INILAH OBAT DAN JALAN KELUAR
SEBELUM AKU memulai penjelasanku, ada hal yang harus aku tanyakan: tahukah engkau di mana letak masalahnya? Yakinkah engkau bahwa penyakit ini benar-benar ada? Pertanyaan ini menjadi penting sebab kesadaran terhadap masalah merupakan sebagian dari solusi, dan keyakinan terhadap keberadaan suatu penyakit merupakan sebagian dari proses penyembuhan itu sendiri. Jika engkau belum meyakini apa yang telah aku jelaskan dan engkau masih berada dalam keraguan mengenai sumber bencana yang tengah kita hadapi dalam berbagai bentuknya hingga pada bahaya terbesar yang baru saja aku jabarkan secara singkat, maka penjelasan mengenai obat penyakit tersebut sama saja tidak akan membawa manfaat sebab tidak ada dorongan bagimu untuk menggunakannya.
Namun jika penjelasanku sudah tertanam dalam benakmu dan engkau sudah meyakini bahwa itulah sumber semua keadaan yang kita alami saat ini, maka engkau akan mendengarkan apa yang hendak aku jelaskan ini dengan penuh perhatian dan selama engkau berislam dengan sungguh-sungguh maka engkau akan berusaha sekuat tenaga menggunakan obat ini dan mengajak serta mengingatkan orang lain tentang, nya. Seiring berjalannya waktu, akan mudah bagimu untuk menjadi semakin yakin bahwa inilah solusi yang tepat dan satu-satunya, dan bahwa seluruh kaum Mus. limin -dalam semua tingkatannyaamat sangat me. merlukannya dan harus mengambil manfaat darinya.
Aku tujukan apa yang aku jelaskan ini kepada diriku sendiri pertama-tama, kemudian kepada siapa saja dari kalangan kaum Muslimin yang ingin mendengarkan, sambil aku memohon kepada Allahu subhanahu wa ta’dla agar Dia menjadikan kita orang-orang yang saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran di jalan kebenaran itu.
Seorang murid yang tengah duduk menuliskan jawaban dengan sangat serius di dalam ruang ujian meminta segelas air kepada pengawas ujian. Setelah selesai minum, ia memperhatikan gelas yang ia gunakan untuk minum, ia mengagumi betapa bening dan mulus serta betapa hebat perusahaan yang memproduksinya. Ia lupa pada ujian, soal-soal yang harus ia jawab, dan waktu yang berlalu begitu cepat dan ia masih terus merenungkan gelas yang ia gunakan tadi. Menurutmu, apa solusi paling tepat untuk menyadarkan murid ini dari lamunannya dan mengembalikan fokusnya kepada ujian yang sedang ia hadapi?
Solusinya sangat mudah, yaitu dengan mendatangkan seseorang yang memperingatkannya bahwa ujian akan segera berakhir dan waktu yang tersisa tinggal sedikit serta para pengawas tengah bersiap mengumpulkan kertas ujian dari para murid. Permisalan ini dengan masalah yang tengah kita bahas sangatlah mirip, tidak ada bedanya. Hanya saja pada masalah yang kita bahas, ruang ujiannya jauh lebih besar dan lebih luas, serta ujian yang kita hadapi jauh lebih sulit dan berbahaya. Namun solusinya tetap sama, yaitu harus ada yang mengingatkan orang tersebut mengenai dirinya, memperingatkannya mengenai waktu —bahkan detik-detikyang terus berjalan, dan kepada tujuan akhirnya kelak yang sangat menegangkan. Dan sebaik-baik pengingat akan hal ini adalah sesuatu yang berada di dalam dirinya. Solusinya adalah dengan sama-sama kita menyadari identitas kita sesungguhnya dalam kehidupan ini, tugas yang harus kita jalankan, dan kita terus-menerus mengingat hal ini setiap kali kita lalai dan lupa.
Lalu, apa identitas kita yang sesungguhnya? Kita semua adalah hamba Allahu ta’ala, di bawah kekuasaan-Nya, di dalam genggaman-Nya seluruh apa yang kita lakukan, kepada-Nya kita kembali, dan hidup mati kita adalah milik-Nya. Identitas inilah yang dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya: “Sungguh salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku adalah untuk Allah.” (OS. al-An’am (6J: 162). Identitas ini mencakup seluruh mukmin dan kafir, semua sama.
