Aamil-aamil qiyasi
“Kemudian Aamil Qiyasi itu ada tujuh : 1. Kalimah ffil secara mutlak 2. Isim Sifat Musyabbahah…”. “.. 3. Mashdar 4. Isim Faa’il 5. Isim Maful 6. Isim Mubham 7. Isim yang di mudlofkan kepada mafulnya”.
Keterangan :
‘Aamil Lafdhi Qiyasi itu jumlahnya ada tujuh :
- Kalimah Fi’il secara mutlak, baik berupa Fi’il Madi, Mudlori’ maupun Amr. Kalimah fi’il ini di tinjau dari pengamalannya terdin dan dua macam :
- Fi’il Laazim, yaitu : fill yang tidak membutuhkan maful bihi. Fi’l Laazim ini beramal : merofa’kan pada faa’ilnya . Seperti contoh :
, Lafadh : ini di baca rofa’ karena menjadi faa’ilnya di tandai dengan dlommah.
- Fi’il Mut’addi, yaitu : fil yang membutuhkan maful bihi untuk menyempurnakan maknanya. Fi’il muta’addi ini beramal : merofa’kan fa’iInya dan menashobkan maful bihi-nya. Seperti contoh :
“Aku telah menolong Zaed”. Dlomir : & ini kedudukannya rofa’ karena menjadi faa’ilnya : Sedangkan lafadh : Ing di baca nashob, karena menjadi maful bihnya : , di tandai dengan fathah.
- Isim Sifat Musyabbihah, yaitu :
“Suatu sifat yang di letakkan bukan untuk menunjukkan makna melebihkan dari yang lain, akan tetapi untuk menunjukkan arti melekatnya suatu sifat atas perkara yang di sifati, bukan sifat yang berubah-ubah dan baru datang”.
Seperti contoh : (Tampan ), sifat ini akan melekat pada diri seseorang untuk selama-lamanya. Berbeda dengan : (Memukul), pekerjaan memukul ini tidak bisa melekat pada diri seseorang untuk selama-lamanya. Karena orang tidak mungkin terusmenerus memukul.
Di sebut Isim Sifat Musyabbihah, karena menyerupai isim faa’il yang membutuhkan maf’ul satu. Dalam arti : kedua-duanya sama-sama bisa di muannats-kan, di tatsniyyahkan, di jama’kan dan bisa beramal pada lafadh setelahnya”. Seperti contoh : Isim Sifat Shighot
Isim Sifat Musyabbihah ini mempunyai 3 macam pengamalan :
– Merofa’kan faa’ilnya. Seperti contoh :
“Zaed tampan wajahnya”
Lafadh : di baca rofa’ karena menjadi faa’il-nya : , di tandai dengan dlommah.
– Menashobkan tamyiz. Seperti contoh :
“Zaed tampan, wajahnya”.
Lafadh : di nashobkan oleh lafadh : , kedudukannya sebagai tamyiz, nashobnya di tandai dengan fathah.
– Mengejarr-kan mudiof ilaihi. Seperti contoh :
“Zaed tampan wajahnya”.
Lafadh :. di jarr-kan oleh lafadh : , kedudukannya menjadi mudlof ilaihi, jarr-nya di tandai dengan kasroh.
- Mashdar.
Mashdar bisa beramal sebagaimana f’ilnya. Dalam arti : Untuk mashdarnya fi’il Laazim beramal : merofa’kan faa’ilnya. Sedangkan untuk mashdarnya fi’il muta’addi beramal : merofa’kan faa’ilnya dan menashobkan maf’ul bihi-nya.
Seperti contoh :
“Mengerjakan hajji ke baitulloh adalah kewajiban manusia terhadap Alloh , (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke baitulloh”.
Lafadh : kedudukannya rofa’ karena menjadi faa’ilnya Sedangkan lafadh itu sendiri merupakan mashdarnya fi’il muta’addi, berasal dari ,
Lafadh : di baca nashob, karena menjadi mafulnya , nashobnya di tandai dengan fathah.
Contoh lain :
“Aku mengagumi ketampananmu”.
Dlomir muttashil : ini kedudukannya rofa’ karena menjadi faailnya Sedangkan lafadh : merupakan mashdar dari fi’il Laazim, berasal dari
- Isim Faa’il.
Isim faa’il ini pengamalannya menyamai pada faa’il yang ma faa’ll, yaitu : merofa’kan terhadap faail dan menashobkan terhadap maful bihi. Seperti contoh :
“Adakah Zaed memukul Amr ?”,
Lafadh : di baca rofa’ karena menjadi faa’ilnya , di tandai dengan dlommah. Sedangkan lafadh : ini merupakan isim faa’il, berasal dari : . Lafadh : di baca nashob menjadi mafulnya & , di tandai dengan fathah.
- Isim Maf’ul . Isim Maf’ul ini pengamalannya menyamai pada fi’il yang mabni maf’ul, yaitu : merofa’kan pada naibul faa’il. Seperti contoh :
“Hari kiamat itu adalah hari di kumpulkannya manusia”.
Lafadh : di rofa’-kan oleh lafadh , kedudukannya sebagai naibul faa’il, rofa’nya di tandai dengan dlommah.
- Isim Mubham.
Isim Mubham ini pengamalannya adalah : menashobkan pada tamyiz. Pengertian Isim Mubham adalah : Setiap isim yang mengandung pengertian yang belum jelas. Seperti contoh :
“Aku mempunyai satu kati, minyak zaitun”.
Lafadh : di nashobkan oleh lafadh ,, kedudukannya sebagai tamyiz, nashobnya di tandai dengan fathah. Lafadh : ini merupakan Isim Mubham.
- Isim yang di mudlofkan pada Isim yang lain . Isim yang pertama di sebut mudiof, Sedangkan isim yang kedua di sebut mudlof ilaihi . Mudlof ini pengamalannya adalah : mengejarr-kan mudlof ilaihi.
Seperti contoh : – “Kitabnya Zaed”.
Latadh : , di jarr-kan oleh lafadh : , jarr-nya di tandai dengan kasroh Lafadh : di sebut mudiof dan lafadh : di sebut mudiof ilaihi.








One Comment