Maka ketika Brawijaya mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya tentang saudari perempuannya; Brawijaya seolah lebih senang jika istrinya menikahkan saudari perempuannya dengannya. Ia kemudian memanggil menterinya yang bernama Arya Ba’ah, yang dia juga orang kepercayaan Brawijaya. Ketika Brawijaya menceritakan permisalan dari Candrawulan lalu ia berkata kepada menterinya : Aku utus engkau kepada raja Campa, maka jika sampai padanya katakan bahwa engkau adalah utusan raja Brawijaya yang ingin agar anakmu yaitu tuan putri Candrawulan supaya dinikahkan dengan Brawijaya; Oleh sebab itu aku utus engkau padanya. Berkata Arya Ba’ah : Aku dengar dan taat. Ia meninggalkan kerajaan Brawjiya menuju ke negeri Campa sembari bersyair melalui tulisan yang dibacakan :
Aku keluar akan tetapi keluarku bukan untuk mencari rintangan …
Akan tetapi untuk meraih keridhaanmu yang kau impikan …
Sekiranya bukan karenanya, tidaklah aku mau mencari hal yang membahayakan …
Dengan mendatangi negeri asing dan lautan sembari membawa pesan …
Kepada raja di negeri yang aku belum pernah masuk padanya …
Untuk membawa anaknya yang seperti terangnya bulan purnama …
Dengan hati yang di kelilingi ketakutan …
Yang bahwasanya seperti burung kecil yang dilempar kepada elang …
Wahai kiranya ini (yaitu resiko sebagai menteri) sudah ditetapkan oleh tuanku …
Aku akan raih dengan kegembiraan dan kemuliaan termulia …
Arya Ba’ah tidak berhenti melangkah kecuali setelah sampai pada negeri Campa, maka ketika ia memasuki negeri Campa, ia mendengar bahwa raja Campa telah wafat dan raja setelahnya adalah puteranya sendiri yaitu raja Cangkar sebagaimana telah lalu penyebutannya. Anaknya yaitu Candrawulan telah menikah dengan seorang laki-laki bernama Ibrahim dari Samarqand yang memiliki 3 keturunan atas pernikahannya tersebut, bersedihlah utusan Brawijaya akan hal itu dan ragu akan kebenarannya, merasa telah gagal akan usahanya dan merasa tidak mendapat hasil. Ketika ia masuk bertemu dengan raja Cangkar, raja bertanya akan namanya dan tentang negerinya serta keperluannya. Arya berkata : Wahai raja, saya seorang laki-laki dari Jawa, namaku Arya Ba’ah. Aku datang kepadamu diutus oleh seorang raja yang mulia bernama Brawijaya. Kata Arya dalam dirinya : Dengan wafatnya bapaknya lalu aku serta merta mengatakan tujuanku sebenarnya kemungkinan dia akan marah, aku tidak boleh mengkabarkan tujuanku sampai dia ridho. Kemudian Arya mengurungkan niatnya sembari ramah tamah dengan tanpa mengabarkan kepada raja Cangkar akan tujuannya diutus Brawijaya, berpura-pura dengan menceritakan dari sisi dirinya sendiri. Maka ketika Arya ingin berpamitan, berkata raja Cangkar : Sungguh aku diberikan amanah untuk memberikan gelang dan kalung ini kepada saudari Martaningrum istri raja Brawijaya, maka serahkan kepadanya. Kemudian Arya memohon undur diri kepada raja dan kembali pulang sampai ke Majapahit, kemudian masuk bertemu dengan raja Brawijaya. Maka ketika tuntas urusan Arya dan berhadapan dengan raja Brawijaya, ia berkata : Sungguh aku sudah pergi dan sampai ke negeri Campa, aku melakukan atas apa yang wajib aku lakukan untuk ber-khidmat kepada raja; Akan tetapi telah gagal dan sia-sia usahaku dengan tanpa hasil sebagaimana yang di-inginkan oleh raja. Itu semua karena anak perempuan raja Campa yang bernama Chandrawulan telah menikah dengan lelaki arab yang berna Ibrahim Al Samarqandi, dan telah melahirkan 3 orang anak, dan sesungguhnya raja Campa juga sudah wafat pada hari-hari sebelumnya, sebelum aku datang. Raja setelahnya adalah anaknya sendiri yang bernama Cangkar. Ini aku membawa pesan dari raja Cangkar untuk memeberikan gelang dan kalung untuknya (Martaningrum). Berkata raja Brawijaya kepadanya : Pergilah langsung kepada Martaningrum dan bawa gelang dan kalung ini, tapi ingat janganlah engkau katakan akan kematian bapaknya, sebab aku takut ia berduka dan bersedih jika mendengar darimu akan berita kematian bapaknya. Masuklah Arya Ba’ah ke kediaman raja Brawijaya dan bertemua dengan tuan putri Martaningrum dan memberikan pesan tersebut. Maka ketika digenggamnya (gelang dan kalung) tersebut dan membenarkan bahwasanya itu adalah pemberian saudara laki-lakinya, tiba-tiba ia jatuh pingsan, kemudian Arya ketakutan dan memanggil orang-orang yang ada di dalam rumah dengan berteriak, menangislah seisi rumah sehingga ramai terdengar. Ketika Brawijaya mendengarnya, ia masuk ke dalam rumah sembari memendam kekesalan yang tidak diragukan lagi karena sebab ia menyangkan semua ini akibat pengkabaran akan meninggalnya bapaknya. Berkata Brawijaya kepada istrinya : Tidak benar engkau melakukan demikian, engkau menangis, dan menjatuhkan diri di lantai. Ia istrinya berkata : Aku menangis karena sebab wafatnya bapakku. Berkata Brawijaya : Siapa yang mengabarkan padamu tentangnya ? Sedangkan tidak ada utusan ataupun tulisan (yang sampai) berkenaan dengan hal tersebut. Berkata istrinya : Sungguh bapakku berpesan padaku untuk mengirim gelang dan kalung ini kepadaku jika dia telah wafat, dan keduanya telah sampai padaku, oleh karenanya aku tahu bahwa bapakku telah tiada. Inilah yang dahulu menjadi kisah dari raja Brawijaya dan Istrinya.
Adapun yang menjadi kisah dari Sayyid Rajafandita dan Sayyid Rahmat yang keduanya adalah anak dari Sayyid Ibrahim yang mereka berdua berasal dari negeri Campa, keduanya adalah guru kita, bapak mereka berdua pernah mengunjungi bibinya yaitu Martaningrum istri raja Brawijaya di negeri Majapahit. Pada saat itu bapaknya mengutus seorang budak yang bernama Abu Hurairah untuk menemani keduanya (yaitu anaknya) safar dimanapun dan kapanpun, agar senantiasa berkhidmat pada keduanya. Ketika mereka berdua pergi keluar dari negeri Campa menuju pulau Jawa, sampailah pada suau ketika mereka pada negeri yang dikatakan Kupang, yang padanya di dapati kapal untuk berdagang milik orang Gresik yaitu kota dekat dengan Surabaya. Naiklah mereka semua ke kapal tersebut dan mengarungi lautan selama 7 malam. Ketika ada gelombang laut, tiba-tiba muncul badai angin yang mendorong kapal menuju negeri dekat Kamboja. Maka ketika tiba di pesisir pantai, kapal berbenturan dengan batu besar pantai dan terbelahlah kapal tersebut. Beredarlah kabar kepada raja Kamboja, raja memerintahkan untuk menenggelamkan kapal dan membawa awak kapal agar ditahan. Mereka bertiga berunding akan kejadian yang menimpa mereka. Mereka sepakat untuk mengkabarkan raja Brawijaya tentang kondisi mereka agar supaya dibebaskan dari tangan raja Kamboja, di mana kekuasaan raja Kamboja berada di bawah kekuasaan Brawijaya. Mereka mengutus seorang laki-laki dari negeri Kamboja, safarlah lelaki tersebut sampai Majapahit. Ketik masuk bertemu dengan raja Brawijaya, ia ditanya tentang nama, negerinya dan tujuannya. Laki-laki itu berkata : Sungguh aku dari negeri Kamboja , aku datang sebagai utusan dari anak-mu yang mulia, yang keduanya adalah anak dari Candrawulan binti raja Campa yaitu Sayyid Rajafandita dan Sayyid Rahmat yan bersamanya seorang pelayan bernama Abu Hurairah. Mereka ingin adanya delegasi darimu, karena ketika mereka menaiki kapal, kapal tersebut berlabuh dan menabrak batu besar di dekat negeri Kamboja, maka raja Kamboja menenggelamkan kapal tersebut sehingga mereka saat ini menjadi hamba raja Kamboja yang diliputi dengan kedzaliman dan kesengsaraan. Mereka semua berharap bantuan untuk membebaskan mereka dari belenggu raja Kamboja. Maka ketika mendengar ucapan dari utusan ini, berempati dan tambah sedih hati istrinya (Martaningrum) lalu menangis. Dipanggillah menterinya yaitu Arya Ba’ah dan diceritakan kejadiannya yang rusak kapalnya sampai ditahan oleh raja Kamboja dan menjadikan mereka hambanya. Berkaya raja Brawijaya padanya : Pergilah engkau menuju Kamboja untuk mengambil ketiga anak ini dari tangan raja Kamboja, bersamamu aku utus 10 orang yang akan membantumu dan membersamaimu senjata. Arya Ba’ah undur diri dan menuju ke Kamboja. Setelah sampai di hadapan raja Kamboja, ia ditanya nama, negeri dan tujuannya. Berkata Arya Ba’ah : Adapun saya bernama Arya Ba’ah, aku diutus dan yang bersamaku kepadamu oleh raja besar yaitu Brawijaya karena sebab mendengar bahwasanya engkau menahan dua orang pemuda dan seorang pelayan ketika mereka tengah menaiki kapal yang terbelah di pesisir pantai dan aku diutus untuk membawa mereka semua ke hadapan raja Brawijaya, karena sebab anak-anak tersebut adalah anak dari Sayyidah Candrawulan binti raja Campa, saudari perempuan Sayyidah Martaningrum, istri dari raja Brawijaya, dan ia merasa senang jika engkau tidak menenggelamkan kapalnya, lalu ia (raja Brawijaya) akan merasa senang atas bantuanmu. Maka ketika mendengar ucapan Arya Ba’ah, ia memanggil ketiganya da berkata dihadapan mereka : Mereka ini adalah utusan raja Brawijaya, yang datang kepadaku untuk memintaku mengembalikan kalian kepada mereka, pergilah kalian bersama mereka. Mereka bertiga kemudia berkata : Kami mendengar dan taat. Arya Ba’ah lalu undur diri bersama gerombolannya dan mereka bertiga dari raja Kamboja dan menuju Majapahit. Kemudian mereka bertiga dipanggil oleh Arya Ba’ah untuk menghadap raja Brawijaya, maka ketika berhadapan dengannya, raja bertanya berkenaan dengan keadaannya dari awal hingga akhir. Kemudian Brawijaya memerintahkan mereka berdiri di sandinya dan memuliakan mereka dengan penghormatan. Dan saat itu adalah akhir dari kurun ke-enam hijriyyah.









One Comment