Lalu setelah itu brawijaya sakit yang lama, yang para dokter tidak mampu untuk menyembuhkannya, maka para peramal mangatakan, engkau tidak akan sembuh dari sakitmu ini kecuali kemu menikah dengan seorang wanita yang namanya wandan kuning, dan ia dari rakyat bawah dan berupa jelek, maka brawijaya tidak mau, tetapi karena mengharap kesembuhan brawijaya terpaksa menikahinya. ketika menikahinya dan lewat tiga hari sakit brawijaya menjadi ringan, dan tidak lama brawijaya sembuh dari sakitnya dan kembali seperti sedia kala.
Lalu wanita itu mengandung, ketika sudah sembilan bulan ia melahirkan purta yang diberi nama bundan kejawen. dan ketika itu brawijaya malu dari para mentrinya, terhusus istana kerajaanya, karena ia memiliki seorang anak dari wanita yang rendahan dan jelek, lalu brawijaya mengeluarkan wanita tersebut dan menaruhnya di seorang petani di suatu desa yang namanya karang jambu. Dan anak tersebut tumbuh besar di desa tersebut sampi menginjak dewasa dan dinamakan lembu peteng, dan ia di keadaan yang jelek dan sempitnya maisyah, karena ia tidak memiliki pekerjaan kecuali petani, dan ia malu dari manusia, karena ia menjadi rakyat bawan dan rakyat biasa, dan sudah menyebar bahwa ia anak raja brawijaya, maka ia sedih dan berfikir akan urusan mereka, dan hatinya bingung di lembah fikiran, lalu ia kelluar dari desa tersebut dan berjalan di bumi sampai di suatu gunun kadeng, maka ia menyendiri di sana, dan sibuk melakukan latihan, dengan menyiksa dirinya, dengan menyedikitkan makanan dan kurangnya tidur, seraya berharap agar kendali tanah jawa berada di tangannya, dan di bawah kekuasaanya. dan ia berada di situ lama, sampai ia mendengan suara agar ia meninggalkan tempat ini dan carilah seorang guru dari guru zaman ini, ketiak kamu menemukannya maka sibuklah untuk berkhidman padanya dan selalu taat padanya.
Lalu ia keluar dari tempat tersebut dan turun dari pucuk gunung dan berkelana di bumi, menapaki dalan kecul dan tanah becek, naik di atas gunu, dan turun di lembah, dan tempat-tempat yang menakutkan, mendatangi kota-kota dan desa-desa, keluar dari tempat ini masuk di tempat lain, semua itu bersama meninggalkan enaknya minuman dan makanan, dan meninggalkan tikar untuk istirahat dan tidur, seraya mencari kemuliaan yang tinggi dan kehormatan di antara para manusia.
Dai ia tidak henti-henti melakukan hal tersebut sampai datang di suatu daerah , yang di situ adah soerng pemimpin yang namanya ki tarub, dan ki tarub berkata: apa yang membuatmu datang kesini wahai pemuda?. ia berkata: aku datang kepadamu dan menyerahkan padamu diriku dan urusanku padamu, seraya meminta berkah dengan melayanimu. maka ki tarub tersenyum dan memandangnya dan memiriki firasan dari wajahnya dan cahaya matanya bahwa anak ini termasuk putra raja, lalu ki tarub menanyakan namanya dan ayahnya dan kotanya. ia berkata: namaku lembu peteng, dan saya putra seorang wanita yang bernama wandan kuning dari suatu desa yang namanya karang jambu. maka ki tarub ingan bahwa brawijaya memiliki istri yang namanya wandan kuning, dan ia ingat apa yang terjadi padanya, dan bahwa brawijaya mengeluarkannya dan anaknya sampai akhir cerita. maka ki tarub sangat bahagia dan berkata: wahai anakku jika enkau ingin melayaniku maka lakukanlah dengan serius dan niat yang kuat, dan niatlah melatih diri untuk memperoleh apa yang kau inginkan seperti kerajaan dan kekuasaan. lembu peteng berkata: siap, dan hal tersebut adalah tujuanku dan puncak harapanku, dan menerimamu akan pelayananku adalah termsuk kebahagiannku yng besar, seraya mengharap keberkahan doamu.
Maka lembu peteng tidak henti-henti melayani ki tarub siang malam, dan tidak terputus dari latihannya bersama pelayanan tersebut, maka ki tarub takjub dari ketaatannya dan pelayanannya dan mencintainya dengan sangat. dan berkata padanya: wahai anakku: apakah engkau mau aku nikahkan dengan putriku yang namanya nawang sih. lembu peteng berkata: iya saya mau. ini adalah cerita lembu peteng.
Suatu hari
berbicang Brawijaya dengan istrinya yaitu Martaningrum. Istrinya menceritakan
bahwasanya ia memiliki seorang saudari perempuan yang bernama Candrawulan yang
saat itu memiliki keistimewaan yang menakjubkan, padanya dikatakan :
Rambutnya seolah senja menghitam dan
di wajahnya seolah fajar bersinar …
Giginya bagaikan lampu-lampu yang
berjejer …
Perawakan tubuh bagian belakangnya
berpostur kencang …
Berlenggak-lenggok dari belakang menonjol
bagaikan bukit …
Seolah dirinya acuh orang-orang mensifatinya
dan larut dalam pikiran kotor mereka …
Entah mereka dari kalangan manusia
atau seperti kijang …









One Comment