BAB XII : DZIKIR KHOFI
Ketika Nabi Muhammad SAW dan Sayyidina Abu Bakar Siddiq r.a. bersembunyi di Gua Hiro, kaum Quraisy yang Kafir, memburu Nabi ke gua itu, dan mereka mencari berada di mulut gua itu. Sayyidina Abu Bakar sangat bimbang, khawatir mereka mengetahui bahwa Nabi SAW berada disitu. Kemudian Nabi SAW bersabda, sebagaimana termaktub dalam Surat At-Taubah ayat 40):
“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita” (QS 9 At-Taubah : 40).
Sayyidina Abu Bakar berkata : “Ya Rasulullah, mohon anda memberi petunjuk, agar hati hamba tenteram jangan merasa bimbang seperti sekarang”.
Sabda Nabi SAW: “Ucapkan olehmu Asma Allah”.
“Bagaimana caranya mengucapkan kalimah itu dan dimana menempatkannya, ya Rasulullah” kata Sayyidina Abu Bakar. “Harus ingat kamu kepada Tuhanmu di dalam hati dengan merendah, merasa malu dan takut, tidak usah dengan ucapan yang keras (tidak dilisankan), cukup dengan getarnya hati, detaknya jantung. Cara berdzikir seperti itu harus dari pagi sampai petang serta ingat terus jangan ada lupanya”, sabda Nabi SAW. “Bagaimana kalau” lupa ya Rasulullah?” tanya Sayyidina Abu Bakar. : “Harus ingat kamu kepada Aliah. Dimana lupa usahakan untuk ingat lagi”, sabda Nabi SAW. Jadi kalau diumpamakan, seperti jam (arloji putar), Apabila berhenti putarlagi. Setelah Sayyidina Abu Bakar dapat yazan dari Nabi Muhammad SAW, hatinya merasa tenteram, tidak bimbang dan takut melihat rombongan kaum kafir yang akan membunuh Nabi SAW, sebagaimana Firman Allah (A.S. Al-Fath ayat 26):
“Lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya” (QS. 48 Al-Fath . 26).
Semua itu adalah asal-usul adanya Thoreqat Naqsyabandiyyah. Setelah Sayyidina Abu Bakar diberi wirid itu dari Rasulullah SAW, beliau sangat takut kepada Allah sampai para Sahabat menerangkan : “Apabila kita mendekati Sayyidina Abu Bakar, tercium dari mulutnya seperti telah memakan goreng hati domba, dan terdengar dari hatinya seperti suara mendidihnya minyak kelapa dalam penggorengan.”
Keterangan seperti itu dalam Hadits yang dirwayatkan oleh Imam Ahmad dan Tabrani yang berbunyi : “Tidak semata-mata Allah SWT mengucurkan suatu rahasia ke dalam dadaku, akan tetapi aku juga mengucurkan rahasia itu ke dalam dada Sayyidina Abu Bakar”
Yang dimaksud dengan rahasia ialah Dzikir Khoffi
Rasulullah SAW bersabda kepada para Sahabat :
“Apabila ditimbang iman Abu Bakar dengan iman jin dan manusia, selain para Nabi dan Mursalin. tentu akan lebih berat imannya Abu Bakar”
“Apa sebabnya Sayyidina Abu Bakar sedemikian tinggi imannya, melebihi para Sahabat yang lain, ya Rasulullah, padahal shalatnya, puasanya dan sidgohnya sama ………. ?” tanya para Sahabat.
Sabda Rasulullah SAW: “Kamu sekalian tidak akan mengungguli Abu Bakar dalam hal banyaknya sholat, puasanya dan sidgohnya, akan tetapi keunggulan dari Abu Bakar adalah karena dalam dirinya ada satu rahasia, yang tetap tinggal dalam qalbunya”
Setelah Sayyidina Abu Bakar Siddiq diberi ijazah oleh Nabi Muhammad SAW, amalan tersebut menjadi termasyur pada masa itu, sehingga wirid itu disebut Siddiqiyyah, didasarkan pada nama Sayyidina Abu Bakar Siddiq r.a.
Perlu diketahui, sebenarnya sebutan silsilah itu berbeda-beda karena berbeda-beda masanya.
Dimulai dari masa Sayyidina Abu Bakar sampai kepada Syekh Thoofur bin Isa Abi Yazid al-Busthami, dinamai Thoreqat Sidadiqiyyah.
Dari mulai Syekh Thoofur sampai kepada Syekh Muhammad Bahauddin Husaeni al-Uwesi al-Bukhori, dinamai Khowajikaniyyah.
Dari mula: Syekh Bahauddin sampai kepada Syekh Abdullah AlAhrori, dinamai Thoreqat Naqsyabandiyyah. Arti dari Nagsyabandi itu berasal dari kalimat Nagsun-bandun yang artinya mencapkan stempel, jelasnya : Menerapkan cap/stempel yang abadi yang tidak bisa ditebus/dihapus oleh apa-apa, adapun hapusnyaoleh Lupa.
Menurut riwayat, ketika Syekh Bahauddin Nagsyabandi sedang berdzikir kepada Aliah, dalam hatinya sampai jelas terlihat lahirnya latadz Jata’lah tembus ke dalam dadanya. Maka dari sejak itu sampa sekarang, disebut Thoreqat Naqsyabandiyyah.
BAB XIII : ALAMUL AMRI & POKOK THOREODAT ALAMUL AMRI
Alamul Amri itu yaitu alam pemerintahan. Dalam alam itu ada wiayah yang disebut wilayah Ulul “Azmi. tegasnya mempunya kesabaran sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur’an yang artinya : “Harus sabar kamu sekalian seperti sabarnya Ulul ‘Azrmi dari beberapa Rasul”.
- Latifatul Qolbi : wiayah Nabi Adama ss.
- Latifatul Ruh : wilayah Nabi Ibrahima.s.
- Latifatus Sir : wilayah Nabi Musaa.s.
- Latifatul Khoffi: wilayah Nabi Isaa.s.
- Latifatul Akhfa : wilayah Nabi Muhammad SAW.
- Latifatun Nafsi tanpa wilayah
- Latifatul Qolab tanpa wilayah.
Latifah yang tujuh harus diisi oleh Dzikir Khoffi dan untuk meningkatkannya, harus seizin Guru yang memberi ijazah. Apabila dzikir itu sudah naik kepada latifah di seluruh badan, disebut Sulthonul Azkar, artinya rajanya segala dzikir.
POKOK THOREODAT
Asal-usul / pokok Thoreqat itu hanya dua, yaitu Thoreqat Dodiriyyah dan Thoreqat Naqsyabandiyyah.
Asal mulanya dari Thoreqat Sahabat, yaitu dari Sayyidina Ali dan Sayyidina Abu Bakar Siddiq r.a. dan pada waktu itu belum memakai nama Dodiriyyah dan Naqsyabandiyyah. .
Menurut Syekh Akbar Sayyidina Bahaudain Nagsyabandi : “Adapun asal Thoreqatku merupakan ujung dari Thoreqat yang lain, karena ini adalah Thoreqat Sahabat, tidak kurang tidak lebih. Disebut akhir dari Thoreqat, karena Thoreqat ini yang bisa melanggengkan ibadah lahirbathin serta bisa diamalkan oleh orang tua maupun anak-anak, oleh wanita atau lak-laki, oleh yang bodoh maupun yang pandai, oleh yang kaya maupun yang miskin, oleh rakyat ataupun pejabat. malahan Sedemikian luasnya, Thoreqat ini bukan saja untuk yang hidup, bahkan yang mati pun dapat diberi ijazah dengan Thoreqat ini”.
Juga keterangan beliau : “Segeralah kamu berbuat untuk mempelajari Thoreqat ini, tentu kamu akan baHaqia dan akan mendapat suatu ‘ berlian yang sangat mahal serta akan mencium suatu wangi-wangian. Thoreqat yang tdak dapat getarkan oleh hati serta bisa menghilangkan kepadamu syak wasangka pada hamba. serta bersih dari segala kotoran bathin seperti : Ujub, ria, surmn’ah, takabur dan sebangsanya, malahan saking mudahnya, kholwat pun bisa dilakukan di tempat terang, uzlahnya ditengah-tengah orang ramai”.
Dengan demikian bisa “bersembunyi di tempat yang terang”, sebagaimana Firman Allah dalam Al-Duran Surat An-Nur ayat 37 :
“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah” (QS. 24 An-Anur: 37).
Kata Sayyidatina Rabi’ah Adawiyah di dalam syairnya :
“Didalam hati berbicara kepada Allah Yang Maha Kuasa, akan tetapi pada lahirnya aku bercakap-cakap dengar sesama manusia. Jasadku bersama-sama dengan manusia dalam kumpulan. Tetapi hatiku menyendiri mencintai Allah”.
Malah kata Abu Sa’ad Al-Khorez . “Manusia yang sempurna itu bukan karena bisa mengeluarkan karamat saja, tetapi manusia yang Sempuma ialah manusia biasa yang bercamnpur-gaul dengan manusia lain, baik berdagang, atau tani, kalau laki-laki punya istri, kalau wanita punya suami, hanya saja hatinya tidak pernah lupa kepada Allah meskipun hanya sekejap mata”.
Oleh karena itu para pemuka Thoreqat Naqsyabandiyyah memilih dzikir hati, karena hati adalah tempat Allah menilai, tempat iman, gudangnya segala macam rahasia, serta tempat sumbernya bermacammacam cahaya. malah jasad akan maslahat, karena hatinya maslahat, sebagaimana sabda RasulullahSAW:
“Ingatlah, sesungguhnya dalam jasad itu ada segumpal daging, kalau daging itu baik, sudah tentu akan baik jasadnya, dan apabila rusak daging itu, tentu rusak pula seluruh jasadnya. Ingatlah, segumpal daging itu adalah hati”.
Sabdanya pula “Tidak dikatakan seseorang beriman, sehingga dia mengikatkan hatinya kepada segala macam hal yang wajib diimani. Begitu pula tidak sah ibadah, kecuali harus niat, sedangkan tempatnya niatadalah dalam hati”.
Sudah sepakat para Imam yang empat, bahwa sebenarnya pekerjaan anggota badan tidak bisa diterima, kecuali dibarengi oleh gerak/amal hati. Akan tetapi amal hati bisa diterima, meskipun tidak dibarengi amalnya anggota badan. Sebabnya ialah apabila amal hati tidak diterima, sudah tentu imannya juga tidak akan diterima, sedangkan iman itu ditekadkan oleh hati, sebagaimana Firman Allah dalam AlQur’an (Q.S. Al-Mujadalah ayat 22):
“Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripadanya” (QS. 58 Al-Mujadilah :22).
Adapun ruhnya iman ialah dzikir khoffi, sebab kuatnya iman itu karena ingatnya hati kepada Allah Ta’ala.
Sabda Nabi Muhammad SAW : “Iman itu ada lima macam. Siapa saja manusia yang kurang salah satu dan yang lima itu, tidaklah dinamakan beriman. Pertama : Pasrah pada perintah Allah: Kedua : Ridho kepada takdir Allah, Ketiga : Memasrahkan jiwa dan raga kepada Allah: Keempat: Tawakal kepada Allah, Kelima : Sabarketika mendapat musibah”.
Al-Hadits riwayat Al-Bazari, dari Ibrahim bin Adham : “Hati orang Mu’min itu bersih seperti cermin/kaca, maka apabila datang syetan ke hatinya, maka akan terlihat jelas seperti kita melihat pantulan dari cermin, apabila dia mengerjakan dosa, maka pada hatinya akan ada titik noda hitam. Apabila dia bertaubat, titik noda hitam itu akan terhapus lagi. Apabila kembali kepada ma’syiat dan tidak bertaubat, maka hatinya litik-titik noda hitam itu akan bertambah. sehingga akhirnya hitam Seluruhnya. Apabila sudah demikian, dia tidak akan menerima segala nasihat, akhirnya buta mata hatinya, tidak bisa mengambil intisari yang Haq dan tidak bisa memaslahatkan agama dan menganggap remeh urusan akhirat, serta memandang agung urusan dunia, artinya lebih mementingkan urusan dunia daripada urusan akhirat” sebagaimana Firman Allah (O.S. AlAraf ayat 201):
“Sesungguhnya. orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya” (QS. 7 Al-A ‘raf: 201).
Cerdiknya syetan, sehingga dia bisa masuk ke dalam hati karena :
- Syahwat.
- Amarah.
- Hasud.
- Tamak.
- Serakah, dan lain-lain.
Apabila pintu masuknya ditutup, sudah tentu syetan tidak akan dapat masuk.
Pada suatu ketika, Qaos bin Hazaz bertemu dengan syetan, ditanya syetan itu : “Bagaimana caranya kamu masuk ke dalam hati manusia ………?“ Jawabnya: “Dimana hati manusia sedang lupa kepada Allah, disitulah kesempatan aku masuk ke dalam hati manusia serta disana banyak makanan, sampai aku gemuk seperti unta dikebiri. Apabila manusia itu berdzikir kepada Allah, maka aku hancur. dari sebesar unta hingga menjadi sebesar burung pipit”.
Kata Ba’dul ‘Arifin : “Adapun dzikir dalam hati itu, pedangnya para murid”. Tegasnya, yang sedang belajar Thoreqat. dengan pedang itu bisa membunuh musuh-musuh, bisa mengusir segala marabahaya yang mengagetkan hati. Pada waktu manusia kaget, keadaannya Seperti penyakit yang ada didalam dadanya”.
Alat (senjata) untuk menolak itu tiada lain adalah Dzikir Khoffi.
Kata Ulama Tasawwuf : “Barang siapa manusia ditakdirkan baik oleh Allah SWT, maka Allah akan membukakan kuncinya sehingga hatinya menjadi dzikir dan Allah menanamkan keyakinan dalam hatinya”.









One Comment