Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Bidayatus Salikin

BAB XVII : MANAQIB

Asal kata Managib menurut lugot bahasa Arab artinya adalah “jalan di atas gunung” atau “tanjakan”. Didalam bahasa Sunda artinya adalah “tingkatan” atau istilah sekarang “up-grading”.

Adapun istilah Managib yaitu: “Ma urrifa bihi minal khisho lil hamidati wal akhlagil kamidati”. Perkara yang sudah diketahui bahwa keluarnya perkara itu dari hal yang terpuji dan dari budi pekerti yang baik, Bisajuga disebut tanda keagungan.

Didalam managib itu ada tiga kandungan :

  1. Riwayat: 2. Karamat: 3. Wasiyat.

Adapun hukumnya membaca Managib adalah sunat, karena Managib bisa menjadikan kifarat dari dosa, seperti hadits yang disampaikan oleh Ahmad dan Tabrani yang bunyinya:

“Memperingati orang-orang sholeh akan memperoleh kifarat dosa dan pada peringatan tersebut akan turun rahmat dan memperoleh barokah” Ahli Thoreqat Qoodiriyyah Naqsyabandiyyah biasa menjalankan wiridan membaca Managib, utamanya mengharapkan barokah dan rahmat dari Allah, dengan ternaungi oleh karamat dari yang memiliki Managib itu.

Jalan lain mengharap barokah itu ada lagi, yaitu menurut Firman Allah (Q.S. Lugman ayat 15):

“Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku-lah kembali, maka kubentakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” (Q.S. 31 Lugman: 15).

Kesimpulan ayat tersebut di atas : Kita adalah manusia yang beriman, disamping harus ta’at kepada Aliah dan Kasul-Nya, juga kita harus mengikuti jalannya orang-orang yang sudah tagorrub kepada Allah, yaitu para Auliya-nya Allah.

Oleh karena itu sekarang jelas kita ketahui bahwa hukum membaca Managib itu “Sunat”. Diantaranya lagi, dalil-dalil yang berhubungan dengan Managib dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 100 :

“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama masuk Islam diantara orang-orang Muhajirin dan Anshor den orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka syurgasyurga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS. 9 AtTaubah : 100)

Karena itu, yang memiliki Managib itu bukan hanya para Wali saja, akan tetapi para Sahabat Muhajirin dan Anshor juga memiliki Managib (lihat Kitab Bukhori Juz 4). Dengan demikian jelas sekali bahwa Managib itu ada dalam Al-Qur’an dan Hadits.

Oleh karena itu, kepada orang yang mewiridkan membaca Managib jangan dibid’ahkan/disalahkan, karena semua itu hanya sebagai mengingat-ingat akhlag para Sholihin dan Sodigin, agar kita dapat mencontoh kepada mereka, karena mereka juga meniru akhlag Nabi SAW.

Orang yang mengikuti kepada orang yang meniru kepada Nabi SAW adalah sama saja dengan orang yang meniru kepada Nabi SAW, karena menurut Qoidah ahli Munatigoh : Annal mundarija fil mun darniji mundarijun tahta dzali kassae’i. Kesimpulannya : Seandainya kita meniru/mengikuti perjalanan Wali-wali Allah, itu sama dengan meniru kelakuan Rasulullah SAW, sebab kelakuan para Wali-wali, tidak keluar dari dasar-dasar Al-Duran dan Sunnah, karena Allah tidak menjadikan seseorang jadi Wali melainkan karena mereka tagwa kepada Allah, sebagaimana Firman Allah :

“Orang-orang yang berhak menguasainya, hanyalah orangorang yang bertakwa”. (Q. S. Al-Anfal : 34).

Dengan demikian, siapa saja yang cinta kepada para Wali, sama dengan cinta kepada Nabi SAW. (Lihat Hadits Dudsi).

Sebaliknya apabila ada yang membenci/tidak menyenangi kepada para Wali, itu sama saja dengan membenci/tidak menyenangi kepada Nabi SAW dan siapa saja yang membenci Nabi SAW sama dengan menantang perang kepada Allah.

Jadi untuk yang membenci/anti Managib para Wali, sama dengan menantang perang kepada Allah.

Didalam managib Itu mengandung hikmat dan karamat Dalam hal ini banyak hal-hal yang tidak dimengerti oleh akal, tidak terjangkau Oleh Imu, malahan seolah-olah keluar dari syari’at.

Sabda Syekh Abdul Qoodir Al-Jaelani g.s. : “Apabila kamu Sekalian mendengar bermacam-macam ucapan atau sebagian ucapan yang keluar dari para ahli Tasawuf dan para ahli Ma’rifat yang sempurna, Yaitu dengan para Wali yang dhohirnya seperti tidak mufakat dengan syari’at yang menunjukkan dari perkara yang menjadikan sesat, harus tawaguf. Apabila kamu sekalian bukan ahli ta’wil, memohonlah kepada Allah yang Maha Mulia agar supaya kamu diberi petunjuk kepada hal-hal yang kamu tidak mengetahui.”

Sebenarnya, sebagian ucapan para Wali itu, disamarkan sehingga tidak dapat segera dapat difahami, akan tetapi sebenarnya secara hakikat mufakat dengan Al-Qur’an dan Hadits. Karena itu bagi yang orang yang selalu menyalahkan ucapan-ucapan para Wali, termasuk kepada sebagian orang-orang yang sakit bathinnya (hatinya).

Menurut Firman Allah dalam Al-Qur’an:

“Yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya”.

Juga Firman Allah dalam Surat Al-Ahqaf ayat 11 :

“Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya, maka mereka akan berkata : “Inil adalah dusta yang lama”. (QS. 46 Al-Ahqaf : 11)

Begitulah orang-orang yang anti pada Managibnya para Wali, seperti ucapan kaum Quraisy yang tidak beriman kepada Rosulullaah SAM, demikian pula orang-orang yang anti terhadap karamat para Wali.

Apabila ada orang yang berkata: “Masa iya ada Wali melebihi dari pada Nabi, seperti Syekh Abdul Qoodir ketika menghidupkan lagi orang yang sudah mati menyebut “Qum bi idzni”, sedangkan Nabi Isya a.s. mengucapkan “Dum biidznillah”,

Ucapan tersebut diatas tidak lain karena “tidak tahu”, lalu mengejek, mencaci segala, padahal artinya karamat itu adalah : Amrun khowarigun liffadzat, artinya : perkara yang keluar dari adat kebiasaan.

Ucapan Syekh Munawi : “Tidak akan ingkar pada karamat. melainkan orang yang tidak ingat kepada Allah. Sebenarnya segala apa kelakuan atau suatu kejadian itu adalah perkara yang keluarnya dari Wali Allah yang diridloi oleh Allah.

Lihat Hadits Oudsi : “Setiap abdi, sangat tagorrub kepada Allah dengan menjalankan sunah-sunah, oleh karena itu Allah meridhoi kepada abdi tersebut.

Segala macam perkara/kejadian yang khowarig, jangan dikejar untuk dimengerti oleh akal, cukup didasarkan kepada kekuasaan Allah. sebagaimana Firman Allah dalam Al-Duran : Yafalullaahu mayyasyaa’u wajahkumu maa yuridu (Allah menjadikan sekehendakNya, dan menghukum sekehendakNya). Jangan bertanya tentang segala yang diciptakan oleh Aliah.

Apabila ada yang anti pada karamat, sama saja dengan anti kepada Al-Qur’an karena dalam Al-Qur’an banyak ayat-ayat yang menunjukkan adanya karamat, seperti Asop bin Barkhoya panglimanya Nabi Sulaiman a.s. dapat memindahkan istana Ratu Bilgis dalam waktu sekejap mata, atau Ashabul Kahfi berada didalam gua selama 309 tahun, atau Siti Maryam kapan saja akan bersantap selalu datang hidangan dari yang ghaib.

Semua itu Karamat, karena semuanya terjadi bukan dari Nabi.

Apabila saja ada yang tidak percaya pada karamat, sama saja dengan mendustakan pada Al-Qur’an. Sekali lagi dijelaskan bahwa membaca Managaib itu adalah bukan “kultus”atau “mendewa-dewakan”, akan tetapi sekedar mencontoh atau meniru Sholihin, agar supaya kita dapat meniru pada akhlag mereka, yang sampai dapat gelar/titel “Kekasih Allah”.

Cukup sekian, mudah-mudahan ada manfaatnya kepada para pembaca umumnya, khususnya kepada para ikhwan Thoreqat Doodiriyyah Naqsyabandiyyah dimanapun adanya.

Semoga kita semua termasuk pada orang yang diridloi Allah SWT. Amin Ya Robbal ‘Alamin.

Wabillahit Taufiq Wal Hidayah.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker