BAB XI : MENELITI DIRI
Wa’lam. Ketahuilah oleh kamu sekalian, sebenarnya mengetahui hakikat diri itu fardhu ‘ain, tegasnya wajib tiap-tiap manusia yang agil baligh, karena sebenarnya ma’rifat kepada Allah itu ditangguhkan hingga mengetahui hakikat dirinya.
Sabda Rasululiah SAW:
“Siapa yang kenal akan dirinya, maka kenal akan Tuhannya”
Kenapa ma’rifat kepada Allah adalah fardhu ‘ain, karena bagaimana bisa ibadah kepada Allah, apabila tidak tahu ma’budnya (yang disembahnya), bukankah ibadah kepada Allah itu adalah wajib, sebagaimana Firman Allah (Q.S. 51 Adz-Dzariyat ayat 56):
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan Supaya mereka menyembah-Ku” (Q.S. 51 Adz-Dzanyat : 56).
Oleh karena itu, segala hal yang menangguhkan fardhu ‘ain, maka perkara itu hukumnya fardhu. Kesimpulannya ialah mengetahui diri itu adalah fardhu ‘ain hukumnya. Sebaliknya, siapa saja manusia yang tidak mengetahui kepada dirinya tentu lebih bodoh lagi untuk mengetahui Tuhannya.
Oleh karena itu, harus mengetahui dirinya itu agar dapat mar’rifat kepada Tuhannya.
Menurut ahli Sufi, yang dimaksud diri disini adalah diri yang halus yang disebut Ruh, sebagaimana Firman Allah :
“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan” (QS. 51 Adz-Dzaniyat : 21).
Yang dimaksud diri ialah semua yang halus-halus dalam badan, apabila kita selagi hidup tidak mengenalnya, sudah tentu tidak akan tahu ketika kita sudah mati. Apabila kita tidak mengenal sudah tentu kepada Allah-pun tidak akan ma’rifat, sebagaimana Firman Allah dalam Surat Al-Isra ayat 72 :
“Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat darijalan (yang benar)” (QS. 17 Al-Isra : 72).
Yang dimaksud buta disini, yaitu buta mata hatinya, sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur’an yang artinya : “Sebenarnya kamu sekalian bukan buta penglihatannya, akan tetapi buta mata hatinya yang berada didada kamu sekalian.”
Wa’lam. Ketahuilah oleh kamu sekalian, bahwa sebenarnya manusia itu disusun dari Latifah-latifah yang sepuluh.
Yang Jima’ dinamakan Alamul Amri, yaitu :
- Latifatul Qolbi. 2. Latifatur Ruhi. 3. Latifatus Sirri. 4. Latifatul Khoffi. 5. Latifatul Akhfa.
Yang lima lagi dinamakan Alamul Kholgi, yaitu :
- Air.
- Tanah (Bumi).
- Api.
- Hawa(Udara/Angin) 1 s/d 4 ini sering disebut anasir opat.
- Latifatun Nafsi.
Dimana bersatu anasir yang empat ini, disebut “Latifatul Qolab””, yaitu yang halus di sekujur badan. Begitulah menurut pendapat ahli akal atau ahli falsafah.
Adapun hasilnya jumlah latifah yang ada diseluruh tubuh, itu ada 7 (tujuh):
- Latifatul Qolbi (Latifah hati).
Tempatnya kira-kira 2 jari di bawah buah dada kiri. Yang mengisi latifah tersebut ialah Nafsu Lawamah, yang mempunyai pengikut 7 (tujuh), yaitu :
- Gampang tertarik. 4. Ingin dipuji.
- Zalim. 5. Tidakadarasakasihan.
- Mengumpat 6. Dusta.
- Lalai terhadap kewajiban.
- Latifatur Ruh.
Tempatnya kira-kira 2 jari di bawah buah dada kanan. Yang mengisi latifah ini ialah Nafsu Mulhimah (Sawiyah), pengikutnya ada 7 (tujuh), yaitu :
- Pemurah. 4. Rendahnnhati.
- Sederhana (seadanya) 5. Menyadari kekhilafannya
- Ramah-tamah. 6. Sabar
- Tabah terhadap kesusahan.
- Latifatus Sirri.
Tempatnya kira-kira 2 jari di atas buah dada kiri. Yang mengisi latifah iniadalah Nafsu Mutmainah. Pengikutnya ada 6 (enam), yaitu :
- Sayang pada sesama makhluk 4. Selalu bersyukur
- Tawakal 5. Ridho.
- Senang beribadah : 6. Takut berbuat dosa.
- Latifatul Khoffi.
Tempatnya kira 2 jari di atas buah dada kanan, Yang mengisi latifah ini ialah Nafsu Mardiyah (Rodhiyah). Pengikutnya ada 7 (tujuh).yaitu :
- Baik budi.
- Meninggalkan segala hal selain Allah.
- Belas kasih kepada sesama makhlug.
- Selalu mengajak kepada kebaikan.
- Memaafkan kesalahan orang lain.
- Kasih sayang kepada sesama manusia.
- Peduli terhadap perasaan orang lain.
- Latifatul Akhfa.
Tempatnya di tengah-tengah dada. Yang mengisi latifah ini ialah Nafsu Mardliyyah, artinya Kesempurnaan.Pengikutnya ada 3 (tiga), yaitu :
*Ilmul-yagin (yagin tahunya).
– Pangkatnya : Fanali-afal.
– Pandangannya : Laa Ma’buda Illallaah.
*Ainul-yagin (nyata tahunya).
– Pangkatnya : Fana fis-sifat.
-Pandangannya : Laa Magsuada Illaliaan.
*Haqgul-yagin (mutlak tahunya).
– Pangkatnya : Fanafidz-dzat.
– Pandangannya : Laa Maujuda Illallaah.
- Latifatun Nafsi.
Tempatnya diantara dua alis (ditengah-tengah jidat). Yang mengisi latifah iniialah Nafsu Amarah. Pengikutnya ada 7 (tujuh), yaitu :
- Kikir. 4. Bodoh.
- Ambisius. 5. Sombong.
- Hasud. 6. Syahwat.
- Marah.
- Latifatul Qolab.
Yang mengisi latifah ini ialah Nafsu Kamilah. Yang ini tidak punya pengikut, karena berasal dari anasir yang empat, yaitu :
- Cahayaair itu putih (inti air).
- Cahaya angin itu kuning (inti angin).
- Cahaya api itu merah (inti api).
- Cahaya tanah/bumi itu hitam (inti bumi).
Adapun Nafsu Kamilah itu adalah-nafsu yang sudah sempurna, merupakan watak/tabi’at yang tetap, selalu berada dalam kebaikan dan selanjutnya bisa naik ke pangkat yang lebih sempurna sehingga senang dan istigomah dalam ibadah dibarengi mau memberi petunjuk kepada orang lain dan bisa menyempurnakan segala kekurangannya, malahan magomnya disebut taja/li asma was-sifat. Kelakuannya langgeng tagorub kepada Allah selamanya sehingga disebut Insan Kamil Mukammil.









One Comment