Nahwu & Sharaf

Terjemah Kitab Awamil Karya Imam Jurjani

Macam keempat : Lima macam dari huruf-huruf nida’

“Kalimah isim itu bisa di nashobkan oleh tujuh huruf “

“..Demikian juga  .kemudian hamzah yang di baca pendek (  ) atau di baca panjang ( ) ..Maka pahamilah dengan jernih apa yang telah di tuturkan”.

Keterangan :

Kalimah isim itu di nashobkan oleh lima macam huruf nida’ (hurufhuruf yang di gunakan untuk memanggil ), yaitu :

  1. (Wahai / hai.. ) di gunakan untuk memanggil orang yang berada di tempat yang jauh, orang yang lalai atau orang tidur.

Seperti contoh :

“Wahai hamba Alloh..”

Lafadh :  ini di baca nahob karena kemasukan  , nashobnya di tandai dengan fathah.

2  (Wahai / hai.. di gunakan untuk memanggil orang yang berada di tempat yang jauh, orang yang lalai atau orang tidur.

Seperti contoh

“Wahai orang yang melupakan nikmat Alloh..”

Lafadh :  ini di baca nashob, karena kemasukan   , nashobnya di tandai dengan fathah.

  1. ( Wahai / hai.. ) di gunakan untuk memanggil orang yang berada di tempat yang jauh, orang yang lalai atau orang tidur.

Seperti contoh :

“Wahai orang yang tampan wajahnya..”.

Lafadh :   ini di baca nashob, karena kemasukan  , nashob-nya di tandai dengan fathah.

  1. (Wahai / hai.. ) di gunakan untuk memanggil orang yang berada di tempat yang Jauh, orang yang lalai atau orang tidur.

Seperti contoh :

“Wahai hamba-hamba Alloh..

Lafadh :  ini di baca nashob karena kemasukan

, nashob-nya di tandai dengan fathah.

  1. (Wahai / hai.. ) di gunakan untuk memanggil orang yang berada di tempat yang dekat. Seperti contoh :

“Wahai laki-laki lihatlah aku ..”‘

Lafadh :   ini di baca nashob karena kemasukan  , nashobnya gi tandai dengan fathah.  (Wahai / hai.. ), di gunakan untuk memanggil orang yang berada di tempat yang jauh, seperti contoh :

“Wahai orang yang berjalan di tengah jalan menghadaplah kepadaku”

Lafadh :   di baca nashob karena kemasukan  , nashobnya di tandai dengan fathah.

Selain lima macam huruf nida’ di atas, masih ada dua huruf lagi yang menashobkan kalimah isim, yaitu :

1.Wawu Ma’iyyah (wawu yang mempunyai arti : bersamaan dengan… ), seperti contoh :   ( Aku berjalan, bersamaan dengan sungai ), Lafadh :   ini di baca nashob, karena kemasukan wawu ma’iyyah, nashob-nya di tandai dengan wawu.

  1. istitsnaaiyyah, yaitu Yi yang di gunakan untuk mengecualikan (mempunyai arti : kecuali), seperti contoh :

“Semua pelajar beruntung, kecuali yang tidak masuk sekolah” Lafadh :  ini di baca nashob, karena kemasukan , nashobnya di tandai dengan fathah.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker