Maulana Ishak setelah bersembunyi di balik bukit kecil, kembali menuju negerinya yakni Pasa di pulau Sumatera berkumpul dengan istrinya dan anak-anaknya. Maulana Ishak mengkabarkan bahwa istri dan anaknya masih punya kerabat yaitu anak dari pamannya di pulau jawa di desa Ampel yang termasuk wilayah Surabaya yang namanya adalah Sayyid Rahmat yang ia termasuk dari yang pertama kali islam di pulau Jawa, ia juga imam bagi orang-orang islam, wali dan orang shalih; Mengajarkan islam, jalan islam dan hakikat islam. Maulana Ishak tidak menetap di Pasa kecuali hanya selama beberapa hari dan kemudian wafat, dikatakan selama 7 hari di Pasa dan kemudian wafat. Datang para ulama dan para wali untuk menyolatkannya, setelah dishalatkan dibawa ia ke kubur yang dikatakan Kuburan Taman Sari. Mereka semua berdesakan sembari bershalawat di kuburnya, bertasbih, tahmid, tahlil dan membaca Al-Qur’an, semoga mendapatkan balasan yang luas atas ruh Maulana Ishak, ia dikuburkan di sana, semoga baginya rahmat Allah yang tak terputus bagi Maulana Ishak.
Kisah anaknya yaitu Sayyid Abdul Qadir dan Sayyidah Sarah, maka mereka berdua sepeninggal bapak mereka sepakat untuk berkeliling bumi. Sehingga sampailah mereka ke negeri Adan yaitu di jazirah arab, mereka menetap berhari-hari di sana kemudian lanjut menaiki kapal yang kemudian melaju ke Keling selama 11 hari, dan menetap di sana selama sebulan kemudian naik kapal lagi sampai tiba di pulau Jawa, kemudian naik kapal sampai negeri yang dinamakan Juwana ia adalah pelabuhan di antara pelabuhan-pelabuhan di waktu itu. Dan keluar mereka berdua menuju Surabaya. Dan berjalan sampai desa Ampel, mereka berdua bertanya akan rumah dari Sayyid Rahmat, maka ditunjukkanlah mereka berdua menuju rumah Sayyid Rahmat. Maka ketika bertemu dengannya, mereka berdua mengucapkan salam, dan dibalas salamnya. Kemudian Sayyid Rahmat bertanya tentang nama mereka, negerinya dan siapa orang tua mereka berdua. Berkata Sayyid Abdul Qadir : Namaku adalah Abdul Qadir, dan ini adalah saudari perempuanku Sarah, kami berdua datang dari negeri Pasa di pulau Sumatera, bapak kami bernama Maulana Ishak dan ia telah wafat; Dikabarkan kepada kami ketika ia masih hidup bahwa kami punya kerabat dekat bernama Sayyid Rahmat yang tinggal di desa Ampel di Surabaya pulau Jawa dan menjadi imam bagi orang-orang islam di sana. Berkata Sayyid Rahmat : Kalau begitu kalian berdua adalah saudaraku, bapak kalian berdua adalah saudara dari bapakku. Mereka saling berpelukan dan menangis gembira.





One Comment