Sejarah

Terjemah Kitab Ahlal Musamaroh

Sayyid Rahmat memiliki 5 orang anak dari Raden Ayu Candrawati :Sayyidah Syarifah, Mutmainnah, Hafsah dan Sayyid Ibrahim, Sayyid Qasim. Kemudian menikah lagi dengan Maskarimah binti Kembang Kuning yang lahir padanya 2 anak perempuan : Murtiah dan Murtasimah. Seluruh anak-anaknya belajar ilmu-ilmu syariah (agama) dari bapaknya. Inilah keterangan yang menjelaskan tentang Sayyid Rajafandita dan saudaranya (Sayyid Rahmat).

Anak-anak Ki Tarub yang telah lalu nama mereka disebut maka yang bernama Nawangsih ia menikah dengan Lembu Peteng bin Brawijaya atau yang dinamakan Shohroh Tarub yang dikaruniai anak yang bernama Getas Pandawa. Dan anaknya yang bernama Nawangsasi menikah dengan Raden Jaka Kandar bermukim di desa Malaya di Bangkalan di Madura; Kemudian memiliki anak bernama Asiyah dan Dewi Irah. Adapun anak perempuan Ki Tarub yang bernama Nawang Arum menikah dengan Raden Syakur yang ia menguasai negeri Wilatikta (Tumenggung Wilatikta).

Yang telah lalu bahwasanya raja Pajajaran Mundi Wangi memiliki istri kedua dan dikarunia anak laki-laki yang bernama Giyung Manar yang dikarunia anak bernama Bambang Wecana yang dikaruniai anak Bambang Pamengker., dan bapaknya ini tunduk di bawah kuasa raja Majapahit, menjauhkan diri tinggal di desa di bawah gunung semeru, Bambang Pamengker dikarunia anak bernama Minak Paranggula yang dikarunia anak bernama Minak Sambayu yang menjadi raja di negeri Blambangan. Akan datang keterkaitan kisah mereka.

Maulan Ishak yang telah lalu penyebutannya, ia adalah saudara Sayyid Ibrahim; Maka ketika ia menjadi laki-laki petualang di bumi, sampai ke negeri Pasa yaitu negeri di pulau sumatera, maka tinggallah ia di sana (Pasa). Dikaruniai anak bernama Sayyid Abdul Qadir dan Sarah.

Kemudian pergilah Mulana Ishak ke pulau jawa dan meninggalkan kedua anaknya kepada ibunya. Dimana keduanya masih kecil. Naiklah Maulana Ishak ke kapal milik laki-laki asal Gresik dan berjalan kapal dengan baik sampai tibalah di Gresik, kemudian turun dan menuju ke Surabaya, masuk ke desa Ampel saat waktu ashar. Secara kebetulan di situ bertemu dengan Sayyid Rahmat shalat sebagai imam yang di-ikuti tiga laki-laki : Abu Hurairah, Ki Wirajaya dan Ki Bangkuning. Maka Maulana Ishaq menunggu di luar masjid. Ketika Sayyid Rahmat sudah salam dari shalatnya, Maulana Ishaq memberi salam dan dijawab salamnya. Kemudian mereka berdua saling bertanya tentang nama mereka dan nama bapak-bapak mereka. Maka tahulah Sayyid Rahmat bahwasanya Maulana Ishaq adalah saudara dari bapaknya. Maulana Ishak berkata : Engkau berarti adalah anakku, karena sebab bapakmu saudara laki-lakiku. Kemudian berkata kepadanya Sayyid Rahmat : Dulu tidak ada seorangpun muslim di sini kecuali aku dan saudaraku Sayyid Rajafandita dan temanku Abu Hurairah, kami adalah yang pertama kali muslim di pulau jawa. Maulana Ishak berkata : Aku namakan engkau Sunan yang pertama, pertama karena sebab engkau yang awal muslim di pulau jawa. Maka sepakatlah manusia yaitu menetapkan nama ini kepada Sayyid Rahmat. Senantiasa Sayyid Rahmat menyeru manusia kepada agama Allah Ta’ala dan kepada ibadah  kepada-Nya. Sampai-sampai seluruh penghuni Ampel mengikutinya dan yang di sekitarnya serta kebanyakan orang-orang Surabaya. Tidaklah itu kecuali kebaikan akan nasihatnya dan hikmahnya dalam berdakwah serta baiknya akhlaknya kepada manusia dan baiknya dalam berjidal, menerapkan firman Allah : Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik, serta berjidallah dengan mereka dengan sebaik-baik jidal (Al-Ayat), dan Firman Allah Ta’ala : Rendah dirilah kamu kepada orang-orang yang beriman, dan firman-Nya : Perintahkan kepada kebaikan dan dan menjauhi kemungkaran serta sabarlah atas apa yang menimpamu, sungguh yang demikan itu adalah yang diwajibkan oleh Allah. Inilah yang semestinya para imam-imam muslim dan masyaikh mereka mengikuti jalan tersebut yang diridhai sampai manusia masuk agama Allah berbondong-bondong. Berkata penyair :

Terimalah maaf mereka, berjalanlah dengan adat sebagaimana …

Engkau diperintah, dan tampakanlah (perintah tersebut) kepada mereka yang jahil …

Lemah lembutlah semampumu pada setiap manusia …

Maka akan tampak baik atas mereka yang jahil …

Dan kepada mereka yang keras kepala, sentuhlah mereka …

Dengan sabar, agar supaya terangkat mereka yang sempurna …

Kemudian berselang beberapa lama, Maulana Ishaq undur diri kepada Sayyid Rahmat dan kemudian keluar dari Ampel berjalan menuju timur laut menaiki gunung dan turun di lembah-lembah sampai ke negeri Banyuwangi. Naik di atas gunung yang dikatakan Selangu semata-mata untuk beribadah di sana, shalat wajib, sunnah dan berpuasa untuk mencari ridha Ar-Rahman dan menjauhkan diri dari seluruh maksiat; Ia Menyendiri, bersungguh-sungguh meninggalkan hawa nasfu dan godaan setan semata-mata untuk hati dan mensucikannya dari kebimbangan agar menjadi orang yang bersyukur dan memuji Rabb-nya, ia bergegas kepada-Nya menghilangkan syirik yang tersembunyi untuk benteng dan senjata dalamnya iman dan keyakinan.

Minak Sambayu (raja Blambangan) yang telah lalu penyebutannya memiliki anak perempuan bernama Sekar Dadu yang ia dahulu intinya adalah orang yang baik, yang memikat laki-laki, sehingga padanya dikatakan :

Ia adalah perempuan yang memiliki kehidupan seperti purnama yang menyihir …

Rambutnya seperti malam ketika gelap gulita …

Keluar dari mulutnya cahaya ketika tersenyum …

Sebagaimana kilat yang menyapu penglihatan ketika dipandang …

Ia berjalan malu-malu tersipu dan menoleh …

Maka jadilah yang memandangnya sebagaimana orang mabuk …

Ketika ia menghadap, aku lihat tidak montok pada keduanya …

Seperti dua delima, bagi siapa yang memandang …

Dan ketika ia membalikkan badan seolah bergelombang acak (rambutnya) …

Perawakannya tidak tinggi ataupun pendek, artinya cukup …

Pada saat itu ia sakit keras, telah banyak tabib letih bingung mesti menggunakan obat apa lagi. Bersedihlah raja Blambangan karena sebab hal itu, dengan kesedihan yang sangat. Maka dikumpulkanlah menteri-menteri, pemerintahan, pegawai dan ahli fatwa kerajaan. Setiap dari mereka diseru untuk mencari obat penyembuh pada setiap wilayah mereka untuk anak perempuan raja, maka barangsiapa yang berhasil menyembuhkannya akan dinikahkan dengannya dan diberikan separuh harta kerajaan. Maka mereka semua menyeru seluruh orang-orang desa dan penjuru negeri, akan tetapi tidak ada hasil. Maka pada suatu hari, berkata sebagaian menteri-menterinya : Sungguh kami melihat seorang manusia berpakaian jubah memakai kopyah putih yang tinggal menyendiri di atas gunung Salangu dan berbeda dengan manusia pada umumnya, ketika tergelincir matahari di langit, ia berdiri dan meletakkan tangannya ke dadanya dan digerak-gerakkan mulutnya dengan berucap dengan apa yang kami tidak paham, tidak tolah-toleh sampai kemudian tertunduk meletakkan tangannya di lututnya kemudian mengangkat kedua tangannya, kemudian menjatuhkan diri dan meletakkan dahinya ke bumi, kemudian duduk dan akhirnya menoleh ke kanan dan kiri; Maka jika terbenam matahari ia melakukan hal itu lagi, jika hilang matahari ia melakukan lagi, jika sebelum matahari muncul ia melakukan itu lagi dengan ringan, itulah kegiatannya setiap hari. Kemudian raja berkehendak memanggilnya agar menyembuhkan anak perempuannya yang mulia, semoga ia dapat menyembuhkannya. Raja berkata : Panggil dia yang telah kalian bicarakan. Maka menteri tersebut memanggil Maulana Ishak agar menghadap di hadapan raja Blambangan, maka ketika mereka bertemu dengan Maulan Ishak, mereka mengkabarkan keinginan raja padanya. Maulana Ishak pun memenuhi panggilan raja, dan turun bersama menteri-menteri kerajaan. Maka ketika sampai di hadapan raja, raja berkata : Sungguh aku memiliki anak perempuan, ia adalah buah hatiku dan separuh jiwaku dan sekarang ia sedang sakit, sudah lama sakitnya, sampai-sampai para tabib sudah lelah mencari obatnya, maka sekiranya engkau memiliki obat, sembuhkanlah dia; Aku bernadzar : Barangsiapa yang menyembuhkannya, akan aku nikahkan dengannya dan bersamanya akan aku berikan setengah dari kerajaanku. Maka Maulana Ishak menerima tawaran tersebut sembari berdoa kepada Allah, mengiba kepada-Nya agar Allah memberi kesembuhan dan menghilangkan sakitnya dengan izin-Nya. Maka tiba-tiba anak raja sembuh, kemudian dinikahkanlah ia dengannya dan memberikan setengah dari kerajaannya. Oleh karena itu, menjadi mudahlah menyeru manusia kepada islam, ia senantiasa menyeru mereka kepada islam sampai-sampai berislam kebanyakan dari penduduk negeri tersebut. Pada suatu hari Maulana Ishak masuk menemui raja Blambangan dan berkata padanya : Wahai bapakku, aku datang kepadamu untuk menyeru agar meninggalkan patung-patung berhala dan mengikuti setan menuju hanya beribadah kepada Allah Yang Maha Hidup dan Berdiri Sendiri, Yang Menghidupkan dan Mematikan, Raja seluruh alam; Katakanlah Asyhadu Anlaa illaha Illallah, wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah. Maka ketika mendengar ucapan Maulana Ishak, berubah wajahnya dan memerah, marah kepada Maulana Ishak dan berkata : Jika engkau tidak keluar sekarang dari hadapanku, aku akan cerai beraikan tubuhmu. Keluarlah Maulana Ishak, menghilang sebagai buronan. Saat itu istrinya telah hamil 7 bulan, menangis karena berpisah dengan suaminya, redup dan sedih menyelimutinya. Maulan Ishak tidak kunjung datang. Maulana Ishak tetap bersembunyi sembari berdoa memohon pertolongan Allah agar Allah menghukum raja Blambangan. Maka Allah turunkan pada penduduk Blambangan wabah dan kematian mendadak, matilah kebanyakan rakyatnya, dan tidak mampu menghalau (adzab dari Allah). Bersedihlah raja Blambangan, sampai-sampai tidak nafsu makan, tidak bisa tidur, ia berkata : Ini adalah akibat dari kesialan laki-laki itu (maksudnya Maulana Ishak) dan anaknya yang sekarang dalam kandungan anakku, sungguh kalau dia lahir akan aku hempaskan ke laut. Maka ketika sempurna masa kandungannya, ia lahir seperti emas murni. Raja mengambilnya dan meletakkannya di peti mati, dan memerintahkan untuk dibuang ke lautan. Terhempaslah kelaut terbawa ombak (peti tersebut) naik turun terjaga, dijaga oleh Allah Ta’ala dan terjaga oleh perhatian-Nya. Itulah yang termasuk sebagian karamah. Ketika peti tersebut melalui kapal dagang penduduk Gresik, diambillah oleh awak kapalnya, maka ketika peti itu dibuka, dijumpai padanya seorang anak yang bercahaya dan wajahnya seperti bulan yang bersinar. Saat itu, para pedagan yang menaiki kapal itu akan pergi menuju Bali. Dibawalah anak tersebut sampai Bali dengan selamat. Ketika pedagang itu selesai urusannya di Bali, mereka beranjak menuju Tandes kemudian barulah pulang menuju Gresik bersamaan dengan anak tersebut. Diturunkannya anak itu di pelabuhan, kemudian diserahkanlah anak itu kepada perempuan yang bernama Nyai Gede anak Sayyid Rajafandita yang telah lalu kisahnya. Nyai berkata : Anak siapa ini ? Mereka (para pedagang) berkata : Anak ini hanyut di dekat pelabuhan Blambangan, berbutar-putar di air laut. Maka sangat senanglah Nyai Gede, di mana ia belum melahirkan anak seorang pun. Anak tersebut ia namakan Broedin, dididiklah ia dengan didikan yang baik, dan sangat dicintai; Akan tetapi anak tersebut tidak dapat menyusu pada seorang perempuanpun, hanya menghisap jemarinya saja sampai umur 7 hari. Setelah itu barulah bisa minum susu, ini sudah menjadi kebiasan bayi.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker