Sejarah

Terjemah Kitab Ahlal Musamaroh

Keimanan seorang hamba tidaklah sempurna …

Sampai ia melihat manusia dan unta sama saja …

Pujian dan celaan mereka sama saja …

Tidaklah merasa takut celaan dari orang yang mencela sang pemilik kemuliaan …

Dahulu sebelum itu, pada zaman di mana negeri Pajajaran terdapat raja yang bernama Arya Banjar yaitu anak dari Sang Mundi Wangi, dan Arya Banjar punya anak bernama Arya Mantahunan, Arya Mantahunan memiliki anak bernama Randa Kuning , dan dari Randa Kuning melahirkan 3 anak : Arya Galuh, Arya Tanduran dan Arya Ba’ah. Lahir 3 anak dari Arya Galuh : Arya Baribain, Arya Tijawaki, Tarub; dan Arya Baribain punya 2 anak salah satunya perempuan yang namanya Maduratna dan yang laki-laki bernama Jaka Kandar. Arya Tija memiliki 2 anak, yang perempuan namanya Candrawata  dan yang laki-laki Raden Syukur. Tarub memiliki 3 anak : Nawangsih, Raden Yunawang Sasi dan Raden Yutawang Arum. Wallahu A’lam. Dan akan datang keterkaitan mereka pada kisah ini.

Lalu Sayyid Rajafandita dan Sayyid Rahmat ingin kembali ke negeri Campa karena sebab yang telah dikisahkan lalu karena merasa sedih. Mereka berdua mengkabarkan kepada raja Brawijaya atas keinginannya, kemudian raja melarang mereka berdua untuk pulang, raja berkata : Sungguh berpisah dengan kalian berdua adalah perkara yang besar, janganlah kalian kembali ke negeri kalian berdua; Jika kalian berdua ingin menguasai wilayah, untukmu wilayah tersebut apa yang kalian berdua mau, dari kepemimpinan apapun jika kalian mau, jika kalian ingin istri, pilihlah mana yang kalian kehendaki di antara perempuan-perempuan, dan pemerintahan, menteri pilihlah. Tapi aku melarang kalian berdua kembali ke negeri kalian. Karena aku mendengar bahwasanya raja Hindustan memerangi Kupang, Kalkuta, Giri, Malibar dan sekitarnya, dan tidak tersisa dari negeri-negeri tersebut kecuali tunduk dibawah kuasanya (Hindustan), tidak juga negeri Campa, karena saat ini masih berperang dengan Hindustan dan aku tidak tahu bagaimana akhirnya.

Maka ketika mendengar ucapan Brawijaya dan kuatnya larangan kepada mereka berdua untuk pulang, keduanya mentaati raja untuk tetap di Majapahit. Kemudian setelah itu menikahlah keduanya. Adapun Sayyid Rajafandita menikah dengan anak perempuan Arya Baribain yang bernama Maduratna di negeri Ris, kemudian tinggal di desa yang bernama Sinabung. Adapun Sayyid Rahmat menikah dengan anak Arya Tija yang bernama Raden Ayu Candrawati kemudian tinggal di desa yang dikatakan Ampel di Surabaya. Adapun Abu Hurairah menikah dengan perempuan dari desa Tambakrian yang bernama Samirah binti Husain dan pekerjaan mereka berdua adalah berkebun katun; Pada saat itu Abu Hurairah memetiknya dan memisahkan biji dengan kapuknya. Setiap hari memberikan hadiah katun kepada Sayyid Rahmat untuk dibuat sumbu penerangan lampu-lampu masjid, oleh karena itu Sayyid Rahmat menamakannya biji kapas.

Sayyid Rahmat mengikut laki-laki dari Majapahit yang bernama Wirajaya dan ia adalah pimpinan desa dan menganjurkan Sayyid Rajafandita untuk bekerja sebagai tukang besi.

Sayyid Rajafandita memiliki 3 anak : Hajj Utsman, Utsman Hajj dan Nyai Gede Tundo

Sayyid Rahmat memiliki 5 orang anak dari Raden Ayu Candrawati :Sayyidah Syarifah, Mutmainnah, Hafsah dan Sayyid Ibrahim, Sayyid Qasim. Kemudian menikah lagi dengan Maskarimah binti Kembang Kuning yang lahir padanya 2 anak perempuan : Murtiah dan Murtasimah. Seluruh anak-anaknya belajar ilmu-ilmu syariah (agama) dari bapaknya. Inilah keterangan yang menjelaskan tentang Sayyid Rajafandita dan saudaranya (Sayyid Rahmat).

Anak-anak Ki Tarub yang telah lalu nama mereka disebut maka yang bernama Nawangsih ia menikah dengan Lembu Peteng bin Brawijaya atau yang dinamakan Shohroh Tarub yang dikaruniai anak yang bernama Getas Pandawa. Dan anaknya yang bernama Nawangsasi menikah dengan Raden Jaka Kandar bermukim di desa Malaya di Bangkalan di Madura; Kemudian memiliki anak bernama Asiyah dan Dewi Irah. Adapun anak perempuan Ki Tarub yang bernama Nawang Arum menikah dengan Raden Syakur yang ia menguasai negeri Wilatikta (Tumenggung Wilatikta).

Telah disebutkan bahwasanya raja Pajajaran Mundi Wangi memiliki istri kedua dan dikarunia anak laki-laki yang bernama Giyung Manar yang dikarunia anak bernama Bambang Wecana yang dikaruniai anak Bambang Pamengker., dan bapaknya ini tunduk di bawah kuasa raja Majapahit, menjauhkan diri tinggal di desa di bawah gunung semeru, Bambang Pamengker dikarunia anak bernama Minak Paranggula yang dikarunia anak bernama Minak Sambayu yang menjadi raja di negeri Blambangan. Akan datang keterkaitan kisah mereka.

Maulan Ishak yang telah lalu penyebutannya, ia adalah saudara Sayyid Ibrahim; Maka ketika ia menjadi laki-laki petualang di bumi, sampai ke negeri Pasa yaitu negeri di pulau sumatera, maka tinggallah ia di sana (Pasa). Dikaruniai anak bernama Sayyid Abdul Qadir dan Sarah.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker