PENUTUP KITAB TENTANG PERINTAH HIJAB
Wahai putri yang terbina :
- Sesungguhnya hijab adalah nikmat dan karunia dari Allah. Oleh sebab itu Allah Ta’ala mewajibkannya atas kaum wanita, karena ia menyimpan banyak maslahat (kepentingan) dan hikmah, di antaranya hijab bisa menjaga akhlak dan agama.
Wanita yang memelihara hijabnya akan berpegang pada agamanya. la hidup tetap mengamalkan akhlak yang baik dan tidak berubah. Ia hidup dalam keadaan selalu tercinta dan terhormat di mata masyarakat.
Sebaliknya bila ia melepas hijabnya, maka ia pun leluasa melakukan perbuatan-perbuatan yang di haramkan Allah, dan tidak lagi peduli dengan apa yang dilakukannya sendiri, tidak takut kepada Allah, dan tidak malu kepada orang banyak.
Sebagaimana tersebut dalam hadits: “Apabila engkau tidak lagi merasa malu, maka lakukanlah apa saja yang engkau inginkan.”
Akhlaknya menjadi buruk. Ia menyukai kesombongan dan perkataan keji serta senang menghina orang lain, tidak bersikap rendah hati, tidak mau menyampaikan amanat, hidup hina dan dibenci di tengah masyarakat.
- Ketahuilah bahwa aurat wanita ketika melakukan shalat adalah seluruh badannya, kecuali wajah dan kedua telapak tangannya. Sedangkan di luar shalat, dan di hadapan taki-laki yang bukan mahramnya, maka ia wajib pula menutupi Wajah dan kedua telapak tangannya. Adapun aurat wanita di antara mahramnya sendiri lalah antara pusat dan lutut.
- Wanita yang terpelihara selalu memakai hijab dan tidak mudah meninggalkannya di hadapan siapa pun, walau di depan para kerabatnya sekalipun. Dia tidak peduli dengan pergaulan wanita-wanita yang tidak tahu malu, karena keteguhannya dalam melaksanakan perintah agama dan penjagaan dirinya dari cela dan aib.
la pun puas dan rela dengan yang sedikit dan dengan hanya apa saja yang ada, serta tidak memaksakan diri mencari yang tidak ada.
Adapun wanita yang bertabarruj, maka ia memandang kepada berbagai macam barang, karena ia suka pergi ke pasar-pasar dan toko-toko. la mengamati. berbagai macam pakaian dan makanan, lalu memaksa suaminya untuk membelinya, atau kalau perlu dengan jalan haram sekalipun.
la tidak perduli dengan nasihat apa pun, dan suaminya bisa binasa melalui tangannya, sebagaimana yang banyak tersebut dalam hadits.
HADITS-HADITS TENTANG HIJAB
- Dari Ummi Salamah r.a., dia berkata, “Saat aku berada di tempat Rasulullah SAW. dan di tempat itu juga ada Maimunah. Kemudian datanglah Ibnu Ummi Maktum, yaitu setelah kami disuruh memakai hijab.”
Maka Nabi SAW. berkata, “Bersembunyilah darinya.”
Kami berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah ia seorang uta yang tidak melihat dan mengetahui kami?” Nabi SAW. berkata, “Apakah kalian berdua buta? Bukankah kalian melihatnya?” H.R. Abu Dawud dan Tirmidzi, ria berkata, hadits ini hasan sahih.
- Dari “Uqbah bin Amir r.a.: bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Janganlah kalian masuk ke tempat orangorang perempuan.” Seorang laki-laki Anshar berkata, “Bagaimana pendapat anda dengan kerabat suami?”
Nabi SAW. menjawab, “Kerabat suami itu bisa membinasakan.” H.R. Bukhari dan Muslim. Yang dimaksud kerabat suami adalah, seperti saudara suami laki-laki (ipar), sutra saudaranya dan putra pamannya.
- Dari Abi Hurairah r.a.: Rasulullah SAW. bersabda: “Dua macam orang ahli neraka yang tidak pernah aku lihat yaitu 1. Kaum yang membawa cambuk-cambuk seperti ekor sapi dan menggunakannya untuk memukul orang-orang. 2. Dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi bagaikan telanjang (tidak berjilbab), jalannya berlenggang dan menarik perhatian, rambut kepala mereka (sanggulnya) seperti punuk unta yang miring letaknya. ,
Mereka tidak akan masuk surga dan tidak mendapatkan baunya, padahal bau surga bisa tercium dari jarak yang sekian jauh.” yakni sejauh 40 tahun perjalanan sebagaimana tersebut dalam satu riwayat. (H.R. Muslim).
- Dari Ibnu Mus’ud r.a hahwa Nabi SAW barsatida , “Allah melaknat (mengutuk) wanita-wanita yang merajah badan dan yang minta dirajah badannya, wanita yang menyuruh orang lain untuk menipiskan alisnya dan wanita yang memangur giginya (meratakan gigi) demi kecantikan serta wanita-wanita yang mengubah ciptaan Allah.”
Seorang perempuan berkata kepada Ibnu Mas’ud mengenai hal ini. Maka Ibnu Mas’ud menjawab,” Kenapa aku tidak melaknat orang yang telah dilaknat Rasulullah SAW. sedangkan hal itu sudah tercantum dalam Kitabullah.
Allah Ta’ala berfirman: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah” (Al-Hasyr: 7). (H.R. Bukhari dan Muslim).
- Dari ibnu Umar r.a.: “bahwa Rasulullah SAW. melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan wanita yang minta disambungkan rambutnya, serta wanita yang merajah badan dan wanita yang dirajah badannya.” ana
- Sayyidah Fatimah r.a. adalah seorang wanita yang sangat pemalu. Pada suatu hari, ayahnya yaitu Rasulullah SAW. berkata kepadanya, “Apakah yang paling baik bagi wanita?”
Fatimah menjawab, “Bila Ia tidak melihat seorang lakilaki dan seorang laki-laki tidak menatapnya.”
Maka sang ayah memeluknya karena gembira atas jawabannya yang baik, seraya berkata,” Keturunan yang sebagian berasal dari sebagian yang lainnya.”
Disebutkan pula hadits: “Shalat seorang wanita dalam kamarnya itu lebih utama daripada shalat dia di dalam rumah, dan shalat wanita di tempat pingitan itu lebih utama daripada shalat dia di dalam rumahnya. Maka shalat wanita di setiap tempat yang lebih tersembunyi itu bisa bernilai lebih utama, karena bisa terhindar dari fitnah.”
- Telah bernilai sahih sebuah riwayat dari Aisyah r.a. bahwa ia berkata, “Seandainya Rasulullah SAW. melihat apa yang telah dilakukan oleh para wanita saat ini, niscaya beliau melarang mereka masuk ke masjid-masjid, sebagaimana telah dilarangnya wanita-wanita bani Israil.” Riwayat ini disebutkan tidak lama sesudah Rasululiah wafat.
Nabi bersabda: “Apabila seorang wanita telah melakukan shalat lima waktu dan berpuasa di bulan Ramadhan serta mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga.”
Sampai di sini selesailah buku ini.
Wallahu a’alam bish shawaab. Hanya Dialah yang emberi hidayah dan taufik menuju jalan yang paling lurus.
Semoga Allah SWT. melimpahkan shalawat dan salam atas junjungan kita Nabi Muhammad SAW. juga keluarga serta para sahabatnya.
Walhamdu lillahi Robbil Alamien.









One Comment