Adapun tugas yang karenanya kita diciptakan adalah menjalankan penghambaan tadi dengan sebaikbaiknya dengan menjadikannya sebagai dasar dan patokan semua perbuatan dan jalan hidup kita. Hal ini dapat terwujud jika kita mampu melampaui kebanyakan watak hawa nafsu dan menjadikannya tunduk pada perintah Allah. Kemudian, hanya memohon kepada Allah dalam semua hajat, tidak menggantungkan hati kepada selain-Nya, dan tidak mengharap kebaikan atau berlindung dari keburukan kecuali kepada-Nya. Inilah perbedaan jalan hidup antara mukmin dan kafir.
Jika kita sudah memahami hal ini, maka kita akan menyadari tujuan agung yang harus kita arahkan hidup kita kepadanya, kita juga akan menyadari seberapa penting tujuan ini. Saat itu, engkau akan tahu bahwa tujuan-tujuan selain itu yang bersifat duniawi terbagi menjadi dua: sarana menuju tujuan agung tersebut dan penghalang antara kita dengan tujuan agung itu. Apa yang akan engkau lakukan jika engkau ingin menyeberangi padang luas menuju tujuan yang ingin kau capai? Engkau pasti akan menggunakan sarana yang menyampaikan atau mempercepatmu menuju tujuan, dan jika engkau melihat rintangan dan penghalang, engkau segera menyingkir atau melompatinya. Inilah yang kami serukan agar dijalankan dalam kehidupan menuju tujuan agung penciptaan kita.
Adapun sarana yang akan menyampaikanmu kepada tujuan adalah rasa syukur kepada Allahu ta’ala dan sarana yang engkau gunakan untuk melewati berbagai rintangan dan gangguan adalah kesabaran yang dengannya kita diperintahkan. Tidak ada yang tidak mengetahui hakikat ini kecuali dua jenis manusia: orang yang mengingkari Allahu ta’ala dan karena itu tidak beriman kepada penghambaan, tugas dan tujuan yang baru saja kita bahas. Orang jenis ini bukan yang sedang kita bicarakan dalam pembahasan ini. Jenis yang kedua adalah orang yang luput darinya hakikat ini disebabkan ia tenggelam dalam tipuan dunia dan hal-hal yang melalaikannya darinya. Orang jenis ini dapat diobati dengan diberi peringatan dan nasihat.
Allahu subhanahu wa ta’ala Mahatahu bagaimana dampak yang ditimbulkan tipuan-tipuan dan perhiasan dunia yang melalaikan pada diri seorang mukmin yang menjadikannya semakin jauh dari identitas aslinya. Maka, Dia jadikan sebuah kalimat yang harus diulangulang oleh seorang mukmin dalam salat setiap harinya di hadapan-Nya, yaitu kalimat “IYYAKA NA’BUDU WA IYYAKA NASTA’IN, Hanya kepada-Mu aku menyembah dan hanya kepada-Mu aku memobon pertolongan.” Kalimat ini, jika diucapkan oleh Muslim yang sejati, akan menjadi senjata baginya melawan dunia dan hal-hal melalaikan yang ada di dalamnya, sebab ia selalu teringat bahwa ia adalah hamba yang hina milik Sang Penguasa Yang Maha Agung, maka tugasnya adalah menyembah-Nya dengan sebenar-benarnya dan menanamkan dalam dirinya bahwa tidak ada manfaat dan keburukan kecuali dari-Nya, maka hanya Dia-lah tempat memohon pertolongan.
Jika seorang mukmin terus mengingat hakikat ini dan terus berada dalam keadaan awas dan waspada atau paling tidak ia cepat kembali ingat akan hal ini saat ia mulai terlena dengan dunia, maka hatinya akan terbebas dari segala hal selainnya Tidak lagi terikat hatinya dengan harta, kedudukan, pujian, bangga diri, dan kesombongan. Hatinya juga akan terbebas dari sifat iri, benci, dan dengki, juga dari menggantungkan harapan kepada makhluk. Sebab ia telah mencecap manisnya penghambaan kepada Raja segala raja sehingga ia tidak butuh kecuali kepada-Nya, dan tidak mengetuk kecuali pintu-Nya. Jika diberi nikmat maka ia bersyukur dan kembali menggunakan nikmat itu untuk mencari rida-Nya, dan jika permohonannya belum terkabul ia bersabar dan yakin bahwa itu yang terbaik bagi dirinya di dunia dan akhirat.
Ini adalah makna sabda Rasulullah shallallahu “alaihi wa sallam kepada sahabat Abdullah ibn Abbas radhiyallahu “anhu wa ardhahu sebagai berikut:
“Jika engkau hendak meminta, maka mintalah kepada Allah. Jika engkau butuh pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, jika seluruh umat manusia bersatu padu untuk memberikan manfaat kepadamu, tidak akan sampai kepadamu dari itu semua kecuali yang Allah tuliskan untukmu. Dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu, tidak akan menimpamu kecuali apa yang Allah tuliskan untukmu.”
Hadis ini sekaligus menjelaskan bahwa menghilangkan keterikatan hati dengan dunia bukan berarti mencabut tabiatnya sebagai manusia yang butuh kepada dunia dan kesenangan yang ada di dalamnya, sebab ini bertentangan dengan fitrah manusia yang sudah Allahu ta’ala ciptakan. Namun, maksud dari menghilangkan keterikatan hati dengan dunia adalah menjadikan hajat dan keperluannya hanya kepada Allahu ta’ala dengan memohon kepada-Nya apa yang ia inginkan, mengadukan kepada-Nya apa yang ia derita sebagai perwujudan firman Allahu subhanahu wa ta’ala berikut:
“Maka mintalah rezeki di sisi Allah.” (OS. al-“Ankabut (29:17)
Juga firman-Nya:
“Dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya.” (OS. an-Nisa’ (4): 32)
Dan firman-Nya dalam ayat lain:
“Maka bersegeralah menuju Allah, sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan yang nyata untuk kalian terhadap-Nya.” (OS. adz-Dzariyat (511: 50)
Bahkan, seorang hamba jika tertambat hatinya dengan Allahu subhanahu wa ta’ala akan semakin bertambah penghambaannya seiring bertambahnya rasa butuh dan keinginannya yang bermacam-macam. Hal itu karena unsur penghambaan pada manusia ada pada sifat butuh dan lemah, karena manusia diciptakan dalam keadaan lemah. Tanpa rasa butuh kepada Penciptanya dan rasa tidak berdaya untuk mencapai apa yang ia inginkan, maka keteguhannya dalam penyembahan kepada Allahu ta’ala tidak akan ada maknanya. Karena itu, tidak ada pertentangan sama sekali antara rida dengan ketentuan Allahu ta’ala dan berkeluh kesah kepadanya, bahkan keduanya adalah dua unsur utama yang menyempurnakan penghambaan seseorang kepada Allahu ta’ala. Kedua hal ini terkumpul dalam doa Nabi Muhammad shallallahu “alaihi wa sallam sekembalinya beliau dari kota Thaif, seraya berkata:
“Wahai Allah, aku adukan kepada-Mu lemahnya kekuatanku, sedikitnya usahaku, dan kehinaanku di mata manusia. Wahai Yang Paling berkasih sayang, Engkau Tuhan orang-orang yang lemah, Engkau adalah Tuhanku, kepada siapa hendak Kau serahkan aku? Kepada orang tidak dikenal yang menyerangku atau kepada kaumku yang menguasai semua urusanku? Selama Engkau tidak murka, maka aku tidak peduli kemana saja Kau arahkan aku. Akan tetapi perlindungan dan kebaikan-Mu sangat cukup bagiku, aku berlindung demi cahaya wajah-Mu yang menerangi kegelapan dan menyempurnakan semua perkara dunia dan akhirat dari turunnya amarah dan murka-Mu kepadaku, milikMu segala kebaikan sampai Engkau rida dan tiada daya upaya kecuali dengan pertolongan-Mu.”
Maka obat dan solusinya adalah dengan kita terus mengingat identitas asli kita, mengetahui tugas yang Allahu subhanahu wa ta’ala berikan kepada kita, dan kita jadikan itu sebagai tujuan satu-satunya sambil menjadikan dunia dan apa yang ada di dalamnya sebagai sarana mewujudkan tujuan itu.
Itulah hakikat penghambaan kepada Allah, itulah derajat paling tinggi yang dicapai orang-orang yang bersungguh-sungguh dan kedudukan yang diinginkan orang-orang yang ikhlas. Adapun orang-orang awam, mereka rancu antara hakikat penghambaan dengan bentuk-bentuk ibadah hingga mereka merasa cukup dengan bentuk lahiriah ibadah itu tanpa menengok sedikitpun kepada pentingnya hakikat penghambaan itu sendiri. Karena sebab itu pula, kita dapati mereka yang hanya mendirikan ibadah-ibadah lahiriah merupakan mayoritas kaum Muslimin, namun mereka yang benar-benar melaksakanan penghambaan batiniah yang hakiki sangat sedikit jumlahnya.









One Comment