Macam Kesepuluh : Fi’il-fi’il Yang Merusak Susunan Mubtada’-Khobar
“Rofa’kanlah isimnya dan nashobkanlah khobarnya dengan menggunakan : …seperti contoh :
“Kemudian:
“Kemudian : .. Demikian juga lafadz-lafadz yang engkau tashrif dari fi’il-fi’il di atas, jangan sampai engkau lupakan..”.
Keterangan :
Macam kesepuluh dari ‘Amil Lafdhi Samaa’i adalah : Fi’il-fi’il yang merusak susunan mubtada’-khobar, yang di sebut dengan :
Af’aal Nawaasikh atau Af’aal Naagishoh. Pengamalan dari fil-ffil tersebut adalah :
“Merofa’ kan isimnya dan menashobkan khobarnya”.
Fi’il-fi’il Nawaasikh itu jumlahnya ada tiga belas : .
- mempunya arti : adalah. Seperti contoh :
“Dan adalah Alloh maha pengampun lagi maha penyayang”
Lafadh : di baca rofa’ karena menjadi isimnya , rofa’-nya di tandai dengan dlommah. Sedangkan lafadh : di baca nashob karena menjadi khobar-nya , nashobnya di tandai dengan fathah. Sebelum kemasukan berasal dari susunan mubtada’-khobar :
- mempunyai arti : di pagi hari . Seperti contoh :
“Di pagi hari dingin sangat menusuk”.
Lafadh : di baca rofa’ karena menjadi isimnya , rofa’nya di tandai dengan dlommah. Sedangkan lafadh : di baca nashob, nashobnya di tandai dengan fathah karena menjadi khobar-nya . Sebelum kemasukan berasal dari susunan mubtada’-khobar :
- mempunyai arti : telah menjadi . Seperti contoh :
“Tanah liat itu telah menjadi tembikar”.
Lafadh : di baca rofa’ karena menjadi isimnya , rofa’nya di tandai dengan dlommah. Sedangkan lafadh : di baca nashob, karena menjadi khobarnya , nashobnya di tandai dengan fathah. Sebelum kemasukan berasal dari susunan mubtada’-khobar :
- mempunyai arti : di sore hari. Seperti contoh :
“Di sore hari Zaed berjalan-jalan”.
Lafadh : di baca rofa’ karena menjadi isimnya , rofa’nya di tandai dengan dlommah. Sedangkan lafadh : di baca nashob, karena menjadi khobarnya , nashobnya di tandai dengan fathah. Sebelum kemasukan berasal dari susunan mubtada’khobar : .
- mempunyai arti : di waktu dluha. Seperti contoh :
“Di waktu dluha, orang yang alim figh itu mengajar”
Lafadh : di baca rofa’ karena menjadi isimnya , , di tandai dengan diommah. Sedangkan lafadh : di baca nashob karena menjadi khobarnya , , di tandai dengan fathah. Sebelum kemasukan berasal dari susunan mubtada’-khobar :
- mempunyai arti : di siang hari. Seperti contoh :
“Di siang hari mukanya menghitam”. ,
Lafadh : di baca rofa’ karena menjadi isimnya , di tandai dengan diommah. Sebelum kemasukan , berasal dari susunan mubtada’-khobar :
- mempunyai arti : Di malam hari, Seperti contoh :
Di malam hari Muhammad beri’tikaf”.
Lafadh : di baca rofa’ karena menjadi isimnya : , di tandai dengan dlommah. Sedangkan lafadh : di baca nashob karena menjadi khobarnya , di tandai dengan fathah. Sebelum kemasukan , berasal dari susunan mubtada’-khobar :
- mempunyai arti : terus-menerus, senantiasa. Seperti contoh
“Senantiasa kebodohan itu membahayakan”.
Lafadh : di baca rofa’ karena menjadi isimnya : di tandai dengan dlommah. Sedangkan lafadh : di baca nashob, karena menjadi khobarnya Le, di tandai dengan fathah. Sebelum kemasukan berasal dari susunan mubtada’-khobar :
- . mempunyai arti : senantiasa, terus-menerus. Seperti contoh
“Senantiasa Alloh berbuat baik”
Lafadh : di baca rofa’ karena menjadi isimnya , di tandai dengan diommah. Sedangkan lafadh : di baca nashob, karena menjadi khobarnya , di tandai dengan fathah. Sebelum kemasukan berasal dari susunan mubtada’-khobar :
- mempunyai arti : tak henti-hentinya. Seperti contoh :
” Tak henti-hentinya ilmu itu bermanfaat”.
Lafadh : di baca rofa’ karena menjadi isimnya : , di tandai dengan dlommah. Sedangkan lafadh : di baca nashob karena menjadi khobarnya di tandai dengan fathah. Sebelum kemasukan berasal dari susunan mubtada’-khobar :
- mempunyai arti : tidak henti-hentinya. Seperti contoh :
“Tak henti-hentin ya akal itu menolong”.
Lafadz : di baca rofa’ karena menjadi isimnya : di tandai dengan dlommah. Sedangkan lafadh : di baca nashob, karena menjadi khobarnya di tandai dengan fathah. Sebelum kemasukan berasal dari susunan mubtada’-khobar :
- mempunyai arti : selama Seperti contoh :
“Dan dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) sholat dan membayar (zakat), selama aku hidup “.
Lafadz : kedudukannya rofa’ karena menjadi isimnya . Sedangkan lafadh : baca nashob karena menjadi khobarnya , di tandai dengan fathah. Sebelum kemasukan berasal dari susunan mubtada’-khobar : .
- mempunyai arti : tidaklah, Seperti contoh :
“Mereka itu tidaklah sama”.
Wawu dlomir kedudukannya rofa’ karena menjadi isimnya . Sedangkan lafadz : di baca nashob, karena menjadi khobarnya , di tandai dengan fathah.
Catatan :
Lafadh-lafadh yang di tashrif dari lafadh-lafadh di atas, baik berupa fi’il mudlori’ , fi’il amr, isim faa’il maupun mashdar, juga bisa beramal : “Merofa’kan isimnya dan menashobkan khobarnya”.
Seperti contoh :
Lafadh : merupakan fi’ll mudlori’ berasal dari fi’il madli : . Lafadh : di baca rofa’ karena menjadi isimnya , di tandai dengan dlommah. Sedangkan lafadh : di baca nashob karena menjadi khobarnya , di tandai dengan fathah.
Contoh lain : Lafadh : merupakan fi’il amr berasal dari fi’il madli : . Wawu dlomir kedudukannya rofa’ menjadi isimnya Sedangkan lafadh : di baca nashob menjadi khobarnya di tandai dengan fathah.
Lafadh : merupakan fi’il mudlori’ berasal dari fi’il madli : Diomir : yang tersimpan di dalam lafadh : , kedudukannya rofa’ karena menjadi isimnya . Sedangkan lafadh : di baca nashob karena menjadi khobarnya , di tandai dengan ya’









One Comment