Sejarah

Terjemah Kitab Ahlal Musamaroh

Telah lalu bahwasanya anak laki-laki dari Maulana Ishak yang dibuang oleh raja Blambangan, menuju ke penduduk Gresik dan diserahkan kepada Nyai Gede Tundo Pinatih. Nyai namakan dengan Raden Paku. Ia dididik oleh Nyai Gede sampai menginjak usia 15 tahun, dan mulai untuk menuntut ilmu syariah. Raden Paku mendengar bahwasanya di Ampel daerah Surabaya ada seorang Alim dari pembesar para ulama yang mengajarkan manusia 3 ilmu : Syariah, Thariqah dan hakikat. Iaa berkata kepada ibunya : Wahai ibu, aku dengar di Surabaya ada seorang Alim dari pembesar para ulama yang ia terkenal sebagai bagian dari para wali Allah Ta’ala namanya adalah Sayyid Rahmat yang bergelar Sunan Maqdum, ia tinggal di desa Ampel, aku ingi pergi kepadanya, dan ingin berkhidmah padanya; Akan tetapi aku meminta engkau pergi bersamaku untuk menyerahkanku padanya. Maka ibunya berkata : Lakukanlah apa yang menjadi kepastianmu, dan aku akan pergi bersamamu kepadanya. Maka pergilah mereka berdua menuju Ampel, maka ketika sampai, ibunya menemui Sayyid Rahmat dan berkata padanya  : Aku datang kemari untuk menyerahkan anakku padamu, karena ia mencintai belajar denganmu, belajar ilmu-ilmu yang ia butuhkan dari agamanya. Berkata Sayyid Rahmat : Di mana anak itu sekarang ?. Berkata Ibunya : Itu dia ada di luar rumah berteduh di bawah pohon besar. Maka ia dipanggil untuk menghadap Sayyid Rahmat, duduk di hadapannya. Ketika Sayyid Rahmat melihatnya, ia terdiam dan memperhatikan wajahnya dan teringat wajah Maulan Ishak dan anaknya yang mirip dengannya. Ia berkata kepada ibunya : Apakah ini anakmu sendiri atau anak anak angkat. Kemudian ibunya mengkabarkan yang sebenarnya akan urusannya sebagaimana kisah yang telah lalu. Berkata Sayyid Rahmat : Jika apa yang telah kau kabarkan adalah benar adanya, maka ini adalah anak dari pamanku dan aku ingin penjelasan darimu. Ibunya berkata : Yang terpenting engkau ajari anak ini, sungguh aku menyerahkan padamu untuk diajar adab dan ilmu-ilmu agama. Ibunya meninggalkannya di sisi Sayyid Rahmat, maka diajarilah ia adab, ilmu dan jalan naqsabandiyyah. Inilah kisah Raden Paku.

Telah lalu bahwasanya raja Brawijaya memiliki seorang anak dari istri orang cina yang bernama Raden Patah, Raden Patah memiliki saudara seibu yang bernama Raden Husain dan keduanya berada di Palembang. Mereka bermusyawarah dan sepakat untuk pergi ke Ampel untuk berkhidmat kepada Sayyid Rahmat belajar ilmu darinya. Maka ditinggalkanlah bapak mereka berdua yaitu Raden Arya Damar, dan ia mengizinkan mereka berdua. Maka mereka berdua pergi sampai ke Ampel dan masuk menemui Sayyid Rahmat, maka Sayyid Rahmat bertanya akan nama mereka dan negeri asal mereka berdua. Berkata Raden Patah : Namaku Patah dan saya adalah anak dari raja Brawijaya dan ini adalah saudaraku yang bernama Raden Husain, anak dari Raden Arya Damar pemimpin negeri Palembang; Kami datang untuk berkhidmat kepadamu dan belajar agama islam darimu. Kemudian mereka berdua tinggal bersamanya dan belajar agama islam darinya. Adapun Raden Patah adalah anak yang cepat paham, kuat akalnya, paham tentang semua yang diajarkan padanya dari ilmu. Adapun Raden Husain lambat. Jadilah Patah seorang Alim akan ilmu syariah, thariqah dan hakikat. Ia sibuk untuk beramal wajib dan sunnah dalam ibadah-ibadahnya, menjauhi yang haram dan yang makruh. Kemudian Raden Husain setelah berjalannya waktu tinggal di Ampel, berkata pada dirinya sendiri : Bagaimana aku dapat berpisah dari saudaraku Patah dan menyendiri belajar ilmu-ilmu agama dan sibuk dengannya, yang hal itu didapat tanpa perlu orang-orang mengetahui kedudukanku sebagai anak raja. Maka selang beberapa lama ia berkata kepada Raden Patah : Wahai saudaraku, kita telah tinggal di sini melayani Sayyid Rahmat dan kita telah meraih tujuan kita belajar ilmu ibadah. Oleh karena itu kita sekarang pergi ke Majapahit berkhidmat kepada raja Brawijaya agar supaya kita berhasil mensunnikan (Majapahit) dan memberikan kedudukan yang tinggi. Raden Patah berkata : Aku tidak ingin hal tersebut, pergilah engkau sendiri menuju raja Brawijaya sedangkan aku tinggal di sini sebagai pelayan Sayyid Rahmat. Berkata padanya Raden Husain : Lakukanlah apa yang kau suka, adapun aku akan pergi menuju Majapahit, aku izin demikian. Berkata Raden Patah : Kalau begitu pergilah. Raden Husain pergi meninggalkan Sayyid Rahmat menuju ke Majapahit, bertemu dengan Raden Patah sebentar kemudian lanjut meninggalkan Ampel. Raden Husain terus berjalan sampai Majapahit, masuklah ia bertemu dengan raja Brawijaya kemudian mencium bumi di hadapannya maka raja menahannya dan memperhatikannya dari wajahnya dan ingat anaknya Arya Damar ketika melihat Raden Husain karena padanya terdapat kemiripan. Berkata raja Brawijaya : Siapa namamu, dari negeri mana dan siapa bapakmu ?. Berkata Raden Husain : Wahai raja, namaku Raden Husain dan bapakku bernama Arya Damar dan ia pemimpin Palembang; Aku datang untuk berkhidmat padamu. Maka ketika lama khidmah Raden Husain, diangkatlah ia menjadi menteri dan diangkat di negeri yang bernama Terung dan digelari Pecut Tanda.

Suatu hari berbicang Brawijaya dengan istrinya yaitu Martaningrum. Istrinya menceritakan bahwasanya ia memiliki seorang saudari perempuan yang bernama Candrawulan yang saat itu memiliki keistimewaan yang menakjubkan, padanya dikatakan :

Rambutnya seolah senja menghitam dan di wajahnya seolah fajar bersinar …

Giginya bagaikan lampu-lampu yang berjejer …

Perawakan tubuh bagian belakangnya berpostur kencang …

Berlenggak-lenggok dari belakang menonjol bagaikan bukit …

Seolah dirinya acuh orang-orang mensifatinya dan larut dalam pikiran kotor mereka …

Entah mereka dari kalangan manusia atau seperti kijang …

Maka ketika Brawijaya mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya tentang saudari perempuannya; Brawijaya seolah lebih senang jika istrinya menikahkan saudari perempuannya dengannya. Ia kemudian memanggil menterinya yang bernama Arya Ba’ah, yang dia juga orang kepercayaan Brawijaya. Ketika Brawijaya menceritakan permisalan dari Candrawulan lalu ia berkata kepada menterinya : Aku utus engkau kepada raja Campa, maka jika sampai padanya katakan bahwa engkau adalah utusan raja Brawijaya yang ingin agar anakmu yaitu tuan putri Candrawulan supaya dinikahkan dengan Brawijaya; Oleh sebab itu aku utus engkau padanya. Berkata Arya Ba’ah : Aku dengar dan taat. Ia meninggalkan kerajaan Brawjiya menuju ke negeri Campa sembari bersyair melalui tulisan yang dibacakan :

Aku keluar akan tetapi keluarku bukan untuk mencari rintangan …

Akan tetapi untuk meraih keridhaanmu yang kau impikan …

Sekiranya bukan karenanya, tidaklah aku mau mencari hal yang membahayakan …

Dengan mendatangi negeri asing dan lautan sembari membawa pesan …

Kepada raja di negeri yang aku belum pernah masuk padanya …

Untuk membawa anaknya yang seperti terangnya bulan purnama …

Dengan hati yang di kelilingi ketakutan …

Yang bahwasanya seperti burung kecil yang dilempar kepada elang …

Wahai kiranya ini (yaitu resiko sebagai menteri) sudah ditetapkan oleh tuanku …

Aku akan raih dengan kegembiraan dan kemuliaan  termulia …

Arya Ba’ah tidak berhenti melangkah kecuali setelah sampai pada negeri Campa, maka ketika ia memasuki negeri Campa, ia mendengar bahwa raja Campa telah wafat dan raja setelahnya adalah puteranya sendiri yaitu raja Cangkar sebagaimana telah lalu penyebutannya. Anaknya yaitu Candrawulan telah menikah dengan seorang laki-laki bernama Ibrahim dari Samarqand yang memiliki 3 keturunan atas pernikahannya tersebut, bersedihlah utusan Brawijaya akan hal itu dan ragu akan kebenarannya, merasa telah gagal akan usahanya dan merasa tidak mendapat hasil. Ketika ia masuk bertemu dengan raja Cangkar, raja bertanya akan namanya dan tentang negerinya serta keperluannya. Arya berkata : Wahai raja, saya seorang laki-laki dari Jawa, namaku Arya Ba’ah. Aku datang kepadamu diutus oleh seorang raja yang mulia bernama Brawijaya. Kata Arya dalam dirinya : Dengan wafatnya bapaknya lalu aku serta merta mengatakan tujuanku sebenarnya kemungkinan dia akan marah, aku tidak boleh mengkabarkan tujuanku sampai dia ridho. Kemudian Arya mengurungkan niatnya sembari ramah tamah dengan tanpa mengabarkan kepada raja Cangkar akan tujuannya diutus Brawijaya, berpura-pura dengan menceritakan dari sisi dirinya sendiri. Maka ketika Arya ingin berpamitan, berkata raja Cangkar : Sungguh aku diberikan amanah untuk memberikan gelang dan kalung ini kepada saudari Martaningrum istri raja Brawijaya, maka serahkan kepadanya. Kemudian Arya memohon undur diri kepada raja dan kembali pulang sampai ke Majapahit, kemudian masuk bertemu dengan raja Brawijaya. Maka ketika tuntas urusan Arya dan berhadapan dengan raja Brawijaya, ia berkata : Sungguh aku sudah pergi dan sampai ke negeri Campa, aku melakukan atas apa yang wajib aku lakukan untuk ber-khidmat kepada raja; Akan tetapi telah gagal dan sia-sia usahaku dengan tanpa hasil sebagaimana yang di-inginkan oleh raja. Itu semua karena anak perempuan raja Campa yang bernama Chandrawulan telah menikah dengan lelaki arab yang berna Ibrahim Al Samarqandi, dan telah melahirkan 3 orang anak, dan sesungguhnya raja Campa juga sudah wafat pada hari-hari sebelumnya, sebelum aku datang. Raja setelahnya adalah anaknya sendiri yang bernama Cangkar. Ini aku membawa pesan dari raja Cangkar untuk memeberikan gelang dan kalung untuknya (Martaningrum). Berkata raja Brawijaya kepadanya : Pergilah langsung kepada Martaningrum dan bawa gelang dan kalung ini, tapi ingat janganlah engkau katakan akan kematian bapaknya, sebab aku takut ia berduka dan bersedih jika mendengar darimu akan berita kematian bapaknya. Masuklah Arya Ba’ah ke kediaman raja Brawijaya dan bertemua dengan tuan putri Martaningrum dan memberikan pesan tersebut. Maka ketika digenggamnya (gelang dan kalung) tersebut dan membenarkan bahwasanya itu adalah pemberian saudara laki-lakinya, tiba-tiba ia jatuh pingsan, kemudian Arya ketakutan dan memanggil orang-orang yang ada di dalam rumah dengan berteriak, menangislah seisi rumah sehingga ramai terdengar. Ketika Brawijaya mendengarnya, ia masuk ke dalam rumah sembari memendam kekesalan yang tidak diragukan lagi karena sebab ia menyangkan semua ini akibat pengkabaran akan meninggalnya bapaknya. Berkata Brawijaya kepada istrinya : Tidak benar engkau melakukan demikian, engkau menangis, dan menjatuhkan diri di lantai. Ia istrinya berkata : Aku menangis karena sebab wafatnya bapakku. Berkata Brawijaya : Siapa yang mengabarkan padamu tentangnya ? Sedangkan tidak ada utusan ataupun tulisan (yang sampai) berkenaan dengan hal tersebut. Berkata istrinya : Sungguh bapakku berpesan padaku untuk mengirim gelang dan kalung ini kepadaku jika dia telah wafat, dan keduanya telah sampai padaku, oleh karenanya aku tahu bahwa bapakku telah tiada. Inilah yang dahulu menjadi kisah dari raja Brawijaya dan Istrinya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker