Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Bidayatus Salikin

BAB III : LAFADZ-LAFADZ DZIKIR DAN KEUNGGULANNYA .

Lafazd-afadz dzikir itu sangat banyak, diantaranya : Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, Tamjid, Sholawat, dll Akan tetapi diantara lafadz-iafadz dzikir yang disebut diatas tadi, ada yang paling utama. Menurut sabda Rasulullah SAW, yaitu kalimah Laa ilaaha illallaah, sebagaimana keterangan Hadits :

“Yang paling utama apa yang aku ucapkan dan apa yang diucapkan Nabi-nabi sebelumku, yaitu Laa Ilaaha Illallah”. (Al-Hadits).

Malahan ada Hadits yang menerangkan keunggulannya kalimah itu. Sabda Rasulullah SAW ::

“Jika ditimbang tujuh petala langit dalam satu daun timbangan, dan kalimah Laa Ilaaha Illallah dalam satu ttmbangan yang lainnya, maka akan lebih berat kalimah Laa Ilaaha Illallah”.

Kesimpulannya Hadits-hadits tersebut diatas, diantaranya para Ulama memperbanyak Wirid untuk menambah dan memperkuat iman sebagaimana sabda Nabi SAW:

“Perbaruilah iman kamu Para Sanabat bertanya : Bagaimana kami memperbaharui iman kami ya Rasulullah ? Jawab Nabi : Dengan memperbanyak ucapan Laa Ilaaha Illallah”. (Al-Hadits).

Apa sebabnya Nabi SAW memerintahkan harus memperbanyak membaca kalimah Laa ilaaha illallaah ………? Karena iman itu menurut para Ulama, terbagi dalam Lima bagian :

  1. Iman Mathbu (Iman para Malaikat). Iman ini tidak pernah berkurang, juga tidak pernah bertambah, tegasnya, iman para Malaikat sudah ditetapkan.
  2. Iman Ma’sum (Iman para Nabi). Iman ini kadang-kadang bertambah apabila datang Wahyu, namun tidak pernah berkurang, tegasnya dihindarkan dari kekurangan.
  3. Iman Makbul (Iman orang-orang Muslimin-Muslimat). Iman ini kadang-kadang bertambah apabila mengerjakan tho’at. Berkurang apabila mengerjakan ma’siat. Tegasnya akan diterima apabila mengerjakan tho’at kepada Allah SWT
  4. Iman Maohuf (Imannya ahli Bid’ah). Tegasnya ditangguhkan. Apabila ahli bid’ah itu berhenti dari me ngerjakan bid’ahnya, imannya akan diterima oleh Allah SWT. Ahli bid’ah itu diantaranya: Kaum Rofidhah atau dukun, ahli sihir dll.
  5. Iman Mardud (Ditolak imannya). Tidak diterima oleh Allah SWT seperti imannya orang-orang musyrik, murtadz, kafir dil.

Menurut Hadits tadi, jelas bahwa apabila ingin kuat iman, memperbanyak membaca kalimah tadi (Laa ilaaha illallaah).

Membaca kalimah Laa ilaaha illallaah menurut ahli Fiaih dalam Sehari semalam tidak boleh kurang dan 13 (tiga belas) kali. Tetapi menurut ahli Tasawwuf, tidak boleh kurang dari 1.200 (seribu dua ratus) kali, malah lebih banyak makin bertambah pahalanya.

Didalam Hadits dijelaskan keunggulan/khasiatnya kalimah itu :

“Barangsiapa mengucapkan Laa Ilaaha Illallah serta dipanjangkannya dengan maksud mengagungkan, maka dihancurkan baginya empatribu dosa besar” (Al-Hadits).

“Barangsiapa mengucapkan Laa Ilaaha Illallah dengan ikhlas dan bersih hatinya, pastiia masuk surga” (Al-Hadits).

Kalimah Laa ilaaha illallaah adalah Benteng Kami. Barangsiapa yang masuk kedalam benteng itu tentu akan diselamatkan dari siksa Kami (Al-Hadits).

Sahabat bertanya kepada Nabi SAW: Kalau Surga itu untuk siapa yaa Rasulullah ……… ? Jawab Rasulullah : Surga itu diperuntukkan bagi ahli Laa ilaaha illallaah. Sahabat bertanya lagi, Kalau Neraka untuk siapa yaa Rasulullah ……… ? Jawab Rasulullah : Itu untuk yang tidak pernah membaca Laa ilaaha illallaah.

Siapa saja manusia yang ucapan terakhirnya (pada waktu habis nafasnya dalam sakaratil maut) membaca kalimah Laa ilaaha illallaah, maka orang itu akan masuk kedalam Surga.

Agar manusia selamat dan jadi ahli Surga, Rasulullah SAW bersabda : –

“Talqinlah oleh kamu orang-orang yang akan mati dengan kalimah Laa ilaaha illallaah”.

Dengan Hadits ini, jelas bahwa yang harus diajari mengucapkan kalimah Laa ilaaha illallaah, adalah orang “yang akan mati”, bukan hanya kepada yang sedang menghadapi sakaratil maut, karena bukankah orang yang sehat wal’afiatjuga “akan” mati ?

Daripada kita menunggu sampai sudah sekarat, alangkah baiknya kalau dari sejak sekarang, selagi kita masih sehat dan mampu, karena apabila kita sudah jatuh sakit, yang kadang-kadang sampaitidak bisa makan/minum, apalagi diajari dzikir, yang apabila didalam hatinya tidak ada iman, tidak menyenangi dzikir dari sejak sekarang (berlatih dari sekarang), secara syari’at tentu akan sulit.

Kalau sakaratil maut sudah datang, mata melotot juga sudah tidak lagi bisa melihat, telinga sudah tidak dapat mendengar lagi, mulut sudah tidak dapat berkata-kata lagi, kemauan dan kesanggupan sudah hilang sama sekali.

Yang masih ada adalah Ilmu dan Hayat. Tanpa berlatih dari sejak sekarang untuk berdzikir Laa ilaaha illallaah, dalam saatnya akan dilaksanakan (dalam sakaratil maut) sangat kecil kemungkinannya akan mampu. Seperti tentara yang memegang senjata yang ampuh, kalau tanpa latihan, tentu akan kikuk dan kaku dalam medan pertempuran karena tidak pernah berlatih dahulu.

Pada saat ruh (nyawa) akan keluar dari jasad kita, mula-mula dari ujung ibu jani kaki, menjalar sampai ke lutut, naik lagi sampai ke puser, terus kejantung, punggung, ke hati, ke dada langsung ke tenggorokkan, keotak……… barulah lepQS………

Padawaktu ruh lepas keluar dariotak, apabila tidak dibarengi dengan dzikir pada Allah SWT dikhawatirkan kita akan mati dalam keadaan “su’ul khotimah”. Namun, apabila kita sudah terbiasa mendawamkan (latihan) dzikir mulai dari sekarang, sehingga dzikir itu menyerap ke sekujur tubuh, Insya Aliah ruh kita akan keluar dibarengi dengan dzikir kepada Allah.

Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an :

“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hambahamba-Ku, dan masuklah ke dalam Surga-Ku ” (QS. 89 Al-Fajr 27-30).

BAB IV : SYARAT-SYARAT DZIKIR

Dalam penjelasan dzikir di atas tadi, perlu diketahui bahwa dzikir itu ada syarat-syaratnya, yaitu harus adanya “guru”. Gurunya adalah harus seorang manusia yang sudah dapat izin (mandat) dari gurunya. Kenapa harus ada guru, yaitu sesuai dengan firman Allah :

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS. 16 An-Nahl : 43).

Pengertian dari “tanyakan kepada ahli dzikir”itu, maksudnya agar manusia mengetahui mengenai perihal dzikir, jangan sampai terjadi : “mencaci karena tidak mengerti, mengejek karena tidak tahu”, yang akhirnya menjadi pertengkaran antara sesama umat Islam.

Apabila sampai terjadi demikian, yang rugi sudah pasti adalah kaum islam, karena tidak adanya lagi persatuan antara sesama kaum Islam. Terjadilah pertengkaran yang disebabkan oleh “buruk sangka” seperti dijelaskan dalam Firman Allah :

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa” (QS. 49 Al-Hujurat : 12).

Untuk menghindarkan dari berburuk sangka, kita harus banyak bertanya kepada ahlinya, apakah itu dengan jalan dialog, atau diskusi, ataupun musyawarah agar ada dalam kemaslahatan, ketenteraman dan persatuan.

BAB V : PEMBAGIAN IBADAH

Dari mana istimbatnya para Ulama sampai bisa membagi ibadah itu menjadi: 1. Syari’at 2. Thoreqat 3. Hakikat

Firman Allah SWT :

 “Hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dan Tuhanmudan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS. 10 Yunus: 57).

Yang dimaksud dengan mau’idoh, yaitu Syan’at. Yang dimaksud dengan syifa, yaitu Thoreqat. Yang dimaksud dengan hudan warohmah, yaitu Hakikat.

Demikian pula sabda Rasulullah SAWyang bunyinya :

“Syari’atadalah ucapan. Thoreqat adalah pelaksanaan. Hakikat adalah tingkah laku (kelakuan). Ma rifatadalah pangkal kekayaan (modal)”. Malah diterangkan lagi oleh Ulama : “Syan’at adalah perahu, Thoreqat adalah lautannya. Hakikat yaitu beriannya (mutiaranya).”

Adapula yang mencontohkan : Syariat adalah pohonnya, Thoreqat adalah nyawanya. dan Hakikat adalah buahnya. Syan’at tanpa Hakikat, hukumnya Fasik, Hakikat tanpa Syarat hukumnya Batal.

Barang siapa yang menjalankan Syarrat dan Thoreqat, itu sudah benar, karena menjalankan syari’at itu artinya memegang (melaksanakan) agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW, tegasnya menegakkan perintah Allah dan menghindari segala macam yang diharamkan (munkarot).

Adapun Thoreqat, itu mengambil yang terpenting dari agama, rapih dalam kelakuan, mau untuk menahan nafsu, dan memaksa agar amarah asyik dalam tho’at pada Allah SWT.

Adapun Hakikat, yaitu sampainya kepada yang dituju, tegasnya musyahadah (awas mata hatinya kepada Dzat-nya Allah yang Laissa kamitslihi syai’un).

Untuk mencapai yang tiga macam tadi. ilmunya juga ada tiga macam, yaitu :

  1. Fiqih 2. Tassawwuf 3. Usuludadin.

Ilmu yang tiga macam ini untuk memperkuat ibadah kepada Allah. Fiqih 1 untuk mensahkan tho’at (ibadah kepada Allah). Tasawwuft : untuk membersihkan hati agar ikhlQS. Usuluddin : untuk meluruskan tekad agar tepat kepada siapa kita beribadah, karena semua itu diatur dalam Usuluddin.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker