Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Risalah Mudzakarah Karya Imam Al Haddad

Salah seorang salaf berkata: “Sungguh malang nasib anak Adam, ia rela dengan suatu tempat yang barang halal di dalamnya memiliki perhitungan, dan yang haram berbuah siksaan. Apabila ia mengambilnya dari jalan yang halal maka ia akan diperhitungkan atas nikmat tersebut. Namun, jika ia mengambil dari jalan yang haram, niscaya ia akan disiksa karenanya.”

Al-Makimun berkata: “Aku tidak menyangka ada orang yang sanggup melukiskan dunia sebaik Al-Hasan bin Hani’ dalam syairnya:

Jika orang pintar meneliti dunia maka terungkaplah baginya bahwa ia adalah musuh yang bersembunyi dalam pakaian teman

Tak ada seorang pun melainkan ia adalah orang binasa dan keturunan orang yang binasa

Sedangkan keturunan orang yang celaka, ia tenggelam di dalamnya

Yahya bin Muadz berkata: “Hendaknya engkau jadikan sandanganmu terhadap dunia sebagai pelajaran dan sikap zuhudmu terhadapnya sebagai ikhtiar. Jadikanlah hasratmu terhadap dunia hanya untuk hal-hal yang penting saja.”

Beliau juga berkata: “Aku tinggalkan dunia karena terlalu banyak epedihannya, sedikit sekali kenyamanannya, cepat sekali hancurnyaan orang-orang yang berada di dalamnya saling menghasud.”

Beliau juga berkata: “Dunia adalah toko bagi iblis. Barangsiapa yang membeli sesuatu darinya, maka ia akan mengikutinya sampai ia merampasnya kembali. Dunia dari permulaannya sampai penghabisannya tidak sebanding dcngan rasa susah meski sebentar, Lantas bagaimana jika dibanding rasa susah scumur hidupmu padahal engkau hanya mendapat sedikit bagian darinya?”

Seorang shalih berkata:

Barangsiapa yang memuji dunia atas kehidupan yang menyenangkannya

Pasti sebentar lagi ia kaan mencelanya

Jika dunia berpaling, pastilah ia menjadi penyesalan bagi seseorang

Dan jika ia datang, pastilah ia membawa berbagai macam kesusahan

Suatu kali Khalifah Harun Al-Rasyid meminta pelayannya agar membawakannya segelas air, lalu air dihidangkan di hadapannya. Saat itu Ibnu Sammak ada di hadapannya. Ia berkata kepada Khalifah: “Bagaimana menurutmu jika engkau terhalangi antara engkau dengan air ini, apa engkau akan membelinya dengan kerajaanmu?” Ia menjawab: “Ya.” Ibnu Sammak menjawab: “Betapa hinanya dunia, ia tidak sebanding dengan seteguk air.”

Salah seorang terdahulu yang berumur panjang pernah ditanya: “Gambarkan kepada kami tentang dunia.” Ia menjawab: “Sebuah rumah yang memiliki dua buah pintu, aku masuk dari salah satu pintu dan keluar dari pintu yang lain, aku melihat beberapa tahun bencana dan beberapa tahun kemakmuran, anak bayi dilahirkan dan orang yang lainnya mati. Kalau tidak karena ada orang yang melahirkan niscaya tidak ada yang tersisa, dan kalau tidak karena ada orang yang mati niscaya dunia tidak akan mencukupi mereka.”

Seorang bijak berkata: “Dunia itu punah, dan yang lebih punah darinya adalah hati yang memakmurkannya. Sedangkan akhirat sangatlah makmur, dan yang lebih makmur darinya adalah hati yang mencarinya.”

Seorang bijak yang lain ditanya: “Dunia milik siapa?” Ia menjawab: “Milik orang yang meninggalkannya.” Ia ditanya: “Lalu akhirat milik siapa?” Ia menjawab: “Milik orang yang mencarinya.”

Salah seorang zuhud ditanya: “Bagaimanakah dunia dalam pandanganmu?” Ia menjawab: “Diciptakannya tubuh-tubuh, diperbaruinya angan-angan, didekatkannya kematian dan dijauhkannya angan-angan.” Lalu ia juga ditanya: “Lalu bagaimana keadaan penduduknya?” Ia menjawab: “Barangsiapa yang memperolehnya ja akan susah, dan barangsiapa yang tidak memperolehnya ia juga akan susak.”

Sungguh indah gubahan salah seorang penyair:

Aku memandang dunia bagi siapa yang memilikinya

Sebagai siksaan setiap kali ia bertambah banyak baginya

Dunia menghinakan siapa saja yang memuliakannya dengan segala kehinaan

Dan ia memuliakan siapa saja yang menghinakannya

Jika engkau tidak memerlukan sesuatu maka tinggalkanlah

Ambillah apa yang engkau butuhkan Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali berkata dalam kitab Ihya”:

“Amma ba ‘du, sesungguhnya dunia ini adalah musuh Allah SWT, nusuh para wali Allah, serta musuh bagi musuh-musuh Allah.

Dunia menjadi musuh Allah. Ia memotong jalan bagi para hamba Allah yang akan menuju kepada-Nya. Oleh karena itu, Allah tidak emandang kepadanya sejak menciptakannya.

Dunia menjadi musuh bagi para waliyullah, mereka yang dikasihi lah. Ia menghiasi diri di hadapan mereka dan menenggelamkan mereka dalam kemegahan dan kemewahannya, hingga mereka merasakan pahitnya kesabaran guna memutuskannya.

Adapun dunia menjadi musuh bagi para musuh Allah, ia menipu mereka dengan tipu dayanya dan menjebak mereka dalam perangkapnya, hingga mereka percaya dan sangat bergantung kepadanya. Dan ia pun menghinakan mereka melebihi apa yang asalnya mereka butuhkan, hingga mereka memperoleh penyesalan yang dapat menyanyat hati mereka. Lalu ia pun menghalangi mereka dari kebahagiaan selama-lamanya. Mereka pun sangat menyesal karena berpisah dengannya, mereka meminta pertolongan dengan tipu dayanya tetapi mereka tidak tertolong, justru dikatakan kepada mereka: 

“Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.” (QS. Al-Mu’minun: 108)

“Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan mereka dan mereka tidak akan ditolong.” (QS. Al-Baqarah: 86)

Sebenarnya, masih banyak lagi ayat-ayat dan hadits-hadits Nabi mengenai bab ini yang tak terhitung jumlahnya. Namun, apa yang telah saya sebutkan saya rasa sudah cukup dan dapat menjadi pelajaran bagi yang mengambilnya dan peringatan bagi orang yang sadar.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker