Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Akhlaq Lil Banat Juz 3

  1. Hendaklah engkau duduk sesuai dengan kemampuan sambil menghadap kiblat. Dalam hadits disebutkan: “Sebaik-baik majelis adalah yang menghadap kiblat.”

Hendaklah engkau berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghadiri majelis-majelis kebaikan yang mana engkau akan mendapat faedah dalam urusan-urusan agama dan duniamu.

Hindarilah majelis-majelis yang buruk atau majelis-majelis tak berguna, yang tidak disebut nama Allah di dalamnya.

Nabi SAW. bersabda: “Tidaklah suatu kaum berdiri dari suatu majelis di mana orang-orang tidak menyebut nama Allah, melainkan mereka berdiri seperti meninggalkan bangkai keledai dan majelis itu akan menimbulkan penyesalan atas mereka di hari kiamat.”

Hendaklah engkau menjauhi majelis-majelis yang terdapat kemunkaran, seperti halnya permainan judi atau terdapat khamar/minuman keras di situ.

Dalam hadits disebutkan: “Nabi SAW. melarang duduk di majelis hidangan, yang ada orang minum khamar di tempat itu.”

Apabila engkau tidak menemukan teman duduk perempuan yang shalihah, maka hendaklah engkau menyendiri, sesuai dengan sabda Rasulullah SAW.: “Tinggal sendirian lebih baik dari pada duduk berteman dengan yang jahat, dan teman yang baik lebih baik daripada menyendiri.”

Janganlah engkau masuk majelis rahasia sedangkan engkau tidak diundang. Sehingga orang-orang yang hadir tidak marah kepadamu, karena engkau dianggap memata-matai mereka.

Dalam hadits disebutkan: “Barangsiapa mendengarkan pembicaraan suatu kaum sedang mereka tidak menyukainya, maka pada hari kiamat nanti akan dituangkan timah cair ke kedua telinganya.”

  1. Hendaklah engkau duduk di tempat yang terdekat denganmu dan jangan memaksakan duduk di tengah majelis. Sebab Nabi SAW. sendiri tidak punya tempat duduk khusus dari para sahabatnya, karena beliau duduk di mana pun ada tempat duduk kosong.

Begitu pula yang dilakukan sahabat-sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum ketika mereka hendak duduk.

Apabila engkau duduk di masjid, maka berniatlah untuk i’tikaaf supaya engkau mendapat pahala. Bersikaplah sopan di dalamnya dan jangan bermain atau berteriak, atau mengganggu seseorang yang sedang shalat.

Sibukkan dirimu dengan membaca Al-Qur’an dan berdzikir atau membaca shalawat Nabi SAW.

Janganlah bicara urusan duniawi di dalam masjid, apalagi hal-hal yang diharamkan.

Dalam hadits disebutkan: “Akan terjadi di akhir zaman nanti, suatu kaum yang membicarakan urusan mereka di masjid-masjid, sedang Allah tidak butuh kepada mereka.”

Dalam hadits lain disebutkan: “Berbicara di dalam masjid dapat menghabiskan pahala amal kebaikan, Sebagaimana hewan memakan rumput.”

Janganlah melangkahi bahu orang-orang yang sudah duduk berbaris, kecuali bila engkau menemukan tempat yang kosong di baris depan.

Dalam hadits disebutkan: “Barangsiapa melangkahi bahu orang-orang pada hari Jum’at, maka ia telah membuat jembatan menuju jahannam.”

Para ulama berkata, “Sesungguhnya pengharaman melangkahi bahu orang-orang adalah bersifat umum untuk semua majelis, karena perbuatan itu mengganggu orangorang yang duduk dan merendahkan mereka.”

  1. Jauhilah kebiasaan-kebiasaan buruk pada waktu engkau duduk.

Maka janganlah memasukkan jarimu ke dalam telinga, ke dalam hidung atau pun ke dalam mulutmu.

Jangan mengeluarkan sisa makanan diantara gigigigimu dan jangan membuang ingus dengan tanganmu, tetapi bersihkanlah dengan sapu tangan yang bersih sambil menutup hidung tanpa mengeraskan suara.

Apabila engkau batuk, maka letakkan sapu tanganmu di atas mulutmu supaya air ludahmu tidak bertebaran keluar.

Apabila engkau menguap, maka tahanlah sekuat tenagamu dengan meletakkan tangan kirimu pada mulut atau dengan menutup kedua bibirmu.

Jika engkau tidak sanggup, maka tutuplah mulutmu dengan punggung telapak tangan kirimu dan jangan menimbulkan suara.

Nabi SAW. bersabda: “Apabila seseorang dari kamu menguap, hendaklah ia letakkan tangan di atas mulutnya, karena syaitan masuk waktu ia menguap.”

Dalam hadits lain: “Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Maka apabila seseorang dari kamu menguap, hendaklah ia menahannya sedapat mungkin dan jangan mengatakan: “Hah, hah,” karena hal itu termasuk perbuatan syaitan yang mentertawainya.

Para ulama berkata, “Karena bersin menunjukkan ringannya badan dan kegiatan, sedangkan menguap biasanya menunjukkan-badan yang berat dan penuhnya perut, sehingga menimbulkan kemalasan. Maka Nabi SAW. mengaitkannya dengan syaitan, karena syaitan menyukainya.”

  1. Apabila engkau bersendawa’ (mengeluarkan bunyi dan udara dari kerongkongan sehabis makan kenyang atau bersin), maka letakkanlah tanganmu atau sapu tangan di atas mulutmu supaya tidak bertebaran air ludahmu dan mengganggu orang karena sendawamu.

Janganlah mengeraskan suara ketika bersendawa.

Dalam hadits disebutkan: “Apabila seseorang dari kamu bersendawa atau bersin, maka janganlah mengeraskan suara, karena syaitan menyukai bersendawa atau bersin dengan suara keras.”

Apabila engkau bersin, ucapkanlah Alhamdulillah. Telah disebutkan dalam hadits: “Apabila seseorang dari kamu bersin, hendaklah ia mengucapkan: Alhamdulillah.

Dan hendaklah saudara atau temannya menjawabnya: Yarhamukallah (semoga Allah mengasihimu).

Apabila temannya mengatakan: Yarkamukallahu, maka orang yang bersin sunnah menyahuti: Yahdiikumullahu wa yushlihu baalakum (semoga Allah memberi petunjuk kepada kamu dan memperbaiki hatimu).

Apabila seorang anak yang belum baligh bersin di dekatmu, lalu mengatakan: Alhamdulillahi robbil ‘alamien, maka jawablah: Baarokallahu fiika ya ghulaam (semoga Allah memberkatimu wahai anak kecil).”

Demikianlah disebutkan dalam hadits.

  1. Janganlah engkau duduk di jalanan. Sebab Nabi SAW. telah melarang kita untuk melakukan itu. Apabila harus dilakukan, maka berilah jalanan itu haknya, yaitu seperti yang disebutkan dalam hadits: “Menjaga pandangan (dari yang terlarang), mencegah gangguan, menjawab salam, menyuruh berbuat kebaikan dan mencegah perbuatan munkar.”

Apabila engkau berdiri dari tempat duduk, maka bacalah do’a yang diriwayatkan dari Nabi SAW.: “Subhanakallahumma wa bihamdika, Asyhaduan laa ilaha illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika” (Maha Suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau, aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu).

Barangsiapa mengucapkan itu diampunilah dosanya yang terdapat di majelis itu.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker