Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Risalah Mudzakarah Karya Imam Al Haddad

  1. ANGAN-ANGAN KOSONG

Angan-angan kosong adalah suatu hal yang sangat tercela. Bahkan ia yang mengajak seseorang untuk merusak akhiratnya dan memakmur-kan dunianya.

Rasulullah Saw bersabda:

“Golongan pertama umat ini selamat karena sikap zuhud terhadap dunia dan angan-angan yang pendek, dan akan celaka golongan terakhir umat ini karena rakus terhadap dunia dan anganangan kosong.”

Rasulullah Saw juga bersabda:

“Tergolong hal-hal yang celaka ada empat: bekunya mata, kerasnya hati, sifat rakus dan angan-angan kosong.”

Dan termasuk doa Rasulullah Saw:

“Aku berlindung kepada-Mu dari segala angan-angan yang membuatku lalai.”

Imam Ali r.a berkata: “Perkara yang paling aku takutkan atas kalian adalah menuruti hawa nafsu dan angan-angan kosong. Menunuti hawa nafsu akan mencegah seseorang dari perbuatan yang benar, sementara angan-angan kosong dapat melalaikan seseorang dari akhirat.”

Dalam suatu riwayat disebutkan, “Barangsiapa yang memiliki angan-angan kosong, jeleklah amalannya.”

Angan-angan kosong artinya perasaan atau pikiran yang mengisyaratkan lamanya keberadaan seseorang di muka bumi. Hal ini menunjukkan bahwa orang yang bersifat demikian adalah orang yang benar-benar bodoh, karena ia telah menghilangkan sesuatu yang nyata dan berpegang teguh pada fatamorgana.

Andaikan ia ditanya di sore hari: “Apa Anda yakin bahwa Anda akan hidup sampai sore?” Ia pasti menjawab: “Ya.”

Dan ia berbuat untuk keduniaannya seperti laiknya orang yang tidak akan mati. Andaikan ia dikabari bahwa ia akan kekal di muka bumi niscaya ia tidak akan pernah mendapatkan tempat untuk menambah keadaannya yang rakus dan tamak terhadap dunia.

Jadi, siapakah yang lebih bodoh daripada orang yang memiliki sifat demikian?

Sesungguhnya angan-angan kosong adalah sumber dari berbagai macam akhlak yang jelek dan perbuatan yang jauh dari ketaatan, bahkan merupakan sumber dari perbuatan-perbuatan yang dapat mendorong seseorang terjerumus dalam kemaksiatan, seperti sikap tamak, kikir dan takut miskin.

Dan yang paling parah dari sifat-sifat tersebut adalah terlalu senang terhadap hal-hal duniawi, berusaha untuk memakmurkan dan mengumpulkan harta benda sekuat tenaga.

Rasulullah Saw bersabda:

“Aku diutus untuk menghancurkan hal-hal duniawi, maka barangsiapa yang memakmurkannya ia bukan dari golonganku.”

Dan dari angan-angan kosong ini timbullah sikap selalu menunda nunda, suatu sikap yang dapat diibaratkan seperti orang mandul yang tidak dapat melahirkan kebaikan apapun.

Dalam suatu riwayat dikatakan: “Sesungguhnya kebanyakan jeritan penduduk neraka disebabkan sifat menunda-nunda.” Orang yang suka menunda-nunda sangat keberatan dalam menjalankan ketaatan dan mengakhirkan tobatnya dari perbuatan maksiat hingga maut menjemputnya.

Allah SWT berfirman:

“Lalu ia berkata: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” (QS. Al-Munafiqun: 10)

Maka ia dijawab:

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya.” (QS. Al-Munafiqun: 11)

“Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.” (QS. Fathir: 37)

Maka ia keluar dari muka bumi dengan membawa kerugian yang tiada batasnya, dan penyesalan yang tiada akhirnya. Oleh karena itu, perpendeklah angan-angan Anda. Jadikanlah ajal selalu berada di hadapan Anda dan angan-angan berada di belakang punggung Anda. Gunakanlah metode yang tepat untuk mewujudkan hal tersebut, yaitu dengan banyak mengingat kematian.

Pikirkanlah orang-orang yang telah mendahului Anda, baik itu sahabat maupun kerabat. Hendaknya Anda merasakan akan dekatnya kematian, karena ia adalah sesuatu yang gaib yang paling dekat untuk ditunggu. Bersiap-siaplah untuk menghadapinya dan waspadailah kedatangannya di setiap keadaan.

Rasulullah Saw bersabda:

“Demi yang jiwanya berada di tangan-Nya, tidaklah aku mengangkat kedua mataku lalu aku mengira bahwa aku dapat menurunkannya hingga aku dicabut nyawaku, dan tidaklah aku memakan sesuap pun melainkan aku mengira bahwa aku dapat menelannya hingga aku merasa tersendat karena kematian.”

Terkadang Rasulullah Saw menepukkan telapak tangannya pada sebuah tembok untuk bertayammum. Lalu ada yang mengatakan pada beliau: “Sesungguhnya ada air di dekat engkau,” beliau berkata: “Aku tidak tahu, mungkin saja aku tidak dapat mencapainya (karena kematian).”

Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a pernah membawakan sebuah syair: Setiap orang yang hidup di pagi hari di tengah keluarganya Pastilah kematian lebih dekat kepadanya daripada langkah kakinya

Imam Al-Ghazali berkata: “Ketahuilah bahwa kematian tidak akan datang di waktu tertentu, atau keadaan tertentu atau di umur tertentu, tetapi ia pasti datang. Jadi bersiap-siap untuk menghadapinya lebih baik daripada bersiap-siap menghadapi dunia”

  1. MAKANAN HARAM DAN SYUBHAT

Mengkonsumsi barang haram dan syubhat sudah pasti dapat mengalihkan seseorang dari perbuatan taat dan menjerumuskan ke dalam perbuatan maksiat. Telah diriwayatkan secara marfu’ kepada Rasulullah Saw bahwasanya beliau bersabda:

“Barangsiapa yang memakan barang halal, tubuhnya akan berbuat ketaatan mau atau tidak mau, dan barangsiapa yang memakan barang haram tubuhnya akan bermaksiat mau atau tidak mau. Disebutkan dalam sebuah riwayat:

“Makanlah apa saja yang engkau kehendaki, maka sesuai dengannyalah engkau akan berbuat.”

Salah seorang yang bermakrifat kepada Allah SWT berkata: “Tidaklah adanya sesuatu yang memutuskan makhluk dari kebenaran dan mengeluarkan mereka dari derajat kewalian tak lain disebabkan mereka tidak memeriksa makanan mereka.”

Orang yang mengkonsumsi barang haram dan syubhat meskipun ia adalah orang yang taat, ketaatannya itu tidak diterima. Hal ini karena Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang ing yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)

Allah adalah Dzat yang baik, tidak menerima melainkan yang baik.

Oleh karena itu, Anda harus benar-benar mencegah diri Anda dari penggunaan barang haram dan syubhat. Hendaknya pula Anda mencari barang yang halal, karena mencari sesuatu yang halal adalah kewajiban setelah hal-hal yang fardhu.

Apabila Anda telah mendapatkannya, maka makanlah darinya sesuai kebutuhan. Pakailah pakaian yang halal sesuatu kebutuhan. Jangan Anda lantas berfoya-foya dalam penggunaannya karena sesuatu yang dikategorikan halal bukanlah yang berfoya-foya.

Janganlah Anda makan terlalu kenyang, karena jika kekenyangan yang timbul dari barang halal akan menjadi sumber segala keburukan. Lalu bagaimana jika kekenyangan itu muncul dari barang haram?

Rasulullah Saw bersabda:

“Tidaklah sekalipun anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap yang dapat menegakkan punggungnya, jika hal itu tidak dapat dilakukan, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya dan sepertiga untuk nafasnya.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker