Pada waktu itu telah datang di pulau Jawa 3 orang laki-laki dari arab dari negeri Yaman yang juga sebagai keturunan dari Rasulullah bernama Sayyid Muhsin, Sayyid Ahmad dan Khalifah Husain. Mereka datang ke Ampel dan menemui Sayyid Rahmat memberi salam lalu salam mereka dijawab. Mereka ditanya tentang nama, negeri asal dan tujuan mereka. Berkata Sayyid Muhsin : Nama saya Muhsin, ini saudaraku Khalifah Husain dan ini Ahmad; Kami datang dari dari Yaman kepadamu untuk belajar ilmu-ilmu syariah dan metodenya serta hakikat dari ilmu tersebut. Berkata Sayyid Rahmat : Wahai anak-anakku, sungguh ilmu itu berat. Berkata Sayyid Muhsin : Kami berharap karunia dari Allah dan dari keberkahan doa engkau kepada kami semua; Begitu juga dengan seruan bapak-bapak kami agar kami bertakwa di atas amalan dengan ilmu dan ikhlas. Maka belajarlah mereka dengan ilmu tersebut, mulazamah dengan khidmah dan beramal dengan ketaatan yang di tunjuki oleh ilmu yang kemudian jadilah mereka bertiga wali di antara wali-wali Allah Ta’ala.
Telah lalu penyebutan bahwa Sayyid Rahmat memiliki 7 orang anak dan telah lalu penyebutan nama mereka. Adapun Syarifah binti Sayyid Rahmat, menikah dengan Haji Ustman bin Sayyid Rajafandita dan tinggal di desa dekat dengan Mayuran, menyendiri di sana beribadah, melepaskan segala penyelisihan diri dan hawa nafsu hingga menjadi wali di antara wali-wali Allah, yang terkenal dengan nama Sunan Mayuran dan memiliki anak bernama Amir Husain.
Adapun Sayyidah Mutmainnah binti Sayyid Rahmat, menikah dengan Sayyid Muhsin dan tinggal di desa Wilis, menyendiri di sana untuh riyadhah dan ibadah sembari menempuh jalan para wali hingga menjadi wali di antara wali-wali Allah Ta’ala dan terkenal dengan nama Sunan Wilis serta memiliki anak yang bernama Amir Hamzah.
Adapun Sayyidah Hafsah binti Sayyid Rahmat yang disebut juga Nyai Ageng Meluka menikah dengan Sayyid Ahmad dan tinggal di desa dekat gunung Kamlaka menyendiri di sana untuk mujahadah diri dan semata-mata beribadah meraih ridha Allaah dengan sedikit makan, tidur dan terus keadaannya demikian sampai 3 tahun hingga menjadi wali di antara wali-wali Allah Ta’ala yang terkenal dengan nama Sunan Kamlaka dan tidak dikarunia anak.
Adapun Sayyid Ibrahim bin Sayyid Rahmat menikah dengan Dewi Irah binti Jaka Kondar dan memiliki anak perempuan bernama Rahil dan jadilah Sayyid Ibrahim imam bagi penduduk Lasem dan Tuban serta tinggal di desa Bonang di Lasem. Ia menyendiri dan ibadah di atas gunung Gading dekat dengan pesisir pantai dan bersungguh-sungguh untuk riyadhah dengan sedikit makan dan tidur serta menahan hawa nafsu pada dirinya; Ia fokus mengerjakan kewajiban dan sunnah dalam ibadah-ibadah semata-mata untuk taat kepada Ar-Rahman dan menjauhi godaan setan dengan menyendiri dari manusia seperti perkataan yang cocok saat itu dikatakan :
Hijrahku dari manusia menghalau dari maksiat kepada-Mu …
Aku menyendiri dari keluarga untuk melihat-Mu …
Sekiranya engkau menghalau-ku dari kecintaan, bimbinglah oleh-Mu …
Dengan tidak diamnya hati ini dari selain-Mu …
Melampaui diri dari kelemahan yang sungguh Engkau berikan …
Telah datang pada-Mu dengan teguh mengharap ridha-Mu …
Sekiranya tidak demikian, sungguh wahai Yang Maha Hidup, maksiatku pada-Mu …
Tidaklah ia bersujud kepada selain-Mu …
Inilah hamba-Mu yang bermaksiat datang pada-Mu …
Bersimbah dosa dan maksiat pada-Mu …
Jika Engkau tak ampuni, Engkaulah pemilik hikmah …
Jika Engkau tolak (diriku), siapa lagi yang ku harap selain diri-Mu …
Senantiasa Sayyid Ibrahim beribadah kepada-Nya sampai menjadi pembesar wali Allah Ta’ala yang terkenal dengan nama Sunan Bonang. Di antara karamahnya yang nampak adalah bekas dahi, hidung, lutut dan ujung kakinya yang ada di atas batu besar sampai sekarang, terkenal nama batu itu dengan Sujudan, tinggal batu tersebut di atas gunung yang telah disebutkan tadi. Di tempat dekat dengan batu itu terdapat makam dari perempuan, anak dari raja Cina, Putri Cempa. Dikatakan ia berislam ketika melihat Sayyid Ibrahim shalat di atas batu dan tercetak bekas shalatnya ketika ia meninggalkannya. Puteri tersebut tidak berpindah dari melihat hal tersebut sampai wafat dan dikubur di sana, dibangunlah kubah di atas kuburnya yang tiang-tiangnya dari tulang ikan laut. Dikatakan pula dari karamah Sayyid Ibrahim adalah menjadikan dua babi menjadi batu, ceritanya ketika ia berjalan melihat dua babi bersama sebagian muridnya, babi itu kawin dengan babi betina, maka muridnya berkata padanya dan mengira tak melihat babi-babi itu : Sungguh di hadapanmu ada babi yang kawin. Sayyid Ibrahim menjawab : Bukan, itu hanyalah dua batu. Jadilah babi-babi itu batu yang ada sampai sekarang di tempat yang dikatakan batu babi (Watu Celeng) di desa Karas kecamatan Sedan yang ikut Rembang. Dan karamah-karamah selainnya.
Adapun Sayyid Utsman Hajj adalah saudara Hajj Utsman yang anak dari Sayyid Rajafandita yang ia menikah dengan perempuan bernama Dewi Sari anak dari Raden Syakur bin Arya Tija yang telah lalu disebutkan, dan ia menjadi imam penduduk Jipang dan Panulan. Tinggal di desa Ngudung dan menempuh jalan para wali, mengesampingkan dunia dan senantiasa riyadhah semata-mata beribadah hingga jadilah wali yang dikenal dengan nama Sunan Ngudung. Memiliki anak perempuan bernama Sujinah dan laki-laki yang bernama Amirul Hajj.
Adapun Nyai Gede Tundo binti Sayyid Rajafandita menikah dengan Sayyid Khalifah Husein dan menjadi imam di Madura, menetap di desa Kertayasa, menyendiri di sana untuk ibadah, mencari ridha Allah hingga menjadi wali Allah dan terkenal dengan nama Sunan Kertayasa. Memiliki anak yang bernama Khalifah Sughro. Orang-orang banyak mengikuti islam di negeri tersebut.
Raden Syakur yang telah disebutkan lalu memiliki anak bernama Radin Syahid dan menikah Raden Syahid dengan Sayyidah Sarah binti Maulan Ishak yang ia adalah saudara kandung dari Sayyid Abdul Qadir. Raden Syahid menjadi imam bagi penduduk Dermayu dan Manulan dan tinggal di desa Kali Jaka dan menyendiri di sana untuk ibadah dan bersungguh-sungguh terus-menerus riyadhah sampai menjadi wali di antara wali-wali Allah Ta’ala yang di-ikuti oleh banyak manusia dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala, dan ia tidak selesai dalam menyendiri dan riyadhah serta menghadapkan hatinya menuju akhirat dan membelakangi dunia seluruhnya. Ia memiliki 3 orang anak : Raden Said, Sayyidah Ruqayyah dan Sayyidah Rafi’ah.
Kemudian bahwasanya Sayyid Abdul Jalil bin Sayyid Abdul Qadir dan Sayyid Amir Husain bin Hajj Utsman dan Sayyid Amir Hajj bin Sayyid Utsman Hajj dan Raden Said bin Raden Syahid dan Amir Hamzah bin Sayyid Muhsin yang mereka telah lalu disebutkan; Mereka semua pergi menuju ampel untuk mengabdi kepada Sayyid Rahmat dan mengambil ilmu darinya. Sayyid Qasim bin Sayyid Rahmat adalah orang yang kehidupannya hanya untuk belajar.








One Comment