Nahwu & Sharaf

Terjemah Kitab Awamil Karya Imam Jurjani

‘Aamil Ma’nawi

“Aamil ma’nawi itu ada dua : 1.’Aamil ma’nawi ibtida’… Jadilah engkau orang yang menggapai ilmu yang tinggi”.

2 ‘Aamil yang menempati kedudukannya kalimah isim, yaitu ‘Aamil yang di tetapkan untuk fi’il mudlori”.

Keterangan :

Sebagaimana telah kita bahas pada Bab awal, pengertian ‘Aamil ma’nawi adalah :

‘Aamil yang tidak bisa di ucapkan oleh lisan, akan tetapi berupa suatu makna yang bisa di lukiskan oleh hati”,

‘Aamil ma’nawi ini hanya ada dua :

  1. ‘Aamil ma’nawi ibtida’, yaitu : ‘Aamil ma’nawi yang merofa’kan pada isim yang di sandarkan pada lafadh lain, yang tidak bersamaan dengan ‘Aamil lafdhi (selainnya zaaidah). Seperti contoh :

 Lafadh :

, di rofa’kan oleh ‘Aamil ma’nawi ibtida’ , di tandai dengan diommah. Karena lafadh :     ini tidak bersamaan ‘Aamil lafdhi dan dalam keadaan di sandarkan (di isnadkan) kepada lafadh :

Contoh lain :  , Lafadh :  kedudukannya rofa’, di rofa’kan oleh ‘Aamil ma’nawi ibtida’, meskipun lafadh  ini sebenarnya bersamaan dengan ‘Aamil lafdhi, yaitu : : namun ba” ini tidak berpengaruh, karena merupakan huruf ziyadah.

  1. ‘Aamil ma’nawi tajarrud yang merofa’kan pada fi’il mudlori’ yang tidak bersamaan dengan ‘Aamil yang menashob-kan atau menjazmkannya. Dan fi’il mudlori’ ini kedudukannya bisa di gantikan oleh kalimah isim. Seperti contoh :

“Zaed sedang memukul”.

Lafadh :  di rofa’kan oleh ‘Aamil ma’nawi tajarrud, di tandai dengan diommah, karena tidak bersamaan dengan ‘Aamil yang menashob-kan atau menjazm-kannya. Dan fi’il mudlori’ tersebut bisa di gantikan oleh kalimah isim, yaitu oleh lafadh :  , menjadi : .

Contoh lain :

“Aku melihat seorang lelaki yang sedang makan”.

Lafadh :  ini di rofa’kan oleh ‘Aamil ma’nawi tajarrud, di tandai dengan diommah, karena tidak bersamaan dengan ‘Aamil yang menashobkan atau menjazmkan-nya. Dan lafadh :  ini bisa di gantikan oleh kalimah isim, yaitu oleh lafadh : , menjadi : ,  melihat seorang lelaki yang makan”. Contoh lain :

“Aku lewat bertemu dengan Zaed, sedang menunggang kuda”. Lafadh :  ini merupakan fi’il mudlori’ yang di rofa’kan oleh ‘Aamil ma’nawi tajarrud, karena tidak bersamaan dengan ‘Aamil yang menashob-kan atau menjazm-kannya, rofa’nya di tandai dengan diommah. Dan lafadh :  ini bisa di gantikan oleh kalimah isim,  yaitu oleh lafadh : , , menjadi :

“Aku lewat bertemu dengan Zaed, menaiki kuda”.

 “Aamil-aamil sebanyak seratus ini sangat terlaku dalam bahasa arab, dan harus di ketahui meskipun bagi orang yang sangat luas pengetahuannya “.

“Aku memuji kepada Alloh atas kesempurnaan kitab ini, seraya memohonkan rahmat ta’dhim untuk Nabi yang berkebangsaan Tihaami”.

“Kitab terjemah ini aku beri judul “Tafrihatul Wildaan” terjemah dari kitab ” Kifayatush-Shibyaan”.

“yaitu kitab karya Ahmad an-Nahrowi. Kemudian aku tambahkan faedah-faedah yang menyerupai bintang-bintang yang bertebaran di langit, yang bercahaya laksana mutiara”.

“Hanya kepada Alloh kami memohon semoga kitab ini bisa memberikan manfaat dengan sempurna dan juga memohon ampunan, ridlonya dan manfaat yang terbaik”,

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker