Allah SWT juga mewahyukan kepada Nabi Isa r.a. :
“Wahai Isa, sampaikanlah kepada Bani Israil agar mereka mengingat dari-Ku dua kata: “Katakanlah pada mereka agar mereka rela dengan sedikit dari benda duniawi demi keselamatan agama mereka, sebagaimana penduduk dunia rela dengan agama yang rendah untuk keselamatan dunia mereka.”
Di dalam salah satu kitab yang diturunkan Allah disebutkan: “Hal yang paling hina yang Aku perbuat terhadap orang alim apabila ie telah bergantung pada dunia, Aku keluarkan manisnya bermunajal kepada-Ku dari hatinya.”
Telah diriwayatkan bahwa Allah 4s berkata kepada dunia:
“Wahai dunia bersikap pahitlah kepada para wali-Ku dan janganlah engkau bersikap manis kepada mereka, niscaya engkau akan memfitnah mereka.”
Imam Ali r.a berkata: “Perumpamaan antara dunia dan akhirat bagaikan ujung timur dan barat, terserah engkau mau mendekat ke mana. Jika engkau mendekat kepada salah satunya, maka engkau menjauh dari yang lain. Dan bagaikan dua orang istri jika engkau menyenangkan salah satunya, berarti engkau mengecewakan yang lain. Dan bagaikan dua wadah, salah satunya kosong dan yang satu lagi penuh. Jika engkau menuang pada wadah yang kosong, maka yang penuh pun akan berkurang.”
Beliau juga berkata: “Aku mendapati dunia terdiri dari enam perkara: Makanan, yang paling enak dari makanan adalah madu, padahal madu adalah minuman seekor lalat. Minuman: yang paling nyaman dari minuman adalah air, padahal air itu digunakan oleh siapapun, orang baik maupun orang jahat. Wewangian: yang paling harum dari wewangian adalah misik, padahal misik adalah darah dari kantung menjangan. Pakaian, yang paling halus dari pakaian adalah sutera, padahal sutera itu tenunan dari seekor ulat. Kendaraan, yang paling mewah dari kendaraan adalah kuda, padahal kuda sering menjadi tempat terbunuhnya manusia. Istri, ia adalah kepedulian dalam kepedulian. Cukuplah bagi Anda bahwa seorang istri berhias diri dengan sebaik-baiknya padahal yang diincar adalah bagian terburuk dari tubuhnya.”
Beliau juga berkata: “Sungguh beruntung orang-orang yang zuhud di dunia ini, yang menginginkan akhirat. Mereka adalah kaum yang menjadikan bumi sebagai bentangan, tanahnya sebagai hamparan, dan airnya sebagai wewangian. Mereka juga menjadikan doa dan Al-Our’an sebagai pakaian dan syi’ar. Mereka menolak dunia sesuai dengan jalan Nabi Isa as.”
Sesuai dengan makna ini, mereka bersyair:
Sesungguhnya Allah memiliki orang-orang yang pintar
Mereka menceraikan dunia dan takut fitnah
Mereka memandang dunia ketika mengetahuinya
Bahwa ia bukanlah tempat tinggal bagi orang yang hidup
Mereka menjadikannya sebagai ombak dan menjadikan
Amalan saleh di dalamnya sebagai perahu
Said bin Musayyab berkata: “Dunia adalah kehinaan dan ia lebih menyerupai segala kehinaan, dan yang lebih hina darinya adalah orang yang mengambilnya bukan pada tempatnya.”
Berkenaan dengan hal di atas, Mutanabbi berkata dalam sebuah syairnya:
Dan yang serupa dengan sesuatu terseret kepadanya
Dan yang paling mirip di antara kita dengan dunia kita adalah orang-orang yang bodoh
Jika kemuliaan tidak dapat diperoleh kecuali orang-orang yang memiliki kedudukan
Pastilah tentara itu tidak dapat memperoleh kemenangan
Hasan Al-Basri berkata: “Kematian membuka aib dunia. Dunia tidak meninggalkan kegembiraan bagi orang-orang yang berakal. Semoga Allah SWT merahmati seseorang yang mengenakan baju usang, memakan roti kering, menempel dengan tanah, menangis atas kesalahannya dan terus menerus beribadah.”
Beliau juga berkata: “Jika cinta pada dunia telah masuk ke dalam hati, maka akan muncul rasa takut terhadap akhirat. Jauhilah urusan duniawi yang menyibukkan, karena tidaklah seorang hamba memiliki salah satu pintu dunia melainkan baginya beberapa pintu amalan akhirat.”
Beliau juga berkata: “Sungguh kasihan seorang anak Adam, ia merasa kekurangan harta dan tidak merasa kekurangan amal. Ia gembira karena musibah yang menimpa agamanya dan bersedih karena musibah yang menimpa dunianya. Dunia ini didirikan atas dasar penyakit. Andai engkau sehat atau sembuh dari penyakit, apa engkau dapat selamat dari kematian?”
Sungguh indah gubahan seorang penyair:
Andaikan dunia itu tunduk padamu, bukankah kematian mendatangimu?
Wahai pencari dunia, biarkanlah dunia musuhmu.
Lalu apa yang akan engkau perbuat terhadap dunia? Bukankah naungan sejengkal sudah mencukupimu?
Sebagaimana masa menertawaimu, begitu pula masa menangisimu
Muhammad Al-Bagir berkata: “Apa itu dunia dan apa jadinya dunia? Bukankah ia hanya sekedar kendaraan yang engkau naiki, baju yang engkau kenakan dan seorang wanita yang engkau dapatkan?”
Wahab bin Munabbih berkata: “Surga memiliki delapan pintu, apabila manusia mendapatkannya penjaga surga berkata kepada mereka: “Demi kemuliaan Tuhan kami, tidak boleh seorang pun memasukinya sebelum orang-orang yang meninggalkan kemewahan dunia dan yang senang terhadap surga masuk terlebih dahulu.”
Muhammad bin Sirrin berkata: “Dua orang miskin saling bertikai memperebutkan sebuah tanah. Lalu Allah mewahyukan kepada bumi: “Katakan sesuatu kepada keduanya.” Lalu ia berkata kepada keduanya: “Wahai dua orang miskin, sebenarnya aku telah dimiliki oleh seribu orang cacat mata sebelum kalian apalagi orang-orang yang sehat.”
Abu Hazim Al-Madani berkata: “Tidak ada sesuatu di dunia ini yang menyenangkanmu melainkan ia disertai oleh sesuatu yang menyakitimu. Dunia adalah tempat kebinasaan, bukan tempat keseimbangan, tempat kesusahan, bukan tempat kesenangan, dan tempat kesengsaraan, bukan tempat kenyamanan.”
Istrinya berkata kepadanya: “Sesungguhnya musim dingin telah datang, kita harus menyediakan makanan, pakaian dan kayu bakar.” Lalu ia berkata: “Semua ini melelahkan, tetapi suatu keharusan bagi kita adalah kematian, kemudian dibangkitkan, berdiri di hadapan Allah SWT, lantas surga atau neraka.”
Beliau juga berkata: “Apa saja yang telah engkau lakukan untuk memperoleh kekayaan dunia ini, engkau akan menjumpai seorang yang jahat telah mendahuluimu.” Beliau juga berkata: “Sesungguhnya nikmat Allah SWT yang paling berarti bagiku adalah apa saja dari benda duniawi yang menjauhiku. Kenikmatan yang paling utama adalah apa saja yang Allah jauhkan dariku.”
Beliau juga berkata: “Apa yang telah berlalu dari dunia hanyalah impian, dan apa yang tersisa darinya hanyalah angan-angan.”
Orang arif menyebutkan dalam syairnya:
Bagaikan hembusan angin atau bayangan yang hilang
Sesungguhnya orang yang pintar tidak terkecoh olehnya
Abu Thayyib Al Mutanabbi berkata dalam syairnya:
Berapa banyak yang mencintai dunia sejak dulu
Tetapi ia tidak menemukan jalan untuk mencapainya
Bagianmu dalam hidupmu dari sang kekasih
Adalah bagaimana dalam mimpimu akan halusinasi









One Comment