DAMPAK-DAMPAK BAHAYA BESAR INI
DAMPAK TERBESAR yang dirimbulkan oleh bahaya ini, seperti yang telah aku jelaskan, adalah robohnya pondasi masyarakat yang Islami, hilangnya eksistensi kaum Muslimin, tercerai berainya urusan mereka dan gerakan-gerakan keislaman bergeser menjadi sekadar jargon dan gerakan-gerakan dangkal yang mandul, tidak membuahkan hasil sama sekali.
Termasuk dampak dari marabahaya ini adalah bahwa gerakan-gerakan keislaman berubah menjadi sebatas rancangan dan wacana serta aktivitas yang hanya menyentuh ranah “kulit” tanpa pernah masuk sampai ke intinya. Apabila Islam terus berkurang kadarnya dalam hati hingga akhirnya tidak tersisa sama sekali, ia akan digantikan oleh dunia, hawa nafsu, dan kepentingan-kepentingannya. Pemilik hati yang semacam ini, dan mereka adalah kaum Muslimin, mereka berharap agar Islam kembali berjaya supaya mereka dapat menyombongkan diri dan mendapat kekuasaan. Ini adalah harapan bersifat duniawi yang sesuai dengan apa yang menguasai hati mereka dan terpaut dengannya hawa nafsu mereka. Mereka bergegas membela dan berupaya memenangkan mazhab mereka namun usaha mereka ini hanya sebatas gerakan yang dibangun di atas teori, ide-ide, dan seperangkat aturan yang dangkal.
Mereka lupa bahwa antara nilai-nilai dasar Islam dengan nilai-nilai dasar aliran pemikiran yang lain terdapat jurang perbedaan yang begitu besar. Islam dibangun di atas pondasi jiwa yang penuh dengan rasa penghambaan kepada Allahu ta’ala, dan itu adalah titik tolak pertama bagi semua amal, usaha, dan gerakan apapun yang berjalan di atas ajaran Islam. Hal ini menuntut setiap pribadi Muslim untuk membenahi hati dan jiwanya sebelum segala yang lain. Sedangkan aliran-aliran pemikiran yang lain tidak pernah menuntut pengikutnya untuk melakukan sesuatu yang terkait dengan jiwa mereka dan tidak mengajak mereka untuk menjauhi apa yang dinamakan al-Ouran sebagai “dosa batin yang tersembunyi.” Karena itu, semua bentuk ajakan para pengikut aliran semacam ini bermula dari sebuah aksi dan akan berujung pada aksi-aksi lain yang tidak berujung, sebab hawa nafsu terus menyertai mereka akibat tidak pernah dididik untuk meninggalkan syahwat dan kepentingannya.
Akan tetapi, berpalingnya kebanyakan orang Islam dari perbedaan yang mendasar ini dan ketidak: pedulian mereka terhadap perbaikan hati dan jiwa menjadikan mereka meniru tata cara dan metode kelompok lain yang menjadikan mereka terkungkung dalam pusaran perdebatan, seminar, saling melempar ide-ide, menciptakan metode-metode, namun tanpa pernah membawa dampak apa-apa. Kebanyakan dari mereka juga mungkin saja menganggap remeh perkara ibadah, zikir, menghadiri salat berjamaah, dan bentukbentuk ketaatan lainnya yang bertujuan menghidupkan dan menyadarkan hati akan hakikat keislaman ini dan membersihkannya dari penyakit-penyakit yang sedang kita bicarakan. Mereka menganggap ini semua adalah kebiasaan orang-orang awam dan tidak layak bagi seorang aktivis yang memperjuangkan agama Islam.
Ini sungguh sebuah anggapan yang mengherankan sekaligus menyedihkan. Seperti yang aku jelaskan, ini semua disebabkan oleh hilangnya pemahaman mengenai perbedaan mendasar antara Islam dan berbagai aliran pemikiran lainnya. Dan hilangnya pemahaman ini menjadikan mereka lalai dari memerangi hawa nafsu dan membiarkannya mencari apa ia inginkan dan cita-citakan.
Penjelasanku ini sama sekali tidak bermakna bahwa semua usaha dan gerakan keislaman tidak perlu didasari dengan perencanaan matang atau aksi apapun. Yang aku maksudkan adalah bahwa semua kesuksesan usaha yang berjalan di atas landasan Islam tergantung pada satu poin penting yang harus selalu ada, yaitu memperbaiki hati, meluruskannya, dan mencabut tujuan-tujuan duniawi darinya.
Dampak lain dari bahaya besar ini adalah timbulhnya pandangan negatif terhadap mereka yang memfokuskan diri pada pembersihan hati dengan menempuh berbagai cara yang dibenarkan oleh syariat. Kebanyakan orang menganggap bahwa mereka yang fokus dengan pembersihan hati semacam ini sebenarnya tengah menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak produktif dan tidak bermanfaat. Bahkan, mungkin ada dari mereka yang mengatakan bahwa itu semua adalah bid’ah dan kesesatan yang tidak pernah diajarkan oleh agama Islam. Namun faktanya, orang-orang yang sibuk memperbaiki hati dan jiwa mereka adalah orang-orang yang mengetahui hak-hak Allahu ta’ala dan berusaha menunaikannya, dan apa yang mereka lakukan ini tidak lain adalah apa yang diajarkan oleh Baginda Nabi Muhammad shallallahu “alaihi wa sallam. Bahkan, itu adalah intisari ajaran Islam. Tidak ada kebaikan pada keislaman seseorang jika keislamannya itu tidak mampu menjadikan hawa nafsunya tunduk dan terdidik, dan tidak ada kebaikan pada keislaman sescorang selama ia tidak memperbaiki hatinya dan mengeluarkan kepentingan-kepentingan duniawi darinya.
Benar, kita harus mengingkari mereka yang hanya membatasi dirinya pada ritus-ritus semacam ini sampai melalaikan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar yang juga sangat penting dan keharusan memperbaiki kebobrokan-kebobrokan yang lain. Orang semacam ini justru meninggalkan porsi yang sangat besar dari hal-hal yang Allah wajibkan kepadanya dengan dalih ingin memperbaiki hati dan keadaannya. Kewajiban dia adalah menjadi pribadi Muslim yang sejati, yang menunaikan hak-hak Allahu ta’ala seluruhnya, dimulai dari memerangi hawa nafsu kemudian memperbaiki keluarga dan kerabatnya hingga kemudian saling bahumembahu dengan saudara Muslimnya yang lain untuk membangun suatu masyarakat yang Islami.
Dampak negatif lain dari bahaya ini adalah sikap fanatisme yang mengakar kuat dalam jiwa kepada kelompok di mana ia bernaung, baik kelompok itu dalam skala keluarga, kabilah, guru, atau komunitas, dengan catatan sikap fanatisme ini menjadikan pertolongan dan sikap persaudaraannya terbatas pada kelompok tersebut saja. Sikap ini terus mengisi relung jiwanya dan semakin kokoh hingga hilang firman Allahu subhinahu wa ta’ala dari ingatannya yang mengatakan: “Sesungguhnya orang mukmin adalah bersaudara (OS. al-Hujurat (49): 10),” dan digantikan dengan makna persaudaraan yang sempit yang ia tafsirkan sendiri. Sikap ini akan menghasilkan efek berbagai buruk tanpa disadari oleh orang tersebut. Efek buruk yang paling jelas adalah apa yang sudah sering engkau saksikan bagaimana mereka beralih dari menghargai buah pikiran dan ide menjadi pengkultusan pada individu dan kelompok. Ia jadikan kondisi orang yang ia kultuskan itu sebagai tolak ukur kebenaran yang ia yakini dan bukannya menjadikan kebenaran sebagai timbangan untuk menilai dan memposisikan seseorang.
Sebaliknya, mereka memandang sebelah mata kelompok yang lain, tidak melihat dan memikirkan hal-hal penting yang ada pada kelompok di luar mereka sebab mereka meyakini bahwa kebenaran yang sejati – dalam pikiran merekatidak akan muncul selain dari kelompoknya. Sehingga jika ada hal yang bertentangan dengan mereka yang muncul dari kelompok lain, bagi mereka itu adalah bukti kesalahan pandangan kelompok tersebut. Namun jika ada hal yang sesuai dengan pandangan kelompok mereka, maka mereka mengklaam bahwa pandangan tersebut bersumber dari mereka dan diambil dari buah pemikiran mereka. Melalui cara inilah mereka banyak menyesatkan manusia dan karena sebab inilah mereka berani mengganti dan mengubah-ubah hukum dan syariat Allahu ta’ala.
Semoga Allah merahmati Badi’uz-Zaman Sa’id an-Nursi, seorang dai agung, saat ia merasa bahwa di antara murid-muridnya ada yang mengkultuskannya dengan berlebih-lebihan. Mereka mengagungkan kebenaran sebab itu muncul dari an-Nursi, dan menjadikannya sebagai contoh paling sempurna. Syaikh an-Nursi akhirnya menulis risalah panjang kepada murid-muridnya dan berkata di dalamnya:
“Jangan sampai kalian mencampuradukkan kebenaran yang aku serukan dengan pribadiku yang fana dan penuh dosa ini. Akan tetapi, segeralah kalian kaitkan kebenaran itu kepada sumber utamanya, yaitu al-Guran dan Sunnah Nabi “alayhish-shalatu was-salam. Ketahuilah, sesungguhnya aku tidak lebih dari seorang “makelar” yang menawarkan “barang dagangan” Allah, dan aku bukanlah seorang manusia yang terbebas dari dosa. Karena itu mungkin saja aku berbuat dosa atau tampak dariku penyimpangan yang dapat mengaburkan kebenaran yang kalian kaitkan denganku itu sebab dosa dan penyimpanganku. Hingga aku pada akhirnya menjadi contoh buruk bagi manusia dalam melakukan dosa atau aku menjauhkan manusia dari kebenaran sebab ia tercemar oleh penyimpangan dan dosa-dosaku.”
Sumber sifat fanatisme yang berbahaya ini kembali kepada watak egois dalam diri manusia yang juga termasuk penyakit hati yang paling berbahaya yang harus diobati dan dilawan dengan tekun dan terus menerus oleh seorang Muslim agar terbebas darinya. Hanya saja, ego bisa muncul secara individual pada mereka yang mendapat penghormatan berlebihan dan pengkultusan dibandingkan berbaur dalam kelompok atau komunitas tertentu. Ego juga bisa muncul secara komunal pada mereka yang sibuk dan fokus pada komunitas dan kelompok mereka lebih dari perhatian mereka kepada pribadi mereka sendiri.
Bahkan ego juga bisa muncul dalam proses dakwah kepada kebenaran, seperti seseorang yang marah karena kemungkaran yang dilakukan di hadapannya yang dimaksudkan untuk menghina pribadinya sebagai tokoh agama. Engkau akan banyak mendapati seseorang yang secara lahiriah marah ketika melihat kehormatan agama direndahkan, namun jika engkau telisik jauh ke dalam hatinya akan engkau lihat bahwa kemarahannya tersulut karena kehormatan dan kedudukan pribadinya yang ikut terlecehkan. Buktinya adalah jika saja bukan karena kedudukannya sebagai pemuka agama yang masyhur dan ia adalah seorang yang tidak dikenal oleh para pelaku kemungkaran itu, ia akan berlalu begitu saja tanpa menoleh sedikitpun dengan tanpa beban.
Sama halnya dengan mereka yang menisbatkan diri pada guru atau kelompok tertentu dan terus dalam sikap fanatiknya yang menjadi asupan bagi keegoisannya sendiri. Ia terus dalam keadaan ini sampai pada derajat ia menganggap bahwa orang Islam yang sejati hanyalah mereka yang mengikuti guru atau kelompoknya. Sedangkan orang Islam yang lain adalah kaum Muslimin kelas dua, dan siapa saja yang tidak berada dalam kelompoknya sama saja musuh baginya. Ego yang sifatnya kolektif seperti ini bisa timbul sebab para pengikut kelompok semacam ini selalu dijejali doktrin-doktrin dan slogan-slogan yang ditampilkan seakan-akan itu adalah bagian dari agama.
Adapun obat bagi fanatisme yang tumbuh dari kesombongan seperti yang saya jelaskan bukan dengan cara meninggalkan guru yang mengajarinya atau mursyid yang membimbingnya atau kelompok tempat ia bekerjasama. Tidak, bukan ini obatnya. Obatnya ada pada kesadaran bahwa guru tempat ia belajar atau mursyid yang membimbingnya dalam perjalanan spiritual atau kelompoknya adalah sekadar sarana dan bukan tujuan akhir, dan kesadaran bahwa penting atau tidaknya suatu sarana tergantung pada seberapa penting tujuan akhirnya yang merupakan asas dari semua yang ia lakukan. Jika seorang Muslim menyadari hal ini, ia akan tahu bahwa kesetiaannya seharusnya terarah pada tujuan yang tidak lain adalah Islam itu sendiri. Adapun ikatannya dengan seorang guru atau komunitas adalah sebuah sarana yang semestinya hanya sebatas bagaimana sarana tersebut dapat mewujudkan tujuannya dengan sebaik-baiknya dan membuatnya mampu menjadi seorang yang berserah diri secara total kepada agama Allahu ta’ala dan berpegang teguh pada hukum-hukum-Nya.
Jika seorang Muslim memelihara kesetiaan hakiki seperti ini dengan menambahkan ikatan hati yang kuat dan rasa cinta, maka ego akan meleleh dalam kobaran api cinta dan keterikatan hati tersebut dan tidak akan tampak lagi keegoisan individu ataupun kelompok. Bahkan itu semua tergantikan dengan leburnya semua keinginan di dalam hakikat keislaman di mana saja hakikat keislaman itu berada. Setelah itu, dengan siapapun ia terhubung, maka hubungannya tersebut ia naungi di bawah naungan kesetiaan yang hakiki pada Islam dan tunduk pada pengawasan agama.
Pada akhirnya kecintaan kepada gurunya tidak menyibukkannya dari hukum-hukum Allahu subhinahu wa ta’ala. Tidak pula keikutsertaannya dalam suatu kelompok menghalanginya dari mencintai dan membela Muslim yang lain. Hal ini dapat terwujud sebab hubungannya dengan guru atau kelompoknya merupakan cabang dari ikatan yang sangat kuat antara dirinya dengan al-Guran dan Sunah Baginda Rasulullah shallallahu “alaihi wa sallam dan aturanaturan serta hukum yang ada pada keduanya.
Intinya, semua tragedi dan musibah yang menimpa kaum Muslimin hari ini bersumber dari bahaya yang amat besar ini. Jika tidak ada bahaya semacam ini, akan muncul sifat jujur dan ikhlas yang akan menumbuhkan kepercayaan antara sesama mereka dan menjadikan mereka saling membantu, bersatu padu dalam waktu singkat dan cara yang sangat mudah. Jika mereka berhasil mewujudkan ini, akan muncul elemen-elemen kekuatan dan timbul rasa takut dan wibawa pada hati musuh dan kembali kemuliaan Is: lam yang hilang serta kedudukan dan eksistensi kaum Muslimin kembali tampak di seantero dunia.
Namun, saat hati mereka berpaling dan bergantung kepada tipuan-tipuan dunia berupa harta atau pangkat atau kedudukan atau berbagai macam bentuk syahwat, tumbuh di antara mereka persaingan untuk memperebutkan itu semua. Hal itu menimbulkan rasa benci dan dengki serta menjadikan mereka saling mewaspadai satu sama lain dengan pandangan kedengkian atau penghinaan serta sirna rasa saling percaya di antara mereka dan digantikan oleh prasangka-prasangka dalam hati mereka. Para musuh yang mengetahui penyakit dan musibah yang mematikan ini langsung memanfaatkannya dan memusatkan semua usaha mereka pada penyakit ini dan menjadikannya sarana paling cepat untuk menghancurkan kaum Muslimin.
Adapun topeng yang kita lihat berupa perhatian yang besar kepada Islam, ajakan kepada Islam, rancangan dan ide-ide untuk mewujudkan hal tersebut, itu semua tidak memiliki efek dan dampak apa-apa sama sekali. Sayangnya, tipu muslihat ini berhasil mengelabui sekelompok pemuda dan mengobarkan semangat keislaman dalam jiwa pemikiran mereka yang masih belia. Mereka belum mampu berpikir dengan tepat, sehingga setiap kali mereka melihat bentuk perhatian kepada agama Islam atau perkataan indah tentang itu, mereka langsung terbakar semangatnya untuk berusaha, berjuang, dan berjihad dengan segenap kemampuan mereka dan dengan mengerahkan apa saja yang memungkinkan bagi mereka.
Jika ada sebab bagi rahmat Allahu subhanahu wa ta’ala yang turun kepada kita, maka itu adalah berkat mereka. Jika ada penghalang antara kita dengan murka Allah, maka itu adalah sebab ketulusan mereka. Para pemuda yang menghabiskan masa muda mereka yang menyenangkan dengan berjalan di atas jalan Allah yang dikelilingi dengan kesenangan-kesenangan hawa nafsu yang menipu, mereka beriman kepada janji-janji dan ancaman Allah, dan cita-cita mereka adalah menggapai rida-Nya. Maka, wahai Allah Yang Memberi petunjuk pada kebaikan dan Maha Membolak-balikkan hati, sucikan hati kami dari semua sifat buruk yang menjauhkan kami dari menyaksikan-Mu, dari cinta-Mu dan dari berpegang teguh pada agama-Mu. Satukan kami dalam upaya menuju rida-Mu dan angkat derajat mereka yang Engkau jadikan sebagai penyeru kepada jalan-Mu hingga mereka sampai pada derajat mulia ini dengan penuh ikhlas, kesungguhan, dan melebur di dalam agama-Mu, serta jadikan mereka sesuai dengan persangkaan para pemuda yang memiliki hati yang suci itu. Kabulkanlah wahai Yang Maha Mendengar doa.









One Comment