Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Bathinul Itsmi

CARA PENGGUNAAN OBAT INI

ITULAH OBATNYA, tetapi, bagaimana cara menggunakannya? Bagaimana cara menjadi hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang sejati tanpa diperbudak harta, kedudukan, kepentingan pribadi, atau penyakit-penyakit hati seperti ego, kesombongan, dan lain sebagainya?

Tidak bisa disangkal bahwa jalan menuju itu semua bukanlah jalan yang mudah, Allahu ta’ala berfirman:

“Dan berjihadlah (curahkan segala kemampuan dan totalitas diri kamu) pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu.” (OS. al-Hajj (22): 78)

“Dan orang-orang yang berjihad pada Kami, maka pasti Kami benar-benar menunjuki mereka jalan-jalan Kami.” (OS. al-“Ankabut (29): 29)

Itulah yang membedakan antara mukmin yang sejati dengan seorang munafik yang menampakkan kesalehan dan iman. Itulah yang akan menghalangi seorang Muslim dari kelompok yang disabdakan Baginda Rasulullah shallallahu “alaihi wa sallam:

“Celaka budak dirham, celaka budak dinar, celaka budak pakaian, celaka dan hina. Jika ia tertusuk duri, maka duri itu tidak bisa tercabut.? Jika diberi ia merasa puas, namun jika ditolak ia murka.”

Itulah penjaga yang melindungi keimanan seseorang dari serigala-serigala lapar yang sudah diperingatkan oleh Nabi ‘alayhish-shalatu was-salam dalam sabdanya:

“Tidaklah dua serigala lapar yang dilepaskan di antara kambing-kambing lebih berbahaya bagi agama seseorang dari ketamakannya akan harta dan kedudukan.”

Oleh sebab pentingnya perjuangan dan jihad ini, dan sebab ia adalah satu-satunya jalan yang menyampaikan kepada keridaan Allahu subhanahu wa ta’ala dan sarana menjalankan penghambaan yang hakiki kepada Allahu ta’ala, para salaf yang saleh radhiyallabu “anbum mengerahkan seluruh kemampuan mereka dalam menempuh jalan ini dan berjalan dijalan jihad melawan hawa nafsu dengan berbagai cara yang beraneka ragam. Sampai-sampai perhatian mereka kepada hal ini menjadikan sebagian mereka berlebih-lebihan dan memaksakan diri hingga mengeluarkan mereka dari tuntunan syariat dan petunjuk Nabi ‘alayhish-shalatu was-salam. Apa yang akan kami sampaikan setelah ini adalah apa yang disepakati oleh generasi salaf dengan mengacu pada al-Guran dan Sunah, dan kita mengingatkan diri kita masing-masing bahwa ini adalah intisari ajaran Islam, tangga satu-satunya dalam mewujudkan metode keislaman yang diwajibkan oleh Allahu subhinahu wa ta’ala kepada hamba-hambaNya, dan bahwa ini adalah kunci yang harus kita miliki untuk memudahkan semua yang sulit, menyatukan yang terserak, dan mewujudkan kemenangan.

Pertama-tama aku mengingatkan diriku sendiri mengenai hal ini dan saudara-saudaraku, sambil berharap kepada Allah agar memberikan kita semua taufik dan pertolongan, dan inilah pembahasan mengenai berbagai sarana yang telah kita singgung sebelum ini.

PERTAMA, perenungan mengenai dirinya dan tempat kembalinya kelak, pengawasan Allahu ta’ala kepadanya, dan menyadarkan akalnya mengenai hal ini tiap kali ia berada dalam kelalaian. Berpikir atau merenung adalah gerakan akal yang tanpanya maka akal menjadi tidak berguna. Aktivitas berpikir jugalah yang membebaskan akal dari jerat hawa nafsu yang mana tanpa proses berpikir tidak akan jelas bagi manusia perbedaan antara petunjuk akal dengan dorongan hawa nafsu. Oleh sebab itu, Allahu subhanahu wa ta’ala dalam banyak kesempatan menutup firmanNya yang menunjukkan kebesaran semesta dan perintah-perintah-Nya dengan ucapan: “LA“ALLAKUM TATAFAKKARUN (mudah-mudahan kamu sekalian berpikir)”, “INNA Fi DZALIKA LI-AYATIN LI-QAUMIN YATAKKARUN (pada itu semua terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir)”, “AFALA TATAFAKKARUN (tidakkah kalian berpikir2)”.

Sebab itu jugalah poin terpenting dalam kehidupan Baginda Nabi “alayhish-shalatu was-salam sebagai seorang mukmin, dai, dan pejuang adalah beliau shallallahu “alaihi wa sallam terus-menerus dalam keadaan berpikir. Dan bukan tanpa sebab Allahu ta’ala mengilhamkan kepada beliau shallallahu “alaihi wa sallam agar menjauhi keriuhan manusia, kehidupan mereka, kerusakan moral yang menimpa mereka dan menyendiri di gua Hira dalam waktu yang cukup lama untuk berpikir, merenung, dan mengamati. Dan semakin jauh jarak seseorang dari keramaian, gemerlap dunia, dan hawa nafsu maka hasil dari pemikirannya juga akan semakin jujur dan mendalam. Sebab kecenderungan jiwa manusia adalah menerima semua yang masuk ke dalamnya dari dorongan, ajakan-ajakan, dan perkataan melalui celah-celah yang terbuka lebar. Sebagian dari hal itu adalah sesuatu yang masuk akal dan logika yang lurus, sebagian lagi adalah hawa nafsu dan syahwat ada dalam diri manusia, sebagian lagi berupa pembelaan terhadap perasaan rendah diri atau dorongan kesombongan atau fanatisme, dan ada yang berupa rasa tidak suka kepada orang lain yang bersumber dari kebencian, dengki, dan persaingan memperebutkan dunia dan perhiasannya yang fana. Bagian terpenting bukanlah bagaimana seseorang mampu mendengarkan dengan baik semua suara ini, namun yang terpenting adalah bagaimana ia mampu membedakan suara akal dari yang lainnya dan mendengarkannya dengan seksama.

Hal itu dapat dicapai oleh seseorang dengan memberikan porsi dari umurnya untuk masa-masa khalwat (menyendiri) yang teratur. Pada waktu tersebut ia berdialog dengan akalnya yang bebas mengenai tempat kembalinya nanti dan merenungkan hakikat dari semua kebisingan dan segala hal di sekelilingnya, dengan dibantu bacaan al-Ouran dan nasihat-nasihatnya yang mendalam, serta sabda Nabi Muhammad shallallabu “alaihi wa sallam dan keagungan ajarannya.

Dengan hal ini aku bukan mengajakmu untuk memisahkan diri dari masyarakat atau tinggal jauh di gua yang berada di gunung, ataupun tinggal di ujung lembah. Hal itu bukan fitrah manusia, dan juga bukan pula tugas dari seorang Muslim. Akan tetapi, aku mengajakmu untuk menyendiri bersama akalmu setiap kali engkau menghitung isi “rekening” amalmu. Dengan kata lain, aku mengajakmu untuk melakukan hal yang dilakukan seorang pedagang yang hidupnya dihabiskan di antara ramainya manusia dan kebisingan pasar. Hal tersebut tidak menghalanginya untuk menyendiri di sebuah ruangan dari waktu ke waktu. Ia bahkan meninggalkan istri, keluarga, dan teman-temannya dan tenggelam dalam catatan-catatan, kertas-kertas, ataupun nota-notanya. Kalau bukan karena perhatiannya yang besar terhadap saat-saat seperti ini dalam hidupnya, maka usaha yang ia bangun siang-malam tidak akan memberikan apa-apa selain penyesalan dan kerugian.

Aku mengajakmu untuk menempuh cara apapun yang dapat membebaskan pikiranmu dari hal-hal yang menyusup masuk ke dalamnya, sadar atau tidak sadar, berupa fanatisme, dorongan-dorongan kepentingan palsu yang terlarang, atau penyakit hati yang bermacam-macam, sampai engkau mendapatkan ketenangan bahwa engkau menempuh jalan yang sesuai dengan metode berpikir akal yang bebas. Sungguh, sarana ini terdapat dalam kehidupan Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang pernah menggunakan waktunya untuk menyendiri dan menjauh dari manusia, dan beliau tidaklah melakukan hal tersebut kecuali sebagai pengajaran dan syariat untuk umatnya.

Jangan lupa bahwa hal paling penting yang dapat membantumu untuk berpikir dan berzikir secara kontinu adalah dengan memperbanyak duduk bersama orang-orang saleh dan condong kepada mereka. Serta termasuk hal yang paling utama yang dapat menjauhkanmu dari kedua hal itu adalah tenggelam dalam perkumpulan yang melalaikan, serta condong kepada orang-orang yang lalai, merasa senang dengan kelompok yang menyia-nyiakan umur yang berharga dengan sangat murah dengan tenggelam dalam kelalaian yang tidak ada manfaatnya, dan memakan daging bangkai yang begitu dihinakan oleh al-Guran dan telah diperingatkannya dengan sangat keras.

YANG KEDUA, membiasakan diri untuk selalu membaca rangkaian wirid secara berkesinambungan berupa bacaan al-Ouran, diikuti dengan tasbih, istighfar, dan zikir. Adapun pembacaan al-Ouran, aku tak mengira engkau butuh uraian hadis-hadis sahih tentang keutamaan membaca dan merenungkan maknanya. Tiada pula ada pertentangan dikalangan kaum Muslimin bahwa mendekat kepada Allahu subhanahu wa ta’ala dengan membaca al-Ouran termasuk bentuk pendekatan diri kepada-Nya yang paling utama.

Berapa banyak mereka yang keras hatinya, tidak ada yang dapat melembutkannya selain bacaan alOuran. Berapa banyak orang-orang lalai yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, tak ada yang dapat menyadarkannya kecuali dengan merenungi alOuran. Berapa banyak mata yang tidak dapat merasakan rasanya menangis karena takut kepada Allahu ta’ala kecuali dengan memandang al-Ouran.

Para sahabat sejak dahulu selalu memiliki wirid tertentu dalam bentuk membaca al-Ouran tiap pagi dan malam hari. Jika pada suatu hari mereka ada satu kesibukan yang mendesak sehingga tidak dapat membacanya, maka esoknya mereka akan membayarnya dan membacanya dengan perasaan sakit dan menyesal karena telah meninggalkan kebiasaannya seperti yang pernah terjadi kepada Sayyidina Umar ibn Khattab radhiyallahu “anhu.

Adapun zikir, tasbih, dan istighfar adalah obat yang telah diberikan oleh Allahu ta’ala kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Dia juga memerintahkan hal tersebut berulang kali dalam al-Ouran. Sebagaimana dalam firman-Nya berikut:

“Bertasbihlah kamu sembari memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, bertasbih pulalah kamu saat malam dan siang hari supaya kamu merasa rida.” (OS. Thaha (20): 130) Dalam ayat yang lain:

“Dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi hari.” (OS. Ghafir: (401: 55) Allahu ta’ala juga berfirman:

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang.” (OS. al-A’raf (7): 205)

“Dan sebutlah nama Tuhanmu pada waktu pagi dan petang, dan pada sebagian malam, sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada saat yang panjang di malam bari.” (OS. al-Insan: 25-26)

Dan para ulama rabimahumullahu ajma’in telah sepakat, berdasarkan hal ayat-ayat di atas, bahwa merupakan keharusan atas scorang Muslim melazimi tasbih, istighfar, dan membaca al-Guran, dan sebaikbaik waktu melakukannya adalah pagi dan sore hari.

Sebagaimana pula telah disebutkan dalam “Shahih Muslim” dari Umar ibn Khattab radhiyallahu ‘anbu bahwa Rasulullah shallallahu “alaihi wa sallam bersabda:

“Barang siapa yang tertidur hingga melewatkan bacaan al-Ouran rutinnya, lalu ia membacanya pada waktu antara salat subuh dan zubur, dituliskan untuknya seakan-akan ia membacanya pada malam harinya.” (HR. Muslim)

Oleh karenanya, jangan menggubris mereka yang mencoba memengaruhimu dengan mengatakan bahwa zikir itu adalah ibadah mutlak yang tidak terikat dengan waktu, dan menentukan waktu-waktu khusus bagi ibadah mutlak adalah perbuatan bid’ah yang diharamkan. Sungguh, mereka hanyalah orangorang yang ingin menjauhkanmu dari zikir dengan cara yang paling keji. Sebab, siapa yang membiarkan anggapan keliru ini dalam pikirannya, maka ia tak akan pernah melaksanakan ibadah yang agung ini dalam waktu-waktu hidupnya dengan dalih menjauhi bid’ah seperti yang mereka sangka.

Barangkali engkau melihatnya pada waktu-waktu mulia ini pada pagi dan sore, ia masih mendengkur dalam tidur lelapnya, atau mengerjakan hal yang siasia atau bergunjing yang haram, tanpa memperhatikan akibat buruk dari apa yang ia kerjakan ini berupa dosa dan kesesatan yang telah diperingatkan oleh Allahu tadla dengan sangat gamblang di dalam al-Ouran. Dan bisa jadi, alasan ia mengerjakan ini semua adalah karena ia tidak ingin menyibukkan waktunya dengan bid’ah pembacaan zikir pada waktu-waktu khusus!

Kemudian ketahuilah, bahwa dampak dari membaca al-Ouran dan zikir pada Allah dalam mengobati berbagai macam penyakit hati sangat besar. Hal ini disebabkan pengamalan yang berkesinambungan akan hal-hal ini membentuk di dalam hati kesadaran akan pengawasan Allahu ta’ala terhadap segala yang ia kerjakan dan niatkan. Maka mereka hampir-hampir tidak memiliki keinginan melakukan perbuatan yang dilarang kecuali kesadaran tersebut mendorong mereka untuk memperbaiki amal dan mengoreksi niat mereka.

Inilah penjagaan Ilahi yang agung dalam kehidupan seorang Muslim, dan inilah ihsan yang disifatkan oleh Rasulullah shallallahu “alaihi wa sallam, yaitu keadaan seorang hamba yang beribadah kepada Allahu ta’ala seakan-akan ia melihat-Nya, dan jika ia tak dapat melihat-Nya, maka ia benar-benar yakin bahwa Allahu subhanahu wa ta’ala melihat dirinya. Hal tersebut tidak akan dapat tercapai kecuali dengan melanggengkan pembacaan al-Guran, memperbanyak zikir kepadanya, serta menyibukkan hati dengan pengawasan dan pandangan-Nya. Itulah obat yang paling ampuh untuk penyucian jiwa serta membersihkan penyakit-penyakit parah yang telah mengendap seperti kesombongan, iri, dengki, cinta dunia, ketergantungan pada hal-hal yang mendatangkan nama baik dan pujian, kekuasaan, dan jabatan-jabatan duniawi yang fana.

Tidak diragukan lagi, bahwa yang kami maksud dengan zikir bukanlah hanya gerakan lidah, bukan pula gerakan tasbih di tangan, dan bukan pula melompat-lompat mengikuti suara dan dendang lagu seorang munsyid. Akan tetapi, yang kami maksud adalah sesuai dengan apa yang diinginkan Allahu ta’ala dalam kitab-Nya saat memerintahkan hal tersebut kepada Nabi Muhammad shallallahu “alaihi wa sallam, dan sesuai dengan apa yang dipahami oleh mereka yang ahli dalam bahasa Arab saat seseorang berkata: “Aku telah mengingat Fulan sepanjang hari ini”. Sesungguhnya hal tersebut adalah zikir hati, gerakan pikiran, serta bangunnya nurani. Jika gerakan lisan itu memiliki faedah, maka ia adalah sebagai pengingat bagi hati dan mengembalikan kesadaran nurani, serta sebagai penghalang dari percakapan tak bermanfaat yang ia lakukan saat mulai jenuh berzikir kepada Allahu ta’ala.

Adapun jika muncul sekat pembatas antara lisan dan hati, sehingga lisan bergerak dengan zikir, doa, dan tasbih, sedangkan hatinya tenggelam dalam dunia, angan-angannya, serta keinginan-keinginan duniawi yang terlarang, maka orang yang keadaannya semacam ini tidak dapat dikatakan ahli zikir atau ahli ibadah. Ia hanya tampil di antara manusia dengan penampilan seorang yang suka berzikir dan ia tak mendapat manfaat sedikitpun kecuali pandangan manusia yang menganggapnya seperti itu.

YANG KETIGA, memperbanyak doa dan permohonan serta merendahkan diri di hadapan Allahu subhanahu wa ta’ala. Obat tersebut termasuk ibadah yang sangat penting, bahkan ia adalah inti ibadah. Ia adalah bentuk penghambaan yang termasuk paling tinggi derajat kedekatannya kepada Allahu subhanahu wa ta’ala. Allahu ta’ala telah menekankan perintah-Nya atas hamba-hamba-Nya untuk berdoa dalam banyak kesempatan di dalam al-Guran, serta menjadikannya sebagai ciri utama hamba-hamba-Nya yang ikhlas.

Allahu subhinahu wa ta’ala berfirman:

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan rasa takut, sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (OS. al-A’raf (7): 55)

Dalam ayat yang lain:

“Maka berdoalah kepada Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya.” (OS. Ghafir (40): 14)

Allahu ta’ala juga berfirman:

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan dengan penuh harap.” (OS. al-A’raf (7): 56)

Allahu ta’ala juga menyifati orang yang ikhlas dari kalangan hamba-Nya dengan firman-Nya:

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Mereka adalah orang-orang yang tunduk patuh kepada Kami.” (OS. al-Anbiya’ (21): 90)

Sesungguhnya manusia akan merasakan pentingnya berdoa serta menundukkan diri kepada Allahu subbanahu wa ta’ala disaat ia merasa memiliki kebutuhan yang sangat mendesak kepada-Nya, dan ia yakin tidak ada penolong selain-Nya, juga tak ada tempat berharap kecuali kepada-Nya. Maka saat itu ia akan berdoa dengan hati yang penuh kesungguhan dan kesadaran penuh sembari merendahkan diri. Hal ini seumpama seorang yang mendapat cobaan bertubi-tubi dan tidak ada seorang pun yang mampu membebaskannya dari semua kesulitan yang ia hadapi sampai ia putus asa dari mereka. Saat itu ia tahu bahwa hanya Allah saja yang mampu menghapus semua kesulitan hidupnya dan menghilangkan semua hal buruk yang ia hadapi jika Allahu ta’ala menghendaki. Maka, ia tengadahkan kedua tangannya ke langit dan menyeru dengan sepenuh jiwa dan raga: “Ya Rabb, wahai Tuhanku.”

Adapun mereka yang tidak merasakan kebutuhan semacam ini dan tidak menyadari keburukan dan bencana yang menimpa hidupnya, maka ia tidak akan menemukan alasan untuk berdoa sebab ia merasa tidak membutuhkan apa-apa karena tidak melihat adanya bahaya disekelilingnya sehingga merasa perlu meminta pertolongan melalui doa. Ia bagaikan orang yang hidup dalam kubangan hal-hal yang haram dan diombangambingkan gelombang hawa nafsu dan syahwat sedangkan ia tidak merasakan apa-apa kecuali kelezatannya yang instan dan sementara. Jika engkau mencoba menasihatinya agar ia berdoa kepada Allahu subhanahu wa ta’ala supaya Allah menyelamatkan dari keadaannya saat ini, ia akan meremehkanmu dan menganggapmu seraya berkata kepadamu: “Minta kepada Allahu subhinahu wa ta’ala hanya menghalangimu dari semua kenikmatan ini dan memberimu kesengsaraan.”

Barangkali ia mengangkat tangannya dan merapalkan doa-doa yang biasa dibaca oleh masyarakat atau ia percaya pada doa orang lain, namun ini semua pada hakikatnya tidak dinamakan doa. Ini hanya sekadar ikut-ikutan dan hal ini sangat jauh dari makna doa yang Allahu subbhanahu wa ta’ala kehendaki dalam firman-Nya: “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan penuh ketundukan dan rasa takut.” (OS. al-A’raf (71: 55)

Contoh paling jelas bagi hal ini adalah mereka yang hidup bergelimang dosa dan kesesatan, jika engkau datangi salah seorang dari mereka dan menasihatinya serta mengingatkannya kepada Allahu ta’ala, orang itu mengangkat tangannya seraya berkata: “Semoga Allah memberi kami petunjuk!” Ia mengucapkan doa ini di hadapanmu namun diwaktu yang sama di dalam hatinya terlintas hal yang sama sekali berbeda. Ia menyayangkan senda-gurau dan kemaksiatan yang terlewat darinya dan sangat berharap agar jalan menuju kemaksiatan itu terbuka lebih lebar lagi dan lebih mudah baginya. Ia hanya pura-pura menampakkan doa ini di depanmu agar bisa segera terbebas dari nasihat-nasihatmu yang memberatkan dirinya. Andai saja seorang pelaku maksiat merasakan hinanya maksiat dalam perilakunya, dan hatinya merasa terpukul dan prihatin dengan keadaan dirinya yang terus terjerat dosa-dosa, kemudian ia mengangkat tangannya memohon hidayah dan pertolongan dari Allah, itulah yang dinamakan doa yang sebenarnya yang diperintahkan oleh Allah.

Sudah barang umum diketahui bahwa yang dapat membantu seseorang untuk berjalan di atas keistikamahan adalah taufik dari Allahu ta’ala. Jika hilang taufik dari Allah dari diri seorang pemuda yang saleh dan istikamah, maka dalam sekejap saja akan masuk ke dalam dirinya berbagai bentuk penyimpangan. Taufik dari Allahu subhanahu wa ta’ala bisa didapatkan seorang hamba dengan dua hal: tekad yang kuat dan sungguh-sungguh ke arah kebaikan serta doa yang ikhlas kepada Allah dengan penuh kerendahan diri dan kehinaan kepada-Nya. Jika seorang Muslim sudah membulatkan tekadnya untuk istikamah menuju keridaan Allah kemudian ia memohon dengan sangat kepadaNya dengan hati yang bergetar dan merendahkan diri dengan sebenar-benarnya, maka Allahu subhanahu wa ta’ala pun akan mengarahkannya ke jalan hidayah dan menjaganya dari kejahatan nafsu dan setan.

Pernah suatu hari ada seorang pemuda yang menghentikanku di pelataran kampus. Ia mengeluhkan kepadaku dengan penuh kepedihan mengenai hawa nafsunya yang terus mengajaknya berbuat keburukan dan ia hampir-hampir tidak mampu lagi mengendalikan dan mengalahkannya. Ia juga mengatakan bahwa kehidupan universitas semakin membuat nafsunya membara. Pemuda ini mendesakku untuk menunjuki jalan dan memberinya petunjuk agar ia bisa terbebas dari siksaan hawa nafsunya tersebut. Maka aku katakan kepadanya: “Dapatkah kau lihat kepedihan dan harapan yang engkau tunjukkan kepadaku saat ini? Berkeluh kesahlah kepada Allahu ta’ala dengan kepedihan yang jauh lebih mendalam, bermunajatlah kepada-Nya sambil merendah di hadapan-Nya pada saat di mana tidak ada seorang pun antara dirimu dengan Allahu ta’ala. Mohonlah kepada-Nya agar menganugerahkan kepadamu taufik dan kekuatan. Ulangi hal ini lagi dan lagi, maka Allahu subhanahu wa ta’ala akan menjawab doadoamu dan membebaskanmu dari jeratan hawa nafsu yang menyiksamu saat ini dengan sangat mudah.”

Sampainya seseorang pada kondisi yang menjadikan ia terdesak untuk mengulurkan tangannya meminta pertolongan agar dibebaskan dari siksaan yang ia derita dan tidak ia dapati di sekitarnya selain Allahu subhanabu wa ta’ala inilah yang merupakan intisari penghambaan kepada-Nya yang tertanam sejak awal ia diciptakan. Berdirinya ia dengan penuh ketundukan dan kehinaan di depan pintu Allahu ta’ala sambil berdoa, memohon, dan mengharap kepada-Nya merupakan intisari penghambaan yang harus diusahakan sebagaimana Allahu subhanahu wa ta’ala perintahkan kita untuk terus mengasahnya.

Boleh jadi engkau melihat sekelompok manusia yang meremehkan perkara doa dengan dalih bahwa apa yang diminta seorang hamba tidak keluar dari dua kemungkinan: permintaan itu sudah tertulis dalam ketentuan Allah atau tidak. Jika permintaan itu sudah tertulis dalam ketentuan-Nya maka tidak ada gunanya ja meminta perlindungan atas apa yang Allahu ta’ala tetapkan akan menimpanya, dan jika tidak tertulis dalam ketentuan Allah maka sejak awal doa itu tidak dibutuhkan. Kami tidak ingin berpanjang lebar menjawab pernyataan ini dengan jawaban-jawaban para ulama dalam kitab-kitab akidah sebab pembahasan kita ini memiliki ciri dan watak yang berbeda.

Akan tetapi, kami katakan bahwa Allahu subhinahu wa ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa dan Dia menjanjikan pengabulan dalam firman-Nya: “Dan Tuhanmu berkata: “Berdoalah kalian kepada-Ku maka akan Aku kabulkan untuk kalian,”” (OS. Ghafir (40): 60) dan janji Allahu subhanahu wa ta’ala itu benar dan tidak mungkin diingkari. Inilah yang menjadi tugasmu. Jadi untuk apa engkau Ikut campur pada sesuatu yang bukan urusanmu dan memikirkan sesuatu yang kembali kepada pengaturan Allahu ta’ala dan besarnya kekuasaan-Nya? Ketentuan Allahu subhanahu wa ta’ala adalah bagian dari keputusan-keputusan-Nya, dan pengabulan doa adalah janji yang pasti Dia tepati. Sedangkan tugasmu adalah tunduk patuh pada keputusan-Nya, mengimani janji-Nya, serta pasrah kepada pengaturan-Nya.

Maksud dari ucapan ini adalah merupakan keharusan bagi seorang Muslim untuk mencari tahu penyakit apa yang diderita oleh hatinya yang tidak diketahui kecuali oleh dirinya sendiri, menyadari bahaya dan dampak buruk yang ditimbulkannya yang dapat menghalanginya dari mencapai keridaan Allahu ta’ala walaupun ia mengerjakan amal-amal saleh yang bersifat lahiriah. Jika ia sudah menyadari hal ini, maka mulailah ia mengobatinya —di samping dengan dua obat yang sudah kami sebutkandengan doa yang terusmenerus kepada Allahu subhdnahu wa ta’ala dengan merendahkan diri, kehinaan, dan hati yang penuh kepedihan. Ia juga hendaknya menyadari bahwa ia sama sekali tidak memiliki kuasa apapun untuk memberi manfaat atau menolak keburukan dari dirinya, tidak pula hidup, mati, dan kebangkitan, serta menyadari bahwa hatinya berada dalam genggaman Allahu subhanahu wa ta’ala Yang Maha Pengasih sehingga Dialah yang mampu menyembuhkannya dari segala penyakit tersebut dan membebaskannya dari semua keburukan dan halangan yang ditimbulkannya.

Ia juga sepatutnya menjadikan tekad yang sungguhsungguh, niat yang bersih, dan kehinaan di hadapan ketuhanan dan kekuasaan Allahu subhanahu wa ta’ala sebagai sarana dan penolong baginya. Hendaknya ia juga memilih waktu-waktu yang mulia dan paling dekat kepada pengabulan doa, berusaha sekuat mungkin untuk mengambil keutamaan yang ada pada waktu sahur yang disaat itu kebisingan para pelaku maksiat mulai reda, nafsu mulai tenggelam dalam lezatnya tidur, dan saat itulah menjadi semakin tajam pandangan Allahu ta’ala kepada hamba-hamba-Nya.

Usahakan semaksimal mungkin untuk menghapus tidur dari kedua matamu pada waktu itu, bangun dan sempurnakanlah wudhu, berdirilah di hadapan Penguasa Langit dan Bumi dengan penuh kehinaan, kemudian bentangkan kedua tanganmu kepada-Nya dengan penuh keyakinan bahwa Dia melihat ketundukanmu kepada-Nya, mendengar tangisan dan munajatmu, mengamati beratnya nafasmu akibat rasa sakit yang engkau rasakan. Mintalah kepada-Nya agar menyucikan hatimu dari semua yang mengotorinya, membebaskannya dari semua keburukan yang ada di dalamnya, dan agar Dia menjauhkanmu dari dosa yang tampak dan tersembunyi. Merengeklah dalam doa-doamu, besarkan harapanmu, tangisi diri dan hari-harimu yang berlalu dalam keadaan lalai dari Allahu subbanahu wa ta’ala dan lalai dari mengawasi hatimu. Jika engkau lakukan ini secara terus-menerus, Allahu subhanahu wa ta’ala akan mengabulkan doamu, memperbaiki keadaanmu, menyucikan sanubarimu, dan memberikanmu rasa nikmatnya beribadah dan lezatnya berdoa dengan penuh keikhlasan.

Akan tetapi, engkau harus tetap menjaga keadaan semacam ini, sebab tidaklah seseorang itu dinamakan lari dan mencari perlindungan kepada Allahu subhanahu wa ta’ala dari penyakit-penyakit hati kecuali dengan terus menjaga kondisi ini. Ia adalah tangga menuju Allahu subhanahu wa ta’ala yang selama engkau hidup maka engkau harus terus meniti tangga ini. Kalau tidak, dikuatirkan pijakanmu akan terpeleset dalam sekejap saja dan engkau kembali ke keadaanmu semula.

KEEMPAT, dan ini merupakan obat yang silbi, menghindari memakan sesuatu yang haram. Karena badan yang tumbuh dari harta yang haram biasanya akan tumbuh bersamanya nafsu yang terus mengajak kepada penyimpangan dan pelanggaran dari hukum-hukum Allahu subhanahu wa ta’ala. Orang ini, walaupun secara lahiriah ia tampak menjaga hukum-hukum-Nya, namun terkumpul di dalam batinnya penyakit-penyakit yang amat sangat berbahaya. Harta yang haram bermula dari memakan harta orang lain tanpa rida darinya, kemudian berkembang menjadi berbagai bentuk yang berbeda-beda sampai akhirnya ia terjerumus dalam perkara syubhat yang lebih mendekati kepada keharaman. Siapa yang mampu melepaskan diri dari hal yang syubhat, ia mampu untuk melepaskan diri dari perkara yang haram jika ia menghendaki. Dan siapa yang memiliki alasan untuk mendekati perkara syubhat, ia tidak lagi memerlukan alasan saat menerjang hal-hal yang haram.

Memakan harta yang haram memiliki dampak yang sangat berbahaya bagi kehidupan seorang Muslim. Dampak terkecil adalah hati yang menjadi keras dengan sangat aneh yang tidak tergerak dengan nasihat-nasihat, peringatan, tidak bermanfaat baginya ajakan kepada kebaikan dan ancaman-ancaman atas perbuatan buruk, sebab adanya jurang pemisah antara akal dengan hati. Akal memahami hal itu, namun tidak memberi dampak apa-apa kepada hati. Akal menerima, namun hati tetap mengeras. Dan mustahil bagi akal untuk menjadi satu-satunya pemimpin yang mengarahkan tingkah laku seseorang dalam kehidupannya sebab dampak terbesar adalah pada hati yang merupakan pusat segala keinginan dan perasaan.

Akibat dari meremehkan pentingnya solusi dan obat ini adalah seorang Muslim hanya menjadikan keislamannya sekadar sebagai jargon yang menghiasi penampilan lahiriahnya saja, sedangkan batinnya berjalan ke arah lain dengan dorongan dari syahwat, ajakan hawa nafsu dan tabiatnya yang suka membangkang. Jika seorang Muslim terus meremehkan hal ini dan meraup harta sebanyak yang ia mampu dari mana saja tanpa memedulikan sumbernya, semua obat dan solusi yang kami jelaskan tidak akan memberi faedah sedikit pun baginya. Bacaan al-Ouran tidak akan menyadarkannya dari kelalaian, zikir dan wirid tidak akan memperbaiki keadaannya sedikit pun, dan doanya tidak akan didengar atau dikabulkan.

Imam Muslim dan Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu “anhu bahwa Rasulullah shallallahu “alaihi wa sallam bersabda:

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik pula.” Dan Allah memerintahkan kepada orangorang Muslim apa yang Dia perintahkan kepada para rasul dalam firman-Nya: “Wahai para rasul, makanlah dari apa yang baik-baik dan kerjakanlah amal saleh, sungguh Aku Maha Mengetahui semua yang kalian kerjakan.’ (OS. al-Mu’minun (23): 23). Dia berfirman: “Wabai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami karuniakan kepada kalian.’”” (OS. al-Bagarah (2): 172). Rasulullah shallallahu “alaihi wa sallam kemudian menyebutkan mengenai seorang laki-laki yang dekil dan kumal yang mengangkat tangannya ke langit sambil berseru: “Ya Rabb, wahai Tuhanku,” namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dari harta yang haram, maka bagaimana doanya akan dikabulkan?!” (HR. Muslim dan at-Tirmidzi)

Sungguh banyak jumlah kaum Muslimin hari ini jika engkau hitung dengan ukuran salat, ibadahibadah lahiriah, tasbih yang selalu di dalam genggaman, dan lisan yang dengan pandai mengulang-ulang nasihat dan ungkapan-ungkapan keagamaan. Tapi, betapa sedikit jumlah mereka jika engkau hitung dengan ukuran penjagaan diri dari harta yang haram, kepatuhan kepada hukum-hukum Allahu subhanahu wa Ta’ala terkait permasalahan harta, dan perhatian mereka kepada keridaan Allahu subhanahu wa ta’ala pada apa yang masuk ke dalam kantong mereka. Berapa banyak kita melihat orang-orang yang dianggap Muslim yang terbaik dan utama, yang mahir menyusun kata-kata yang indah dalam rangka memberi petunjuk dan mengajak kepada Islam, saat terbuka bagi salah scorang dari mcrcka kesempatan untuk meraup kcuntungan yang besar dengan cara yang tidak sesuai dengan aturan dan hukum Islam, mereka langsung menerobos hal itu tanpa rasa takut sedikit pun. Jika ada saudara Muslimnya yang mengingatkan dia mengenai hal ini, ia menakwilkan perbuatannya dengan takwilan yang tidak benar, bahkan ia membuat aturan hukum baru tanpa dasar dan dalil sama sekali.

Empat obat dan solusi ini adalah cara yang harus ditempuh untuk memperbaiki keadaan hati dan menyucikannya dari penyakit-penyakit yang samar yang oleh al-Ouran diistilahkan dengan “Bathin al-Itsm” (Dosa Batin yang Tersembunyi). Tanpa menggunakan obat ini dan tanpa perhatian yang besar terhadap dosa yang tersembunyi, keadaan umat Islam tidak akan berubah menjadi lebih baik, mereka tidak akan bersatu dalam kebenaran, dan mereka tidak akan terbebas dari berbagai rintangan yang mereka hadapi dan ributkan saat ini.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker