Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Bathinul Itsmi

BAHAYA TERBESAR

TAHUKAH ENGKAU apa itu bahaya terbesar? Atau pernahkah engkau memikirkan hal ini sekali saja?

Bahaya yang dimaksud bukanlah musuh yang tanpa gentar menyerang dan menjajah di rumahrumahmu, bukan pula kelompok yang menghancurkan kekuatan dan memporak-porandakan barisan, bukan juga senjata-senjata pemusnah massal yang canggih, juga bukan bencana kelaparan yang mengerikan yang mengancam separuh belahan dunia karena berkurangnya tingkat produksi pangan dibandingkan peningkatan jumlah penduduk.

Akan tetapi, bahaya terbesar adalah sesuatu yang jauh lebih mengerikan dari ini semua!

Ia adalah sesuatu yang memungkinkan musuh untuk menyusup ke dalam rumah-rumah. Ia adalah sesuatu yang menyiapkan senjata-senjata peledak dan bahan bakar untuk menyalakan sumbunya. Ia adalah sesuatu yang menjadi sebab timbulnya permusuhan dan perpecahan serta menghancurkan persatuan dan jiwa saling tolong menolong dalam tubuh umat. Ia benar-benar merupakan musuh terbesar kita, yaitu nafsu yang ada dalam diri kita!

Jiwa manusia yang tidak beriringan dengan amal saleh dalam perjalanannya menapaki jalur yang telah ditetapkan oleh ajaran Islam yang benar adalah bahaya terbesar yang mengintai kaum Muslimin saat ini tanpa ada keraguan sedikitpun. Hal itu karena esensi Islam tidak lain adalah pendidikan dan penggemblengan hawa nafsu agar menanggalkan segala bentuk keegoisan, kesombongan, dan keterikatan dengan segala bentuk perhiasan dunia dan masuk ke dalam mihrab penghambaan kepada Allahu subhanahu wa ta’ala dengan sukarela meski pada awalnya ia lakukan dengan terpaksa.

Ketika itu, perilaku seseorang menjadi salah satu buah dan hasil dari penghambaan jiwa kepada Allahu ta’ala, dan keduanya menjadi bukti kesungguhan satu sama lain. Sebab saat itu, telah menetap di dalam jiwa kecintaan dan persaudaraan yang sesungguhnya, sebagai ganti dari ego dan kebencian, dan nafsu, disaat itu, telah tunduk dan menghamba kepada hukum-hukum Allah sebagai ganti dari kesombongan semu atas ciptaan Allahu subhanahu wa ta’ala yang lain.

Saat itu ia juga meyakini bahwa kehidupan ini pada hakikatnya hanyalah sekadar jembatan menuju kehidupan yang kekal kelak, sehingga ia tidak diperbudak oleh dunia dan hanya mengambil bagian kebaikan dan kenikmatannya yang dapat menjadi bekal dalam meniti perjalanan berislam menuju keridaan Allahu ta’dld. Maka, terbentuklah jalinan kuat yang hakiki antara jiwa yang berserah diri pada Allah dengan perilaku yang Islami yang menjadikan kaum Muslimin bersatu dan saling tolong-menolong, juga menutup celah permusuhan, kebencian, kedengkian di antara mereka. Tidak mungkin pula timbul perpecahan dalam tubuh umat Islam yang disebabkan persaingan dalam urusan dunia atau pangkat dan kedudukan. Pada akhirnya, mereka akan memiliki kekuatan yang tidak terkalahkan dan persatuan yang tidak tergoyahkan, dan pertolongan Allahu ta’ala akan senantiasa menyertai mereka serta mereka akan hidup dengan penuh kemuliaan, kehormatan, dan rasa aman di negara-negara mereka.

Ketika jiwa manusia tidak mendapat pendidikan semacam ini, seperti keadaan jiwa-jiwa kita saat ini, maka akan ada dua sisi berbahaya pada diri seorang Muslim. Sebab disaat itu kepribadiannya akan terbagi antara amal-amal Islami yang tampak secara lahiriah dari ucapan dan perbuatan tertentu, dan jiwa yang menggebu-gebu namun tersesat dan tenggelam dalam angan-angan keduniaan dan keinginan-keinginan pribadi.

Sifat-sifat keislaman yang utama dan mulia serta perbuatan baik yang ditampakkan pemilik jiwa yang semacam ini pada akhirnya hanya akan dijadikan ajang untuk mencari keuntungan dan menjauhkan dirinya dari segala bentuk kerugian, sehingga secara lahiriah ia adalah seorang yang menunaikan hak-hak Allahu subhanahu wa ta’ala pejuang di jalan-Nya, namun pada hakikatnya ia menjadikan angan-angan dan kepentingan pribadi sebagai tujuan. Bagi pribadi semacam ini, agama hanyalah tameng yang ia jadikan sebagai pelindung dari segala penolakan atas perilaku buruk yang ia kerjakan. Atau agama hanyalah kain yang menutupi hakikat buruk jiwanya dari pandangan manusia. Padahal tidak mungkin masyarakat Islam akan bangkit dan mengenakan pakaian keislaman tanpa ada usaha dan kesabaran dalam menanggung sukarnya mendidik jiwa atau melawan keinginan hawa nafsu dan kepentingan-kepentingan pribadi.

Pemilik jiwa dan mental semacam ini akan dengan mudahnya mencari-cari alasan dan celah yang tampaknya dibenarkan syariat serta mengaburkan . kenyataan untuk menutupi kebusukan dirinya yang sebenarnya. Namun pada kenyataannya, agama sama sekali tidak dapat dijadikan sebagai sarana penipuan semacam ini. Telah datang kepada Rasulullah shallallahu “alaihi wa sallam orang-orang yang meminta izin untuk tidak ikut berperang karena khawatir akan keselamatan agamanya jika ia pergi bersama Rasulullah shallallahu “alaihi wa sallam melawan bangsa Romawi dan untuk menjaga para wanita kaum al-Ashfar di sekelilingnya. Maka Allahu subhanahu wa ta’ala pun menurunkan firman-Nya sebagai berikut:

“Dan di antara mereka ada yang berkata: “Izinkanlah aku (tidak pergi berperang) dan janganlah engkau menjerumuskan aku ke dalam fitnah.’ Ketahuilah, bahwa mereka telah jatuh ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahannam benar-benar meliputi orang-orang kafir.” (OS. at-Taubah (91: 49)

Ada orang yang lain datang kepada Baginda Nabi ‘alayhish-shalatu was-salam sambil berpurapura menunjukkan kesusahan dan berkata: “Sungguh rumah-rumah kami di Madinah akan menjadi sasaran empuk bagi musuh dan tidak ada yang menjaganya kecuali anak-anak kecil dan para wanita.” Mereka bertujuan untuk tidak ikut berjihad pada perang Khandag. Maka Allahu ta’ala pun berfirman mengenai mereka:

“Dan sebagian dari mereka meminta izin kepada Nabi dengan berkata: “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada yang menjaganya), padahal ia sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak menghendaki kecuali untuk melarikan diri.” (OS. al-Ahzab (331: 13)

Bagaimana mungkin pertolongan Allahu subhanahu wa ta’ala dapat terwujud jika lisan-lisan dan perkataan mereka berada pada lembah dakwaan-dakwaan kosong dan jiwa-jiwa mereka tersesat pada lembah lain yang berisi persaingan memperebutkan dunia dan berlomba-lomba memenuhi keinginan hawa nafsunya?! Sungguh unsur-unsur kejayaan agama Islam tidak mungkin membuahkan hasil dalam kehidupan orang-orang semacam ini. Mereka sendiri tidak saling bersepakat dan bersatu, sebab lisan mereka mengungkapkan satu hal tapi pada saat yang sama jiwa mereka tersesat menuju perkara yang lain. Maka tidak ada satu tujuan hakiki yang menyatukan mereka, tidak juga ada satu kepentingan bersama antara mereka.

Orang-orang semacam ini bahkan tidak saling mempercayai satu sama lain, karena pengetahuan mereka mengenai keadaan jiwa mereka menjadi dasar kecurigaan mereka kepada orang lain. Kecintaan dan kerukunan yang tampak antara mereka adalah kebohongan, sebab kecenderungan mereka kepada dunia adalah sumber kedengkian yang menyebar di antara mereka. Sehingga, tidaklah salah seorang dari mereka mendapat kebaikan atau kedudukan atau harta kecuali pasti timbul dengki yang merobek-robek jiwa orang yang lain dan kebencian yang membakar hati mereka. Bahkan bisa jadi salah seorang dari mereka tidur di malam hari dalam keadaan penuh kegelisahan mengenai hal ini lebih dari pada kegelisahannya terhadap keadaan kaum Muslimin atau kegelisahan memikirkan keadaannya kelak saat berdiri di hadapan Allahu subbanahu wa ta’ala di akhirat.

Mereka juga tidak saling tolong-menolong kecuali dalam skala kecil yang menjadikan mereka bisa mencapai kepentingan masing-masing. Namun mereka rekayasa hal ini sampai mendapat nama baik dan kedudukan terpandang. Maka pada hakikatnya mereka saling membantu dengan harapan mencapai tujuan duniawi yang tidak mungkin terwujud kecuali melalui jalan ini. Seandainya jalan yang mereka lalui mengarah pada tujuan lain di balik itu, engkau akan lihat mereka berpisah dan mengambil jalan yang berbeda yang saling berjauhan. Engkau juga akan dapati masing-masing dari mereka memiliki pembenaran untuk itu. Hilang sudah persatuan, sikap saling menolong dan persaudaraan mereka tanpa bekas sama sekali.

Atas dasar itulah mereka tidak pernah mendapat pertolongan. Sebab Yang Maha Memiliki pertolongan dan kemenangan senantiasa mengawasi mereka dan mengetahui hakikat tujuan mereka. Tidak ada sedikitpun keadaan mereka yang tersembunyi dari-Nya. Maka, kapan saja engkau melihat perkumpulan yang banyak atau engkau mendengar kata-kata yang menakutkan dan memantik semangat atau engkau mendapati perencanaan yang bagus dan sangat rinci, maka sedikitpun itu semua tidak akan membuat gentar musuh dan tidak akan membawa persatuan, karena semua itu adalah buih, dan tidak ada orang yang takut kepada buih.

Semoga Allahu ta’ala melimpahkan selawatnya kepada Baginda Nabi “alayhish-shalatu was-salam yang telah memperingatkan Muslimin tentang bahaya besar ini saat beliau shallallahu “alaihi wa sallam bersabda:

“Hampir datang masanya umat-umat lain berkumpul untuk “memangsa” kalian seperti orangorang yang berkumpul di hadapan sebuah hidangan.” Para sahabat bertanya: “Apa karena jumlah kami ketika itu sedikit, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Bahkan kalian saat itu banyak, akan tetapi kalian bagaikan buih yang terbawa banjir. Allah angkat wibawa kalian dari hati para musuh dan akan tertanam dalam hati kalian al-Wahn.” Para sahabat bertanya: “Apa itu al-Wahn?” Beliau menjawab: “Kecintaan pada dunia dan benci pada kematian.”

Sumber marabahaya terbesar ini berpusat pada satu hal, yaitu terikatnya hati kepada dunia dan memposisikannya pada kedudukan yang jauh lebih tinggi dari kedudukannya yang hakiki sebagaimana yang Allahu ta’ala tempatkan. Dunia, tidak seperti yang disangka banyak orang, bukan hanya sebatas dirham, dinar, tanah, dan bangunan, namun dunia adalah semua perwujudan syahwat yang digemari hawa nafsu, seperti kedudukan, pangkat, kepemimpinan, kesombongan, dan condong kepada macam-macam nikmat. Semua hal itu adalah dunia yang dengannya Allahu ta’ala menguji manusia agar mereka memerangi nafsunya sehingga mampu menundukkannya dan terbebas dari belenggu perbudakan hawa nafsu serta menjadikannya sebagai kendaraan menuju keridaan Allahu ta’ala.

Sebab ketika hati telah terikat pada keinginankeinginan duniawi dan tidak mampu membebaskan diri dari belenggunya dan tidak pula orang tersebut memerangi nafsunya, melawan hal-hal ini, akan bermunculanlah setelah itu bermacam-macam penyakit hati yang termasuk ancaman terbesar pada kehidupan kaum Muslimin. Hati pada akhirnya dijangkiti sifat sombong, dengki, suka pamer, kagum dengan diri sendiri. Semua jenis kebencian dan iri hati serta sifar pelit juga menjeratnya yang menyebabkan ia menjadi zuhud dalam perkara-perkara akhirat dan ganjaran kebaikan, menjadi menipis rasa takutnya kepada hukuman dan azab Allahu subhinahu wa ta’ala, jihad berubah menjadi persaingan memperebutkan dunia setelah sebelumnya merupakan upaya untuk memerdekakan diri dari dunia dan mengalahkan semua tipuannya.

Perhatikan sabda Nabi “alayhish-shalatu was-salam yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim berikut:

“Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian. Namun, aku khawatir dumia dibentangkan kepada kalian sebagaimana ia dibentangkan bagi orang-orang sebelum kalian, maka kalian saling bersaing sebagaimana mereka bersaing hingga dunia menghancurkan kalian sebagaimana ia menghancurkan orang-orang sebelum kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bagaimanakah terjadinya kehancuran tersebut? Sebagaimana yang telah aku katakan kepadamu bahwa ham yang terlalu terkait dengan dunia akan ditimpa berbagai jenis penyakit berbahaya. Penyakit-penyakit mengakibatkan goyahnya persatuan Islam, hilangnya kepercayaan antara sesama Muslimin, tiap kelompok dan pribadi menjadi saling bermusuhan, hilang pula sebab-sebab alasan mereka saling tolongmenolong, dan mereka saling merampas hak atas dasar permusuhan dan kebencian, hingga para musuh Islamlah yang memetik buah dari ini semua berupa kekuasaan, kekuatan, dan kemenangan. Jika salah seorang Muslim mati kehabisan nafas atau tertimpa reruntuhan rumahnya maka sungguh itu lebih mulia bagi mereka dari kehancuran yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu “alaihi wa sallam dalam hadis tadi yang sudah dibuktikan dengan fakta-fakta yang ada di lapangan.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker