Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Akhlaq Lil Banat Juz 2

12. ABU TALHAH AL-ANSHARY DAN PARA KERABATNYA

  1. Disebutkan dalam hadits : bahwa Abu Talhah AlAnshary r.a. adalah orang Anshar yang paling kaya akan . pohon kurma di Madinah. Harta yang paling dicintainya adalah Biruha’ (kebun kurma) yang menghadap masjid.

Suatu ketika Rasulullah SAW. masuk kebun milik Abu Talhah dan minum air segar yang ada disitu. Tatkala turun ayat : “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai” (Ali Imran: 92).

Abu Talhah datang kepada Rasulullah SAW. lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah Ta’ala telah menurunkan kepadamu ayat : “Kamu sekali-kali tidak . Sampai kepada kebaikan (yang sempurna), sebelum kamu ‘ menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai”

Sedangkan hartaku yang paling kucintai adalah Biruha’. Dan sesungguhnya sedekahku ini adalah sedekah karena Allah Ta’ala yang aku harapkan kebaikannya dan menjadi, tabungan pahala di sisi Allah.

Maka pergunakanlah ia wahai Rasulullah, sesuai dengan yang ditunjukkan oleh Allah kepadamu.”

Kemudian Rasulullah SAW. berkata, “Bagus, itulah harta yang beruntung, itulah harta yang beruntung. Aku telah mendengar apa yang engkau katakan. Dan aku berpendapat agar engkau membagikannya diantara para kerabatmu.”

Maka Abu Talhah berkata, “Wahai Rasulullah.Aku akan melakukannya.” ‘

Maka Abu Talhah membagikannya kepada para kerabat dan putra-putra pamannya.

KISAH LAIN

  1. Sayyidatina Maimunah binti Al-Harits r.a. mempunyai seorang sahaya perempuan, ketika memerdekakannya ia tidak minta izin dahulu kepada Nabi SAW.

Ketika Nabi SAW. datang ke rumahnya, Maimunah berkata, “Wahai Rasulullah tahukah Anda, bahwa aku telah merdekakan sahaya perempuanku?”

Nabi SAW. bertanya, “Apakah itu sudah engkau lakukan?”

Maimunah menjawab, “Ya.”

Nabi SAW. berkata, “Seandainya ia engkau berikan kepada paman-pamanmu, niscaya. pahalamu akan menjadi “lebih besar.”

KISAH LAIN

Di saat para sahabat radhiyallahu ‘anhum sedang duduk di dekat Nabi SAW., tiba-tiba beliau berkata, “Janganlah ada yang duduk bersama kami orang yang telah memutus hubungan kekeluargaan.” Maka kala itu berdirilah seorang anak muda dari majelis itu, lalu segera mendatangi bibinya untuk minta maaf. Rupanya ia barusan bertengkar dengan bibinya.

Maka setelah bibinya memberi maaf kepadanya, anak muda itu kembali ke majelis semula.

Rasulullah SAW. lalu berkata, “Sesungguhnya rahmat itu tidak akan turun kepada suatu kaum yang disitu terdapat pemutus hubungan kekeluargaan.”

13. APA KEWAJIBANMU TERHADAP PELAYAN PEREMPUAN?

  1. Engkau wajib memperlakukan pelayan-palayanmu secara baik, dengan berbicara lemah lembut kepadanya apabila engkau menginginkan sesuatu darinya.

Janganlah engkau mengganggunya dengan umpatan yang kasar, membentaknya ataupun bersikap sombong kepadanya. Dengan lemah lembut, engkau tunjukkan kesalahannya bila terbukti ia bersalah lalu engkau maafkan. Karena telah dimaklumi bahwa manusia adalah tempat kesalahan dan kelupaan.

  1. Apabila engkau memanggil pelayanmu, sedang ia tidak menjawabnya dengan segera atau engkau menyuruhnya melakukan sesuatu, dan ia lambat mengerjakannya, maka janganlah segera menegurnya. Mungkin saja ia tidak mendengar suaramu atau ia lagi sibuk. Jadilah engkau seorang yang lapang dada. Engkau bersabar atas kesalahan kesalahan yang dilakukan para pelayan, karena biasanya mereka belum terdidik.

Dan memaafkan mereka bila mereka telah memecahkan gelasmu.

Dalam hadits dikatakan : “Janganlah kalian memukul sahaya perempuanmu hanya karena memecahkan gelasmu, sebab gelas itu juga mempunyai ajal seperti ajalmu.”

Apabila pelayan memuaskan dalam melayanimu, maka jangan lupa berterima kasih kepadanya atas kebaikannya dan beri dia imbalan atas kebaikan itu.

Sebab Allah Ta’ala telah berfirman : “Tidak ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan (pula)” (Ar-Rahman : 60).

  1. Janganlah engkau tunjukkan rahasia rumahmu kepada pelayan agar tidak ada keinginan padanya untuk mencuri, dan jangan pula mengandalkannya dalam setiap keadaan. Hendaklah engkau berhati-hati kepadanya dengan menghindari duduk bersama untuk bergurau dan berbicara yang tidak ada gunanya. Supaya engkau tidak meniru tabiatnya dan tidak jatuh derajatmu disisinya, dan agar ia tidak berani kepadamu serta tidak berkurang santunnya terhadap dirimu.

Adapun duduk bersama untuk suatu keperluan seperti menasihatinya atau mengajarinya urusan-urusan agama, maka hal itu tidak menjadi soal, bahkan ia adalah perbuatan yang dituntut.

  1. Janganlah engkau menganiaya pelayan wanita dengan memaksanya melakukan pekerjaan yang di luar kemampuannya, atau menangguhkan pembayarannya, atau bahkan sengaja tidak memberinya upah sama sekali.

Dalam hadits disebutkan : “Berikan upah kepada: pekerjamu sebelum kering keringatnya.”

Janganlah engkau tangguhkan pembayaran upah yang ja patut memperolehnya.

Dalam hadits : “Menganiaya buruh dengan tidak memberi upahnya termasuk dosa besar.”

Janganlah engkau memukul pelayan tanpa dasar yang hak. Sebab ada dalam hadits : “Barangsiapa memukulkan cambuk secara aniaya, ia akan dibalas sama pada hari kiamat.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker