Kisah Pertama:
Imam Ghazali pernah bermimpi bertemu dengan sebagian orang yang sudah meninggal dunia, lantas dikatakan kepadanya: ‘Bagaimana keadaanmu?’ Lalu dia menjawab aku pernah melakukan shalat tanpa berwudhu,’ lalu sekarang aku dihadang oleh serigala yang menakutkan aku di dalam kuburan, jadi keadaanku dengannya semakin jelek.
Kisah Kedua:
Pada suatu hari mata Junaid sakit, lalu pergi ke dokter, lalu dibilang: ‘Apabila kamu (Junaid) ingin matamu sembuh, maka janganlah sampai tersentuh dengan air. Namun rupanya Junaid kurang menerima terhadap nasehat dokter itu, setelah pak dokter pergi. Junaid pun segera berwudhu,’lalu shalat dan tidur, ternyata kedua matanya malah sembuh.
Lalu terdengarlah suara hati yang berkata: ‘Junaid telah mengorbankan mata untuk memperoleh keridhaan-Ku.’ Seandainya orang-orang yang durhaka minta padaku dengan sungguh-sungguh sebagaimana kesemangatan Junaid, maka Aku akan mengabulkannya. Ketika sang dokter datang, dan melihat kedua mata Junaid dalam keadaan sembuh, lalu bertanya: ‘Apa yang kamu lakukan untuk matamu?’
Junaid tak segan-segan menjawab: ‘Aku berwudhu,’ lalu shalat. Ketepatan pada waktu itu, dokternya seorang Nasrani, lalu beriman seketika dan berkata: ‘Ini adalah pengobatan yang langsung dari Allah swt, bukan dengan tata cara medis.’ Lalu Junaid berkata: ‘Aku sedang sakit mata dan Engkaulah sebagai dokternya. (Allah swt).’
Kisah Ketiga:
Al-Yafi’i bercerita dari Sahal bin Abdillah berkata: ‘Permulaan keajaiban yang kulihat yaitu sewaktu aku ke tempat yang sunyi senyap, lalu aku pun ingin menetap di situ. Akupun merasa tenang hati dan enak digunakan dzikir kepada Allah swt. Akhirnya tibalah waktu shalat, akupun ingin mengambil air wudhu,’ sekalipun aku sudah berwudhu.’ Sebab aku mempunyai kebiasaan sejak kecil untuk mengambil air wudhu’ apabila menjalankan shalat fardhu.
Ternyata di sekelilingku tidak terdapat air, jadi aku bersedih hati, sebab kebiasaan sejak kecil rupanya sulit ditinggalkan dengan begitu saja. Di saat hatiku masih risau, tiba-tiba ada beruang datang, berjalan di atas kedua kakinya, seolah-olah manusia yang membawa tempat air hijau. Ketika aku melihat beruang itu dari kejauhan, aku kira ada manusia yang akan datang.
Sehingga dia mendekat padaku dan mengucapkan salam, lalu meletakkan tempat air di hadapanku. Akhirnya terlintaslah dalam pikiranku suatu pertanyaan, dari mana tempat air dan air di dalamnya. Lalu beruang itu menjawab: “Wahai Sahal sesungguhnya kami ini binatang buas, kamu telah menggunakan waktu dan tenaga kamu untuk beribadah pada Allah swt dengan penuh kecintaan, dan kita pun tidak segan-segan bertawakkal.’
Ketika kami sedang berbincang-bincang dengan teman kami untuk memecahkan suatu masalah, tahu-tahu ada suara: ‘Ingat sesungguhnya Sahal sedang membutuhkan air untuk memperbarui wudhu,’ lalu aku meletakkan tempat air ini dengan tanganku ke tanah, lalu aku menengok ke samping, tahu-tahu ada dua malaikat yang mengiringiku, lalu aku mendekat pada mereka.
Lalu mereka menumpahkan air dari atas, tak pelak bila aku juga mendengarkan suara air yang berjatuhan ke tempat airku ini. Sahal berkata: ‘Akhirnya aku pun tertelungkup tidak sadar, setelah aku sembuh, tahu-tahu tempat air tadi sudah di letakkan di hadapanku. Sungguh aku gelisah, dimana beruang tadi, entah kemana dia pergi. Akupun tidak mengetahuinya.
Kini aku sedih sebab aku tadi tidak berbicara padanya sewaktu dia pergi menghilang. Ketika aku selesai berwudhu,’ akupun ingin meminumnya, lalu ada suara dari balik lembah: ‘Wahai Sahal kamu belum diperbolehkan untuk meminum air ini.’ Akhirnya tempat itu berputar-putar dengan sendirinya, aku melihatnya pergi namun aku tidak mengerti sampai dimana dia?









lianurhayani@gmail.com