BAB X : HIKMAH DZIKIR JAHAR
Hikmat dzikir Jahar ada 6 hal :
- lIjtima’i Satati Qolbi Sahibihi.
Mengumpulkan terpecahnya ingatan hati manusia yang sedang dzikir. Ingatan hati. menurut ahli Tasawwuf ada tujuh puluh ribu ingatan. Menurut firman Allah yang bunyinya : “Gerak-geriknya hati dalam sehari semalam adalah 70.000. sama dengan bilangan gerak-geriknya burag yang ada di Surga. Semua itu sekedar kayidah, tegasnya yang pantas, benar dan salah. Kecuali satu yang pasti benarnya, yaitu geraknya hati ingat kepada Allah”. Contohnya : Apabila kita sedang sholat, terasa bahwa dalam hati banyak melirik kepada selain Allah, ingat kepada kebutuhan atau kesusahan, sehingga hilang khusyu’nya sholat, padahal khusyu’ dalam sholat adalah syarat utama sahnya sholat: Firman Allah s.w.t. (O.S. Al-Mu’minun ayat 1)
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyu’ dalam shalatnya” (QS. A-Mu’minun
Oleh karena khusyu’ dalam sholat itu sangat susah, ahli Tasawwuf mengerjakan amalan cara agar dapat khusyu’ seperti firman Allah dalam Surat An-Nisa ayat 103 yang bunyinya:
“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalatmu, ingatlah Allah” (QS. 4 An-Nisa : 103).
Dzikir yang dikerjakan oleh para Sahabat dan para Wali, juga oleh ahli Tasawwuf dari golongan Qoodiriyyah Naqsyabandiyyah, yaitu kalimah Laa ilaaha illallaah, karena kalimah tersebut cukup untuk memusatkan jiwa raga pasrah kepada Aliah Ta’ala, sehingga ketika membaca kalimah Toyyibah berdasarkan petunjuk dari Syekhnya (Guru Mursyidnya), bergetariah hati sanubarinya, sebagaimana firman Allah dalam Surat Az-Zumar ayat 23:
“Gemetarlah karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu mengingat Allah” (QS. 39 Az-Zumar: 23).
- Himmatun A’liyah.
Membuat tinggi cita-citanya dalam menjalankan ibadah kepada Allah dan menegakkan hukum Allah. Tegasnya dalam menghadapi banyaknya kepedihan/rintangan, tidak cengeng, betul-betul kokoh menegakkan semua yang diperintahkan oleh Allah, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an :
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu ialah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhannya-lah mereka bertawakal” (QS. Al-Anfal : 2).
- Anisul Mutawahis. Menjinakkan perkara yang seringkali liar.
Umpamanya senang melakukan segala yang sunat. Pekerjaan yang sunat itu hal yang agak susah dilakukan, tetapi setelah melakukan dzikir, jadi rajin melakukan pekerjaan sunat, seperti shalat Tahajud, Isrok, Dhuha dan sebagainya.
- Jarrul Khoer. Menarik kepada kebaikan,
Umpamanya mengajak orang lain untuk beribadah atau memimpin dalam segala amal ibadah.
- Khotrotus Samawiyyah. Bisikan-bisikan dari langit.
Tanda-tanda datangnya khotrotus samawiyyah, yaitu bulu kuduk berdiri, hati agak gentar, perasaan ngeri, banyak yang terasa menyedihkan, yang akhirnya tidak tahan menahan sedih, menangis sambil tidak tahu apa yang disedihkan, lupa kepada rasa malu.
Menangis bukan tangis biasa, karena kalau sengaja ingin menangis seperti itu tentu tak akan bisa. Seandainya punya uang setumpuk, emas satu peti, ingin menangis seperti itu tentu tak akan bisa, karena ini betul-betul rahmat dari Allah yang Maha Esa yang diperuntukkan kepada abdinya yang dikasihi-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an yang artinya : “Dimana diturunkan kepada para Rasul ayat Al-Qur’an, kelihatan olehmu, hai Muhammad, mata mereka tergenang air mata, karena mereka tahu bahwa itu adalah haq dari Allah”.
- Miftahul Ghaib. Terbukanya segala sesuatu yang samar-samar,
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Jin ayat 26-27 .
“Maka Dia tdak mempernihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya” (QS. 72 Al-Jin : 26-27).
Untuk mengetahui perihal yang ghaib memang tidak mudah, harus tahu dahulu perbedaan antara malaikat dengan syetan. Duaduanya makhluk halus yang bisa berwujud apa saja.
Untuk membedakannya, Sulthon Aoliya Syekh Abdul Qoodir AlJaelani AS ditanya oleh para muridnya : “Bagaimana perbedaan antara Malaikat dengan Syetan……. ? Jawabnya : “Syetan suka mengajak kepada ma’syiat, sedangkan Malaikat menunjukkan kepada munjiah, yaitujalan keselamatan dunya dan akhirat.
Adapun Kalimah Laa ilaaha illallaah itu banyak sekali namanya :
- Kalimah Taohid 7. Kalimah Miftahul-Jannah
- Kalimah Thoyyibah 8. Kalimah Nafi Isbat
- Kalimah Ikhlas 9. Kalimah Afdholu-Dzikir
- Kalimah Haq 10. Kalimah Tagwa
- Kalimah Najah 11. Kalimah Tsamanul Jannah
- Kalmahn Urwatul-wutsqo 12. Kalmah Isabitah, dsb.
Adapun arti kalimah itu ialah untuk meng-Esa-kan Allah, sehingga tidak ada Tuhan selain Allah, dan beribah hanya kepada Allah Ta’ala.
Arti dari kalimah Thoyyibah ialah ucapan yang terbaik, hanya menyebut Asma Allah, sehingga para Ulama menerangkan bahwa semua amal sholeh itu dibawa oleh Malaikat lalu diperlihatkan, diteliti oleh Malaikat tukang mengkoreksi amal, kalau-kalau tercemar oleh ujub, riya, atau yang lain-lain. Oleh karena itu amal sholeh itu tidak langsung kepada Allah SWT, tetapi melalui perantara yaitu Malaikat.
Sedangkan kalimah Thoyyibah (Kalimah Laa ilaaha illallaah) itu naik ke hadapan Allah dengan sendirinya, tanpa ada yang membawa, tanpa perantara, sebagaimana Firman Allah dalam Surat Fathir ayat 10:
“Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik (Kalimah Tauhid) dan amal yang shaleh dinaikkan-Nya””. (QS.35 Fathir:10)
Jelasnya, kalimah Thoyyibah meskipun tidak memakai niat, tetap ada pahalanya, berbeda dengan amal-amal yang lain yang didasarkan kepada adanya niat, sebagaimana ayelaskan dalam Hadits Nabi SAW yang artinya . “Sesungguhnya sahnya amal itu harus dengan niat”. Ucapan Syekh Abu Sa’id Al-Khoroz : “Dimana Allah berkehendak akan menjadikan seorang abdi-Nya menjadi Wali, dimulai dengan dibukakan kepada abdi itu pintu dzikir. Apabila abdi itu sudah merasa nikmat dalam dzikir, lalu dibukakan kepadanya Durbah (Alam Musyahadah). Lalu dinaikkan ke Majlis Unsyi (singgasana yang amat tenteram), lalu didudukkan di atas Kursi Tauhid. Selanjutnya dibukakan dari segala hijabnya lalu dimasukkan kedalam Darul Fardaniyah (tempat yang menyendiri). Selanjutnya dimasukkan ke dalam Hijabul Jalal wal Udrmah. Di situlah abdi itu diangkat oleh Allah menjadi Waliyullah”.
Ucapan Abdullah Ats-Tsasuri : “Sebetulnya hati ahli Sufi selamanya menghadap kepada Allah serta melanggengkan dzikir dalam hatinya dan Iisannya. Itulah yang mengangkat dzikir kepada tingkatan dzikir Dzat (Dzikir yang sampai kepada rasa, yang disebut dzikir Sirri) atau Dzikrur-Ruh. Selanjutnya naik lagi kepada Mutsabatil Arsyi (pintu Arasy).
Menurut ahli Sufi : “Adapun Arasy itu adalah hatinya manusia yang tetap abadi dalam Alamul Kholgi wa Hikmah. Dan lagi hati itu seolah-olah Arasynya dalam Alamul Armnri wal Qudrat”.
Menurut sebagian : “Adapun hati manusia seperti Arasy, dan dadanya adalah seperti Kursi, sebagaimana Hadits Qudsi firman Allah Ta’ala yang artinya : “Tidak ada yang membaHaqiakan kepada-Ku selain hati abdi-Ku yang mu’min”.
Jadi kesimpulan Hadits Dudsi ini: “Bumi dan langit tidak dianggap luas menurut Allah, akan tetapi yang paling luas adalah hati abdi Allah yang mu’min, sehingga luasnya hati sama dengan luasnya Arasy kepunyaan Allah.”









One Comment