Nahwu & Sharaf

Terjemah Kitab Awamil Karya Imam Jurjani

Macam Kesepuluh : Fi’il-fi’il Yang Merusak Susunan Mubtada’-Khobar

“Rofa’kanlah isimnya dan nashobkanlah khobarnya dengan menggunakan :    …seperti contoh :

“Kemudian:

“Kemudian :    .. Demikian juga lafadz-lafadz yang engkau tashrif dari fi’il-fi’il di atas, jangan sampai engkau lupakan..”.

Keterangan :

Macam kesepuluh dari ‘Amil Lafdhi Samaa’i adalah : Fi’il-fi’il yang merusak susunan mubtada’-khobar, yang di sebut dengan :

Af’aal Nawaasikh atau Af’aal Naagishoh. Pengamalan dari fil-ffil tersebut adalah :

“Merofa’ kan isimnya dan menashobkan khobarnya”.

Fi’il-fi’il Nawaasikh itu jumlahnya ada tiga belas : .

  1. mempunya arti : adalah. Seperti contoh :

“Dan adalah Alloh maha pengampun lagi maha penyayang”

Lafadh :  di baca rofa’ karena menjadi isimnya  , rofa’-nya di tandai dengan dlommah. Sedangkan lafadh :  di baca nashob karena menjadi khobar-nya  , nashobnya di tandai dengan fathah. Sebelum kemasukan  berasal dari susunan mubtada’-khobar :

  1. mempunyai arti : di pagi hari . Seperti contoh :

“Di pagi hari dingin sangat menusuk”.

Lafadh :  di baca rofa’ karena menjadi isimnya , rofa’nya di tandai dengan dlommah. Sedangkan lafadh :    di baca nashob, nashobnya di tandai dengan fathah karena menjadi khobar-nya  . Sebelum kemasukan  berasal dari susunan mubtada’-khobar :

  1. mempunyai arti : telah menjadi . Seperti contoh :

 “Tanah liat itu telah menjadi tembikar”.

Lafadh :    di baca rofa’ karena menjadi isimnya , rofa’nya di tandai dengan dlommah. Sedangkan lafadh :  di baca nashob, karena menjadi khobarnya , nashobnya di tandai dengan fathah. Sebelum kemasukan  berasal dari susunan mubtada’-khobar :

  1. mempunyai arti : di sore hari. Seperti contoh :

“Di sore hari Zaed berjalan-jalan”.

Lafadh :  di baca rofa’ karena menjadi isimnya , rofa’nya di tandai dengan dlommah. Sedangkan lafadh :  di baca nashob, karena menjadi khobarnya    , nashobnya di tandai dengan fathah. Sebelum kemasukan  berasal dari susunan mubtada’khobar :   .

  1. mempunyai arti : di waktu dluha. Seperti contoh :

“Di waktu dluha, orang yang alim figh itu mengajar”

Lafadh :  di baca rofa’ karena menjadi isimnya ,  , di tandai dengan diommah. Sedangkan lafadh :  di baca nashob karena menjadi khobarnya ,  , di tandai dengan fathah. Sebelum kemasukan  berasal dari susunan mubtada’-khobar :

  1. mempunyai arti : di siang hari. Seperti contoh :

“Di siang hari mukanya menghitam”. ,

Lafadh :  di baca rofa’ karena menjadi isimnya  , di tandai dengan diommah. Sebelum kemasukan  , berasal dari susunan mubtada’-khobar : 

  1. mempunyai arti : Di malam hari, Seperti contoh :

Di malam hari Muhammad beri’tikaf”.

Lafadh :  di baca rofa’ karena menjadi isimnya : , di tandai dengan dlommah. Sedangkan lafadh :  di baca nashob karena menjadi khobarnya , di tandai dengan fathah. Sebelum kemasukan  , berasal dari susunan mubtada’-khobar :

  1. mempunyai arti : terus-menerus, senantiasa. Seperti contoh

“Senantiasa kebodohan itu membahayakan”.

Lafadh :  di baca rofa’ karena menjadi isimnya : di tandai dengan dlommah. Sedangkan lafadh :  di baca nashob, karena menjadi khobarnya  Le, di tandai dengan fathah. Sebelum kemasukan  berasal dari susunan mubtada’-khobar :

  1. . mempunyai arti : senantiasa, terus-menerus. Seperti contoh

“Senantiasa Alloh berbuat baik”

Lafadh :  di baca rofa’ karena menjadi isimnya    , di tandai dengan diommah. Sedangkan lafadh :  di baca nashob, karena menjadi khobarnya , di tandai dengan fathah. Sebelum kemasukan  berasal dari susunan mubtada’-khobar :

  1. mempunyai arti : tak henti-hentinya. Seperti contoh :

” Tak henti-hentinya ilmu itu bermanfaat”.

Lafadh :  di baca rofa’ karena menjadi isimnya :  , di tandai dengan dlommah. Sedangkan lafadh :  di baca nashob karena menjadi khobarnya di tandai dengan fathah. Sebelum kemasukan  berasal dari susunan mubtada’-khobar : 

  1. mempunyai arti : tidak henti-hentinya. Seperti contoh :

“Tak henti-hentin ya akal itu menolong”.

Lafadz :  di baca rofa’ karena menjadi isimnya :  di tandai dengan dlommah. Sedangkan lafadh :  di baca nashob, karena menjadi khobarnya  di tandai dengan fathah. Sebelum kemasukan  berasal dari susunan mubtada’-khobar :

  1. mempunyai arti : selama Seperti contoh :

“Dan dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) sholat dan membayar (zakat), selama aku hidup “.

Lafadz :  kedudukannya rofa’ karena menjadi isimnya  . Sedangkan lafadh :  baca nashob karena menjadi khobarnya  , di tandai dengan fathah. Sebelum kemasukan berasal dari susunan mubtada’-khobar : .

  1. mempunyai arti : tidaklah, Seperti contoh :

“Mereka itu tidaklah sama”.

Wawu dlomir kedudukannya rofa’ karena menjadi isimnya . Sedangkan lafadz :    di baca nashob, karena menjadi khobarnya  , di tandai dengan fathah.

Catatan :

Lafadh-lafadh yang di tashrif dari lafadh-lafadh di atas, baik berupa fi’il mudlori’ , fi’il amr, isim faa’il maupun mashdar, juga bisa beramal : “Merofa’kan isimnya dan menashobkan khobarnya”.

Seperti contoh :

Lafadh :  merupakan fi’ll mudlori’ berasal dari fi’il madli : . Lafadh :  di baca rofa’ karena menjadi isimnya  , di tandai dengan dlommah. Sedangkan lafadh :  di baca nashob karena menjadi khobarnya  , di tandai dengan fathah.

Contoh lain :  Lafadh :  merupakan fi’il amr berasal dari fi’il madli : . Wawu dlomir kedudukannya rofa’ menjadi isimnya  Sedangkan lafadh :  di baca nashob menjadi khobarnya  di tandai dengan fathah.

Lafadh :  merupakan fi’il mudlori’ berasal dari fi’il madli :  Diomir :  yang tersimpan di dalam lafadh :  , kedudukannya rofa’ karena menjadi isimnya  . Sedangkan lafadh :  di baca nashob karena menjadi khobarnya  , di tandai dengan ya’

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker