Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Bidayatus Salikin

BAB IX : HIKAYAT

Ada hikayat yang diriwayatkan oleh Imam kita semua yaitu Muhammad bin Idrjs As-Syafi’i r.a. sabdanya : “Suatu masa aku sedang di kota Mekkah, aku melihat seorang laki-laki bangsa Nasrani yang namanya Asgaf sedang thawaf di Ka’bah. Aku bertanya, apa sebabnya dia meninggalkan agama leluhurnya”.

Jawabnya : “Aku mengganti agama yang dianut oleh leluhurku dengan agama yang lebih baik. Sebabnya adalah pada suatu waktu aku naik kapal di lautan. Di tengah perjalanan kapal itu diterjang badai yang sangat dahsyat sehingga kapal terbelah. Kebetulan dengan selembar papan yang terpegang olehku, aku terdampar di suatu pulau.

Di pulau itu banyak sekali pohon-pohonan yang buahnya sangat manis rasanya, lebih manis daripada madu dan lebih lembut dari buih laut. Selain itu ada sebuah sungai yang airnya sangat jernih dan sejuk membuat segar kalau diminum.

Di atas pohon-pohon banyak sekali bermacam-macam burung riuh berbunyi. Matahari sudah mulai terbenam, aku makan buah-buahan dan meminum air sungai tadi.

Siang berganti malam. angin meniup daun-daun pohon, terdengar suara ranting-ranting jatuh menimpa dahan. Suara ombak laut bergemuruh karena mulai pasang. Burung sudah tidak bersuara lagi, kecuali Suara jengkrik yang terdengar.

Hatiku mulai terasa was-was, rasa takut dan ngeri. Badan terasa kedinginan, tapi hati terasa panas dibarengi rasa takut didatangi binatang buQS.

Segera aku naik ke atas sebuah pohon yang besar dan tinggi. dan bersandarpada sebuah dahan yang besar, tak terasa aku tertidur.

Tengah malam aku terbangun dan melihat seekor makhluk keluar dari permukaan air laut, dan makhluk itu mengucapkan Tasbih kepada Allah Ta’ala, yang bunyinya : Laa ilaaha illallaahul-ghoffaar Muhammagur rosulullaahinnabiyyul mukhtaar. Makhluk itu merangkak

ketepi pantai dan terlihat kepalanya seperti kepala burung kaswari, mukanya seperti muka manusia, kakinya seperti kaki unta. ekornya seperti ekor ikan. Ketakutanku makin bertambah, perasaan makhluk itu akan menerkam. Tanpa daya dan teramat takut akhirnya aku pingsan.

Waktu Siuman, aku merasa telah ada di bawah dekat makhluk itu, aku bangkit dan akan lari. tetapi makhluk itu berkata : “Diam …… Kalau kamu tidak diam akan kumakan”.

Aku menurut dan duduk ditanah. pasrah.

“Menganutagama apa kamu …… ? bertanya makhluk itu.

“Nasrani” jawabku.

“Rusak sekali, rugi sekali kenapa kamu menganut agama itu, sekarang kamu pindah keagama hanifiyyah (Islam), sebab kalau kamu bukan Islam. sudah tentu bakal dianiaya oleh kaum Jin mu’min yang mengisi pulau ini. Tidak akan ada yang selamat di pulau ini kecuali yang beragama Islam”.

“Bagaimana caranya masuk Islam itu ……… ?” aku bertanya.

Makhluk itu mengajariku : “Asyhadu an-laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadarrusulullaah’”.

Aku mengikuti mengucapkan kalimah itu.

Lalu makhluk itu berkata lagi: “Apakah kamu akan tinggal di pulau ini atau akan pulang kekeluarga kamu…….. ?” Dijawab olehku bahwa aku akan pulang.

Kata makhluk itu lagi : “Diamlah kamu ditempat ini. tidak lama lagi akan ada kapal lewat ke pulau ini”, berkata begitu makhluk itu sambil pergi, lalu masuk lagi ke dalam laut.

Tidak lama kemudian ada kapal yang lewat ke pulau itu, setelah aku membuat isyarat memanggil kapal itu, kelihatan kapal itu berhenti dan mereka menurunkan sekoci untuk menjemputku. Ketika aku naik keatas kapal itu, aku melihat 12 orang. Aku bertanya kepada penumpang kapal Itu, mereka menganut agama apa. Mereka menjawab bahwa mereka beragama Nasrani. Lalu aku menceriterakan pengalamanku dari awal Sampai akhir tidak ada yang terlewat.

Selesai aku berceritera, seluruh penumpang kapal itu langsung masuk Islam.

Hikayat kedua, diceriterakan oleh Syekh Abdullah Al-Jafi’i dina kitab Raodur-Riyaohiin.

“Jaman dahulu ada seorang raja yang sangat lalim dan bengis, tidak sayang kepada sesama makhluk, tidak sayang kepada yang lemah, betul-betul sombong merasa dirinya raja yang berkuasa.

Rakyatnya tidak diperhatikan, ia mengikuti hawa nafsunya dan amarahnya, merasa dirinya paling tinggi berkuasa, tidak akan ada yang berani menentangnya.

Kehidupan sehani-harinya hanya dikerubungi oleh gadis-gadis cantik. Dari setiap kampung, gadis-gadis yang cantik diboyong ke istananya.

Dia menyembah yang tidak umum, yaitu setan dan siluman, batu dan api.

Pada suatu ketika, raja itu diperangi oleh pasukan Islam dan ternyata kalah, dan raja itu ditawan, dibelenggu oleh pasukan Islam. Keputusan dari Mahkamah Agung, raja itu harus dihukum mati.

Pasukan Islam dan masyarakat musyawarah bagaimana caranya menghukum mati raja itu, agar terasa sakit dan perlahan-lahan. Semuanya mufakat, raja itu akan direbus dalam kancah berisi ancuran timah dengan api yang berkobar-kobar.

Ketika hukuman itu akan dilaksanakan, raja itu memanggil kepada setiap yang disembahnya untuk minta pertolongan, tetapi tidak ada yang datang untuk menolongnya. Akhirnya raja itu putus asa, lalu Oia mencaci-maki kepada setiap yang disembahnya, dan menyadari Semua kesalahannya, berubah keyakinannya. Sambil menengadahkan kepalanya ke langit dan lidahnya mengucapkan kalimah Laa ilaaha lallaah, sambil menangis berdo’a dengan ikhlas, mohon pengampunan Allah dan mohon diselamatkan dari siksaan.

Dengan kuasa dan Allah yang menyayangi hambanya, meskipun raja ilu seorang yang durhaka asalnya, apabila bertaubat kepada-Nya sudah pasti akan diampuni. Tiba-tiba turun hujan yang sangat lebat, tidak disangka karena bukan musimnya.

Kuasa Allah, hujan itu tepat sekali menimpa dimana sang raja terbelenggu dan api yang sedang berkobar-kobar yang dalam sekejap api itu padam, diiringi dengan angin topan yang menerbangkan kancah berisi cairan timah dan raja yang terbelenggu ke atas, ke udara antara langit dan bumi.

Sang raja tidak henti-hentinya memuji kepada Yang Maha Suci dibarengi dengan mengucapkan kalimah Laa ilaaha Illallaah tanpa putus. Kancah tersebut akhirnya jatuh disuatu tempat yang penduduknya tidak beriman dan beribadah kepada Allah.

Raja itu tetap mengucapkan kalimah ikhlas, dibarengi tebalnya keyakinan, betul-betul diimankan ucapan dan tekadnya, tidak nyeleweng dari yang diucapkannya yaitu kalimah Laa ilaaha illallaah, tembus ke dalam jantungnya, menghunjam ke dalam hati sanubarinya.

Setelah raja dan kancahnya jatuh ke tanah, lalu ditolong oleh penduduk dan dikeluarkan serta dibuka belenggunya. Setelah itu penduduk bertanya, apa sebabnya dia ada di kancah. itu dan terbelenggu. Sang raja menceriterakan semua pengalamannya tanpa ada yang terlewat dari awal sampai akhir. Dia bercentera bagaimana kelakuannya dahulu, kebengisannya dan kesombongannya, diaknin dengan diserbunya negaranya oleh pasukan Islam, serta kalah dan dia ditawan dan akhirnya dihukum mati dengan jalan direbus dalam kancah berisi cairan timah panQS.

Selesai dia berceritera, penduduk yang ada di tempat itu langsung semuanya beriman kepada Allah SWT.

Hikayat ketiga. Diceriterakan oleh Syekh Abi Saad Al-Gurtubi : “Aku mendengar dari sebagian Hadits Atsar, tegasnya yang kewarid dari para Sahabat, sebenarnya orang yang mengucapkan kalimah Laa laaha illailaah 70.000 (tujuh puluh ribu) kali, akan jadi penebus gan Neraka. Oleh sebab itu, lalu aku mengamalkan membaca 70.000 kali karena mengharapkan berkahnya dari janji Hadits tersebut. Pertama, karena aku mengharapkan dapat menebus ahli-ahliku (keluarga). Kedua, mengamalkan untuk bekal di akhirat kelak.

Kebetulan suatu saat ada seorang pemuda yang menginap di rumahku. Pemuda itu telah mukasyafah, dapat melihat alam gaib. dapat melihat Surga dan Neraka Seluruh penduduk percaya, hanya aku yang masih meragukan. Diantara tetanggaku ada yang ingin dikunjungi olehku dan pemuda tersebut. Aku dan pemuda itu mengunjunginya. Di rumah tetanggaku itu, disuguhi makanan dan minuman.

Tiba-tiba pemuda itu berteriak keras sekali. Seisi rumah kaget dan heran. Pemuda itu cepat-cepat ditolong dan dipijat.

Ketika pemuda itu sadar, lalu berkata keras sekali: “Aduuh …Pak, ibuku sedang terbakar dalam api Neraka “. Lalu pemuda itu pingsan lagi.

Pada waktu itu barulah aku percaya kemampuan pemuda itu, bisa mukasafah. Timbul rasa iba dan aku bicara dalam hati. “Hari ini aku akan mencoba akan kebenaran Hadits itu, Allah SWT mengilhamkan kepadaku untuk mengamalkan membaca kalimah ikhlas 70.000 kali, dibacanya pelan-pelan dan tidak ada yang tahu, kecuali Allah SWT”

Selesai membaca 70.000 kali, aku berkata lagi dalam hati, “Hadits Itu benar, yang menceniterakan hadits itu juga semuanya benar. Ya Allah, semoga kalimah Laa ilaaha illallaah yang 70.000 kali ini, menjadi penebus wanita ibunya pemuda ini”.

Belum tamat aku berkata dalam hati, tiba-tiba pemuda itu bangkit, lalu berkata : “Bapak, sekarang ibuku sudah keluar dari Neraka oleh berkahnya kalimah Laa ilaaha illallaah 70.000 kali Alhamdulillah ……..“.

Kesimpulan dani tiga Hikayat di atas tadi, menunjukkan bahwa membaca kalimah Laa ilaaha illallaah itu sangat besar faedahnya, oleh karena itu ahli Thoreqat di dalam wiridnya sangat mengutamakan memperbanyak membaca kalimah tersebut.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker