Sejarah

Terjemah Kitab Ahlal Musamaroh

Adapun yang menjadi kisah dari Sayyid Rajafandita dan Sayyid Rahmat yang keduanya adalah anak dari Sayyid Ibrahim yang mereka berdua berasal dari negeri Campa, keduanya adalah guru kita, bapak mereka berdua pernah mengunjungi bibinya yaitu Martaningrum istri raja Brawijaya di negeri Majapahit. Pada saat itu bapaknya mengutus seorang budak yang bernama Abu Hurairah untuk menemani keduanya (yaitu anaknya) safar dimanapun dan kapanpun, agar senantiasa berkhidmat pada keduanya. Ketika mereka berdua pergi keluar dari negeri Campa menuju pulau Jawa, sampailah pada suau ketika mereka pada negeri yang dikatakan Kupang, yang padanya di dapati kapal untuk berdagang milik orang Gresik yaitu kota dekat dengan Surabaya. Naiklah mereka semua ke kapal tersebut dan mengarungi lautan selama 7 malam. Ketika ada gelombang laut, tiba-tiba muncul badai angin yang mendorong kapal menuju negeri dekat Kamboja. Maka ketika tiba di pesisir pantai, kapal berbenturan dengan batu besar pantai dan terbelahlah kapal tersebut. Beredarlah kabar kepada raja Kamboja, raja memerintahkan untuk menenggelamkan kapal dan membawa awak kapal agar ditahan. Mereka bertiga berunding akan kejadian yang menimpa mereka. Mereka sepakat untuk mengkabarkan raja Brawijaya tentang kondisi mereka agar supaya dibebaskan dari tangan raja Kamboja, di mana kekuasaan raja Kamboja berada di bawah kekuasaan Brawijaya. Mereka mengutus seorang laki-laki dari negeri Kamboja, safarlah lelaki tersebut sampai Majapahit. Ketik masuk bertemu dengan raja Brawijaya, ia ditanya tentang nama, negerinya dan tujuannya. Laki-laki itu berkata : Sungguh aku dari negeri Kamboja , aku datang sebagai utusan dari anak-mu yang mulia, yang keduanya adalah anak dari Candrawulan binti raja Campa yaitu Sayyid Rajafandita dan Sayyid Rahmat yan bersamanya seorang pelayan bernama Abu Hurairah. Mereka ingin adanya delegasi darimu, karena ketika mereka menaiki kapal, kapal tersebut berlabuh dan menabrak batu besar di dekat negeri Kamboja, maka raja Kamboja menenggelamkan kapal tersebut sehingga mereka saat ini menjadi hamba raja Kamboja yang diliputi dengan kedzaliman dan kesengsaraan. Mereka semua berharap bantuan untuk membebaskan mereka dari belenggu raja Kamboja. Maka ketika mendengar ucapan dari utusan ini, berempati dan tambah sedih hati istrinya (Martaningrum) lalu menangis. Dipanggillah menterinya yaitu Arya Ba’ah dan diceritakan kejadiannya yang rusak kapalnya sampai ditahan oleh raja Kamboja dan menjadikan mereka hambanya. Berkaya raja Brawijaya padanya : Pergilah engkau menuju Kamboja untuk mengambil ketiga anak ini dari tangan raja Kamboja, bersamamu aku utus 10 orang yang akan membantumu dan membersamaimu senjata. Arya Ba’ah undur diri dan menuju ke Kamboja. Setelah sampai di hadapan raja Kamboja, ia ditanya nama, negeri dan tujuannya. Berkata Arya Ba’ah : Adapun saya bernama Arya Ba’ah, aku diutus dan yang bersamaku kepadamu oleh raja besar yaitu Brawijaya karena sebab mendengar bahwasanya engkau menahan dua orang pemuda dan seorang pelayan ketika mereka tengah menaiki kapal yang terbelah di pesisir pantai dan aku diutus untuk membawa mereka semua ke hadapan raja Brawijaya, karena sebab anak-anak tersebut adalah anak dari Sayyidah Candrawulan binti raja Campa, saudari perempuan Sayyidah Martaningrum, istri dari raja Brawijaya, dan ia merasa senang jika engkau tidak menenggelamkan kapalnya, lalu ia (raja Brawijaya) akan merasa senang atas bantuanmu. Maka ketika mendengar ucapan Arya Ba’ah, ia memanggil ketiganya da berkata dihadapan mereka : Mereka ini adalah utusan raja Brawijaya, yang datang kepadaku untuk memintaku mengembalikan kalian kepada mereka, pergilah kalian bersama mereka. Mereka bertiga kemudia berkata : Kami mendengar dan taat. Arya Ba’ah lalu undur diri bersama gerombolannya dan mereka bertiga dari raja Kamboja dan menuju Majapahit. Kemudian mereka bertiga dipanggil oleh Arya Ba’ah untuk menghadap raja Brawijaya, maka ketika berhadapan dengannya, raja bertanya berkenaan dengan keadaannya dari awal hingga akhir. Kemudian Brawijaya memerintahkan mereka berdiri di sandinya dan memuliakan mereka dengan penghormatan. Dan saat itu adalah akhir dari kurun ke-enam hijriyyah.

Raja Brawijaya dahulu mencintai sangat kedua anak ini, seakan-akan mereka berdua adalah bagian dari anak-anaknya yang lain. Ia memberikan apapun yang keduanya minta, akan tetapi mereka berkecil hati karena tak melihat seorang pun dari penduduk Majapahit secara khusus dan jawa secara umum beragama dengan agama islam. Ketika mereka berdua akan menjalankan shalat, orang-orang mengejek dan gaduh dan tidak pernah tahu akan hal tersebut seolah-olah perbuatan yang sangat asing yang tidak pernah dilihat sekalipun dari berdiri, membaca (Al-Qur’an), ruku’, i’tidal, sujud, duduk, tasyahud dan selainnya. Sampai-sampai seorang yang sepuh berkata : Janganlah kalian ejek dan membuat gaduh mereka berdua, karena setiap manusia memiliki Tuhan yang disembah dengan sesuatu yang dicintai-Nya, keduanya memiliki Tuhan selain dari tuhan kalian yang kalian sembah sesuai yang dicintai-Nya dengan tata cara masing-masing, janganlah kalian anggap aib dan jangan kalian cela manusia yang menyembah Tuhannya.

Inilah kisah Sayyid Rajafandita dan Sayyid Rahmat yang padanya terdapat pelajaran bagi yang mengambil pelajaran dan petunjuk dari orang-orang yang berilmu, yang bahwasanya seorang mukmin tidak boleh malu menyerukan atas apa yang diwajibkan oleh Allah Ta’ala baginya, dan tidak boleh takut celaan orang yang mencela untuk meraih ridha Allah Ta’ala, sebagaimana berkata sebagian Ulama :

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker