Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Bidayatus Salikin

BAB VI : TALQIN & BAI’AT DZIKIR

Keterangan mengenai bai’at dzikir yang caranya diberjama’ahkan sudah dijelaskan. Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai bai’at dzikir yang caranya tidak diberjama’ahkan (seorang-seoranag).

Asalnya yang melaksanakan cara ini adalah Sayyidina Ali r.a.

Keterangan Yusuf Al-Karani dengan yang lain, dengan sanad yang shoheh: Sayyidina Ali r.a. bertanya kepada Nabi Muhammad SAW: “Ya Rasulullah, semoga Anda dapat memberi petunjuk kepadaku, jalan yang terdekat kepada Allah Ta’ala, dan yang termudah dilaksanakannya oleh kami semua abdi Allah dan yang menurut Allah paling utama”.

Jawab Rasulullah : “Wajib oleh kamu sekalan dan semua pengikut kami melaksanakan (mendawamkan) dzikir kepada Allah”.

Sayyidina Ali bertanya lagi : “Bagaimana caranya dzikir itu, Ya Rasulullah…….. ?”

Sabda Nabi SAW “Pejamkanlah mata kalian kedua-duanya dengarkan akan kuucapkan tiga kali, setelah itu kalian juga meniru mengucapkan, dan akan kudengarkan”.

Lalu Rasulullah SAW mengucapkan kalimah Laa ilaaha illallaah tiga kali sambil beliau memejamkan matanya, suaranya agak dikeraskan. Sayyidina Ali mendengarkan. Lalu Sayyidina Ali juga meniru cara Rasulullah tadi dan didengarkan oleh Rasulullah.

Cara talqin inilah yang dinisbatkan oleh Sayyidina Ali k.w. dalam talqin dzikir.

Dzikir yang ditalqinkan oleh Nabi Muhammad SAW tersebut disebut Dzikir Jahar. artinya jelas karena dzikir itu diucapkan oleh lisan. Pelaksanaan mengucapkan dzikir tersebut yang ke-warnid dari Nabi SAW dan juga dari para Ulama.

Kalimah Laa ditariknya dari puser, terus merambat ke atas sampai ke otak. Lalu kalimah ilaaha harus mencakup (melewati) buah dada sebelah kanan atas dan bawah yang antaranya k.!. dua jari dari putik buah dada. Lalu kalimah Illallaah dilewatkan ke buah dada sebelah kiri, harus nembus ke hulu hati dibarengi dengan ucapan suara yang kerQS.

Kenapa harus dengan suara keras, karena hati itu dimisalkan batu yang keras, malahan lebih keras dari pada batu. Seandainya kita akan membelah batu, kita harus memukulnya dengan keras dibarengi dengan tenaga yang kuat. Begitu pula dengan hati manusia yang kerQS. agar supaya menjadi lembut harus keras dzikirnya dibarengi dengan suara yang keras pula. «

Menurut Imam Al-Ghazali : “Sunnat dzikir jahar diberjama’ahkan di masjid, karena dengan banyaknya suara itu membuat lebih cepat lembutnya hati, seperti sebuah batu dipukul beramai-ramai, sudah tentu akan lebih cepat belahnya”.

Malahan Ibrahim Al-Mathbuli menerangkan begini : “Keraskanlah suara dzikir kamu sekalian, sehingga bisa mendobrak tabir yang menghalangi antara abdi dengan Tuhannya”.

Yang menjadi sebab terjadinya hijab hati adalah “roan” tegasnya sebuah titik hitam dalam hati. Yang menjadikan terjadinya roan yaitu dari perbuatan maksiat.

Firman Allah dalam Al-Quran :

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka”. (QS. 83 Al-Muthaffifin : 14)

Bila hatinya sudah hitam. orang itu menjadi gelap mata yang akhirnya membabi buta, hidupnya memperturutkan hawa nafsu. Apabila sudah demikian, Allah berfirman dalam Al-Duran :

“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas” (QS. 18 Al-Kahfi: 28).

Hal-hal yang menjadikan bokbroknya akhlag dan rusaknya budi pekerti manusia itu, disebabkan oleh karena lupa kepada Allah, seperti Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Toha ayat 124:

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. 20 Thaha: 124).

Dengan demikian kesimpulannya ruwet hidupnya itu bukan karena serba tidak ada atau melarat dalam harta benda, tetapi segalanya serba susah/ruwet, fakir atau melarat dalam keadaan kaya.

Yang dimaksud “buta” disini, selaras dengan Firman Allah dalam Surat Al-Hajj ayat 46 :

“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang didalam dada”. (QS. 22 Al-Hajj : 46)

Sabda Tuan Syekh Abdul Doogir Al-jaelani q.s. : Penyebab butanya mata hati yaitu sebab ingkar dari hakikat pernntah Alan. Penyebab ingkar karena terbawa oleh perintah bermacam-macam nafsu kedholiman, seperti takabur sombong, dendam, hasud, kikir ujub. mengumpat. mengadu domba, berdusta, dan lain-lain, tegasnya setiap sifat yang tercela (madzmumah).

Adapun obat untuk menghilangkan sifat madzmumah itu adalah dengan membersihkan cermin hati dengan kalimah Tauhid, dengan Ilmu, dengan amal dan memerangi hawa nafsu dengan perang yang hebat dhohir-batin, hingga menghasilkan hidupnya hati dengan cahaya Tauhid.

Menurut ahli Ushuluddin, artinya Tauhid adalah menyembah hanya kepada Allah dengan sebenar-benarnya. tiada Tuhan selain Allah yang Esa Dzat-Nya, Sifat-Nya, dan Afal-Nya. Menurut ahli Tasawuf, Tauhid artinya menjaga hati darimemandang kepada selain Allah.

Adapun alat untuk mencapai atau menghasilkan Tauhid menurut ahli Thoreqat yaitu dengan memperbanyak dzikrullah, sebagaimana Firman Allah dalam Surat Al-Ahzab ayat 41 :

“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut) nama Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya””. (QS. 33 Al-Ahzab: 41).

Adapun dzikir yang paling utama ialah kalimah Laa Ilaaha Illallaah

BAB VII : FADILAH DZIKIR

Firman Allah SWT :

Dan berdzikirah kamu kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya supaya kamu sekalian beruntung “. (QS.62 Al-Jumu’ah : 19).

Adapun orang yang beriman yang tenteram hatinya adalah orang yang selalu mengingat Allah selamanya.

Hadits dan Abdullah bin ‘Abbas, telah bersabda Rasulullah SAW:

“Apakah aku perlu memberi tahukan kepada kamu sekalian sebaik-baiknya amal kamu, amal yang paling tinggi derajatnya, lebih baik daripada sedekah emas dan perak, dan lebih baik daripada kamu bertemu dengan musuh (agama) mu, kemudian kamu membunuh mereka, kemudian mereka membunuh kamu ? Sahabat-sahabat menjawab : “lentu saja ya Kasulullah”. Rasulullah menjawab: “Yaitu dzikrullah”.

Malahan kewarid dalam pujian dzikir kepada dzikir, yang disabdakan Rasulullah SAW : “Bilamana kamu sekalian melewati Taman Surga, maka harus tinggal dengan nyaman disitu”. Kata para Sahabat: “Apakah Taman Surga itu ya Rasulullah … ?” Sabda Nabi lagi : “Yaitu Majlis Dzikir. Tidak semata-mata suatu golongan yang berdzikir dalam suatu Majlis, dimana Majlis tersebut tentu dipakai untuk berdzikir kepada Allah. Serta para Malaikat berkumpul di Majlis tersebut dan dipenuhi dengan Rakhmat Allah”.

Firman Allah : “Manusia yang berdzikir kepada Allah, manusia itu berada disisi Allah”.

Sabda Nabi : “Tidak ada kaum yang berkumpul sambil berdzikir ) kepada Allah sambil tidak ada pengharapan apa-apa. kecuali memohon keridhoan Allah”.

Selanjutnya Allah berseru kepada umatnya dari atas langit :

“Berdirilah kamu sekalian, dan tentu kamu sekalian diampuni oleh-Ku dan semua keburukan kamu sekalian akan diganti dengan kebaikan”.

Alah SWT. itu memilki Malaikat yang tugasnya berkeliling mengikuti Majlis Dzikir, Apabila menemui Majlis dzikir lalu mereka ikut duduk berkumpul dengan orang-orang yang ada disitu. Sebagian Malaikat saling menutupi dengan yang lain oleh sayapnya sampai menutupi Majlis tersebut hingga kelangit. Apabila Majlis itu selesai dan bubar, para Malaikat naik kembali ke langit.

Oleh Allah SWT. ditanya: “Dari manakah kamu sekalian …..?”

Jawab para Malaikat : “Hamba sekalian baru kembali dari AbdiMu yang ada dibumi, Yaa Allah”. Allah SWT. kembali bertanya : “Bagaimana keadaan abdi-abdi-Ku waktu ditinggal kalian …………..?” Jawab para Malaikat : “Mereka sedang berdzikir kepada-Mu, ya Allah, membaca Tasbih, Tahlil, Tahmid, dan lain-lain. Dan bersyukur kepadaMu, ya Allah”. Allah bertanya lagi : “Memohon apakah mereka……. ?” Jawab Malaikat : “Memohon diizinkan masuk kedalam Surga-Mu, ya Allah”. Firman Allah : “Apakah mereka sudah mengetahui Surga-Ku ….?” Jawab malaikat : “Belum, ya Allah”. Firman Allah lagi : “Apalagi kalau mereka sudah tahu. Memohon apalagi mereka ?” Jawab. Malaikat: “Memohon selamat dari Neraka”. Firman Allah : “Apakah mereka sudah tahu Neraka-Ku?” Jawab Malaikat : “Belum, ya Allah “. Firman Allah : “Apalagi permohonan mereka …?” Jawab Malaikat : “Memohon ampunan-Mu, ya Allah “. Firman Allah : “Bersaksilah kamu sekalian, bahwa Aku mengampuni mereka semua, dan mengabulkan semua permohonan mereka”.

Dijelaskan oleh Syekh Ali Al-Mursafi dalam Kitab Minhajaz-Salik laa Asyroofil Masaalik : “Sebenarnya fadhilah dzikir itu ada tiga puluh lima macam”.

  1. Menurut perintah Allah (OS.33 Al-Ahzab : 14): “Yaa ayyuhal ladziina Jaamanudzkurulilaaha dzikron katsiiroo”. “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirtah (dengan menyebut) nama Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya”.
  1. Ingatnya Allah kepada kamu sekalian, yang firman-Nya: “Fadzkurunii adzkurkum”. (Ingatlah kepada-Ku, tentu Aku-pun ingat kepada kamu sekalian).
  1. Ridlo Allah kepada kamu sekalian.
  1. Allah mengagungkan kamu sekalian dikala hati kamu mengingat Allah. (Firman-Nya : “Waladzikrullaahi akbar” (Ingat-nya Allah lebih besar daripada ingatnya kamu sekalian kepada Allah).
  1. Terjaminnya anggota badanmu selalu dipakai tho’at kepada Allah.
  1. Dekatnya Malaikat kepada kamu sekalian serta mereka sangat bergembira karena kamu sekalian berdzikir.
  1. Dekatnya Allah kepada kamu sekalan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Aku ada di hadapan pangkuan abdi-Ku yang mahabbah kepada-Ku, dan Aku bersama-sama dengan mereka ketika mereka berdzikir kepada-Ku”.
  1. Malaikat Hafadhoh dengan segera menuliskan segala amal baik Orang yang berdzikir.
  1. Jauhnya setan dari kamu sekalian. Kata Syekh Afdholuddin : “Sebenarnya setan itu menunggangi salah seorang abdi, dimana abdi itu sedang lupa kepada Allah, sebab setan selamanya mendekap abdi Allah bilamana lupa kepada Allah. Pada waktu si abdi dzikir, setan segera menjauhinya. Seandainya kita dibukakan hijabnya, tentu kita dapat melihat iblis menunggangi kita, seperti kita menunggangi keledai.”
  1. Menguatkan iman dan mahabbahnya si abdi kepada Tuhannya.
  1. Menghilangkan sifat munafik.
  1. Dijaga dari godaan setan.
  1. Dijaga dari Neraka.
  1. Nikmat Allah kepada kamu sekalian, yaitu dengan dijadikan-Nya kamu orang yang selalu ingat kepada-Nya, tidak dijadikan orang yang lupa kepada-Nya.

15 Terangnya hati oleh cahaya dzikir.

  1. Aku bersama-sama dengan orang-orang yang ingat kepada-Ku. (Hadits Dudsi).
  1. Ingatnya hati dari lupa ketika ada bisikan kepada hal yang dicela.
  1. Dibukakan pintu langit untuk naiknya Malaikat membawa amal dzikir
  1. Seluruh makhlug dan bumi yang dipakai dzikir mendengar kepada dzikir itu, dan seluruhnya membanggakan dirinya kepada seluruh tempatyang tidak dipakai dzikir.
  1. Lembutnya hati dan khusyu ketika berdzikir.
  1. Seluruh keburukan akan dilebur oleh kalimah dzikir.
  1. Tenteram dan damainyahati)
  1. Malaikat istirahat dari menuliskan segala amal buruk.
  1. Meringankan dari beratnya kesulitan pada hari Diyamah.
  1. Dzikir lebih utama dari pada berhaji, perang atau sedekah.
  1. Allah memberi lebih banyak, daripada kepada orang yang memohon tidak dibarengi dzikir, meskipun orang yang berdzikir tersebut tidak memohon apa-apa.
  1. Orang yang berdzikir itu diliputi oleh rahmat, diberi sakinah, senang hati dan diberi barokah.
  1. Orang yang berdzikir sehari penuh, akan diampuni segala dosanya.
  1. Ada yang berseru dari langit : “Hai orang yang berdzikir bangkitlah, sebenarnya Aku mengganti segala amal burukmu dengan amal baik, dan Aku mengampuni segala dosamu”.
  1. Majlis sholeh karena dzikir, mengayomi seribu Majlis yang buruk.
  1. Orang yang memperbanyak dzikir kepada Allah, pada hari Aiyamah didudukkan diatas mimbar dari Nur, serta Malaikat : dan para Nabi merasa bangga melihat kedudukan ahli dzikir, sebab wajahnya lebih bersinar laksana bulan tanggal 14. Pada waktu orang-orang sedang dalam keadaan bingung, para ahli dzikir tidak merasa takut ataupun kaget.
  1. Yakinlah, para ahli dzikir nanti pada hari Diyamah, mendapat karomah dari Allah SWT.
  1. Para ahli dzikir setiap waktu bersenang-senang di Taman Surga.
  1. Menjadikan diteranginya bumi. Sabda Nabi SAW : “Orang yang berdzikir kepada Allah didalam kumpulan orang-orang yang lupa, seumpama tanaman yang hijau ditengah-tengah rumput yang kering gersang.”
  1. Adapun dzikir Khoffi (Samar), tegasnya dzikir itu tidak ada yang mengetahui, kecuali yang berdzikirnya sendiri dan Allah SWT. Oleh Allah, dzikir Khoffi itu akan disimpan di suatu gudang sampai hari Diyamah. Pada waktu para ahli dzikir akan masuk kedalam Surga, Allah SWT berfirman : “Bagi kamu sekalian, dari-Ku ada pahala, yaitu dzikir Khoffi.” (Dzikir yang tidak dapat diketahui oleh makhlua).

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker