Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Bidayatus Salikin

BAB XVI : ROBITHOH & SILSILAH

“Robithoh” dan Silsilah bukan hanya dalam Thoreqat Qoodiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN) saja, akan tetapi semua Thoreqat kalau tanpa “robithoh” dan Silsilah diibaratkan “anak tanpa bapak”.

Insya Allah, akan dijelaskan satu-persatu, namun sebelum menjelaskan hukumnya, perlu kita tashowwur lebih dahulu, karena menurut keterangan Ushul Fiqih : “Al-Hukmu bisy-syaei farun ‘an tashowwurohi”. Artinya : Hukumnya suatu perkara, itu adalah dahan dari Tasawwuf, tegasnya membuktikan atau meneliti kepada arti satupersatu kata-kata atau kalimah itu.

Sekarang yang dipersoalkan adalah “robithoh”. Sebelum menerangkan hukumnya, perlu diterangkan dahulu arti kalimah itu, jangan dahulu langsung menentukan “musyrik”, “kultus individu”, atau menghukumi bahwa itu menyeleweng dari agidah Islamiyah dan sebagainya.

Ada yang menyangka, katanya “robithoh” itu ibadah kepada “Guru” atau “Wali”. Sangkaan demikian jelas keliru, karena yang menyangka pun sering melakukan “robithoh”, akan tetapi mereka tidak sadar karena tidak mengerti makna “robithoh”.

Adapun definisinya “robithoh”, menurut lugot Arab yaitu “Ibsarotun an ta’alluqil qolbi bisyaein ‘ala wajhil mahabbah”, artinya : Terkaitnya hati kepada macam-macam hal sambil menyenanginya. Apabila meneliti dari definisi itu tentu oleh semuanya jugaterasa, karena setiap manusia kadang-kadang mengingat kepada suatu hal dibarengi terbayang dan disenangi.

Suatu saat seorang laki-laki merindukan seorang wanita dan terbayang wajahnya dibarengi rasa cinta. Apabila “robithoh” itu keluar dari agidah Islamiyah tentu semua ummat Islam itu musyrik, malahan yang memusyrikkannya juga termasuk, karena mereka juga melakukan seperti itu. Seumpamanya saja dalam shalat, ingat kepada sawah/kebun, ingat hutang, dan lain-lain, apakah itu juga tidak disebut “robithoh”” ………. ?

Adapun definisi “robithoh” menurut ahli Thoreqat, yaitu : /barotun an tashowwuri shauroti syaehihi fi madrokihi f qolbi, artinya : Suatu Ibarat dari ingat kepada Gurunya diwaktu idrak, tegasnya ketika menemui hal yang gaib-gaib yang tidak dimengerti, tidak terjangkau oleh akal, lalu robithoh kepada gurunya, nanti akan menjadi sebab kita dapat mengerti kepada hal-hal tersebut. Hanya saja tidak akan mengerti kepada soal kelakuan, kecuali harus gurunya dahulu.

Atau robithoh itu ingat kepada guru sampai mereka merasa tidak jauh dari gurunya, ada peribahasa “jauh dimata dekat dihati”, sampai apapun petunjuk dari gurunya, betul-betul tidak sembarangan dalam mengamalkannya, terutama ketika akan menjalankan wiridan dzikir.

Pekerjaan seperti itu tidak musyrik, tidak menyeleweng dari agidah Islamiyah karena itu sekedar alat menjangkau khusyu’, seolaholah kita berdzikir di hadapan guru.

Menurut ahli tasawwuf dalam Kitab Jamiul Usulil Auliya, menerangkan seperti ini : “Adapun Thoreqat yang memakai “robithoh”, adalah Thoreqat yang paling dekat. Malahan disebutnya juga : Thoreqat yang tidak memakai “robithoh” tidak akan bisa wusul kepada maksudul asnaa, yaitu ma’ntat dan mahabbah”.

Adapun istinbatnya ahli Toregat dengan adanya “robithoh”, mengambil dari ayat Al-Gur an Surat At-Taubah ayat 119:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama-sama orang yang benar”. (At-Taubah:119).

Juga keterangan Hadits yang bunyinya : “Kamu harus berada, dan bersama-sama dengan Allah. Apabila tidak bisa, harus bersamasama dengan orang yang sudah bersama dengan Allah, karena mereka itu dapat mendorong kepada kamu dekat kepada Allah”.

Jadi kesimpulannya “robithoh” itu bukan ibadah kepada makhluk, akan tetapi sekedar alat untuk mencapai tujuan. Apabila tujuan itu atau yang dimaksud adalah sesuatu yang wajib, maka alat yang menghasilkan tercapainya tujuan juga menjadi wajib.

Oaidah Usul Fiqih ada yang seperti berikut : “Lil wasailhukmul magosid min babila yatimmul wajib ila bihi fahuwa wajib”. Artinya : “Bagi perkara yang menyampaikan kepada hukum yang dimaksud dari sebagian bab, tidak sempurna wajib kecuali oleh perkara itu, maka perkara itu hukumnya wajib”.

Jadi “robithoh” itu suatu wasilah untuk menyampaikan yang dimaksud, yaitu “wusul salik”, tegasnya yang menjalankan Thoreqat kepada marrifat. Maka kesimpulannya “Tobithoh” itu wajib.

Contohnya : Nabi Yusuf a.s. ketika digoda oleh Siti Zulaeha, seandainya beliau tidak melihat “Burhan” dari Allah, ketika beliau akan bersatu badan dengan Siti Zulaeha, keburu melihat wajah Ayahandanya, yaitu Nabi Yakub a.s. sehingga Nabi Yusuf kaget dan sadar, sehingga beliau terhindar dari melakukan perbuatan yang diarang oleh Allah. Sebagaimana Firman Allah SWT (O.S. Yusuf: 24):

“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud melakukan perbuatan itu dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud melakukan pula dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda dari Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang terpilih”. (QS. 12 Yusuf: 24).

Oleh karena itu ahli Thoreqat Doodiryyah Naqsyabandiyyah menetapkan adanya “robithoh”, yaitu ingat kepada Guru agar si murid dimana ada maksud menjalankan ma’syiat, apabila merasa berada di hadapan Gurunya, akan menyadari dan merasa malu untuk menjalankan sesuatu yang ma’syiat.

Ada yang sudah pernah dialami oleh sebagian murid-murid Thoreqat, yang tadinya adalah ahli jahat dan ma’syiat, akhirnya menjadi orang yang ta’at dan ahli ibadah. Begitulah pengertian ““robithoh” menurut  Thoreqat.

Apabila “robithoh” dianggap menyeleweng dari agidah Islamiyah, kalau ditafakuri, dalam peringatan hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia setelah menyanyikan lagu “Indonesia Raya”, kita mengheningkan cipta untuk para pejuang bangsa Indonesia. Itupun adalah “robithoh”.

Ingat jangan sarmmpai berburuk sangka terhadap sesama umat Islam, apalagi menghukumkan “kufur” terhadap yang suka melakukan “robithoh””. Sabda Nabi Muhammad SAW: “Barang siapa menyebut kafir terhadap sesamanya padahal yang dituduh itu orang Islam, maka kekufuran itu akan berbalik kepada yang menuduh”.

Mengenai “robithoh” dan “Ihsan” adalah berbeda, karena Ihsan Itu rukun dalam agama. Sedangkan “robithoh” adalah syarat dalam Thoreqat. Selengkapnya, Thoreqat adalah merupakan alat agar manusia merasa seolah-olah berada di hadapan (dihadapi oleh) Allah, merasa dirinya tidak lepas dar penglihatan dan pendengaran Allah, sampai merasa dirinya malu oleh Allah SWT yang menciptakan alam semesta.

Karena untuk mencapai itu sangat sulit, maka periu diusahakan, diantaranya dengan “robithoh”, karena kebanyakan manusia tidak merasa malu oleh yang tidak teridrok oleh hawasil khamsi’.

Tidak terlihat, tidak terdengar, malahan oleh yang terdengar maupun terlihat juga, tidak begitu merasa malu dalam menjalankan ma’syiat, apalagi oleh Allah yang tidak terbayangkan dan tidak terlihat Oleh mata, tentu jauh dari merasa malu.

Oleh karena itu kita harus merasa malu oleh yang nyata seperti manusia, apalagi oleh Allah, dzat laitsa kamitslihi syaiun, yaitu dzat yang tidak ada bandingannya, tidak ada yang menyerupai dalam segala hal.

Kalau ada yang menyebutkan bahwa membayangkan Guru itu musyrik (seandainya …!), menurut hemat kami apabila membayangkan guru atau ibu/bapak atau makhluK pada umumnya, bukan musyrik. tetapi kalau membayangkan Allah jelas musyrik. Apa sebabnya ? Karena Allah itu bukan untuk dibayangkan, tapi zat Jaitsa karnistlihi syaiun..

Yang menolak Thoreqat, sudah berbau faham Wahabi yang asalnya yaitu faham Ibnu Taimiyah yang ditolak oleh ulama ahli sunnah wal jama’ah.

Menurut Ulama-ularma ahli Tasawwuf :

“Takutlah kamu dengan ucapanmu bahwa Tharigat Suftiyah (Tharigat Ulama-ulama Tasawuf) itu tidak ada dari Al-Quran dan Hadits. Sesungguhnya ucapanmu itu dapat menjadikan kamu kufur, karena sesungguhnya Tharigat Sufi itu adalah akhlak Nabi Muhammad SAW dan perjalanan (tharigat) menuju Allah”.

Akan tetapi masih banyak orang yang membantah atau mengejek faham ahli Tasawuf. Itu bukan salah yang diejeknya, namun yang mengejeknya sedang sakit fahamnya. Contohnya : Orang yang sakit mata sangat benci melihat cahaya matahari. Kata orang yang sakit, air manis itu disebut pahit. Mereka berkata demikian tdak lam karena mereka sedang sakit.

Ahli sya’ir menyebutkan : “Wakam min aa’ibin gaolan shohihaa wa fathu minal fahmis sagiimi”. (Tidak sedikit manusia yang mengejek atau menceci perkataan yang benar. Padahal mereka berbuat begitu karena fahamnya sedang sakit).

Semoga dengan adanya keterangan ini, ada faedahnya untuk yang masih ragu-ragu terhadap perihal Thoreqat dan Robithoh. Amin.

SILSILAH

Sisilah artinya ialah turun-temurun Thoreqat yang sifatnya – berurutan. Kalau dalam Hadits, “Sanad” atau “Rowi”nya Hadits.

Mengapa harus tahu silsilah ? Karena menurut keterangan Ulama Sufi : “Sesungguhnya manusia yang tidak tahu ayahnya dan kakeknya dalam Thoreqat, maka orang itu yang mempelajari “Thoreqat “Mardud”, artinya tidak diterima.

Juga sabda Rosuluilah SAW:

“Allah melaknat orang yang menyebut atau mengaku Bapak kepada seseorang yang bukan Bapaknya”.

Maksud Hadits ini, menurut ahli Thoreqat yaitu maksud Bapak disini adalah Guru Thoreqat. Kalau seseorang menjalankan Thoreqat tdak melalui seorang Guru, sama dengan mengaku Bapak kepada bukan Bapaknya.

Adapun contoh silsilah itu seperti tandan dalam pisang. Kalau kita menjual pisang diborongkan dengan tandannya, tentu pisang yang terkeciinyapun akan ada harganya, karena terbawa oleh pisang yang besar-besar karena berasal dari tandan yang sama. Kalau dalam kereta api, ada lokornotifnya, ada gerbongnya, ada kereta barangnya. Kereta barang terkait pada gerbong, gerbong terkait pada lokomotit. Apabila lokomotif sampai ke tempat tujuan, tentu gerbong dan kereta barang juga sampai ke tempat tujuan.

Begitu pula dengan kita dalam silsilah Thoreqat Doodiriyyah Naqsyabandiyyah, meskipun kita orang bodoh, mudah-mudahan saja dengan dibarengi berdo’a kepada Allah SWT terbawa oleh pucuknya atau lokomotifnya sampai ke tempat tujuan.

Kalau pucuknya Thoreqat itu dari Nabi atau Sahabat, atau lokomotifnya itu Wali, mudah-mudahan saja kita juga terbawa olehnya. Sebagaimana Hadits keterangan dari Abu Hurairah r.a yang bunyinya: “BerbaHaqialah bagi orang yang melihat kepada kami dan beriman kepada kami. BerbaHaqialah orang yang melihat kepada orang yang sudah melihat kami dan beriman kepada kami sampai akhir hayatnya”.

Malahan ada Hadits dari Abu Hurairah r.a. yang menerangkan sebagai berikut : “Mengagungkan Allah di hari Qiyamah kepada manusia yang dibariskan ke Surga dari berbagai silsilah.” Tegasnya dalam rangkaian dari golongannya masing-masing, sebagaimana firman Allah (QS. Bani Isro’ilayat 71):

“(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya”. (QS. 17 Ai-lsra : 11).

Kesimpulan ayat ini yaitu, setiap ada pemimpin tentu ada anak buahnya, setiap imam tentu ada yang ma’mum. Setiap Guru tentu ada muridnya. Setiap anak tentu ada ibu bapaknya. Setiap Thoreqat ada siisilahnya.

Turunan “Raden” itu juga ada pengakuan turunan dari leluhurnya seperti turunan Habib atau Sayyidi. Namun semua itu tidak ada dalam Hadits atau Qur’an.

Demikian pula silsilah Thoreqat itu menerangkan turun temurunnya tarikhnya Thoreqat itu, umpamanya seseorang disebut ahliahli waris harus benar asal-muasalnya.

Thoreqat yang disebut “Mutabaroh”, harus ada silsilahnya, jelas asal-muasalnya yang mengalir sampai sekarang. Sabda Rasulullah dalam Hadits yang shohih : “A/ ulamaa’u warosatul anbiyaa”. Artinya : Adapun Ulama itu adalah pewaris para Nabi. Ahli waris itu tentu ada silsilahnya atau keturunannya, karena tidak tiba-tiba pandai tentu harus ada gurunya, guru ada lagi gurunya.

Oleh karena tidak tahu asal muasalnya dalam menerima ilmu, sehingga tidak sampai kepada Rasulullah, hal itu menandakan tidak rajin dalam mengetahui silsilah. Lain halnya dengan Ulama di Arab, para Jiama di Masjidil Haram, dalam menerima suatu Ilmu itu ada silsilah yang sampai kepada Rasulullah SAW.

Jangankan ahli Hadits, meskipun Aurod Dalailul Khoerot pun ada silsilahnya yang sampai kepada Syekh Sulaeman Al Zazuli r.a. Oleh karena itu pantas banyak manusia sekarang yang tidak menghargai kepada para Ulama karena mereka tidak tahu silsilahnya, sampai mereka merasa dirinya pandai dengan sendirinya, tanpa guru. Ada yang beranggapan bahwa Ulama terdahulu itu bodoh semuanya malah dicap “Ortodox” dan “Kuno”,

Bahkan ada yang mengatakan : “Tidak ada dalam Qur’annya, tidak ada dalam Haditsnya, itu adalah bid’ah, salah, masuk Neraka”, padahal yang berkata sendiri pun taglid kepada ulama, sebab tidak menerima Hadits langsung dari Rasulullah SAW.

Imam Bukhori dan Imam Muslim itu “Ulama”. Seandainya mereka dianggap salah, juga ulama-ulama terdahulu dianggap salah, seperti Mujtahidin yang salaf dan kholaf, mutagoddimin dan muta-akhirin, semuanya dianggap salah, padahal mereka itu masih dekat ke zaman Rasulullah SAW, apalagi orang yang merasa dirinya lebih pandai serta menyalahkan orang lain, ditambah lagi pada waktu sekarang yang sudah sangat jauh dengan zaman Rasulullah, sudah pasti ribuan persen salahnya dibanding ulama-ulama yang disalahkan oleh mereka.

Orang yang mempunyai faham “merasa benar sendiri dan menganggap orang lain salah”, itu adalah kelakuan Iblis. Dalam AiQur’an dijelaskan tentang sejarah Nabi Adam a.s., dimana Iblis tidak mau sujud kepada Nabi Adam a.s., karena merasa dirinya yang paling mulia, lebih mulia daripada Nabi Adam a.s.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker