langsung pengalaman spiritual ini. Jika para kekasih Allahu ta’ala yang mengucapkan perkataanperkataan itu dimaklumi, namun orang-orang yang meniru-niru mereka dan menjadikan ucapan mereka itu sebagai sesuatu yang dipelajari, objek penelitian, dan sumber faidah sama sekali tidak dapat dimaklumi.
Aku mengajak diriku, saudara-saudaraku, sahabatsahabatku dan mereka semuanya kepada tazkiyatun nafs, penyucian jiwa. Penyucian jiwa adalah sebuah tujuan yang seluruh syariat Islam berpusat kepadanya. Ia adalah maksud tertinggi dari para pejalan spiritual dan para sufi kecuali mereka yang menyimpang dan keluar dari jalur. Ia juga adalah pintu bagi seorang Muslim untuk masuk menunju keridaan Allahu ta’ala. Penyucian jiwa juga perupakan obat bagi semua bala” dan jalan keluar dari semua fitnah dan ujian.
Wahai kalian, ambillah dari Ibnu Arabi rahimahullah wasiat-wasiatnya pada kitab “al-Washaya” dan tinggalkan “al-Futuhat” miliknya. Bacalah dari seluruh karangannya kitab “Ma’arij al-Quds fi Muhasabah anNafs”, sebuah kitab yang akan menyingkap kekurangan yang ada pada kaum Muslimin, dan apa-apa yang bersembunyi di balik kesedihan mendalam yang tampak akibat keterbelakangan dan penyakit-penyakit berbahaya, serta riya”, gila hormat, cinta dunia dan kedudukan. Tinggalkan dari Ibnu Arabi rahimahullah keadaan spiritualnya, ungkapan-ungkapannya dan semua hal yang tidak engkau pahami dari perkataannya. Sampai pada akhirnya lirih dari dirimu semua keburukan dunia dan semua penyakit yang ada di dalamnya, dan kalian tidak lagi terpengaruh dengan sikap fanatisme yang keliru, serta sama saja bagi kalian apakah dunia mendekati atau menjauhi kalian, dan hati kalian tidak bergeming dengan pujian dan cacian. Maka, saat itu sudah tiba waktunya bagi kalian untuk masuk ke dalam pembahasan tasawuf yang kedua ini dan berkeliling di medan yang berbahaya ini.









One Comment