Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Bathinul Itsmi

MARI KITA BERPISAH DALAM SEBUAH PERJANJIAN

AKU MENGAJAKMU, wahai pembaca yang budiman, dan juga diriku sendiri agar tidak menjadikan bagianku dan bagianmu dari buku ini hanya sekadar menyusun ucapan dan memperindah perkataan. Juga bukan sekadar membaca atau mempelajari. Aku mengajakmu untuk berpisah dengan membawa janji di hadapan Allahu subhanabu wa ta’ala yang akan kita pegang teguh. Sebuah janji yang menjadi rahasia kebahagiaan kira di dunia, menjadi seberkas cahaya pada hati kira saat hari penghitungan amal kelak, dan menjadi lintasan yang kokoh saat kita berjalan melewati shirath.

Mari kita berpisah sambil berjanji bahwa kita akan bangun bersamaan dengan munculnya fajar setiap hari jika kita tidak bisa bangun sebelum itu, kita mulai lembaran baru hari kita dengan salat subuh berjamaah yang pertama di masjid terdekat, dan kita tetap berada di tempat sambil terus menghadap Allahu subhanahu wa ta’dla, berzikir, dan berdoa sampai terbit matahari.

Kita berjanji untuk pergi ke masjid terdekat saat mendengar azan di manapun dan dalam keadaan apa pun kita untuk salat fardhu bersama jamaah yang pertama, sebab kehidupan dunia ini tidak akan mencelakakan seorang Muslim yang bersandar dan bergantung kepada Allahu ta’ala lima kali dalam sehari semalam. Kita juga berjanji untuk mengerahkan seluruh kemampuan untuk tidak menggunakan usia kita yang begitu berharga kecuali dalam ketaatan kepada Allahu ta’ala, atau kegiatan yang dianjurkan syariat seperti menuntut ilmu dan mencari rezeki halal, atau rekreasi yang mubah saat kita mengalami kejenuhan dan capek.

Dan saat malam datang dan semua dari kita mulai menuju ke tempat tidurnya, hendaknya kita semua ingat bahwa bisa jadi kita akan tidur dan tidak terbangun lagi, dan ini adalah saat terakhir kita di dunia. Disaat itu hendaknya ia menghadirkan kembali apa yang telah ia kerjakan sepanjang umurnya, berapa banyak yang ia habiskan dalam kelalaian dan kemaksiatan, kemudian hendaknya ia memohon ampun kepada Allahu subhanahu wa ta’ala dengan hati yang penuh penyesalan, lalu membaca mu’awwidzatain – dua surat pelindung(yakni, Al-Falaq dan an-Nas), serta surat al-Ikhlas, al-Kafirun, dan zikir-zikir lain yang telah diriwayatkan dari Baginda Nabi Muhammad shallallahu “alaihi wa sallam.“ Kemudian hendaknya ia berusaha agar tidak terlelap kecuali ia dalam keadaan bertasbih, membaca istighfar, dan berzikir.

Jika dunia dihadapkan kepadamu dengan segala kebaikannya, kenikmatannya, atau dengan segala bencana dan keburukannya, jangan lupa pada hakikat yang memenuhi seluruh jagat raya: bahwasanya tidak ada yang menganugerahkan, menghalangi, memberi manfaat atau mudarat kecuali Allahu subhanahu wa ta’ala, dan manusia tidaklah memiliki kuasa atas semua urusannya ataupun urusan sesamanya. Lalu gantungkan hatimu hanya kepada-Nya, sembari bersyukur atas segala nikmat-Nya, bersabar atas segala cobaan-Nya, dan tunduk di depan pintu-Nya.

Selepas menunaikan salat dan membaca wirid-wirid setelahnya, janganlah berpindah dari tempat dudukmu sampai engkau mengangkat kedua tanganmu untuk memohon kepada Allahu subhanahu wa ta’ala, dengan hati yang bergetar dari relungnya yang terdalam, dengan merendahkan diri dan tunduk sembari memohon semua kebutuhanmu. Mintalah agar dihindarkan dari segala yang kau takuti, dan mintalah ampun atas perbuatan burukmu. Karena tidak ada kebaikan sedikitpun dari salat yang terputus, yang tidak diakhiri dengan merendahkan diri dan meminta pertolongan dan kebutuhannya kepada Tuannya.

Jika kau merasakan kemarahan manusia padamu, usahakan agar engkau mendapatkan keridaan Allahu subhinahu wa ta’ala sebagai sebaik-baik pelipur lara yang dapat menyibukkanmu dari kemarahan mereka, dan hal tersebut lebih baik daripada manusia rida kepadamu namun Allahu ta’ala marah terhadapmu.

Jika hawa nafsumu mengajakmu untuk menggunjing saudara Muslimmu, ingatlah bahwa engkau mempunyai keburukan-keburukan yang bila Allahu subhanahu wa ta’ala menyingkap tabir-Nya darimu, maka dirimu dan aib-aibmu akan menjadi objek perbincangan disemua tempat-tempat perkumpulan mereka. Jika kau mengingat hal tersebut, rasa malu akan menjadikanmu beranjak dari pembicaraan haram seputar kehormatan manusia menuju rasa syukur yang mendalam kepada Allahu subhanahu wa ta’ala karena membentangkan tabir-Nya menutupi aib-aibmu.

Berusahalah agar modal utamamu saat kelak menghadap Allahu ta’ala adalah hati yang bersih dan suci dari kotoran iri dan benci, sebab sedikit amal ketaatan sudah lebih dari cukup jika dibarengi dengan hati yang suci dan selamat dari segala penyakit. Akan tetapi, ketaatan yang banyak tidak akan bermanfaat jika dibarengi dengan hati yang penuh kedengkian.

Jika nafsumu mengajakmu mengerjakan sesuatu yang haram atau menarikmu untuk melanggar poin poin perjanjian ini, maka ingatlah perihal kematian jika engkau memang seorang yang benar-benar beriman kepada Allahu subhanahu wa ta’ala, sebab mengingat mati mampu meminimalisir kemaksiatan yang banyak dan memaksimalkan ketaatan yang sedikit.

Dan jangan lupa untuk mendoakan saudaramu ini semoga Allahu subhanahu wa ta’ala memberinya taufik agar terus mampu menjalankan janji ini, dan doa yang sama dariku kupanjatkan pula untukmu, Amin.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker