8. ADAB ORANG SAKIT
- Termasuk adab orang sakit adalah bersabar atas penyakit yang dideritanya. Maka ia tidak boleh menggerutu (gelisah/cemas) dan tidak boleh banyak mengeluh, tetapi ridha dengan penyakit yang telah ditakdirkan Allah kepadanya supaya ia mendapat pahala yang banyak.
Telah disebutkan dalam hadits: “Tidaklah orang mukmin yang menderita kepayahan maupun penyakit, kesusahan dan kesedihan, gangguan dan keresahan, bahkan duri yang mengenai kakinya, melainkan Allah menghapus dosa-dosanya dengan semua itu,”
Hendaklah ia berdo’a kepada Allah supaya dirinya lekas sembuh. Sebagaimana dalam hadits: “Seorang laki-laki mengeluh kepada Nabi SAW. atas rasa sakit yang dialami badannya. Maka Rasulullah SAW. berkata kepadanya letakkan tanganmu pada bagian tubuhmu yang sakit dan ucapkan: Bismillah (tiga kali). Dan katakan (tujuh kali): aku berlindung dengan Keperkasaan dan Kekuasaan Allah dari kejahatan apa yang aku rasakan dan aku takuti.”
- Hendaklah ia menggunakan obat yang berfaedah untuk kesehatannya. Dalam hadits: “Berobatlah kamu sekalian, karena tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan Allah menurunkan obat baginya.”
Hendaklah ia berkeyakinan bahwa kesembuhan itu berasal dari Allah, bukan dari obat.
Sebagaimana dikatakan Allah Ta’ala ketika menceritakan tentang Nabi-Nya Ibrahim a.s.: “Dan apabila aku sakit, maka Dialah (Allah) yang menyembuhkan aku” (AsySyu’ara:80).
Janganlah sampai ia meninggalkan shalat selama menderita sakit atau menunda pada waktu sesudahnya.
Hendaklah ia shalat menurut kemampuannya. Nabi SAW. berkata kepada sayyidina Imran bin Hushain r.a. yang menderita penyakit bawasir (penyakit di dubur): “Shalatlah sambil berdiri. Jika tidak sanggup, maka sambil duduk. Jika tidak sanggup maka shalatlah di atas sisi tubuhmu. Jika tidak sanggup lagi maka shalatiah sambil berbaring. Allah tidak memaksa seseorang, melainkan sesuai dengan kemampuannya.”
Perempuan yang sakit boleh menjama’ (menggabung) antara shalat Zhuhur dan Ashar, baik taqdim (dimajukan) maupun ta’khir (diakhirkan).
Demikian pula antara Maghrib dan Isya”, bila ia merasakan penyakit itu dalam Takbirotul Ihram pada kedua waktu itu dan ketika mengucap salam dari yang pertama dan di antara keduanya.
Jika ia tidak sanggup berwudhu, maka hendaklah meminta orang lain untuk membantunya berwudhu.
Jika tidak ada yang membantunya, ia boleh bertayammum. Hendaklah ia berhati-hati sekali terhadap najis karena najis adalah masalah yang berat. Janganlah menggampangkannya/menganggap ringan sebagaimana yang biasa dilakukan sebagian orang sakit.
Janganlah ia meninggalkan puasa ramadhan bila ia mampu atau kalau tidak kuasa, boleh mengqodhonya (menggantinya) segera setelah ia sembuh.
- Bila ia sudah sembuh, hendaklah ia banyak bersyukur kepada Allah atas kesembuhannya dan mohon kepada Allah agar diberi panjang umur dalam ketaatan kepada-Nya disertai perlindungan dan keafiatan.
Dalam hadits disebutkan: “Mohonlah pengampunan dan kesehatan kepada Allah, karena tiada seorang pun yang diberi sesuatu sesudah keyakinan, yang lebih baik selain daripada sehat walafiat.”
Dalam hadits lain disebutkan: “Sebaik-baik kamu sekalian adalah yang terpanjang umurnya dan terbaik amalannya.”
Hendaklah ia mengingat kebaikan orang-orang yang melayani dan menjenguknya pada waktu ia masih sakit.
Sebab ia pun patut berterima kasih kepada mereka dan berkunjung ke rumah-rumah mereka sesuai dengan kemampuannya.
Dalam hadits disebutkan: “Barangsiapa tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.”
Hendaklah ia menepati apa-apa yang dijanjikannya kepada Allah pada waktu masih sat-itnya, yang berupa taubat dan melakukan amal-amal shalih.
Telah disebutkan dalam hadits, bahwa Nabi SAW. menjenguk Khawwaat bin Jubair r.a. pada waktu sakitnya, lalu berkata kepadanya, “Wahai khawwaat, apakah sehat badanmu.?
Aku menjawab, Dan badanmu, wahai Rasulullah.”
Nabi SAW. berkata, “Tepatilah apa yang telah engkau janjikan kepada Allah.”
Aku berkata, “Aku tidak menjanjikan apa-apa kepada Allah ‘azza wa jalla.” Nabi SAW. berkata, “Benar, sesungguhnya tidaklah seseorang hamba sakit, melainkan ia telah berjanji melakukan kebaikan kepada Allah ‘azza wajalla. Maka tepatilah apa yang engkau janjikan kepada Allah.”









One Comment