Macam ketiga : dan
“Ada dua huruf yang berfungsi merofa’kan isim-nya dan menashobkan khobar-nya, yaitu : dan …Dan Jadilah engkau orang yang bersabar”.
“Pengamalan ini bisa terjadi, apabila engkau lihat telah memenuhi beberapa syarat, antara lain : 1). tidak bersamaan dengan (Zaaidah) 2). menetapi kenafian-nya 3). Letaknya berurutan”.
“Demikian juga bisa beramal sebagaimana (, yaitu : dan Membuang lafadh yang di rofa’kan itu sangat masyhur Sedangkan untuk yang sebaliknya (membuang lafadh yang di hashobkan), jarang sekali terjadi”.
Keterangan : . dan merupakan bagian dari ‘Aamil lafdhi samaa’i yang mempunyai pengamalan :
“Merofa’kan isim-nya dan menashobkan khobar-nya”
Isimnya dan ini aslinya merupakan mubtada’, sedangkan khobarnya berasal dari khobarnya mubtada’.
- merupakan huruf nafi yang mempunyai arti : bukan / tiada.
Seperti contoh :
“Orang ini bukanlah manusia.
Lafadh : ini kedudukan nya rofa’ karena menjadi isimnya .
Sedangkan lafadh : ini di baca nashob, karena menjadi khobarnya , nashobnya di tandai dengan fathah. Sebelum kemasukan merupakan susunan mubtada’-khobar ( )
ini bisa beramal merofa’kan pada isimnya dan menashobkan pada khobarnya, apabila memenuhi syarat :
- Tidak bersamaan dengan . Apabila bersamaan dengan , maka tidak bisa beramal / mulgho.
Seperti contoh :
Pada contoh ini lafadh : tetap di baca rofa’, pada hal ketika kemasukan seharusnya di baca nashob
- Menetapi makna nafi / tidak di rusak dengan . Apabila makna nafinya telah rusak dengan sebab kemasukan , maka tidak bisa beramal ,
Seperti contoh :
- Khobarnya tidak mendahului isimnya. Apabila khobarnya mendahului isimnya, maka tidak bisa beramal.
Seperti contoh :
- juga merupakan huruf nafi yang mempunyai arti : bukan / tiada. Seperti contoh :
“Tiada seorangpun yang lebih utama dari pada kamu”
Lafadz : di baca rofa” karena menjadi isimnya y, rofa’-nya di tandai dengan dlommah.
Sedangkan lafadh : di baca nashob, karena menjadi khobarnya , di tandai dengan fathah.
Untuk bisa beramal, juga harus memenuhi 3 syarat :
- Isim dan khobar-nya harus berupa isim nakiroh. Dan jika berupa isim ma’rifat, maka tidak bisa beramal (mulgho)
Seperti contoh :
— isimnya berupa isim ma’rifat, yaitu
- Khobar-nya tidak bersamaan dengan . Dan jika khobarnya bersamaan dengan , maka tidak bisa beramal (mulgho).
Seperti contoh : ,
- Khobar-nya tidak mendahului isim-nya. Dan jika khobarnya mendahului isim-nya, maka tidak bisa beramal (mulgho).
Seperti contoh : .
- itu menyamai dalam segi makna dan pengamalannya. Yakni : sama-sama menunjukkan arti nafi (bermakna : bukan / tiada ) dan sama-sama merofa’kan isim-nya dan menashobkan khobar-nya. Akan tetapi isimnya ini harus berupa lafadh : dan salah-satu dari isim atau khobarnya harus terbuang. Pada umumnya yang terbuang adalah isimnya. Seperti contoh : l, asalnya adalah : ,
‘Masa itu bukanlah masa pelarian”.
Lafadh : yang pertama di baca rofa’ karena menjadi isimnya , di tandai dengan diommah, namun kemudian lafadh : yang menjadi isimnya ini di buang. Sedangkan lafadh : : yang kedua di baca nashob, karena menjadi khobarnya , di tandai dengan fathah.
- merupakan huruf nafi (mempunyai arti : tidak / bukan ), Menurut ulama bashroh tidak bisa beramal sebagaimana pengamalan , namun menurut ulama yang lain bisa beramal sebagaimana yakni : merofa’kan isimnya dan menashobkan khobarnya.
Seperti contoh :
“Zaed tidaklah berdiri”.
Lafadh : di baca rofa’ karena menjadi isimnya rofa’nya di tandai dengan diommah. Sedangkan lafadh : di baca nashob, karena menjadi khobarnya , nashobnya di tandai dengan fathah,








One Comment