Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Akhlaq Lil Banat Juz 2

8. KISAH-KISAH NYATA

  1. Sayyidina Ismail putra Nabi Ibrahim a.s. adalah seorang yang sangat bakti kepada kedua orang tuanya. Ketika mencapai umur 13 tahun, Ibrahim ayahnya berkata kepadanya, “Wahai anakku sesungguhnya dalam tidurku, aku telah bermimpi menyembelihmu. Coba pikirkan bagaimana pendapatmu !” Ia menjawab, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya “Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (Ash-Shaffaat : 102).

Maka Nabi Ibrahim lalu mematuhi perintah Tuhannya dan hendak menyembelih putranya. Dalam suasana yang mencekam itu, Sayyidina Ismail teringat akan ibunya. Dan berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku ikatlah aku erat-erat agar tidak goyah dan lepaskan bajuku supaya tidak terkena darahku sehingga apabila ibuku melihatnya akan menambah . kesedihannya. Sampaikan salamku kepada ibuku. Jika ayah hendak mengembalikan bajuku kepada ibu, maka lakukanlah, karena hal itu akan dapat menghibur hatinya dan sebagai kenangan kepada anaknya.”

Setelah itu Nabi Ibrahim lalu menelungkupkan Ismail disampingnya dan menindihkan sebilah pisau pada tenggorokannya, akan tetapi hal itu tidak menjadikan Ismail terpengaruh. Dengan kekuasaan-Nya. Allah segera menggantinya dengan seekor domba dari surga, yang kemudian Nabi Ibrahim menyembelihnya.

Maka perhatikanlah wahai putri tercinta ! bagaimana bakti dan kesabaran Sayyidina Ismail! Dan bagaimana kepatuhan Nabi Ibrahim terhadap perintah Tuhannya! Begitu juga keteguhan beliau dalam menghadapi ujian yang nyata ini.

  1. Sayyidina Ali Zainal Abidin r.a. adalah seorang yang banyak berbakti kepada ibunya sampai salah seorang sahabatnya berkata kepadanya, “Engkau adalah orang yang paling berbakti kepada ibumu. Tapi mengapa kami tidak pernah melihat engkau makan bersama dengannya ?” Beliau menjawab, “Ya, karena saya khawatir tanganku mendahului mengambil makanan yang telah dilihat dan hendak dirasakannya sehingga akupun mendurhakainya.”
  1. Suatu ketika datanglah seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW., lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, disini ada seorang anak muda yang hampir meninggal. Dikatakan kepadanya, ucapkanlah : Laa ilaha illallah. Namun ia tidak dapat mengucapkannya. Nabi SAW. berkata, Bukankah ia telah mengucapkan dimasa hidupnya ?” Orang-orangpun menjawab, “Benar.” Maka Nabi SAW. pun bertanya, “Apa kiranya yang menghalangi dia untuk mengucapkan kalimah itu menjelang kematiannya ?” Kemudian Rasulullah SAW. berdiri yang kemudian kami ikuti bersama-sama dibelakangnya dan pergi mendatangi anak muda itu.

Sesampai di tempat pemuda itu Nabi SAW. berkata, “Wahai anak muda ucapkanlah: Laa ilaha illallah.” Maka anak muda itu menjawab, “Aku tidak kuasa mengucapkannya.”

Nabi SAW. lalu bertanya, “Mengapa ?”

Anak muda itu menjawab, “Sebab aku telah durhaka kepada ibuku.” Nabi SAW. bertanya, “Apakah ia masih hidup ?” anak muda itu menjawab, “Ya.”

Nabi SAW, kemudian memerintahkan para sahabatnya, “Datangkan dia kesini.”

Maka hadirlah ibunya.

Kemudian Nabi SAW. berkata, “Bagaimana pendapatmu seandainya api sudah dinyalakan, lalu dikatakan kepadamu, jika engkau tidak juga memberi maaf kepadanya, ku lempar dia ke dalam api ini ?”

Perempuan itu menjawab, “Jika demikian aku maafkan dia.”

Nabi SAW. berkata, “Jadikanlah Aliah Ta’ala dan kami sebagai saksi bahwa engkau telah meridhainya.”

Maka perempuan itu berkata, “Ya Allah, aku jadikan Engkau dan Rasul-Mu sebagai saksi, bahwa aku telah meridhai putraku.”

Kemudian Nabi SAW. berkata, “Wahai anak ucapkanlah : Laa ilaha illallah.”

Maka anak muda itu segera bisa mengucapkan : Laa ilaha illallah.

Rasulullah SAW. berkata, “Segala puji bagi Allah yang menyelamatkannya dengan perantaraanku dari api neraka.”

Wahai putri yang tercinta ! renungkanlan kisah ini agar engkau ketahui bahwa durhaka kepada kedua orang tua menyebabkan pada akhir yang buruk (Su’ul Khatimah). Semoga Allah melindungi kita darinya.

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Algamah.seorang laki-laki yang shalih, banyak mengerjakan shalat dan puasa juga mengeluarkan sedekah, tetapi semua itu tidak berguna baginya hanya karena durhaka pada ibunya dia mendurhakai perintah-perintahnya dan hanya menuruti istrinya serta melebihkannya diatas ibunya.

Dalam hadits disebutkan: “Ada tiga macam perbuatan dosa yang apabila dilakukan, amalan shalih tidak berguna karenanya, yaitu menyekutukan Allah, durhaka ‘ pada kedua orang tua dan Iari dari peperangan.”

  1. Ada seorang anak muda Yahudi melayani Nabi SAW., lalu sakit. Maka Nabi SAW. datang menjenguknya. Beliau duduk di dekat kepalanya, dan berkata kepadanya, “Masuklah agama Islam.” Mendengar itu, anak itu memandang kepada ayahnya yang juga berada di sampingnya.

Ayahnya berkata, “Taatilah Abal Qasim (Nabi).” Kemudian anak itu masuk Islam. Maka keluarlah Nabi seraya berkata, “Segala puji bagi Allah: yang telah menyelamatkan dia dari api neraka.”

Lihatlah bagaimana bakti anak ini kepada ayahnya, sekalipun sudah menjelang ajalnya. Dengan itu Allah memberinya taufik masuk Islam di hari akhir umurnya. Maka ia pun menjadi penghuni surga. Dari kisah ini engkau dapat mengetahui bahwa: bakti kepada kedua orang tua menyebabkan penghujung yang baik. (Husnul Khatimah)

  1. Haiwah bin Syuraih seorang yang sangat berbakti kepada ibunya. Ia tidak pernah menentang perkataan ibunya walau termasuk ulama besar yang mempunyai banyak murid. Pada suatu hari datang sang ibu kepadanya di saat ia sedang mengajar. Kemudian sang ibu berkata kepadanya, “berdirilah wahai Haiwah, berikan gandum ini kepada ayam.” Maka ia : pun tidak merasa keberatan dan tidak berlambat-lambat. Ia tinggalkan mengajarnya dan segera mematuhi perintahnya.
  1. Dan di antara orang-orang yang berbakti terhadap orang tua terdapat Dzarr bin Umar Al-Hamdani. Di antara bakti . dia kepada sang ayah pada siang hari ia tidak pernah berjalan bersama ayahnya, melainkan mengambil posisi di belakangnya. Dan tidak pada waktu malam, melainkan ia berada di depan untuk melindungi sang ayah dari mara bahaya. Tidak pernah ia naik atap, bila sang ayah berada dibawahnya.

9. APA KEWAJIBANMU TERHADAP – SAUDARA-SAUDARAMU LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN?

Sesungguhnya orang-orang yang paling dekat kepadamu sesudah ayah ibumu adalah saudara-saudaramu laki-laki dan perempuan. Maka amalkanlah tata krama ini supaya engkau mendapat ridha Allah, dan ridha kedua orang tuamu serta hidup bersama mereka dalam keadaan senang dan bahagia :

  1. Engkau hormati mereka dalam setiap waktu dan keadaan, dan kau cintai mereka dengan cinta yang tulus.

Sesungguhnya Engkau dan mereka berasal dari satu keturunan. Mereka mencintaimu dan mengharapkan kebahagiaanmu. Maka hendaklah engkau selalu bersama mereka dalam keselarasan dan kebersatuan. Hindarilah halhal yang menyebabkan perselisihan dan pertengkaran dengan tidak mengindahkan omongan orang-orang yang suka dengki dan mengadu-domba, dan jangan mengurangi hak-hak orang tua. Dan hendaklah engkau maafkan mereka apabila mereka kurang memenuhi hak-hakmu.

  1. Hendaklah engkau khususkan saudaramu yang lebih tua dengan lebih memuliakan dan menghormati, serta menganggapnya seperti kedua orang tuamu. Engkau amalkan nasihat-nasihat mereka dan tidak membantah perintah-perintah mereka.

Dalam hadits: “Hak saudara-saudara yang lebih tua atas adik mereka seperti hak seorang ayah terhadap anaknya.”

  1. Hendaklah engkau kasihi saudara laki-lakimu dan saudara perempuanmu yang masih kecil dan engkau perlakukan mereka dengan kasih sayang dan kebaikan seperti perlakuan kedua: orang tuamu kepadamu, yaitu engkau bahagiakan mereka dan tidak engkau ganggu.

Dalam hadits dikatakan : ” Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah rumah yang diberi nama “Darul farah (rumah kebahagiaan)” yang tidak dimasuki oleh Seorangpun, kecuali oleh mereka yang membahagiakan anak-anak kecil.”

  1. Hendaklah engkau tolong saudara-saudaramu yang laki-laki maupun perempuan dengan sekuat tenagamu.

Rasulullah SAW. bersabda : “Perumpamaan dua saudara itu adalah laksana dua tangan, yang satu membersihkan yang lainnya.”

Engkau selalu mengalah dari mereka dan sabar menghadapi mereka. Apabila mereka bersalah, engkau ingatkan kesalahan mereka dengan halus dan lemah lembut, karena perkataan yang halus bisa enak kedengarannya, sedangkan perkataan yang kasar akan berakibat sebaliknya, dapat menumbuhkan kecemasan serta putusnya hubungan.

Hindarilah pertengkaran atau saling memaki atau juga mengadu-domba di antara mereka, dan janganlah engkau bergurau tentang sesuatu yang tidak layak dengan mereka atau mengambil barang mereka dengan tanpa perSetujuannya, begitu juga memutuskan hubungan dengan mereka ataupun berburuk sangka kepada mereka.

  1. Saudaramu laki-laki adalah tangan kananmu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala kepada Nabi Musa mengenai Saudaranya Nabi Harun a.s. : “Kami akan membantumu ‘ dengan saudaramu” (Al Qashash: 35).

Saudara laki-laki bagimu adalah senjata yang dapat . melindungi diri dari musuh-musuhmu di medan kehidupan. Sebagaimana kata penyair :

Sesungguhnya orang yang tak punya saudara laki-laki adalah seperti orang yang pergi berperang tanpa senjata.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker