Raja Brawijaya dahulu mencintai sangat kedua anak ini, seakan-akan mereka berdua adalah bagian dari anak-anaknya yang lain. Ia memberikan apapun yang keduanya minta, akan tetapi mereka berkecil hati karena tak melihat seorang pun dari penduduk Majapahit secara khusus dan jawa secara umum beragama dengan agama islam. Ketika mereka berdua akan menjalankan shalat, orang-orang mengejek dan gaduh dan tidak pernah tahu akan hal tersebut seolah-olah perbuatan yang sangat asing yang tidak pernah dilihat sekalipun dari berdiri, membaca (Al-Qur’an), ruku’, i’tidal, sujud, duduk, tasyahud dan selainnya. Sampai-sampai seorang yang sepuh berkata : Janganlah kalian ejek dan membuat gaduh mereka berdua, karena setiap manusia memiliki Tuhan yang disembah dengan sesuatu yang dicintai-Nya, keduanya memiliki Tuhan selain dari tuhan kalian yang kalian sembah sesuai yang dicintai-Nya dengan tata cara masing-masing, janganlah kalian anggap aib dan jangan kalian cela manusia yang menyembah Tuhannya.
Inilah kisah Sayyid Rajafandita dan Sayyid Rahmat yang padanya terdapat pelajaran bagi yang mengambil pelajaran dan petunjuk dari orang-orang yang berilmu, yang bahwasanya seorang mukmin tidak boleh malu menyerukan atas apa yang diwajibkan oleh Allah Ta’ala baginya, dan tidak boleh takut celaan orang yang mencela untuk meraih ridha Allah Ta’ala, sebagaimana berkata sebagian Ulama :
Keimanan seorang hamba tidaklah sempurna …
Sampai ia melihat manusia dan unta sama saja …
Pujian dan celaan mereka sama saja …
Tidaklah merasa takut celaan dari orang yang mencela sang pemilik kemuliaan …
Dahulu sebelum itu, pada zaman di mana negeri Pajajaran terdapat raja yang bernama Arya Banjar yaitu anak dari Sang Mundi Wangi, dan Arya Banjar punya anak bernama Arya Mantahunan, Arya Mantahunan memiliki anak bernama Randa Kuning , dan dari Randa Kuning melahirkan 3 anak : Arya Galuh, Arya Tanduran dan Arya Ba’ah. Lahir 3 anak dari Arya Galuh : Arya Baribain, Arya Tijawaki, Tarub; dan Arya Baribain punya 2 anak salah satunya perempuan yang namanya Maduratna dan yang laki-laki bernama Jaka Kandar. Arya Tija memiliki 2 anak, yang perempuan namanya Candrawata dan yang laki-laki Raden Syukur. Tarub memiliki 3 anak : Nawangsih, Raden Yunawang Sasi dan Raden Yutawang Arum. Wallahu A’lam. Dan akan datang keterkaitan mereka pada kisah ini.
Lalu Sayyid Rajafandita dan Sayyid Rahmat ingin kembali ke negeri Campa karena sebab yang telah dikisahkan lalu karena merasa sedih. Mereka berdua mengkabarkan kepada raja Brawijaya atas keinginannya, kemudian raja melarang mereka berdua untuk pulang, raja berkata : Sungguh berpisah dengan kalian berdua adalah perkara yang besar, janganlah kalian kembali ke negeri kalian berdua; Jika kalian berdua ingin menguasai wilayah, untukmu wilayah tersebut apa yang kalian berdua mau, dari kepemimpinan apapun jika kalian mau, jika kalian ingin istri, pilihlah mana yang kalian kehendaki di antara perempuan-perempuan, dan pemerintahan, menteri pilihlah. Tapi aku melarang kalian berdua kembali ke negeri kalian. Karena aku mendengar bahwasanya raja Hindustan memerangi Kupang, Kalkuta, Giri, Malibar dan sekitarnya, dan tidak tersisa dari negeri-negeri tersebut kecuali tunduk dibawah kuasanya (Hindustan), tidak juga negeri Campa, karena saat ini masih berperang dengan Hindustan dan aku tidak tahu bagaimana akhirnya.
Maka ketika mendengar ucapan Brawijaya dan kuatnya larangan kepada mereka berdua untuk pulang, keduanya mentaati raja untuk tetap di Majapahit. Kemudian setelah itu menikahlah keduanya. Adapun Sayyid Rajafandita menikah dengan anak perempuan Arya Baribain yang bernama Maduratna di negeri Ris, kemudian tinggal di desa yang bernama Sinabung. Adapun Sayyid Rahmat menikah dengan anak Arya Tija yang bernama Raden Ayu Candrawati kemudian tinggal di desa yang dikatakan Ampel di Surabaya. Adapun Abu Hurairah menikah dengan perempuan dari desa Tambakrian yang bernama Samirah binti Husain dan pekerjaan mereka berdua adalah berkebun katun; Pada saat itu Abu Hurairah memetiknya dan memisahkan biji dengan kapuknya. Setiap hari memberikan hadiah katun kepada Sayyid Rahmat untuk dibuat sumbu penerangan lampu-lampu masjid, oleh karena itu Sayyid Rahmat menamakannya biji kapas.
Sayyid Rahmat mengikut laki-laki dari Majapahit yang bernama Wirajaya dan ia adalah pimpinan desa dan menganjurkan Sayyid Rajafandita untuk bekerja sebagai tukang besi.
Sayyid Rajafandita memiliki 3 anak : Hajj Utsman, Utsman Hajj dan Nyai Gede Tundo.









One Comment