16. ADAB ISTIKHARAH DAN BERMUSYAWARAH
- Apabila engkau ingin melakukan sesuatu yang engkau tidak tahu akibatnya dan tidak mengerti apakah lebih baik ditinggalkan atau dilakukan, maka termasuk adab adalah engkau meminta pilihan dari Tuhanmu Allah SWT.
Nabi SAW. bersabda: “Termasuk kebahagiaan anak Adam Adalah meminta pilihan kepada Allah, dan termasuk kesengsaraannya adalah meninggalkan istikharah (minta pilihan) kepada Allah Ta’ala.”
Di sunnahkan bagimu melakukan shalat istikharah. Engkau baca pada raka’at pertama: Qul yaa ayyuhal kaafiruun, dan pada raka’at kedua: Qul huwallahu Ahad.
Telah disebutkan dalam hadits: Adalah Rasulullah SAW. mengajari kami melakukan istikharah dalam semua urusan, seperti mengajarkan bacaan surat dari Al-Gur’an.
Beliau bersabda: “Apabila seseorang dari kamu hendak menjalankan sesuatu urusan, maka seyogyanya ja shalat dua raka’at selain shalat fardhu. Lalu hendaklah ia mengatakan:
“Ya Allah, aku mohon pilihan kepada-Mu dengan pengetahuan ilmu-Mu dan mohon keputusan dengan kekuasaan-Mu. Aku mohon kepada-Mu dari karunia-Mu yang besar. Sesungguhnya Engkau berkuasa sedang aku tidak berkuasa. Engkau maha mengetahui sedang aku tidak mengetahui dan Engkau jua yang mengetahui hal-hal yang gaib.
Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini (sebutkan keperluanmu) membawa kebaikan dalam agamaku, penghidupan dan akibat urusanku, maka takdirkanlah ia untukku dan mudahkanlah ia bagiku, lalu berkatilah aku di dalamnya.
Dan jika Engkau tahu bahwa urusan ini membawa keburukan bagi agamaku, penghidupan dan akibat urusanku, maka jauhkanlah ia dariku dan hindarkanlah aku dari padanya, takdirkan kebaikan bagiku di mana pun aku berada, dan jadikan aku ridha dengannya.” Hadits riwayat Bukhari.
- Termasuk tata krama pula: engkau harus bermusyawarah dengan ayah dan ibumu serta gurumu tentang hal itu, dan juga bersama orang-orang yang bisa memberikan pendapat dan nasihatnya kepadamu.
Allah telah menyuruh Nabi-Nya SAW. untuk melakukan musyawarah. Allah berfirman: “Dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu” (Ali mran:159), padahal beliau itu berakal sempurna, dan Allah Ta’ala telah menjamin petunjuk baginya.
Allah Ta’ala berfirman ketika memuji para sahabat radhiyallahu ‘anhum: “Dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka” (Assyuura: 38).
Dalam hadits disebutkan: “Tidaklah sia-sia siapa yang melakukan istikharah, dan tidak akan menyesal orang yang bermusyawarah”
Dalam hadits lain dikatakan pula: “Musyawarah itu pelindung dari penyesalan dan pengaman terhadap celaan.”
Seorang penyair berkata:
Bermusyawarahlah dengan orang selainmu bila engkau mengalami kesulitan pada suatu hari, walaupun engkau orang yang suka memberi nasihat
Mata itu melihat yang dekat dan yang jauh dan tidak akan mampu melihat dirinya, melainkan dengan cermin
- Apabila engkau diberi nasihat, hendaklah engkau mengamalkannya. Dalam hadits disebutkan: “Mintalah nasihat dari orang yang berakal dan jangan engkau menentangnya supaya nantinya engkau tidak menyesal.”
Apabila seseorang meminta petunjuk kepadamu, maka termasuk amanat, adalah engkau berikan petunjuk kepadanya untuk menjalankan yang terbaik baginya.
Dalam hadits: “Penasihat itu memikul amanat.” Dalam hadits lain: “Sesungguhnya termasuk kewajiban Seorang muslim kepada muslim lainnya, adalah menasihatinya bila ia diminta nasihat.”









One Comment