Macam keempat : Lima macam dari huruf-huruf nida’
“Kalimah isim itu bisa di nashobkan oleh tujuh huruf “
“..Demikian juga .kemudian hamzah yang di baca pendek ( ) atau di baca panjang ( ) ..Maka pahamilah dengan jernih apa yang telah di tuturkan”.
Keterangan :
Kalimah isim itu di nashobkan oleh lima macam huruf nida’ (hurufhuruf yang di gunakan untuk memanggil ), yaitu :
- (Wahai / hai.. ) di gunakan untuk memanggil orang yang berada di tempat yang jauh, orang yang lalai atau orang tidur.
Seperti contoh :
“Wahai hamba Alloh..”
Lafadh : ini di baca nahob karena kemasukan , nashobnya di tandai dengan fathah.
2 (Wahai / hai.. di gunakan untuk memanggil orang yang berada di tempat yang jauh, orang yang lalai atau orang tidur.
Seperti contoh
“Wahai orang yang melupakan nikmat Alloh..”
Lafadh : ini di baca nashob, karena kemasukan , nashobnya di tandai dengan fathah.
- ( Wahai / hai.. ) di gunakan untuk memanggil orang yang berada di tempat yang jauh, orang yang lalai atau orang tidur.
Seperti contoh :
“Wahai orang yang tampan wajahnya..”.
Lafadh : ini di baca nashob, karena kemasukan , nashob-nya di tandai dengan fathah.
- (Wahai / hai.. ) di gunakan untuk memanggil orang yang berada di tempat yang Jauh, orang yang lalai atau orang tidur.
Seperti contoh :
“Wahai hamba-hamba Alloh..
Lafadh : ini di baca nashob karena kemasukan
, nashob-nya di tandai dengan fathah.
- (Wahai / hai.. ) di gunakan untuk memanggil orang yang berada di tempat yang dekat. Seperti contoh :
“Wahai laki-laki lihatlah aku ..”‘
Lafadh : ini di baca nashob karena kemasukan , nashobnya gi tandai dengan fathah. (Wahai / hai.. ), di gunakan untuk memanggil orang yang berada di tempat yang jauh, seperti contoh :
“Wahai orang yang berjalan di tengah jalan menghadaplah kepadaku”
Lafadh : di baca nashob karena kemasukan , nashobnya di tandai dengan fathah.
Selain lima macam huruf nida’ di atas, masih ada dua huruf lagi yang menashobkan kalimah isim, yaitu :
1.Wawu Ma’iyyah (wawu yang mempunyai arti : bersamaan dengan… ), seperti contoh : ( Aku berjalan, bersamaan dengan sungai ), Lafadh : ini di baca nashob, karena kemasukan wawu ma’iyyah, nashob-nya di tandai dengan wawu.
- istitsnaaiyyah, yaitu Yi yang di gunakan untuk mengecualikan (mempunyai arti : kecuali), seperti contoh :
“Semua pelajar beruntung, kecuali yang tidak masuk sekolah” Lafadh : ini di baca nashob, karena kemasukan , nashobnya di tandai dengan fathah.









One Comment